
Hujan oh hujan~ Mengapa tidak engkau memandang perasaan daku yang sudah kalut bagai badai di tengah laut?
“Jangan melongo terus. Nanti kerasukan.”
Aku sangat mengagumi wajahmu yang tetap imut di tengah ucapanmu yang kejam. Namun tolong jangan memperburuk diri anda sendiri. Siapa tahu keimutan anda akan hilang mengikuti sikap anda, Saga.
“Mikirin apa lagi?” ya, Vian, contohkan kembaranmu itu cara lembut memperlakukan cewek, “Kelihatan lemas banget...,” jangan elus-elus sembarangan juga!!
Firna menahan ponselnya dan menepuk punggungku, “Masih mikirin tentang tante Ira?”
Aku memanyunkan mulutku.
Bagaimana bisa tidak?! Papaku akan memberikan kiss pada adik dari suaminya pengasuhku dari kecil! Tidak pernah bisa terpikirkan sedetik pun di kepalaku! Keadaannya terlalu membingungkan sampai aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Tentang apa lagi?”
Saga-ku yang imut, tolong jangan terpengaruh dengan kebiasaan kepo dariku!
Namun, aku sangat buntu. Mungkinkah mereka bisa membantuku berpikir? Aku butuh solusi, atau setidaknya mengerti dengan keadaan.
Kutarik nafasku, “Misalnya kalian lihat papa kalian kiss sama cewek lain... gimana?”
Aku mengatakannya blak-blakan sekali. Bahkan mereka, yang selalu membuat kejutan, jadi terkejut bukan kepalang. Wajah Firna yang sudah aku ceritakan ini sebelumnya saja tidak memberikan respons positif. Mungkin aku akan menerima diam yang tegang lagi?
“Kenapa cerita ke mereka?”
Oh, “Hai, Harun~” senyum cerahku merekah hanya untuknya.
Harun terdiam, dan akhirnya ia duduk di bangku depanku. Dia membawa beberapa botol minuman dan banyak camilan.
“Makasih,” Firna langsung mengambil bagiannya bagaikan anak yang kelaparan.
Bagaimana lagi? Sore ini semakin larut dan menggelap. Apalagi dengan langit penuh awan putih yang menandakan hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Kami tidak akan bergerak dari sekolah yang sudah usai ini sampai hujannya mau bersimpati.
“Jadi, gimana? Dokter Rizki cium orang?” Saga sepertinya sudah sadar dari rasa terkejutnya.
“Siap-siap saja punya mama baru,” Vian juga sudah bisa merespons....
Heh? Heh?!!
“Mending kalian diam,” Harun masih mempertahankan senyumnya.
Wajah Saga mengatakan ia tak senang, “Yang tanya RA-SYI!”
Sebelum perdebatan semakin menyebar luas, aku harus memastikan,“Tunggu, apa maksudnya mama baru?”
Vian mengangkat bahunya, “Ya mungkin papamu mau kawin lagi?”
Itu tidak..., “Papa tidak mungkin begitu,” aku menunjuk Vian seakan menegaskan kalimatku sendiri.
Ekspresi Saga seperti meragukanku, “Tapi dia cium cewek lain kan?”
“Namanya juga orang dewasa,” Vian santai mengambil jatah minumku.
Aku tidak ada waktu meladeni makanan dan minumanku. Yang berlari ria di taman pikiranku saat ini adalah ingatan yang telah lewat. Ingatan tentang kejadian kemarin malam.
“Tante Ira bilangnya tidak sengaja sih...,” iya, itu tidak sengaja!!
Mata Saga melotot tambah terkejut, “Sama tante Ira⏤Hmmp!!”
Firna langsung menutup mulut Saga, “Jangan sebar gosip.”
“Mmm.. gini deh, papamu senang tidak?”
Vian, apa yang baru saja anda tanyakan?! Papa itu kotak dengan tujuh kunci! Mana ada orang yang bisa melihat isi pikiran dinosaurus yang tidak berekspresi itu⏤!!!
Aaaa....
Wahai otakku, kenapa anda menyenggolku keras dengan memori yang tidak perlu?! Papa di saat itu, dia, tertawa terus....
__ADS_1
Kukeluarkan senyumku, “Tertawa apa termasuk?”
“Hah?!” Saga terkejut lagi, “Dokter begitu ketawa⏤Aauw!!”
Firna sudah menyenggol keras Saga, “Kecilin suara!”
Mata Vian masih terbuka lebar di heningnya, “Yup, itu mama baru kamu.”
Aaaaaa....
“Jangan dengarkan!” Harun meraih tanganku dekat, “Kalau kamu tidak mau, jangan terima. Biar aku yang bilang ke papa kamu!”
Kupandangi lelaki ini. Berharap dia hanya bercanda. Gunanya apa aku susah payang memperbaiki keadaan dengan surprise kemarin, kalau kamu mau memperburuknya lagi? Jika bisa, aku ingin menghalau kalian berdua saling temu.
Aku tersenyum dan melambai 'tidak', “Tidak, itu⏤”
“Rasyi! Kamu dicariin!”
Hmm? “Siapa?”
“Gak tahu. Bapak-bapak.”
