
“Paman mau kopi?”
“Hmm,” papa masih sibuk dengan Daffa.
Tanda itu sudah cukup untuk Fares berdiri meninggalkan laptopnya. Pergi ke coffee corner, memproses apapun yang perlu.
“Rasyi debat juga sama Fares?” suara kecil dan lembut papa bisa tertangkap di telingaku.
“Hmm? Kok papa mikir gitu?”
“Diam aja dari tadi.”
Memang kami tidak ada bicara. Itu juga karena aku masih kesal dengan cara Fares berpikir tentang Harun.
Fares dan aku... Kelahi? Tu, kenapa kelahi?! Hubungan kami kan baru saja baik?! Kenapa canggung lagi?!
Tidak bisa diterima!
Langsung aku berdiri dari sofa ruang keluarga. Berlari ke belakang Fares dan menggenggam bajunya.
“Ey!” kak Fares terkejut.
“Jelek! Kak Fares jelek!!” aku berteriak dan mengguncang badannya, “Minta maaf sekarang!!”
“Awas! Nanti, tumpah!”
“Minta maaf!!”
Tidak bisa diterima! Jangan memperkeruh keadaan dong!
“Inta maaap!!” Daffa, malah ikut-ikutan meraih kaki Fares.
Sampai dia bilang maaf, aku tidak akan berhenti marah!!
“Iya! Kakak minta maaf!”
Aku langsung berhenti. Diam, saling pandang.
Sudah?
Terus?
Aku harus apa?
“Pfft⏤!”
Papa, telingaku mendengarnya!!
Suara pintu mengalihkan kami. Apakah....
“Eh, masih ada Rasyi,” tante favoritku akhirnya pulang! “Mau nginap di sini?”
“Tanteeee!!” Daffa berteriak girang mendekati Sari.
Sari menggendongnya langsung setelah meletakkan buket bunga dan barang-barangnya di meja makan. Hendra tampak menyusul dengan berbagai tas belanjaan.
“Untung kita beli banyak makanan,” Sari tersenyum ke arah suaminya itu.
“Udah pulang?” Ira muncul. Dia pasti baru kembali dari mandinya, “Bersenang-senang kah, kak~?”
“Diam!” Hendra tampak marah.
Papa tiba-tiba berdiri, “Aku ada yang diurus di rumah.”
Yah... Berarti aku ikut pulang? Sayang sekali padahal masih jam tujuh malam dan malam masih panjang. Apa papa punya appointment atau semacamnya? Dokter terkenal memang ribet ya.
“Mau pulang nanti? Biar kakak yang antar pulang,” Fares menepuk kepalaku.
Senang aku mendengarnya, “Iya, mau!”
“Jangan malam-malam,” papa mengambil langkah pergi setelah berpamitan.
__ADS_1
Padahal akan baik kalau dia santai sedikit.... Atau dia hanya menghindar dari keramaian? Sudahlah.
Fares bersuara, “Gimana, bu?”
“Ini, pasti kalian. Hendra mustahil bisa bikin kencan,” ucapan Sari seperti menusuk tepat di jantung Hendra.
Aku ikut tertawa, “Kali ini beda kok. Paman Hendra sendiri yang minta dibantu~”
“Rasyiqa...!” kenapa Hendra malah marah?
“Beneran?” tuh kan, Sari bisa terharu juga, “Bisa juga ternyata,” Sari tertawa manis.
Tentu membuat Hendra terkeplek-keplek meski tidak jelas terlihat.
Yak! Cukup sudah mesra-mesraannya!
“Rasyi mau lihat kadonya dong. Rasyi belum sempat lihat~” aku mendekati Sari.
Ira sudah menyiapkan kado yang manis atas nama Hendra. Sayang sekali kado itu sudah dibungkus rapi saat Ira memberikannya ke Hendra. Namun kado album foto itu membuatku penasaran.
“Boleh. Sini,” Sari mengajak Daffa dan aku duduk di ruang keluarga bersamanya.
Aku menatap Sari yang membuka halaman pertama. Tampak manis dengan foto pernikahan.
“Wah, tante cantik banget~” aku berkata sangat jujur. Pantas saja Hendra langsung sensitif kalau Sari punya kontak mantannya.
“Terima kasih~”
Sari membuka halaman selanjutnya. Ini sungguh menjadi cerita gambar yang menuntun untuk mengingat kembali perjalan cinta kedua orang ini. Bahkan masa-masa kehamilan Fares.
Oh? “Itu kak Fares⏤”
Kenapa albumnya ketutup?
“Tante Ira, bukannya sudah Fares bilang jangan pakai foto itu?!” Fares, dia sudah menutup buku album dan merebutnya dari tangan Sari.
Wajahnya malu akan sesuatu? Jangan bilang kak Fares tidak suka foto bayinya kelihatan? Ya, mau bagaimana lagi. Hanya dengan popok saja... lucu~
“Kenapa kak? Fotonya kakak lucu loh~” aku tersenyum ingin tertawa.
“Berisik!”
Sari yang tidak bisa menahan tawanya membuat suasana humor pecah. Namun sayang, Fares harus mengalah karena aku ingin melihat kelanjutan albumnya.
Hmm? “Ini siapa?” aku menunjuk satu foto kak Fares kecil dengan seorang lelaki yang lebih tua darinya.
