
“Kamu yang pukul Vian?”
A ha ha, aku tidak pernah menduga aku akan mengatakannya dengan gamblang seakan aku mencurigai Harun.
Kulirik lelaki itu... Harun?
“Hehehe, kok gitu sih? Tidak mungkin aku begitu.”
Aku terdiam. Dia tersenyum? Tidak, aku yakin aku melihat hal lain sesaat tadi.
“Kamu lebih percaya mereka?”
“Iya,” heh? Jawabanku?
Kontradiksi apa ini? Apa aku bisa sekonyol ini? Bagaimana aku bisa sebesar itu tidak percaya dengan Harun?
“Tidak begini juga dong. Masa peduli ke Vian sampai nuduh aku,” wajah sedihnya yang biasa.
Iya. Itu ekspresi biasanya.
Lalu, kenapa aku tidak sanggup menjawab? Mengapa aku diam sementara tanganku tidak bisa berhenti bergetar? Seakan ketakutan selagi di kepalaku hanya ada kebingungan.
Kepercayaan itu pudar dan semakin lenyap, setiap kali aku yakin akan apa yang aku lihat dalam sekian detik barusan. Tidak salah lagi. Harun sempat menatapku dengan terkejut.
Bukan, bukan terkejut. Lebih seperti tatapan tajam yang penuh amarah.
“Kita masih di tengah pelajaran loh. Nanti saja lagi ya?”
Apa dia mengalihkan pembicaraan?
Mataku masih menatap depan kelas, “Jadi benar kamu yang lakuin, Harun?”
Kelas kondusif yang masih terasa walau aku tidak memperhatikan sama sekali. Lebih memilih berbisik dan menajamkan telingaku hanya untuk mendengar Harun menghela nafasnya.
“Rasyi....”
Tatapanku akhirnya menghadap ke arah lelaki ini, “Vian salah apa?”
“Kita ada belajar loh. Yang penting mau dijelasin.”
“Harun,” aku menggenggam lengan lelaki itu, “Ini lebih penting. Tolong jujur. Jangan tutupi apapun. Please. Aku takut, aku tidak mungkin biarin ini lama-lama.”
Kenapa kamu tidak menjawab?
Seharusnya dia paham seberapa khawatirnya aku akan konspirasi ini. Tidak. Bahkan aku tidak yakin lagi kalau Firna hanya berbohong.
Rasanya semakin sulit. Sekujur tubuhku seakan tidak sanggup untuk membelanya.
Please. Jangan seperti yang aku pikirkan.
Tolong katakan ini hanya salah paham.
Ia tersenyum, menjawab, “Aku tidak ada sembunyikan apa-apa. Kenapa juga harus takut? Kan ada aku.”
Kutarik kecil lengan kemeja seragamnya. Membuatnya mengalihkan perhatiannya dan lebih berfokus pada kecemasanku.
“Kamu paham bukan itu maksudku kan, Harun? Mereka teman-temanku. Alasan baik apapun, lakukan hal begitu juga tidak benar.”
Tangannya seakan ingin menggenggam tanganku, “Rasyi, nanti dulu.”
Berapa lama dia akan mengalihkan pembicaraan?
“Kak Fares, Harun juga begitu sama kak Fares⏤”
BRAK!!
“IYA, MEMANG!!”
Terkejut bukan main.
Harun menghentakkan tangannya ke meja....
Wajahnya..., menakutkan.
“Harun!!” guru menyadari keributan yang jelas ini.
Wajah Harun melunak, “Maaf bu. Saya izin ke toilet. Sepertinya saya ngantuk.”
__ADS_1
Beliau hanya merespon, “Ya. Sana, cuci mukanya.”
Harun pergi.
Dan aku sulit bernafas.
“Rasyi.”
Aku terkejut dengan sebuah tangan yang menggenggamku tiba-tiba.
“Rasyiqa, kamu pulang aja,” guru kelas yang seharusnya di meja depan malah sudah ada di sampingku, “Biar ibu telpon ayahmu.”
Aku bisa melihat wajah Firna yang khawatir, “Mau ke UKS dulu?”
Perlahan aku tersadar dan semakin keras untuk menggeleng.
Bangku Harun yang masih kosong dan kelas yang sedikit ribut. Dengan pandangan yang sesekali ke arahku. Tambahan lagi sapa-sapa dari mereka menanyakan bagaimana dengan diriku?
Kusentuh kening sendiri. Hangat?
“Halo, pak dokter?” guru, menelpon dengan papa kah? “Iya, dok. Rasyiqa panas lagi.”
Kurasa aku tidak ada pilihan untuk pulang cepat semenjak guru ini sudah menghubungi papa.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Hubunganku dan papa tidak sebaik itu di awal. Khususnya saat baru-baru menyadari kalau aku bereinkarnasi. Bagaimana bisa aku percaya pada orang tua yang sudah berniat mengirim anaknya ke panti dari awal kelahiran?
Selain itu, aku pernah percaya padanya dari lubuk hatiku terdalam. Dan hasilnya, aku menemukan ia menyembunyikan banyak hal buruk di belakang.
Rasa lelah akan kebohongan tidak menghentikan keadaan yang buruk. Mereka masih saja berdatangan dengan perih yang semakin jelas.