Orang lain tidak mungkin melihat wajah papa dengan menyebutnya sebagai bapak-bapak. Berarti bukan papa.
“Suruh masuk,” Harun?
Teman sekelas yang ada di ambang pintu itu menuruti saja, “Masuk aja pak. Rasyi-nya di dalam.”
“Non,” loh? Itu kan bapak Darma, supir tercinta? Aku kira siapa, “Ayo, non, pulang.”
Loh? Hujan deras begini? “Bapak bawa mobil?”
“Iya, non.”
Heh? “Terus, papa tidak kerja?”
Dijemput? Siapa?
“Non masih ada kerjaan?”
Oh, “Tidak kok,” kuraih ranselku yang sudah siap sedari tadi, “Duluan guys~”
Yah, hanya sebagian dari banyaknya hal yang tidak tertebak dari sosok papa. Aku harus berhenti berprasangka buruk.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Tidak bisa. Makhluk tak normal itu, apapun yang ia lakukan, selalu membuat orang khawatir.
Petirnya, kencang sekali....
“Non.”
Aku tersentak. Padahal posisiku terasa aman jauh dari jendela sana dan meringkuk nyaman di antara bantal dan sofa. Namun bibi satu ini datang bagai petir di dalam rumah.
Kutarik nafasku, “Kenapa, bi?”
“Malam ini kami tidur di sini ya, non? Petirnya kencang banget!”
Oh, mereka mau bicarakan itu.
Senyumku merekah, “Ya inap saja, bi. Bibi kan sudah sering.”
“Sama makan loh non~ Air habis buat mandi loh~”
Apaan sih? Tidak bisa kalau tidak tertawa, “Hihihi, pakai saja bi. Iih! Kok kayak maling saja.”
“Siapa yang mandi duluan?”
“Mau makan dulu atuh.”
__ADS_1
Mereka ini, tingkahnya selalu saja seperti orang yang tidak pernah tidur di rumah besar. Padahal saat aku bayi dulu, mereka bergantian menginap untuk menjagaku.
Yah, tingkah mereka tidak berubah. Itu yang terpenting.
Huuuh, setidaknya rumah tidak sepi. Ditinggal sendiri di keadaan yang kusut seperti ini sangat tidak menyenangkan.
Ponselku bergetar. Karena hujannya terlalu deras, aku tidak bisa mendengarkan nada deringnya. Sepertinya itu hanya jawaban dari pesan yang kukirim ke Firna.
[Udah sampai kok dari tadi. Ya, hujan-hujan.]
Ternyata benar dia sudah menerobos hujan sendiri dengan kendaraannya.
“Sudah mandi? Disiram loh kepalanya,” kujawab pesan itu.
[Udah kok. Aku saja langsung disuruh minum obat. Padahal sakit saja tidak.]
“Ya bagus loh. Dari pada sakit beneran.”
[Kamu kayak mamaku deh.]
Yah, itu namanya orang dewasa. Mereka melakukan apapun untuk tidak sakit. Karena sekali sakit, semua kegiatan tidak akan terkejarkan. Dan tidak ada yang membantu selain diri sendiri.
...
Apa itu juga yang dipikirkan papa?
Duh! Rasanya perut dipilin setiap kali memikirkan pria itu!
[Dah, tidur-tidur]
Pesan penutup itu didampingi dengan stiker bergerak yang menunjukkan bayi beruang yang tertidur.
Tidak kalah kutampilkan stiker pria tampan yang memberi pesan sebelum tidur.
Waaa! Gelegar petirnya!!
“Huuuh,” wahai jantungku, tenang.
Rasanya entah kenapa aku ingin mendekati jendela. Layaknya punya otak sendiri, kakiku mendekat. Balkon terlihat jelas basah kuyup. Membuatku memilih untuk tetap di balik jendela besar seperti dinding kaca itu. Memandang lurus ke jalan perumahan dari lantai dua.
Loh? Ada orang lewat dengan berjalan kaki?
Jangan bilang itu paman security.
Well, aku tahu mereka selalu bergantian mengecek langsung perumahan di malam hari. Namun di tengah hujan tanpa peneduh apapun? Berapa gaji mereka?!
Heh? Kenapa beliau ke arah rumah sini?
TING TONG!
Bel rumah? Siapa malam-malam datang kemari... papa?
Langsung aku berlari ke lantai bawah. Aku sangat yakin, saat sosok itu menengadah ke arah jendelaku. Wajahnya jelas, papa.
“Ya ampun! Tuan!”
“Kok hujan-hujanan?!”
Itu suara para bibi! Sampai akhirnya aku berhenti di ambang ruang tamu dan ruang makan. Aku bisa melihat banyak orang masuk. Termasuk papa yang tidak kering.
“Tuan langsung saja ke atas, biar saya bikin minum hangat.”
“Hmm,” papa berjalan santai lebih memasuki rumah sambil bermain rambut, “Teh saja.”
Ia berhenti di depanku. Mata kami bertemu. Entah kenapa mulutku tidak bisa berkata apapun.
Papa, menepuk kepalaku? “Apa yang ditangisi? Sudah malam, tidur.”
Rizki lewat seperti itu saja dan meninggalkanku yang benar sedang meneteskan air mata. Lega dan cemas, spekulasi yang masih liar.
__ADS_1