
Akhirnya kami sampai di balkon mall. Ruang terbuka hijau luas yang sengaja dibuat pihak mall agar pengunjung bisa lebih nyaman beristirahat dan merasa lenggang dari keributan.
Keadaan yang tidak aku pahami ini, membuat waktu berdua aku dan Harun menjadi terasa canggung dan membingungkan.
“Harun?” aku sangat ingin keluar dengan cepat dari situasi ini.
Dia menghela nafas. Sekiranya, pohon rindang di samping kami bisa melapangkan dadanya?
“Kenapa kamu keluar bareng mereka?” pembicaraan ini kurasa dimulai dengan berat.
Meski aku tidak menangkap apa masalahnya, “Memang ada apa?”
“Aku tidak suka kamu pergi sama mereka!”
Kembali lagi. Hubungan mereka selalu saja tidak baik sampai menatap wajah masing-masing saja seperti sebuah kutukan.
Inilah mengapa aku tidak bisa bebas pergi dengan si kembar. Apa jadinya nanti kalau si kembar pun tidak sudi aku dengan Harun dan ribut setiap saat?
Pada akhirnya aku memilih yang lebih damai dengan merahasiakannya pada Harun.
“Maaf. Aku pikir tidak bakal lama juga....”
“Mana bisa begitu! Rasyi! Aku suruh kamu jangan temenan sama mereka!”
Selalu saja khawatir.
“Mereka tidak nyusahin aku kok. Vian cuma...,” aku perlu melencengkan kenyataan sedikit, “Mereka cuma minta tolong aku buat pilihin kado buat temannya. Itu doang.”
“Rasyi. Aku tidak bisa lihat kamu dekat sama mereka. Aku... marah! Mereka itu, rebut kamu dari aku!”
Terdiam aku sesaat.
Justru di keadaan tegang ini, aku sangat menahan keinginanku untuk tertawa.
Jadi masalahnya hanya karena dia cemburu?
“Cemburu?”
Keningnya menyengir, “Pasti aku cemburu!”
Aku tertawa, “Kami cuma teman.”
“Berhenti!” Harun mendekatiku lebih, “Berhenti temenan sama mereka!”
Sedih aku menghadapinya.
Harun seperti ini lagi. Terus melarangku atas sesuatu yang tidak beralasan. Khawatir boleh. Aku juga paham si kembar itu tidak main-main merepotkan. Namun semua sudah baik. Seharusnya tidak perlu dramatis seperti itu.
“Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Aku sudah bisa memilih temanku sendiri,” senyumku merekah.
Namun, Harun tak tersenyum sama sekali, “Berhenti kayak kamu paham! Aku lebih paham apa yang baik buat kamu!”
Aku tahu dia overprotektif seperti ini karena khawatir. Ditambah dengan tragedi yang memaksaku untuk masuk rumah sakit.
Namun, kalau sampai seperti ini, bukannya namanya pemaksaan?
Tolong jangan buat ini seperti kejadian ekskul sebelumnya.
“Harun, please, percaya sama aku. Aku bakal hati-hati. Tidak perlu khawatir⏤Aaa!!”
Auw! Kenapa? Harun menggenggam tanganku tiba-tiba. Sangat erat dan mengejutkan.
Wajahnya... tampak mau menangis?
“Kamu tidak butuh mereka.”
Aku mengangkat wajahku ke arahnya, “Heh?”
“Apa yang mereka punya? Tidak ada! Kamu cuma butuh aku!!”
Kenapa... Harun jadi seperti ini...?
__ADS_1
“Rasyi!”
Aku terhentak di sela ia semakin dekat. Di tengah tubuhku yang bergetar sesaat, “Ha... run⏤”
“Bilang!” teriaknya semakin kencang, “Kamu cuma butuh aku! Bilang sekarang!!”
“Harun...,” hentikan....
Aku terdiam. Terhentak. Kejutan lain. Tidak bisa menang dari rasa tegang terhadap Harun, tapi berhasil membuatku tidak bisa berpikir.
Papa sudah berdiri di antara kami.
“Cukup,” papa melepaskan genggaman harun dari tanganku.
Entah bagaimana, gemetar itu masih ada di seluruh tubuhku. Naluri kecilku mengajak cepat menarik baju papa dan mendekap padanya.
Untuk pertama kalinya aku bersama Harun, tapi aku ingin pulang.
“Paman, maaf. Saya rasa saya masih banyak hal yang didiskusikan dengan Rasyi,” Harun tampak tidak senang.
“Oh ya?” papa menarik aku semakin dekat di dekapannya, “Mataku cuma nangkap kamu kasar ke anakku.”
Aku harus tenang. Pikiranku harus tetap positif.
Perdebatan bukan hal yang mustahil. Bahkan dalam hubungan suami istri saling mencintai. Tidak terkecuali aku dan papa. Apalagi aku dan Harun.