Aku tahu papa itu adalah pembohong. Dia tidak mau aku tersakiti oleh masa lalu yang ia bawa. Berusaha sekuat mungkin aku untuk terbiasa akan hal itu. Tenang dan berusaha mencari kebenaran sendiri.
Namun, mengetahui bahwa seluruh orang di sekitarku bertingkah sama. Bukannya menggambarkan aku yang selama ini adalah boneka yang diselimuti fantasi?
“Non, sudah sampai,” suara pak Darma di kursi pengemudi depan, “Gak langsung ke rumah aja?”
Aku bersiap dengan tas kecil yang kebetulan aku tinggalkan di mobil. Meninggalkan tas ransel beratku. Hal sederhana ini bisa memudahkanku untuk berjalan menelusuri rumah sakit.
“Tunggu non, saya harus temani.”
“Tapi non, saya selalu diminta tuan buat temani nona setiap kali di rumah sakit.”
“Saya pergi sendiri, pak.”
Beliau mulai membuka pintu.
Sungguh, pak?! Aku sudah lelah dan dia memintaku untuk berdebat akan hal ini juga?
“Pak! Aku pergi sendiri!! Awas kalau bapak ikut!!”
Aaa....
Aku membentak beliau.
Menghindari topik, aku meninggalkan pria itu bersama pintu mobilnya yang bahkan belum sempat terbuka lebar.
Di samping langkahku yang tergesa-gesa, aku menekan diriku untuk tidak tergebu-gebu.
Aku harus tenang. Ini hanya satu dari banyaknya berbagai masalah yang kuhadapi. Seperti yang sudah-sudah, aku pasti bisa menemukan solusinya jika aku berpikir lebih tenang.
Bicara, solusi terbaik untuk menyelesaikan perselisihan ini. Pastikan dulu si kembar menerima permintaan maaf dari Harun. Dan aku akan menekankan pada Harun untuk tidak melakukan seenaknya akan hal itu.
Langkahku terhenti.
Apakah mereka mau...?
Tidak. Bisakah Harun aku minta begitu?
Kenapa? Kenapa aku seperti ditarik jauh dari percaya pada Harun?
(“Apa yang mereka punya? Tidak ada! Kamu cuma butuh aku!!”)
(“Rasyi!”)
(“Bilang!”)
__ADS_1
(“Kamu cuma butuh aku! Bilang sekarang!!”)
Harun..., dia sungguh bukan Harun yang biasanya. Apa itu berarti benar kalau selama ini Harun bermuka manis hanya di depanku.
Eh?⏤
“Panggilan untuk dokter....”
“Maaf! Bisa tolong di sini?!”
“Sakit, ma!”
“Itu loh nomormu dipanggil!”
A, aku, sudah ada di tengah lobi?
“Gak mau!!”
“Pelan-pelan!!”
Terlalu berisik.
(“Baru juga sebentar. Masa sudah mau pulang?”)
(“Kemana?”)
Berisik!
(“Rasyiqa mau main dengan kakek kan?”)
(“Iya kan?”)
BERISIK!!
“Aaa!!” sebuah tangan menyentuh wajah... ku....
“Sudah sadar?” papa? Dia mengetuk pelan hidungku, “Nafas.”
Yang sudah berdiri di depanku?
Ia tampak memiliki kesibukan sendiri dengan ponselnya. Menghubungi seseorang?
“Rasyi sudah disini. Jemput lagi seperti biasa. Makasih,” papa tampak menutup panggilannya, dengan bapak Darma?
Huuuh, nafasku bisa berjalan dengan lebih normal. Mataku masih terpaku pada wajah papa yang tinggi selagi kecepatan detak jantungku berubah.
(“Rizki, kamu sudah melakukan apa?”)
(“Tenang, aku tidak melakukan hal yang merugikan banyak orang. Aku juga tidak mau dipenjarakan semudah itu.”)
(“Sejak kapan kamu selalai itu? Ini bukan Rizki yang aku kenal.”)
(“Apanya? Kamu kan tahu aku sudah sempat membunuh orang.”)
A ha ha, kenapa aku jadi teringat dengan fakta itu? Fakta bahwa papa lebih buruk.
Fakta bahwa, meski untuk kebaikanku, orang yang paling banyak berbohong adalah orang ini.
“Kenapa muka jelek begitu?”
Heh? Papa bilang apa tadi?
“Kalau sakit, bukannya di rumah. Bodohnya malah ke sini. Mau tambah sakit?”
...
“Hi... hihihihihi!!”
“Beneran sakit,” papa menyentuh keningku, “Ayo ke ruangan papa. Istirahat dulu di sana.”
Tidak bisa. Berapa banyaknya dia berbohong denganku, aku tidak bisa melihat sisi papa yang berniat jahat sedikit pun. Kebohongannya tidak membuatku cemas sama sekali.
“Rasyi?!” aku mendengar papa sedikit panik.
Sepertinya keteganganku tenagaku menghilang. Papa pasti menangkapku sebelum sungguh jatuh.
Tidak. Aku merasa seperti sengaja, hanya untuk memeluknya. Dan papa sepertinya sadar dan mengelus kepalaku.
__ADS_1
“Dasar, anak ini. Kalau jatuh beneran, ngeluh sendiri.”
Memandang wajahnya membuatku tersenyum, “Hihihihi....”