Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#58 Sehabis Hujan


__ADS_3

Sudah selesai. Kepala sudah disiram. Badan sudah dibersihkan.


Luka juga sudah diobati. Cuma sejauh yang terlihat. Siapa yang tahu kemana saja luka gigitnya. Wanita itu benar-benar lagi senang. Dia bikin capai.


Berhenti di depan kaca lemari. Ambil baju. Lalu setelah ini harus istirahat. Rumah sakit masih ada jadwal besok.


Sepertinya aku lupa obati yang di samping mulut. Kembali lagi kakiku. Menuju ke lemari berkaca di depan wastafel. Basuh lagi muka. Ingin oleskan lagi obat tadi.


Hmm?


Luka di mukaku. Bertambah di sisi mataku. Aku basuh lagi. Dan dia bertambah lagi di pipi kiri.


Lagi.


Lagi.


Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.


“Haaa...,” nafas itu aku buang.


Sampai aku sadar. Luka-luka di mukaku itu cuma ilusi lagi.


Mataku tidak bengkak. Pipiku juga bukan bekas tonjokan. Tidak seperti sebelumnya, mukaku bersih.


Cepat pakai baju saja. Hadap ke kaca bukan hal senang. Mau gimana pun, muka tetap saja mirip. Sewaktu-waktu bisa lupa, kalau aku adalah Rizki. Untung saja semua kaca dijadikan satu dengan kamar mandi.


Jadi tidak perlu ingat generasi lalu.


Pintu terbuka. Wangi teh bisa tercium.


Terdiam di tempat.


Seharusnya aku sudah bisa tebak gimana reaksi putri ini. Rasyi tidak mungkin bisa tenang. Apalagi lihat aku pulang dengan kacau. Dia tidak akan serahkan begitu saja untuk cari tahu dari aku. Putri ini mungkin mau tunggu. Lalu introgasi aku setelah mandi.


“Heh,” aku tertawa.


Rasyi malah tertidur di kasurku.


Dekat ke sana. Ujung kasur aku duduki. Putri ini tidur, bergulung. Kedinginan. Tarik selimut tebal biar dia sedikit hangat. Rambut itu kuusir dari muka dan lehernya. Dia seperti tidur dengan lebih nyaman.


Aku berdiri lagi. Sofa di samping itu aku ambil duduk. Minum secangkir teh hangat.


Lagi, aku tidak kantuk sama sekali.


Sepertinya harus mulai cari bacaan baru.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Aku seruput lagi teh itu. Meski hangatnya sudah hilang. Tidak boleh hanya karena itu langsung dibuang saja.


Habis. Kembalikan lagi ke alas piring kecil di meja itu. Diam.


Saat bibi sudah bangun, aku akan minta buatkan lagi. Tumben sekali rasanya sudah lapar. Bubur sepertinya enak. Kalau gitu, aku cari saja bibi dulu sebelum sempat masak.


TOK! TOK! TOK! 


Itu pasti salah satunya.


“Tuan sudah bangun?!” suara yang terendam dari balik pintu. Kedengaran panik.

__ADS_1


“Masuk,” aku masih sibuk dengan novelku. Pastikan suaraku tetap tenang tapi terdengar oleh bibi yang panikan itu.


Sepertinya percuma saja. Wanita ini malah ‘dobrak’ pintu kamar. Umur dia tidak jauh di bawah umurku. Terkadang heran, mana dia dapat tenaga lebih begitu.


Tidak lama lagi dia pasti berteriak. Mana bisa dia sadar Rasyi masih tidur pulas. Harus aku respons cepat. 


“TUAN!”


Aku menutup novelku, “Hmm?”


“Non Rasyi, tuan! Non Rasyi!”


Cuma itu ternyata yang bikin panik. Dia sudah panik saat tidak ada Rasyi di kamarnya. Padahal kalau dia hadap sedikit ke kanan, dia sudah lihat Rasyi masih tidur.


“Non Rasyi hilang, tuan!”


Tangan topang kepalaku. Pegangan sofa itu empuk. Rasanya bikin malas jawab. Kumainkan saja kepalaku. Gerak sedikit ke arah Rasyi. Yang masih tidak bangun di teriakan bibinya.


“Nona, tuan!” dia pelan-pelan lihat ke kasur, “Nona tidak ada di kamar⏤lah ini non Rasyi.”


“Hmm?” sepertinya putri ini bangun.


Berdiri tegak, “Siapkan macam-macam buat pagi. Aku yang bangunin. Tolong belikan bubur ayam buat aku.”


