Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#103 Rampung Kah?


__ADS_3

“Em, Vian. Saga,” aku berusaha mendekati kedua orang yang berdiri di depan aku dan Firna ini, “Kita nyantai di taman yuk.”


Firna tiba-tiba memelukku, “Nanti dulu.”


Apa maksudnya nanti dulu?!


Tidak lihat apa kalau keadaannya sudah semakin panas? Kan kamu juga sering ikut ke masalahku yang sering banyak berkelahi ini?! Seharusnya kamu sudah paham kan?


Duh, Gista~ Aku tahu kamu cemburu, tapi tidak perlu berdebat sampai terbawa amarah seperti ini! Jadi rumit!!


Kamu itu berurusan sama dua buldoser, Gista! Bulldozer!!


“Hei, kak. Bisa jelasin maksud kakak apa?” Saga memilih kata yang manis tapi nadanya sangat mengejek.


“Rasyiqa itu suka sama Harun tapi gak urusin Harun benar-benar! Apalagi kalian!” Gista memamerkan wajah tak senangnya, “Kalian tidak ada mikir Rasyiqa bakal baik terus ke kalian kan?”


Nih anak sudah dendam sampai ke urat atau bagaimana sih? Aku kan tidak melakukan hal yang salah padanya. Yang salah itu dia. Kenapa harus suka dengan Harun? Padahal Harun sudah jelas sukanya denganku. Sampai menggila sendiri.


Namun, hatiku semakin terganggu dengan kalimatnya. Khawatir akan si kembar yang menelan kalimat mereka dan memulai konflik baru antara kami.


Harus aku hentikan⏤


“Kakak cantik,” Saga mendekatkan berdirinya di depan Gista, “Saya bukan Harun, tapi saya tahu kenapa dia benci kamu.”


Eh?


“Ka, kamu tahu apa?!”


Vian tersenyum seram? “Siapa yang tidak tahu, kak? Makanya teman-teman kakak tidak ada yang belain.”


Aku menyadari sesuatu. Kami berdiri di tengah-tengah banyaknya teman sekelasku yang masih beristirahat. Namun mereka tidak menindaklanjuti keributan ini.


Dilihat dari mana pun, ini seakan empat lawan satu.


“Kami tidak peduli sama si Harun itu lagi. Jadi kamu bisa urus dia gantikan Rasyi,” Vian melanjutkan bicara.


Saga membalik badannya selagi lengan kanannya membentang ke depan Firna dan mendorongnya mundur, “Kami tidak ada urusan lagi sama kakak. Berhenti menggonggong kayak orang gila.”


Vian ikut mendorongku pergi?


“Kak Wira! Minjam Rasyi sama Firna-nya dulu!” Saga masih mendorong Firna selagi aku dan Vian menyusul.


Aku tidak bisa berkomentar apapun. Namun hatiku terasa lega dan rasa manis tertinggal di lidah. Untunglah mereka tidak terpancing.


Hmm, kalau dipikir-pikir, mereka mau mengajak kami ke mana?


“Sial! Kenapa sih tuh cewek!” Saga masih mengomel-omel tak senang.


Langkah kami menjauhi kelasku membawa kami lebih memilih menuju ke lapangan depan.


Tangga yang panjang dan lebar. Biasa digunakan untuk duduk para penonton di lapangan basket dan lapangan futsal yang terbuka. Dengan banyaknya pohon yang berjejer, kami bisa nyaman duduk walau tengah hari baru lewat tidak lama.


“Tidak papa?” Vian memegangi pundakku.


Aku rasa itu bukan hal yang seharusnya kamu tanyakan ke aku. Lihatlah wajahmu sendiri yang tampak tidak senang itu.


Namun..., “Kenapa kalian reaksinya gitu sih? Padahal tidak perlu disahuti juga tidak bakal ribut kan?”


“Jangan terlalu didiamkan kalau orang kasar gitu. Gak bakal tahu diri jadinya!” Saga malah semakin kesal.

__ADS_1


“Dia tidak cuma sekali begitu,” Firna menyusul Saga duduk di rentetan tangga itu, “Bikin muak banget!”


Vian baru mau duduk saat aku sudah duduk di samping Firna, “Dia punya masalah apa sih?”


“Dia tuh suka sama Harun! Malah nyalain Rasyi terus! Apaan coba?!” Firna, tenang dulu dong.


Aku menghela nafas. Namanya juga tampan dan lembut. Siapa yang tidak berharap punya pasangan seperti Harun. Dia memang populer dan banyak yang menyukainya sampai aku sudah biasa setiap kali ada yang menyatakan perasaan pada lelaki itu.


Namun aku paham juga maksud Gista. Dia tidak bisa memiliki Harun. Makanya kesal padaku yang jelas-jelas punya kesempatan itu, tapi membuangnya dengan gampang.


Hanya salah satu dari keseharianku yang memanaskan kepala. Ini bukan hal yang tidak biasa.


“Rasyi, tidak bisa begini. Kasih story atau apa kek, beritahu kalau tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Harun,” Firna semakin menggebu-gebu.


Aku tidak menjawab satu patah kata pun. Entah apa yang aku ragukan lagi. Maksudku, aku sudah bertekad untuk tidak mau mengurusnya lagi. Namun kenapa rasanya aku tidak mau melepas benang terakhirku dengan Harun.


