
“Yang kemarin itu ada apa di rumahmu?”
A ha ha....
“Di rumah?”
Capai deh!! Seharusnya tidak ada yang menyinggung hal itu!
“Rasyi, apa yang ada di rumahmu?” Harun, mulai lagi kekhawatirannya.
Ini semua karena keponya Firna! Harun sampai panik juga kan!!
Aku tersenyum, “Cuma kenalan papa kok. Kebanyakan saja yang datang sampai penuh rumahnya.”
“Segrup polisi juga?” sungguh Firna? Apa anda sangat ingin membuat Harun jadi membelok dari sifat tenangnya.
Harun mencondongkan tubuhnya, memaksa hadapnya tepat di depanku meski tahu aku menempel di meja bundar ini. Memamerkan wajah sedihnya, lagi.
Aku menggulung bola mataku, “Bisa tidak jangan bahas itu sekarang?”
“Rasyi.”
“Tidak ada apa-apa...,” sungguh! Ini malah membuatku semakin kesal!
Kerongkongan sampai ke pangkal. Seluruhnya menyesakkan! Cukup sudah buruknya tentang apa yang terjadi kemarin. Harus sekali ya aku membahasnya lagi?!
Wanita yang keduanya tidak terkendali. Dari ajang rebut-rebutan, hadiah utamanya malah tidak kontribusi! Malah menikmati pertunjukkan tuh!
Mau sampai kapan keributan ini akan berlanjut?!
“Rasyi...,” Harun mulai merendahkan nada bicaranya.
Aku melanjutkan menulis apapun yang dijadikan tugas sekolah. Kami disini mau belajar bersama, sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak pernah habis. Bukannya menggosip, bersama dengan yang digosipkan.
“Kamu mau sembunyikan seberapa banyak lagi dari aku?”
Pandanganku kembali ke arah Harun. Tanpa berkata apapun, aku memampangkan ekspresi sedih. Berharap dia paham aku tidak senang dengan arah pembicaraan kali ini.
“Em... Ras Ras! Kamu tidak ikut ekskul lagi?”
Firna yang malang, dia tidak tahu kalau itu juga bagian dari bahasan yang tabu.
Aku menghela nafas. Entah kenapa setiap hari rasanya berat sekali. Semuanya pasti bagian dari mentalku yang lelah tentang masalah papa.
Tenang. Pikirkan perlahan solusi terbaik. Mau dengan papa atau tanpa papa, semua ini harus aku selesaikan.
“Aku memang tidak mau ikut lagi kok,” kembali aku menulis.
Tidak mungkin juga aku memulai lagi perdebatan papa dan Harun terhadap masalah ekstrakurikuler ini. Meski aku sangat menghargai papa yang memberi waktu untuk memikirkannya, aku masih memilih untuk ikuti perkataan Harun.
Daripada hal itu, banyak hal yang perlu dipusingkan.
“Btw,” Firna mulai berbisik kepadaku, “Gimana ceritanya Dhika kemarin?”
Iya, itu juga jadi salah satunya... oh iya!!
Kasiannya Dhika. Hari Jumat kemarin, kami kencan singkat bersama Ice Cream. Namun karena ada kejadian tak terduga, aku harus pergi bahkan melupakan kehadirannya. Apa jadinya keluar kamar kecil, langsung bertemu polisi?
Paman Hendra tidak tanya sih, jadi seharusnya Dhika tidak terjerat apapun.
“Kacau,” aku membalas singkat bisikan Firna.
Firna membuat wajah aneh. Seperti ingin tertawa dan simpati dengan Dhika.
Aku menghindari bahasan itu lagi, kembali pura-pura sibuk berpikir tentang pelajaran di buku PR-ku. Walau aku sadar dengan muka asam Harun yang tidak suka dengan sikapku hari ini.
__ADS_1
Jangan seperti itu dong! Rasanya kan jadi tidak nyaman.
Kulepas pulpenku. Menahan wajahku dengan kedua tangan menancap di meja. Tatapan lurus dengan Harun.
Untuk menghadiahkan senyum manisku, “Ajarin aku yang nomor tiga dong~”
“Haah....”
Kelihatannya Harun bisa menyerah dengan keadaan minggu yang menyesakkan ini. Harun, terima kasih~
Layaknya murid SMA normal, kami harus lebih banyak memutar otak pada pembelajaran daripada drama kehidupan. Meneliti pelajaran, yang sampai sekarang aku tidak paham mengapa harus dipelajari semua.
Siang hari di minggu yang produktif. Langit menelan cahaya sampai-sampai berubah kejinggaan. Menggelap semakin detik berlalu.
Rumah Harun yang tak dekat, menjadi pertimbangan kami untuk bubar segera⏤sebelum langit yang rakus memakan semua lampu penerangan alami itu.
“Non, makan dulu atuh. Dari siang tidak ada makan.”
Kuberi sentuhan terakhir rambutku sehabis mandi, “Iya, Rasyi turun,” kutarik bandana pita sampai seluruh poniku tertahan.
“Kami langsung pulang ya, non. Nanti keburu hujan.”