Sepertinya pernah lihat.
“Itu kakaknya Rasyi,” Sari masih menemaniku melihat-lihat foto.
Kakakku? Oh! kak Riza ya? Seorang kakak kandung yang lahir dari rahim yang sama. Namun meninggal di umurnya yang keempat.
Ternyata kak Fares cukup dekat dengan kak Riza. Foto itu memperlihatkannya.
“Kalau ini Rasyi baru lahir~” Sari tersenyum lagi.
Aku? Bagaimana bisa aku masuk ke album anniversary Sari dan Hendra? Gambar kak Riza tidak masalah karena ada Fares di sana. Namun, lihatlah ini! Bahkan banyak halaman berisikan aku, aku dan hanya aku!
Layaknya aku adalah anak dari keluarga ini.
“Ini foto favoritku~” Ira yang melihat dari belakang menunjuk satu foto.
Foto itu sangat aku ingat. Itu ulang tahun pertamaku. Dengan tema korea.
Gambar ini diambil Ira saat aku baru berpelukan dengan Fares. Dan saat dia berjongkok di depanku, aku memperhatikan topi Fares, selagi ia memandang kamera yang berhasil ditangkap Ira.
Oh. Apakah seharusnya aku tidak ingat itu?
“Kapan nih?” akting yang luar biasa, berikan kesan pada kami~
“Ulang tahun pertama Rasyi,” Sari mengelus lembut pipiku. Ia tertawa, “Rasyi masih baru belajar jalan. Tapi kalau lihat Fares, suka banget lari sambil teriak, kak Fayes~”
__ADS_1
Tentu saja itu hanya bagian dari akting, makanan tiap hari kecilku. Peran pura-pura lugu dan imut.
Namun melihat reaksi Sari, ia seperti menganggapnya... segalanya.
“Ayo makan, anakmu sudah kelihatan lapar,” suara Hendra masih santai duduk di sisi lain dari sofa.
Sari memandangku, “Iya kah?” ia memandangku lebih dekat.
Tidak kok. Aku tidak selapar itu.
Namun seorang ibu, tentu memperhatikan aku lebih jauh. Kami memutuskan untuk makan malam bersama dengan makanan yang dibawa pulang Sari dan Hendra.
Yah, malam normal lain dengan keluarga ini.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Akhirnya sampai juga ke rumah. Lelah rasanya. Malam kemarin aku baru begadang karena PR, dan sekarang aku baru pulang jam sebelas malam. Tentu aku mengantuk.
“Kakak langsung pulang ya?” kak Fares masih ada di kendaraannya menerima helm yang kulepas.
Ya, saat Fares sampai ke rumahnya, mungkin sudah tengah malam.
“Pergi!!”
Hmm? Itu suara papa. Siapa yang ia teriaki malam-malam seperti ini?
“Itu paman, kan?” Fares terlihat panik dan memarkirkan kendaraannya. Ia berjalan melewati pagar rumah, “Paman?!”
Heh?! Kenapa ada Harun di sini?!
Langsung aku berlari ke arah Fares dan menggenggam bajunya.
Sadar lelaki itu akan kehadiranku, “Rasyi, aku ke sini⏤”
“Pergi! Keluar sekarang juga!!” papa mendorong bahu Harun.
Harun tampak marah, tapi, entah bagaimana ia menahannya lebih keras. Ia fokus ke arahku, “Rasyi, biarin aku bicara. Sedikit saja.”
Aku menyembunyikan diriku di balik Fares, “Pulanglah. Sudah tengah malam.”
“Rasyi, sebentar saja⏤”
“Harun!” papa, aku tidak menduga dia bisa sangat kasar menahan baju Harun, “Waktu habis! Enyah sekarang!!”
“Paman, tolong tenang dulu,” Fares mendekati mereka dan menahan keduanya.
“Kalau gitu, bawa dia!” papa dengan marahnya mendorong Harun ke Fares.
Aku memilih untuk pergi mendekati papa. Pria ini menyambutku dengan tangan terbukanya, memelukku langsung saat aku sampai di depannya.
“Lepas!” Harun tidak terima support dari Fares.
“Tenang dulu,” Fares menahan Harun, “Paman, tolong, kasih kesempatan lagi buat Harun.”
Suara papa sangat dingin didengar, “Fares, kamu pasti ngantuk gara-gara terlalu malam.”
“Saya mengatakannya dengan sadar.”
“Kalau begitu pergi istirahat dan jangan balik ke sini.”
Dia? Mau menjauhkan aku dari Fares juga?
“Jangan, pa!” aku memukul kecil papa ini.
“Saya temani selama mereka bicara. Satu kali saja kalau tidak lancar, saya langsung bawa Rasyi pulang. Terus... saya janji menjauh dari Rasyi.”
Eh?! “Kak Fares!”
“Kakak mohon. Sekali saja, ya?” Fares memandangku dengan memohon.
Aku tidak suka ini. Namun bukan berarti, jika aku menolak, berarti semua selesai. Bisa jadi dia malah lebih banyak mengganggu. Dan papa akan semakin marah.
__ADS_1
Papa memandangku. Menandakan aku bisa menentukan keputusan sendiri.
“Sekali saja,” aku harap keputusanku tidak salah.