“... Siap, tuan.”


Akhirnya ributnya pergi. Putri ini tidak tahu-tahu. Dia cuma duduk di tengah kasur sambil gosok-gosok mata. Masih mau kumpulkan nyawa. Rambut sarang burung tidak dia pedulikan.


Kudekati si putri ini. Main-main dengan rambut panjang itu.


“Huuaa, good morning...,” dia menguap lebar sekali.


“Morning,” aku pastikan lagi poninya tersusun benar.


Aku masih perhatikan putri ini. Mukanya bikin aku harus tahan tawa.


Beberapa detik dia berhenti tengak-tengok. Sipit matanya. Dia perhatikan mukaku. Masih tunggu.


Longgoannya berhenti. Ubah jadi lototan. Tengak-tengok lagi, tapi dia sekarang kaget.


“Heh,” reaksi dia selalu tidak diduga. Gimana aku tidak tertawa? “Sudah pagi.”


“Papa kok, Rasyi, tunggu...,” sesaat muka itu bilang kalau dia baru ingat.


Aku juga harus siap-siap kerja, “Mau melamun sampai kapan? Mandi sana.”


“Jam berapa?”


Tidak perlu pikirkan waktu. Seharusnya baik-baik saja. Asalkan dia gerak cepat.


“Enam tiga lima.”


Hening begini lagi.


Satu.


Dua.


Tiga⏤

__ADS_1


“AAAA!! Itu kan telat namanya!!”


Dia langsung kalang kabut turun dari kasur. Padahal masih ada tiga puluh menit siap-siap.


Larinya tidak tentu ke luar kamar. Tapi aku masih bisa dengar suara dari kamarnya di sebelah.


“Papa antar, kan?!”


Aku tutup pintunya. Raih handuknya, “Iya....”


Pagi yang ribut.


“Oh!” pintu kamar banting dibuka lagi sebelum aku masuk ke kamar mandi, “Kemarin! Masih ada yang perlu dibahas!!”


Hmm..., dia akhirnya ingat apa yang terjadi kemarin. Mau gimana pun, dia benar habis menangis saat lihat aku pulang. Apalagi itu malam dan hujan deras. Rasyi, tidak bisa tenang.


“Pa!” dia dekat-dekat ke aku, “Kemarin kenapa papa pulang malam-malam?! Papa ngapain saja?!”


Matanya, berkaca-kaca lagi.


Jangan seperti ini. Dia punya kelas panjang hari ini. Aku juga punya kerjaan. Sulit kalau sampai aku kepikiran tentang Rasyi saat bekerja.


“Yang bilang telat ke mana tadi?”


Dia halangi aku dan pintu kamar mandi, “Jangan alihkan pembicaraan!”


Putri ini..., dia semakin terburu-buru. Semakin tegang makin harinya.


Takutnya sudah menumpuk.


Kutahan ubun-ubun kepala si putri ini. Beri kecup ringan di dahinya. Yang pasti bikin dia kaget walau sudah sering aku lakukan.


“Kita bicarakan nanti, hmm?” setidaknya untuk hari ini.


Aku harus menentukan gerakanku selanjutnya.


Putri ini merengut kesal. Akan tetapi tatapannya tiba-tiba jadi sedih.


Dia lihat ke..., kepalaku? Kalau tidak salah aku juga dapat luka di sekitar sana. Mungkin dia mau cek apa aku tidak apa.


Kudekatkan kepalaku tunduk ke arah dia. 


Saling paham, dia pelan-pelan perhatikan bagian yang tertutup rambut. Meraba pelan-pelan. Akhirnya tangannya berhenti. Tidak dengan gemetarnya.


Putri ini pasti pikir yang tidak-tidak lagi.


“Rasyi mau cake....”


Hmm? Dia bilang mau cake?


“Heh,” kutahan punggung tangan di depan mulut, “Hehehehe!!”


“Jangan ketawa!” dia sedang tahan malu.


Dia, selalu tidak terduga. Keras kepala yang tidak asing. Menyenangkan.


Aku elus lagi kepala itu, “Iya, nanti papa belikan, Red velvet choco?”


Dia tersenyum, tapi tipis. Setidaknya dia kasih aku waktu sedikit untuk berpikir. Paling tidak sampai aman untuk bocorkan ke Rasyi.

__ADS_1


“Telat loh,” aku hamburkan lagi rambutnya. Lepas tangan itu dan pastikan senyum.


Sudah saatnya cari jam senggang Fares.


__ADS_2