
“Tada~!”
“Wah!”
“Beneran real pic.”
Lihatlah kardus raksasa penuh baju cetakan itu. Mereka sungguh totalitas ya hanya untuk event dua hari. Orang-orang ini mungkin mencetak baju baru dengan angka tahun yang ditambah satu. Dan kelas ini sudah keluar uang lebih dari dua juta untuk baju.
Belum lagi perangkat dan bahan yang dibuat untuk perintilannya.
Kucek baju yang sudah dipesan dengan nama itu. Penampilan standar, dasar berwarna putih dengan lengan yang merah. Tentu dengan jumlah tahun kemerdekaan di belakang baju.
Lucunya mereka menambahkan nama di sisi kanan depan baju. Awalnya aku kira mereka akan menambahkan kalimat 17-an. Ternyata lebih simpel. Mencari yang murah kah?
Oh, iya. Aku harus cepat cuci bajunya. Pasti gatal kalau langsung dipakai.
“Guys, jadi ikut cuci bajunya tidak?!” aku mengingatkan mereka yang sempat ingin menumpang.
“Aku mau!”
“Eh, ikut juga dong!”
Mereka memanfaatkan satu minggu berubahnya rumahku menjadi basecamp dengan sangat baik.
Aku tahu itu kok. Saat aku yang di kehidupan pertama berkumpul di rumah teman kaya, aku pun memanfaatkannya dengan baik. Seperti membuat makan disana untuk hemat gas di rumah.
Bukankah Rasyi kecil begitu baik menawari temannya lebih dulu?
Namun, apa harus ya bertambah lebih banyak yang ikut serta? “Ayo sini, jangan aku semua yang bawa dong!”
Rombongan kecil berlima ini mengikuti langkahku memasuki teras taman belakang yang sebenarnya memiliki jalan lain dari luar, menghubungkannya dengan halaman depan. Tentu saja yang masuk kemari hanya sekedar meminjam kamar kecil atau tempat peribadatan.
Lumayan mengerikan juga menyadari kalau mereka sempat melihat mesin cuci yang tidak begitu terpampang ini.
“Sini,” aku mengarahkan rombongan yang membawa banyak baju itu.
“Loh non?” bibi mendekatiku, “Mau cuci baju?”
“Iya,” aku memberikan aba-aba kecil untuk memasukkan baju-baju itu ke mesin cuci, “Bibi menganggur tidak? Tolong dong, bi~”
“Siap, non~”
Hmm? Apa sungguh bibi menganggur? Banyak sekali barang yang menyebar di meja panjang dapur. Pasti baru saja stok ulang bahan-bahan rumah. Belum disusun di tempat yang benar.
“Kalau repot biar Rasyi saja...,” tunggu, nih barang sepertinya ada yang kembar, “Kok pemutihnya banyak banget, bi?”
“Lagi promo! Lumayan toh? Beli tiga gratis dua.”
Aduh, bi. Jangan bertingkah seperti papa itu orang tidak punya. Tolong jangan hancurkan kebangganku sebagai anak orang kaya. Semahal apapun kebutuhan rumah, papa bisa belikan kalau memang butuh kok!
“Udah, tinggalin aja non. Mesin cucinya loh tidak kemana-mana sampai ditungguin gitu.”
__ADS_1
Iya sih, “Makasih, bi~”
Sekarang ayo kita kembali mengurusi apa yang perlu perhatian di luar sana.
Baju sampai beli bukan berarti pekerjaan beres. Sekolah memang membebaskan baju couple meski celana tetap harus celana olahraga sekolah. Pastinya, atribut handmade dengan kesan meramaikan yang menjadi kewajiban lain.
Membuatnya untuk anak satu kelas lebih dari tiga puluh orang perlu usaha ekstra. Apalagi banner yang harus dibuat sendiri tidak pakai jasa-jasa ahli.
Tentunya itu pekerjaan rumah untukku bagi seniman yang hanya diakui orang-orang kelas ini.
Seandainya aku dapat gaji. Yah, paling tidak mereka membantu sebisa mereka.
“Non!!”
Apa?! Kenapa?!
“Baju, baju, ba, baju!!”
Mulut bibi kenapa sih? Tidak mungkin aku bisa paham baju apa yang beliau maksud.
Namun ekspresi itu bukan pertanda baik, “Baju yang tadi dicuci kena pemutih....”
Hah? “Kok bisa sih?!”
Keranjang yang bibi bawa itu membuktikannya dengan absolut. Dan ini sungguh bukan hal yang baik.
Baju itukan memang sengaja dibuat merah putih. Kalau jadinya hanya putih, sama saja dong dengan baju polosan. Apalagi itu dibuat dengan uang, bukannya muncul dengan meniup lilin!