Hal apa itu yang menghentikan aku? Simpati kah?


Bukannya itu hanya menggambarkan aku yang plin-plan?


“Maaf nih, Ras. Aku setuju sama kak Firna,” Vian mengeluarkan tanggapannya.


“Hmm...,” aku menjawab seadanya saja.


“Btw,” Saga melanjutkan bicaranya, “Kamu kena tampar? Tidak kan?” Saga menyenggol Firna.


Firna memandang tajam Saga, “Kamu harap aku ditampar?!”


“Tidak, bodoh!” Saga melunakkan ekspresi wajahnya, “Aku cuma kepikiran aja. Kalau kalian sampai kelahi, takutnya malah kenapa-napa.”


Yah, Saga juga sering punya kekhawatirannya sendiri. Makanya walau aku tidak suka sifatnya, aku tetap tidak bisa benci anak ini.


Hmm? Tu, kenapa muka Firna⏤


“Kenapa kamu malah marah-marah?!”


Rasanya kok....


“Ppst, Ras,” Vian berbisik ke arahku? “Kamu sadar tidak?”


“Apa?” aku balas bisikannya itu selagi kedua orang ini masih berlempar ‘pantun’.


Vian mendekat lagi, “Itu, kak Firna selalu... salah tingkah kalau sama Saga.”


...


...


Eh?!!


Kalau diperhatikan..., “Jangan bilang...,” aku kembali berbisik pada Vian.


“Tidak tahu. Aku kira kamu tahu.”


 Gelengan keras kepalaku. Diri ini tidak mengetahuinya sama sekali!!!


Apa itu mungkin? Firna bukan orang yang menyukai cowok yang lebih muda, ditambah lagi banyak tingkah. Meski kami berdua bukan orang yang sukses dalam percintaan, tapi kami paham selera masing-masing.


Tidak mungkin Saga yang dimaksud gebetan baru oleh Firna, kan?

__ADS_1


“Kita awasi dulu,” Vian melanjutkan bisikannya.


Saat ini aku mengangguk. Apapun itu, aku tidak boleh bergerak gegabah. Bisa jadi aku malah mengacaukan apa-apa.


Kedua orang ini masih berdebat. Dan kami masih memperhatikannya. Waktu beriring, aku bertanya-tanya. Apa mereka... mengalihkan topik untuk membuatku tenang?


Manis sekali kalau benar begitu.


“Rasyi.”


Eh?


“Ngapain disini?!” Firna langsung berdiri menanggapi orang ini.


Saga sengaja berdiri di depan Firna, “Mau bikin rusuh apa lagi? Pulang sana!”


“Aku cuma mau ngomong satu hal,” Harun, wajahnya... kacau sekali.


Baru tidak bicara sekitar tiga hari dan aku sudah seperti tidak melihatnya bertahun-tahun. Ekspresinya seakan kehilangan segalanya.


Huuuh....


“Kamu sudah paham jawabannya apa kan, Harun?” kubuang wajahku darinya.


Di pinggir lapangan yang cerah tapi berangin sejuk. Membiarkan suara angin itu bermain dengan dedaunan yang tidak sedikit memilih untuk mengikuti arah tiupan. Setidaknya aku bisa dengan lebih nyaman menyembunyikan gemetar tanganku.


“Aku tidak minta apa-apa,” suara Harun semakin serak, “Cuman, tidak papa kan, aku bilang masih suka sama kamu, Ras.”


Tolong, Harun. Hentikan....


Cepat si Saga mengambil langkah dan berhenti dekat di depan Harun. Mengancamnya hanya dengan berdiri di sana, “Pergi!”


Harun, tertawa? “Aku di sini cuma sebulan doang. Tidak perlu tegang begitu.”


Eh? Apa maksudnya itu?


“Harun... mau ke mana?” kupandang ia lurus meski aku masih duduk di belakang Saga.


“Aku mau pertukaran pelajar,” dia masih tersenyum, “Teman-teman kamu bakal ada terus buat kamu kan? Sekarang aku bakal fokus ke UTS, terus pergi. Senang kan?”


Tapi..., “Kak Fares tahu?”


Wajah Harun tidak tersenyum lagi, “Kamu boleh suka Fares. Tapi aku benci dia. Jangan sebut-sebut lagi.”


Aku terdiam.


“Sudah. Cuma itu,” Harun, pergi.


Menenggelamkan kami di dalam keheningan. Sungguh angin mengambil perannya sangat serius.


Firna berjongkok di depanku, “Rasyi, Harun tadi bilang⏤”


“Jangan sekarang. Please...,” aku tidak mau bicara.


Aku tidak tahu. Seharusnya aku tenang. Namun, aku tidak bisa menahan diri dari diriku yang bersimpati akan hal ini. Mau bagaimanapun, aku bagian dari kisah sendu yang ada di mata Harun.


Inikah yang membuat kak Fares tidak tega membiarkan Harun tanpa harapan?


Fares, apa yang akan dia lakukan kalau mengetahui ini?

__ADS_1


Suara ponsel? Pesan?


[Pulang jam empat? Papa mau belanja dulu.]


__ADS_2