
Aku menuruni tangga yang tak terhitung sudah berapa kali hari ini aku gunakan.
Siang ini aku dibuat lupa waktu. Bisa-bisanya aku mementingkan perasaanku daripada perutku. Padahal aku sudah tidak makan tadi pagi.
Dengar tentang aku yang tidak nafsu makan di sekolah saja, papa pasti mengejek aku. Bukannya khawatir, dia akan berkata tentang seberapa bodohnya aku yang tidak mau sakit tapi tidak mau merawat diri.
Ha ha ha. Lucu.
“Rasyi!”
“Y, ya?!” kaget! Kulihat papa sudah ada di depan.
Sepertinya aku malah melamun lagi di anak tangga. Dan papa memergoki aku.
Papa memegangi tiang terakhir tangga yang ada di sampingku, “You oke?”
“Iya.”
“... Kemarin gagal?”
“... Iya....”
Papa pastinya menyadari Harun yang keluar kamarku dengan suasana tidak senang kemarin malam. Itu sudah jadi clue lebih dari cukup untuk menggambarkan situasi dimana diskusi tidak menemukan kesepakatan.
Namun aku dan papa tidak saling bertemu lagi karena aku langsung tidur. Bahkan aku belum sempat mengobati lukaku, hanya sekedar membasuhnya. Aku harus bersyukur papa belum menyadarinya.
Padahal lukaku... Sungguh berdarah. Mengingat kembali Harun sungguh menggunakan kukunya untuk menggenggamku...
Bukan saatnya menyebarkan kepedihan dan membuat papa semakin bisa menebak! Saatnya ganti topik.
Eh? “Papa mau ke mana?”
Kudapati papa yang siap dengan cardigan rajutnya. Ia selalu mengenakan itu kalau ingin keluar malam hari.
Pria ini menatapiku, “Ira.”
A ha ha. Satu lagi dari sekian banyaknya lelucon dari mulut papa. Rasanya tidak mau membahas hal itu juga.
Seakan tidak pernah terbiasa, aku terkejut akan kecupan papa.
“Papa pulang cepat,” ia masih menahan keningku.
Aku tersenyum, “Hati-hati~”
Papa melangkah pergi mendekati partisi antara ruang makan dan ruang tamu. Melewatinya dan memandang ke daerah kursi dimana penglihatanku tertutup oleh partisi itu.
“Titip Rasyi sebentar,” ia bicara dengan seseorang?
“Kamu gak perlu dengerin ocehannya Ira.”
Suara itu?
Aku mendekati jalan menuju ruang tamu itu dan melihat siapa yang bicara. Tentu aku tahu siapa. Yup, itu Hendra.
“Kamu tahu aku akan gimana,” papa meraih kunci mobilnya.
Pintu tertutup dan suasana jadi sungguh sepi.
Aku pandang paman Hendra. Sungguh aneh melihat beliau tetap di sini selagi papa tidak di rumah. Biasanya Hendra kemari karena ada urusan dengan papa.
“Paman tidak ikut pulang juga?” santai aku meraih remote TV yang ada di depan lemari partisi.
Arah TV yang sudah diputar ke ruang tamu. Membuatku memilih untuk menemani Hendra selagi duduk menonton.
“Paman mau minta tolong sama Rasyi.”
__ADS_1
Hmm?
Wajah paman tampak ragu, “Boleh?”
Bantuan apa yang paman satu ini cari sampai terlihat putus asa seperti itu? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Kita berkumpul di tempat ini, pada kesempatan kali ini, ialah dalam rangka⏤tidak lain dan tidak bukan untuk satu agenda,” aku berdiri dengan semangat di depan kursi meja makan.
Hari yang cerah dengan tanggal merah yang menyenangkan hati.
Namun semua ini, sangat dengan sukarelanya, aku dedikasikan untuk pasangan suami istri favoritku! Akhir Januari yang mengingatkan kami akan satu tanggal yang tidak hanya special untuk semua orang, tapi untuk suami istri ini!
“Agenda hari ini adalah merencanakan...,” aku mempertemukan telapak tanganku yang semangat, “Surprise party Anniversary paman Hendra dan tante Sari! Yey!”
Kebetulan sekali, bukan? Paman Hendra minta, pas saat tante Sari tidak di rumah. Jadi aku bisa mengumpulkan orang-orang dewasa ini.
Ini memang acara yang paman Hendra minta aku untuk rencanakan. Namun tidak asyik kalau tidak ada yang berpartisipasi, kan?
“Rasyiqa Dheanadari Wirandi...,” dan Hendra tampak tak setuju.
Ayolah paman Hendra-ku yang tampannya selalu tampak ingin marah~ Rasyi sedang membantu anda.
Meskipun anda bilang jangan katakan ke yang lain. Walau menemuiku langsung agar mendapatkan bantuan dengan tanpa pengetahuan orang-orang rumah anda.