Harun hanya sedang tidak senang. Meski tidak mengenakkan sama sekali, semua hanya emosi yang meluap.
Mari padamkan dulu luapan itu.
“Ha, Harun,” aku mengintip dari balik papa, “Aku butuh Harun.”
Lelaki ini terdiam. Begitu juga papa meski tidak ikut terkejut.
Aku mencoba tersenyum, “Harun pasti paham kan kalau itu pasti.”
Marahnya tampak memudar. Raut wajah itu mencair dan kembali layaknya lelaki yang aku kenal.
Sekarang, aku ingin sekali pulang dan meninggalkan semua ini.
Kurasa aku masih ingin main aman. Harun bisa saja tersinggung kalau aku langsung bilang ingin pulang.
Eh?
Papa menggandeng tanganku. Menyentuh keningku dan mengelusnya, “Rasyi tidak sarapan. Makanya agak panas.”
Hmm? Aku tidak merasa panas. Jangan bilang papa berbohong. Dia paham kah kalau aku ingin pergi dari sini.
Aku harus berterima kasih padanya.
“Kita pulang,” tarikannya tanpa jeda langsung menarikku pergi.
Memandang aku ke arah Harun. Tersenyum pasrah menunjukkan aku tidak bisa melawan papa.
“Chat aku nanti!” Harun memberikan pesan di sela aku menjauhinya.
Aku tersenyum tipis, “Iya!”
Nafasku akhirnya bisa normal. Langkahku yang harus cepat untuk menyamakannya dengan milik papa perlahan semakin lancar.
Kurasa aku sudah lega karena tidak ada keributan yang lebih.
“Rasyi tidak perlu....”
Hmm? “Apa tadi, pa?”
Papa kok diam?
“Rasyi masih harus belajar habis pulang, ingat?”
A ha ha..., “Iya, Rasyi ingat,” itu memang yang aku janjikan sejak nilaiku semakin turun.
__ADS_1
Terdiam aku sesaat. Keadaan melelahkan ini, entah kenapa aku merasa ingin pergi ke sana.
“Pa.”
“Hmm?”
“Rasyi boleh belajarnya sama kak Fares tidak?”
Papa sesaat terdiam meski langkahnya masih menelusuri mall ke jalan keluar.
Suaranya kembali lagi, “Boleh.”
Jawaban itu bisa membuatku lebih tenang.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Sayang?” Sari bertanya sambil mengeluarkan seringai senangnya, “Ada apa kok ke sini?”
Aku tersenyum meski lemas, “Rasyi mau belajar di sini. Biar ganti suasana.”
Wajah itu tampak tidak paham. Ia mendapati papa masih berdiri di belakangku. Namun tak sampai lima detik, senyum itu merekah lebih lebar.
“Makan dulu ya? Tante bikin udang saus kaloke loh,” wanita ini mengelus pipiku, “Lesu begini. Pasti lapar, kan?”
Apakah lelahku terlihat jelas? Tidak salah seorang ibu yang telah mengasuhku dari bayi ini menyadari aku yang tidak bersemangat.
Saat ini memang aku sangat lelah.
Kami memasuki rumah lebih dalam. Menuju ruang keluarga dengan set sofa bed yang nyaman.
Oh. Kak Fares sepertinya sibuk dengan laptop-nya.
“Mau makan disini?” Sari menyadariku terhenti berjalan, “Tunggu ya. Tante ambilkan ke sini.”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Rizki makan juga, ya?”
“Terima kasih,” papa berjalan melewatiku sambil mengelus lembut kepalaku, “Aku pinjam toilet dulu, kak.”
“Silahkan~”
Kedua dewasa itu pun pergi lebih dalam. Meninggalkanku masih berdiri di pinggir sofa ruang tengah.
Rasyi, hentikan lesumu! Kamu harus tetap ceria supaya tidak ada yang kepikiran!
“Kak Fares~” langsung aku mendekati pria ini⏤
“Aa! Ra, Rasyi?” wow, ternyata kak Fares bisa terkejut sampai sebegitunya.
Tingkahnya jadi tidak tentu?
“Kak⏤?”
“Maaf. Kakak, kakak ada agenda di kampus,” heh? “Kakak tinggal ya?”
Heh?
Aku menatap pria ini, pergi? Seperti itu saja?
Dia masih marah kah denganku?
“Loh? Fares mana?” Sari membawa dua buah piring penuh dengan makanan.
Aku menatapnya, “Katanya mau ke kampus.”
“Padahal dia baru saja pulang loh...,” beliau meletakkannya piring itu di meja rendah persegi panjang.
Terduduk aku di depan meja itu. Mustahil tidak ada apa-apa kalau sampai seperti itu.
“Ya sudah. Nanti belajar sama tante, ya? Sekarang makan dulu, istirahat.”
__ADS_1
Aku tersenyum, “Iya.”
Hari ini, rasanya aku tidak bisa tersenyum lebih dari itu.