
Papa dan tante Ira.... mereka benar ada di... satu selimut yang sama.
Namun, seperti yang Fares katakan, mereka bahkan tidak sadar dengan kedatangan kami. Layaknya kami yang tidak tahu dari mana sampai mana mereka bertingkah.
Sampai mana....
“Ra....”
Kalau misalnya mereka ternyata tidak berhenti sampai di mana titik yang seharusnya berhenti⏤apa yang aku pikirkan?! Itu kan....
“Ras....”
Itu kan urusan mereka.
“Ra...”
Itu urusan papaku....
“Rasyi!”
Aku memandang ke orang ini, “Hmm?”
“Apaan?! Telinga kamu udah budek, huh?!”
Memang kenapa dengan telingaku? “Tidak kok.”
“Tidak kedengaran? Nenek lampir! Denger tidak!!”
Bertahan masih tatapanku pada Saga, “Dengar.”
Saga terdiam sesaat, “Heh, kelinci pendek.”
Jawab saja seperti biasa, “Apa?”
Wajah Saga aneh sekali. Vian juga, kenapa tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah keningku? Keningku ada apa?
“Tidak panas,” Vian menjauhkan tangannya.
Bergantian tanganku sendiri yang menyentuh keningku, “Memang tidak panas kan?”
“Ini sih sudah. Lagi gila,” Saga menggeleng-geleng.
Suara ponsel. Vian sesaat panik dan mengangkat alat elektroniknya itu. Dia pergi menyisakan aku dan Saga berdua di taman.
Tadi kami sedang apa? Oh, iya, menunggu Firna bertemu guru dulu. Hari ini aku pulang ikut dengan Firna sih.
“Ras.”
“Hmm?”
“Ras, serius, aku mau... tanya.”
“Aku dengar.”
“Kamu aja lihatin ke lain!”
“Iya, aku dengar.”
“Anj...,” suara Saga tidak bertenaga, “Kamu sakit beneran kan? Iya kan?”
“Tidak.”
Aku tidak punya tenaga sama sekali. Semuanya terasa sangat malas.
“Oh!” suara Saga tiba-tiba meninggi, “Kak Fares?!”
Eh?
Kepalaku berputar memandang Saga. Wajahnya seakan marah menatapku. Namun aku tidak melihat Fares sama sekali.
“Baru. Noleh!” Saga masih tampak kesal.
__ADS_1
Hmmm. Dia berbohong hanya untuk menarik perhatianku.
Aku memilih untuk benar-benar menatap ke arahnya, “Kenapa?”
“Kamu ada dengar, Firna... ada cerita tentang aku tidak?”
Pertanyaan apa itu? Semua membuatku muak sendiri. Kenapa setiap orang di dekatku tidak tahu batasan, sih? Kalau tidak aku yang dipaksa membagi masalahku, mereka yang mengikut-sertakan aku ke masalah mereka.
Hela nafasku berat, “Kenapa? Kamu suka sama Firna?”
Namun Saga tidak bereaksi banyak, “Mungkin.”
...
Itu semakin buruk!
Mereka berdua ingin membuatku sebagai malaikat cinta yang bertugas untuk menyatukan mereka? Ini kan urusan mereka! Bukannya aku!
Aku melipat kedua tanganku selagi aku tidak bersandar pada meja, “Terus apa?”
“Itu... Firna⏤”
“Kamu tuh ya, kayak bayi yang belum bisa jalan aja. Ini urusan kamu, Sag. Dewasa, cari solusi sendiri!”
Saga terdiam, “Kenapa kamu marah?”
Orang ini sempat bertanya? Sungguh?! “Aku bukan ibu kamu! Bahkan ibumu juga pasti mikir kamu tuh gak bisa mandiri!”
“Heh, aku tuh cuma mau tanya tentang Firna. Dia tuh selalu aneh belakangan ini. Aku cuma mau tahu kalau aku... buat kesalahan atau apa.”
“Terus? Hubungannya apa sama aku?!”
Saga menarik nafas, “Kamu kenapa sih hari ini?”
“Kenapa? Kamu sama Vian kan yang bilang? Kalau aku tidak marahin kalian, berarti aku sakit.”
“Beda! Kalau yang ini namanya ngajak berantem!”
“Bagus kalau sadar. Jangan curhat-curhat lagi deh. Aku tidak mau dengar!”
“Bukan berarti aku yang harus selesaikan masalah kalian! Kamu sama Vian kelahi, aku yang menengahi! Vian sama Clarisa gak jelas, aku yang urus. Sekarang kamu sama Firna! Perlu aku yang jodohin kalian juga?!”
“Itu gara-gara kamu sendiri terlalu baik!”
Aku terlalu baik?!
“Terus kenapa?! Kenapa kamu selalu seenaknya nambah pikiran aku?! Aku tidak bisa tenang kalau begini terus, papa!!”