Tahukah anda, saya orang yang suka berbagi? Berbagi kesenangan sampai berbagi gosip! Hihihihi.
“Jadi, ada ide~?” aku tidak memperdulikan paman Hendra dan tetap pada rapat dadakan ini.
Ira tampak bermain dengan Daffa yang duduk di meja, “Kakak yang minta? Serius?”
Hendra memegangi kepalanya. Termakan situasi dan dibuat tak bisa mengatakan apapun.
“Kamu sakit?” sungguh, papa?
Sudah ditunggu-tunggu, paman Hendra, untuk memikirkan Anniversary-nya. Sepanjang umurku, aku tidak pernah melihat paman Hendra sengaja dan berniat untuk menyiapkan sesuatu.
Padahal kalau dirayakan, ini akan menjadi Anniversary yang termanis yang pernah ada.
Tentu alasannya karena pernikahan Hendra dan Sari tepat di hari kasih sayang sedunia, Valentine, 14 Februari.
Aku masih tidak mau duduk, “Aku mikirnya tidak perlu bikin acara besar sih. Sekedar kencan berdua. Makan malam di resto gitu~”
“Nanti kakak malah gak tahu harus ngomong apa,” Ira tampak tak setuju.
Papa terdengar tertawa sesaat, “Topiknya tugas kepolisian.”
“Kalau gitu kita siapin topik,” aku memberikan solusi.
“Hendra sama script?” papa menatapku, “Kaku.”
Ditampar kembali ke kenyataan. Itulah alasan Hendra tidak pernah mengekspresikan perasaannya. Pantas papa dan Ira tidak semangat seperti aku.
Bapak polisi ini tidak ada harapan tentang situasi romantis.
Haaaaaa.... Sedih!!
“Kenapa tiba-tiba bahas Anniv?” papa membuka mulut.
Hendra masih tidak senang, “Tidak pa-pa.”
“Itu loh, kak Sari belakangan ini sering bareng teman-temannya,” Ira tersenyum licik, “Mantannya juga.”
...
__ADS_1
Kyaaaa~! “Paman Hendra cemburu~?!”
“Rasyi, diam!”
Hiks! Kok aku jadi dimarahi Hendra sih?!
Namun, di luar apa alasannya paman Hendra, perayaan seperti apa yang cocok untuk paman yang kaku ini?
Hmm? Suara langkah kaki?
Tidak mungkin! Aku sudah pastikan jadwal Sari hari ini penuh di luar untuk mengurus catering-nya. Masa, sudah pulang saja!
Oh!
“Ada apa?” sepertinya Fares bingung melihat kami duduk di meja makan di jam dua siang.
“Kak Fares~!” kebetulan! Aku butuh lebih banyak otak untuk memikirkan ini.
Langsung aku berjalan mendekatinya dan meraih lengannya.
“Rasyi?” dia masih saja canggung.
Anak ini! Sungguh! Dia akan menghindariku mau sampai kapan?
Kutarik ia lebih keras, “Kita omongin tentang Harun nanti, ada yang lebih urgent nih!”
“Apa?”
Tidak aku beri kesempatan Fares untuk kaget. Kubiarkan Fares berdiri di samping meja makan dengan menahan bahunya yang tinggi di depanku.
“Kak Fares harus bantu kami mikir buat Anniv-nya paman Hendra.”
“Anniv?” Fares tampak lebih kaget.
Kudekatkan lagi aku dengan punggung Fares, “Iya~ paman Hendra minta kita bantu bikin rencana. Masalahnya... Kakak punya ide, tidak?”
“Rasyi?”
Kutatap papa saat ia memanggilku. Eh? Dia kok terlihat terkejut⏤
Papa berdiri membanting kursi, “Tangan Rasyi kenapa?”
Heh? Heh?!
Langsung aku tarik kembali lengan bajuku yang tersingsing karena aku mengangkatnya. Menyembunyikannya di belakang tubuhku.
Duh... masalah nih....
Papa menarik tanganku dan kembali membuka lengannya. Bahkan sampai ke luka lengan atasku yang baru aku terima kemarin malam. Kelilingku yang tadi tak semangat menjadi kaget melihat tanganku yang penuh luka.
“Siapa?” papa... tampak sangat marah.
Jangan tanya! Jangan jawab!
“Siapa?!”
“Bukan apa-apa.”
“Harun?” tentu saja, papa bisa menjawabnya, “Yang kemarin malam itu?”
“..., Harun?” kak Fares sama terkejutnya.
Hendra tampak kelelahan, “Dia kelewatan lagi.”
Aaa!!
__ADS_1
Suara kejut itu...! Dari hentakan kencang papa di atas meja. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Wajah papa jelas marah. Marah besar.