“Pulang aja bi. Makasih~”
Tangga yang sudah membosankan ini menjadi rutinitasku. Kurasa malam ini akan semakin dingin dengan suasana rumah yang sepi.
Benar juga. Papa belum pulang hari ini.
“Non, tuan tidak ada bilang mau pulang kapan?” pak Darma mampir ke dapur dan mengambil segelas air.
Papa tidak pernah lagi menahan pekerja di rumahnya untuk 24 jam. Namun, kalau papa tidak pulang sampai malam seperti ini, pak Darma juga sulit untuk pulang.
“Iya tidak apa. Bapak pulang saja.”
Aku sudah mau membawa sepiring lengkap dengan lauk dan sayur. Memberikan senyuman selagi kursi meja makan aku tarik.
“Rasyi tidak tahu loh papa pulang kapan~”
“Saya tunggu!”
Beliau pergi lagi ke arah ruang tamu. Tidak ada yang bersuara selain televisi dengan movie yang menyalakan.
Aku sangat berterima kasih oleh pendesain rumah ini, dimana televisi yang ada di antara ruang makan dan ruang tamu bisa diputar 360 derajat dengan mudah.
Ini bukan pertama kali. Papa memang sesekali pulang malam. Mau bagaimana lagi bila memang ada pasien.
Namun kali ini agak berbeda dimana papa tidak sempat memberi kabar. Biasanya papa selalu menekankan untuk mengunci pintu dan kerjakan tugasku sebelum tidur.
Hmm? Suara bel rumah?
Malam-malam seperti ini ada kunjungan? Dari siapa? Pastinya bukan papa.
Sebelum aku menebak siapa itu, pak Darma sudah membuka pintu dan menghadapi orang itu.
“Aku cek CCTV saja deh, “ walau tidak dengan mic, papa memasang satu dari tiga kamera di depan pagar. Dan mereka terhubung langsung dengan televisi.
Heh? Tunggu, kok dia bisa di sini?
Mungkin dia bertanya anak-anak kelas? Tidak ada anak kelas yang tidak tahu rumahku. Jadi itu wajar kalau Dhika pun tahu.
Pertanyaannya, untuk apa dia ke sini malam-malam? Besok kan masih bisa ketemu.
Aku mematikan aplikasi CCTV di televisi, meninggalkan remote di meja makan dan berdiri. Kudekati pintu yang terbuka sampai suara terdengar.
“Beneran pak~ Gua ini temannya Rasyi!”
__ADS_1
“Mana percaya? Pulang sana!”
Dia aku di depan pintu melihat dari kejauahan, “Dhika?”
“Woi, Ras. Kirain gak bakal keluar lu,” Dhika kembali memandang pak Darma dari balik pagar, “Tuh kan pak, bener!”
Alas kaki rumah itu aku lepas di teras dan menggantinya dengan alas kaki luar. Dekat ke pagar yang terkunci itu, “Bapak masuk aja, biar Rasyi yang usir.”
“Lah, kok diusir?”
Pak Darma yang percaya dan pergi membawa kunci, membuatku berpikir sejenak. Komplek sini kan lumayan ketat. Apa rumah dia di sekitar sini?
Atau..., “Kamu tidak terobos satpam komplek kan?!”
“Ye... fitnah!”
Kuhela nafas, “Mau apa kemari?”
“Bukain dulu lah~” dia menunjuk pagar besi hitam yang terjejer ini.
Mataku menyipit, “Apa dulu urusannya?”
“Kasar bet,” dia lebih menempel ke pagar, “Gua mau ajak lo jalan-jalan.”
Masih belum menyerah kah dia? “Janjinya yang kemarin mana? Katanya tidak mau ganggu lagi.”
“Ye, ditinggalin tengah-tengah gitu. Masa di-itung sih?”
Memang aku merasa bersalah. Ditambah lagi setelah semua itu, aku melupakan dia. Kurasa nongkrong dengan camilan satu kali saja tidak masalah.
Namun tidak malam juga. Apa yang orang lain pikirkan kalau kami berduaan di luar?
“Ya udah. Besok,” aku memiringkan kepalaku.
“Harus sekarang~”
Aku memutar tubuhku ingin pergi, “Tidak! Bye!”
Kehabisan pikir aku menghadapi anak ini. Boleh tertarik, tapi ingat-ingat dong. Langkahku tinggalkan saja ia.
“Masa kak Gading disuruh nunggu sampai besok?”
Terbeku aku di tempat. Dicengangkan akan ucapannya.
Berkata apa dia tadi?
Kutatap lagi ia. Senyumnya tidak menyenangkan.
“Kak Kirana sih, orangnya gak sabaran.”
Dia....
“... Kamu apain papa?”
“Cuma ngumpul doang~”
Orang ini, termasuk rekannya Kirana? Dan papa ada bersama mereka?
Aku... aku....
Dia tersenyum sambil mengetuk pagar perlahan, “Gua tungguin deh, siap-siap. Yang lain pada tunggu di luar komplek. Pada di banned dari komplek. Mereka pada ngapain kemarin di sini?”
Kupejamkan mata. Menghela nafas perlahan.
Aku harus pergi.
__ADS_1