Heh?
Saga tersadar, “Papa?”
Pundakku menurun. Apa tadi itu, aku terbawa emosi karena terlalu banyak memikirkan papa? Tidak seharusnya aku memikirkannya atau bahkan melampiaskannya pada orang seperti ini.
“Kenapa sama dokter Wirandi?”
“Jangan tanya!” aku meninggikan suaraku lagi? “Maaf.”
Saga tidak tampak ingin menanggapi. Udara di sekitar seakan ditekan agar tidak berbicara. Kami seakan memang sedang bertengkar besar.
Dan itu terjadi di emosiku yang meluncur dengan tidak seharusnya. Hal ini salahku.
“Aku minta maaf,” aku kembali menumpu pada meja taman, “Firna....”
Mereka berdua saling suka. Firna terlalu tidak berani. Dan Saga, kurasa seperti perkataan Fares, tidak mau pacaran. Kalau seperti itu aku tidak bisa mengatur dia untuk pasti pacaran dengan Firna. Itu keputusan yang harus mereka berdua diskusikan sendiri.
Pertama, Firna harus jujur dulu. Setelah itu, mereka harus punya suasana bagus. Layaknya kencan.
Mudah panggil Firna kalau aku sudah di tempat. Kalau Saga....
“Firna tidak ada cerita khusus,” aku melanjutkan bicara, “Kalau dia marah atau apa, aku juga tidak tahu. Kamu tahu habis kakak kelas yang dulu, dia tidak mau cerita-cerita tentang....”
__ADS_1
Ups!
“Dia jadi punya trust issue maksudmu?”
“Iya,” untung.
Aku hampir bilang ‘dia tidak mau cerita tentang gebetan barunya’. Kalau seperti itu, dia pasti menemukan clue kalau gebetan Firna itu dia. Hari ini aku sungguh tidak fokus.
Berpikirlah lebih baik!
“Kayaknya dia agak sensitif karena ultah-nya tidak dirayakan,” aku memulai topik baru.
“Ultah? Kapan?” Saga menanyakan lebih dari apa yang aku harapkan.
Aku tahu Saga sangat tidak pedulian. Namun sangat beruntung bagiku akan dia yang bahkan tidak tahu ulang tahun Firna. Itu memudahkan aku untuk merangkai cerita palsu yang lebih natural.
“Kamu tidak tahu?” aku bertanya lagi.
“Tidak.”
“Besok.”
“Huh?!”
“Aku rencananya cari kado buat dia besok. Kalau aja bikin mood-nya bagus,” kupandang lelaki itu, “Mau ikut?”
Saga tampak berpikir keras, “Besok... aku....”
Dia punya rencana lain kah? Kalau begitu, aku harus membuat skenario baru.
“Emang kak Fares OK aku pergi sama kamu?”
“Memangnya kak Fares sama kayak kamu, yang mudah mengamuk?”
Saga tertawa? “OK, aku ikut.”
“Besok jam lima?” aku memiringkan kepalaku.
“Jam lima. Aku jemput.”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Yakin nih dia bakal suka?”
Anak ini selalu saja khawatir. Harus aku katakan berapa kali, “Buat apa kasih kado kalau bukan dari kamu? Udah, Firna pasti suka kok.”
“Kado kamu apa?”
Jangan harap tahu, “Tidak boleh nyontek.”
“Bukan ulangan heh!”
Karena hadiah ini bukan kubeli untuk Firna, tapi untuk Saga. Aku sengaja membeli banyak barang dan menjadikan satu dengan tote bag-ku, supaya Saga tidak menyadarinya. Jadi aku bisa memberikannya ke Firna supaya dia bisa langsung mempersembahkan ini ke Saga.
Semua ini akan aku selesaikan sekarang.
Langkah pertama....
“Kita langsung yuk,” Saga sudah mau mengantarku pulang.
“Tunggu,” aku berhenti berjalan, “Kayaknya aku lupa sesuatu deh.”
“Apa?”
“Karena aku lupa, jadi aku tidak tahu,” kupastikan ekspresiku seakan mengejeknya.
“Berarti tidak penting. Yok.”
Terpikir olehku sesaat. Pencerahan apa yang didapatkan oleh Firna sampai ia mendeklarasikan suka dengan orang ini. Lihat seberapa tidak pedulinya dia.
Cowok ini sungguh cowok idaman yang paling ideal. Sarkasme itu bahkan belum cukup untuk menggambarkannya.
__ADS_1
“Aku sudah telpon kak Fares. Nanti bakalan jemput aku,” tersenyum aku membelakangkan kedua tanganku, “Cari dessert dulu yuk!”
Sepatu putih bertali itu aku langkahkan duluan. Membuat rambut, yang ditemani topi biasa, sempat terhempas karena lajuku yang tiba-tiba.