Dengan uang tabunganku sih cukup saja menggantikan baju sebanyak yang dicuci, tapi kan acaranya besok. Memangnya sempat untuk pesan lagi? Walaupun mau beli langsung di toko, belum tentu menjual yang dimau. Atau lebih parah lagi kalau persediaannya habis.
Eh?
“Kenapa punya kamu tidak papa tapi yang lain luntur semua begini?” Gista? Dia menemukan bajuku di tumpukan itu.
Benar juga ya. Padahal bajuku juga ikut dicuci⏤
“Kamu yang tuangin pemutihnya ya?”
Haa? Apa katanya? Gista bilang apa padaku dengan muka duyung pemakan daging itu?!
Gista kok bisa memikirkan skenario separah itu? Kebanyakan minum obat kali nih anak! Sukanya bermain-main mulut asal tuduh saja!!
“Pasti dong kamu mau selamatkan bajumu sendiri,” wajah Gista sungguh... menyebalkan.
Fix. Cewek ini haters. Bicara sembarangan tanpa bukti seperti dia detektif saja. Sekecil apapun cela yang bisa dia ambil, pasti akan dijinjing sampai aku bisa masuk ke lubang jebakannya.
Maaf saja, Gista, aku langsing jadi aku bisa keluar lagi walau sudah masuk!
“Oke, bajuku memang tidak kena. Tapi kamu punya bukti kalau aku yang kasih pemutih. Walaupun benar aku yang melakukannya, aku punya alasan apa? Coba, apa?”
Diam kan? Tidak tahu kan?
__ADS_1
“Mana aku tahu. Kamu kan memang pintar akting.”
Wow, alasannya, mbak~ Bisa saja kamu buat-buat begitu ya?
“Maksud kamu apa sih bilang begitu?” muka Harun, mulai keluar dari kebiasaannya lagi, “Memang Rasyi itu irian sampai bikin rusuh kekanakan begitu?”
“Iya, buat apa Rasyi jahil sampai begitu?” setidaknya yang lain bisa berpikir jernih.
“Kamu yakin bukan kamu yang bikin rusuh, Gista?” wah, Harun savage.
Mata Gista terbuka lebar, “Mana mungkin dong, Harun!” ia meraih banyaknya baju itu dan mengangkat satu, “Nih! Bajuku saja kena! Kenapa juga aku rusakin baju sendiri?!”
“Gista juga tidak mungkin kerjain kalian. Buat apa? Cari musuh?” ada juga ya yang membela Gista.
“Terus siapa dong yang begini?!”
“Saya juga tidak tahu!!” duh, kenapa bibi-ku ini jadi korbannya sekarang?
“Bibi itu makin tidak punya alasan untuk begitu, guys. Tenang dong,” aku berusaha melindungi wanita yang masih muda ini.
“Aduh, gawat dong...”
“Bukannya sudah saatnya kamu tanggung jawab, Rasyiqa?” Gista mulai lagi sekarang.
“Aku yang seharusnya bilang itu,” Harun sepertinya sudah tidak bisa menahan dirinya untuk menyebarkan tekanan pada Gista.
Wah, Gista sampai speechless begitu. Tangannya saja sepertinya bergetar.
Yuk kita selesaikan di sini. Rasyi yang cantik, manis dan cinta damai ini tidak suka perkelahian. Lagipula ada hal yang lebih penting.
“Daripada itu, gimana bajunya sekarang? Mau dipakai begitu saja?” aku menunjuk banyaknya baju yang kira-kira setengah kelas jadi korban.
“Mau tidak mau harus beli baru offline.”
“Duitnya we!”
“Mau gimana lagi?”
Agak sulit kalau mau membeli di waktu yang sudah menjelang sore. Belum tentu pula dari semua toko kita mendapatkannya.
Gaaaa! Kalau arahnya kemari kan akhirnya aku yang merasa bertanggung jawab! Mari selesaikan dengan tidak mengaitkan dana terlalu dalam.
“Tidak perlu beli lagi sih, kita bisa saja warnai lagi. Bahkan bisa dibagusin,” kubuka mulutku kencang, “Tinggal beli pewarna tekstil.”
“Nice!”
“Tolong ya, Rasyi~”
“Enak saja!” aku berteriak kesal, “Kalian harus handle bajunya masing-masing. Biar sama, yang tidak kena juga ikut hiasi bajunya! Ditambahin pemutih dulu kalau perlu.”
“Ya... tolong dong punyaku...”
__ADS_1
Minta enaknya saja, anak-anak ini. Tidak! “Tidak ada alasan! Semuanya!”
Kembali lagi lembur untuk pekerjaan yang bahkan bukan masalah sekolah. Semangat diriku! Kalian juga~