Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#63 Kencan dengan Putri Ini


__ADS_3

“Ayo turun.”


Mesin dimatikan. Benda beroda empat ini berubah panas saat udara tidak dialirkan.


Penuh kunjungan orang di sini. Keluar mobil saja sudah rasa sesak. Itu bukan satu-satunya yang jadi resah.


Raut muka Rasyi yang aneh. Canggung. Bingung. Semua itu yang dikatakan mukanya.


Lain dari Rasyi biasa. Putri ini selalu senang kalau habiskan waktu di luar. Apalagi kalau diajak di tempat baru.


“Huuuh,” aku bernafas pelan.


Tanpa bicara banyak. Rasyi ambil kursi di seberangku. Kursinya nyaman untuk bersantai. Cuaca luar tidak panas dan tidak dingin. Enak untuk saat outdoor.


Memang. Orang-orang yang lihat ini jadi masalah. Sekuat apapun, Rasyi tetap takut keramaian.


“Ma mau pesan apa, mas?”


Apalagi pelayan ini.


Kutatap menu di meja, “Ada rekomendasi coffee?”


“Disini terkenal sama Flat White. Mas mau coba?”


Yah, aku juga sudah bosan sama yang lain.


Aku mulai bicara lagi, “Iya satu. Rasyi mau apa?”


Hooo, kentara sekali pelayan wanita ini tidak suka aku dengan anakku sendiri. Salah paham lagi. Keramaian ini pasti anggap kami berdua berpacaran atau semacamnya.


Rasyi, dia sibuk kebingungan. Dia bukan pecinta kopi. Wajar kalau dia tidak tahu apapun tentang minuman pahit itu.


Tepat aku biarkan rambutnya diurai. Putri ini suka tanpa sadar bermain rambut kalau sedang berpikir.


“Cortado itu apa?” setidaknya dia punya usaha mencari kopi yang cocok untuk lidahnya.


“Mirip Flat White.”


Semakin pusing putri ini, “Kalau Flat White, apa?”


“Mirip Latte.”


Hooo..., jelas sekali dia bukan pegawai baik. Balista kalau dengar ini, reaksinya tidak akan bagus. Jelas-jelas keduanya berbeda.


“Kalau Doppio?”


“Double shot.”


Mana mungkin Rasyi paham itu.


Rasyi sudah kesal. Senyumnya lebar tapi bergetar. Akting yang sudah sehari-hari.


Dia letakkan kembali menunya, “Ya udah, Doppio sama choco lava.”


Putri ini menyerah terlalu cepat. Tidak menyenangkan untuk aku kalau harus minum dua cangkir kopi.


Cepat tanganku terangkat di depan pelayan tadi, “Tunggu sebentar. Rasyi, Doppio itu dua kalinya Espresso.”


Mukanya sungguh kaget. Rasyi, ekspresinya yang seperti biasa.


“Kopi saja dong?”


“Memang.”


“Aaaa....”


Pergerakan pelayan itu makin kesal. Sayang sekali. Wanita muda ini harus paham sopan santun.


“Con Panna atau Affogato, itu saran papa.”


“Iiik!”

__ADS_1


Salah tingkah. Berarti dia sudah paham.


Aku lihat lagi ke arah pelayan, “Ada masalah?”


Dia tersenyum aneh, “Enggak, enggak! Pak!”


Responsnya cepat. Karirnya aman sampai sekarang.


Aku lanjutkan bicara, “Rasyi mau yang mana?”


“Aaaa... Con Panna apa, Affogato apa?”


“Con Panna pakai cream banyak, Affogato pakai ice cream.”


“Uuuu~!” sepertinya dia tertarik yang itu, “Kalau gitu aku Affogato~”


“Heh,” Rasyi menjadi Rasyi. Kurasa aku senang sampai bisa tertawa, “Masih ada rasa pahitnya loh.”


“Iih! Ke Coffee Shop masa tidak beli kopi!”


“Benar juga ya~” suara lain?


Hmm? Ada orang lain di samping kiriku. Mengambil duduk di antara aku dan Rasyi.


“Kalau gitu aku mau... Americano saja deh. Sama Cinnamon Roll. Extra vla ya~?”


“Ba, baik,” pelayan ini ikut bingung.


Untuk apa juga Kirana kemari?


“Flat white satu, Affogato satu, Choco Lava satu, Americano satu dan Cinnamon Roll extra vla satu. Ada lagi?”


“Itu saja~ Cepat ya~?” Kirana dekatkan kursinya ke arahku.


Ini akan menyusahkan.


Kuangkat mukaku, “Ada urusan?”


Sungguh menyusahkan.


Meja lingkaran berkursi empat. Aku pilih pindah kursi ke samping kananku. Dekat ke Rasyi. Tas ransel dan jaket milik Rasyi aku pindahkan ke kursi sebelumnya.


“Uuu~ Kenapa sih?” Kirana merajuk.


“Karena kamu ganggu kencanku dengan Rasyi.”


“Mana ada kencan sama anak sendiri?!” Kirana tersenyum lebar ke Rasyi, “Ya kan, Rasyi~?”


Sekarang sok akrab dengan Rasyi. Dia pasti mau ambil langkah untuk tantanganku kemarin.


Cara bersahabat. Yang menjengkelkan.


Aku akan buat lebih tantangannya.


Kuelus kepala Rasyi. Rambutnya sedikit berantakan dengan angin yang sering kali terlalu kencang.


Senyumku kecil, “Ada yang menarik di sekolah?”


“Kenapa aku dicuekin?”


Dengan senang hati aku akan tambah cuek, “Care to tell?” kuelus juga poni Rasyi.


Rasyi sendiri bingung harus bicara apa, “Aaa... Harun cium tanganku lagi?”


Hooo? Menarik. Anak itu tidak pernah menyerah.


“Heh,” akan tetapi aku malah gagal fokus pada muka Rasyi yang masih bingung.


“Gading keren deh kalau ketawa~ Sekalian dong ajak rumpi calon mama baru~”


“Bukan kamu kan?”

__ADS_1


Jawabanku pastinya bikin Rasyi tertawa dalam hati. Buktinya dia tersenyum-senyun sendiri.


“Apaan sih?” Kirana pindah pandang ke Rasyi, “Rasyi juga mikir gitu?”


Muka Rasyi jadi aneh, “Apanya?”


“Ya papamu cocok sama tante dong~” kali ini Kirana elus tanganku, “Masih begini masa stay single? Aku saja tahu kalau Gading masih mau punya pasangan. Kan~?”


Apa dia bicarakan tentang kurungan sebulan yang dia lakukan? Kami banyak beraktivitas, yang bisa bikin salah paham. Dia pikir semua itu bentuk ketertarikanku. Wanita menyusahkan ini harus aku apakan?


“Kalau itu saja, kamu bisa pergi,” aku jauhkan tangannya.


“Uuu~! Serius deh! Kamu gak ada mikir sama sekali buat nikah lagi~? Hei, Gading~”


Pertanyaan konyol. Lirik mataku ke arah Rasyi. Kuharap bisa lihat Rasyi yang tidak lesu.


Hmm? Rasyi lihat lurus kemari.


Ternyata dia juga mau tahu apa jawaban dari pertanyaan itu. 


Kepo-nya kah? Mungkin ini asal dari sikap anehnya. Pertanyaan ini juga yang mungkin berputar-putar di kepalanya. Situasi yang begini memang bisa disalahpahami.


Aku pandang Rasyi lebih jelas, “Rasyi punya alasan kenapa mau tahu?”


“Heh?!” tingkahnya tambah aneh. Benar dia mau tahu, “Me, memangnya Rasyi tidak boleh tahu?!” mukanya merah?


Hmm? Mungkin, dia berpikir berbeda hal dengan yang aku pikirkan.


Rasyi. Apa dia....


Aku pasti lupa. Memang aku yang kurang paham. Kata Ira tidak salah.


Rasyi pasti mau punya sosok ibu.


Dari kecil dia pintar dan tidak banyak tuntut tentang ‘ibu’. Tetap saja, tidak tutup kemungkinan kalau dia pernah mau. Atau memang masih mau.


Harus pikirkan lagi tentang pernikahan kedua.


“Jadi~?” jari telunjuk Kirana main-main mukaku lagi, “Beneran tidak mau punya istri lagi?”


Aku cuma bisa harap. Kalau Rasyi tidak tuntut aku jadikan Kirana sebagai ibunya.


Rasyi, mengulurkan tangannya, “Tunggu, biar aku perjelas! Walaupun papa bakal nikah lagi, aku tidak sudi punya mama kayak nenek!”


Hmm?!


“A, apa katamu?!”


Baru ingat. Rasyi kan tahu perkiraan umur Kirana. Faktanya Kirana jauh umurnya di atasku.


“FYI! Jarak umur kami cuma delapan tahun!”


Rasyi makin kelihatan garang, “Papa itu sudah tua! Apalagi yang umurnya delapan tahun lebih tua! Berarti sudah nenek-nenek!”


Hooo? Cara mainnya asyik juga.


“Anak gak tahu diuntung!”


“Iya, memang!! Aku tidak tahu apa untungnya kamu, nek!”


“Berhenti panggil aku begitu!”


“Terus mau dipanggil apa? Nini? Mbah? Eyang? Mau yang mana?”


Bertengkarnya mereka tidak kalah ribut dari anak-anak. Tak peduli dengan semakin banyak tarik perhatian untuk pengunjung cafe. Rasanya lega bisa tertawa.


Meski tidak tahu akan ada senang atau repot. Wanita ini punya harga diri. Alasannya kuat di dalam dirinya. Dijadikan pilar penyangganya untuk operasi plastik sebanyak itu. Ia tidak akan biarkan Rasyi yang sudah seenaknya mengejek dia.


Terlanjur aku bilang, kalau urusan status hubungan yang lebih dekat, harus melewati Rasyi dulu. Akan tetapi kalau begini terus, hubunganya tidak akan baik.


Terpaksa. Aku harus memohon ke Hendra.

__ADS_1


__ADS_2