
Baiklah, mari kita anggap benar bahwa papa ingin menikah lagi. Lalu apa? Menunggu pemilihan?
Pemilihan apanya?! Tidak salah lagi tertangkap oleh mataku yang sehat ini kalau papa dipermainkan... Atau memainkan dua wanita sekaligus!
...
Tidak bisa!! Otakku tetap bingung mau meresponsnya seperti apa!!
“Rasyi,” muka Harun terlihat sangat dekat di depanku.
Heh?!! Kok?! Ko ko ke kok! “Dekat! Arun kat de jahu buh itu⏤Aarg!” aku bicara bahasa apa sih?!!
Jangan salahkan mulutku! Tampak jelas jarak muka Harun dan aku sangat dekat. Pasti kaget jantungku!!
Secepat mungkin tangan yang sedang salah tingkahku mendorong bahu Harun. Istirahatkan jantungku yang seperti habis dibawa mendaki gunung dan terjun payung dari puncaknya.
“Kenapa, Harun?” bernafas, Rasyi.
Wajahnya akhirnya bertahan di jarak aman, “Apa lagi sih yang jadi pikirannya Rasyi?”
Oh. Benar juga. Aku pasti jelas-jelas melamun di kelas. Manisnya yang setiap hari memperhatikanku, selalu berhasil memukau hati~
Kepalaku menggeleng, “Tidak apa~”
Tidak mungkin kuceritakan tentang papaku yang berubah playboy kan?
Berubah? Kalau aku ingat tentang papa, keadaannya lebih tepat dikatakan papa diperebutkan dua wanita.
Kedua wanita ini suka dengan papa. Namun papa tidak pernah sebelumnya meresponsnya dengan apapun. Lalu papa mau menikah dengan siapa? Apa hati milik papa ini saja yang berubah?
“Rasyi....”
Ups, “Iya~?” aku tersenyum layaknya tidak paham apa yang Harun permasalahkan.
“Kamu sembunyikan sesuatu lagi ya?”
Duh, hawa wajahnya seram lagi.
Harus pakai siasat imut, “Rahasia tentang seberapa tampannya Harun~?”
Kenapa aku malah menggombal?!
Harun, tolong jangan tertawa imut seperti itu! Rasanya berat bukan cuma melihat kamu, tapi juga menahan malu!
Kelas tiba-tiba ramai. Anak-anak yang awalnya merumpi ria di luar kelas, langsung mempercepat langkah ke meja milik sendiri. Itu tanda kelas akan dimulai.
Harun dan Firna seperti biasa berganti duduk. Firna mulai perbaiki posisi kursinya di sampingku.
“Duduk semuanya! Hari ini ada murid baru. Bisa perkenalkan diri dulu.”
Hmm? Ini mendadak.
Saat aku mau masuk ke sekolah, kabar sudah bertebaran selama satu minggu. Jadinya, awal masuk sudah terasa seperti murid lama.
“Aku Dhika, dari Jakarta. Pindah ikut kakak kerja.”
Itu menjelaskan kenapa dia tidak pakai basa-basi masuk sekolah.
Tidak seperti cowok ini, papa sebenarnya memperhatikan lebih di lingkunganku. Beberapa guru di sini berakhir tahu kalau aku punya masa kecil seperti apa.
“Duduk di belakang sana. Kita langsung mulai aja.”
Cowok ini berjalan melewati baris mejaku. Kedua pasang mata kami sempat bertemu.
__ADS_1
Dia tersenyum ke arahku? Hmm?
Sepertinya matanya kelilipan deh. Atau mataku yang kelilipan? Tadi dia, mengedipkan sebelah matanya padaku?
Nope, aku tidak akan mengecek cowok di belakangku itu. Fokus saja ke pelajaran!
Lalu kenapa rasanya kepala belakangku panas?! Rasanya ada tatapan yang seperti laser mematikan. Kata hatiku yang selalu tepat sasaran mengatakan, masalah baru!
Sampai pegal, aku menanti akhir pelajaran.
“Kumpulkan di meja ibu, ya,” dadah bu~ Terima kasih sudah memanaskan otak saya lagi hari ini.
Aku hanya berharap bisa melewati hari tanpa merasakan kehadiran calon masalah baru.
“Hei~” suara yang hadir di samping kursiku.
Kupandang asal suara itu. Ya, dia anak baru.
Dia menarik satu kursi dan susun di sampingku. Tersenyum dengan bahasa tubuh yang tidak menyenangkan.
“Salam kenal, manis~ Aku Dhika~”
Sudah dimulai ternyata.
Rasyi, senyum~ “Salam kenal juga.”
“Wah~ Senang dapat senyumnya malaikat. Boleh dong tahu siapa namanya~”
Duh, “Rasyiqa.”
“Namanya juga merdu banget~ Kita beneran cocok deh.”
Lihat dari mananya?!
Si Dhika ini menunjuk Harun yang berdiri di samping kanannya, dengan pandangan tetap ke arahku, “Pacarmu?”
He? heh?!
“Itu... aaa... sebenarnya,” aku kan jadi malu begini! “Memang bukan sih... tapi, itu....”
“Berarti bukan, kan~?”
BRAK!!
Aaa!
“Minggir!” Harun tampak lebih marah setelah menampar keras ujung mejaku.
“Lu pemarah ye? Gak kayak mukanya. Muka dua luh?”
Duh, Harun-ku lagi naik temperamennya~! “Apa?!”
“Rasyi selalu saja menarik keributan.”
Itu tidak membantu, Firna!
Aku tidak habis pikir. Selalu saja ada yang seperti ini. Lelaki pasti suka merebutkan perempuan atau apa sih?
Dhika apa lagi. Sejauh orang-orang yang aku temui, orang ini yang paling barbar dan jujur. Belum juga kenal satu hari, dia sudah menjadi peserta yang menciptakan nuansa panas setiap hari di sekolah.
Kok bisa sih cowok-cowok di sekitarku garang semua?! Bersikaplah santai seperti papa, atau kak Fares. Jika seperti itu dunia akan lebih damai, bukan?
Sungguh! Anak-anak ini perlu dilatih kedewasaannya!
__ADS_1
Jelas sekali terlihat, kedua lelaki ini menatap satu sama lain seperti mau perang!
Langsung, tergerak tanganku mengambil sesuatu di tas. Manisnya sebuah siasat yang aku siapkan untuk hari ini.
“Ada yang mau macaroon crumble? Ada dip coklat juga loh~” aku tersenyum semanis mungkin.
Mereka terdiam sejenak.
Untungnya mereka mendengarkanku. Rasanya sangat bersyukur. Mereka, anak-anak manis ini hanya anak yang perlu kasih sayang. Walau bila tidak diurus akan ada kerusuhan pelajar.
“So,” Dhika mencomot satu buah potongan kue macaroon, “Rasyi punya hobi?”
Aku jawab saja. Pertanyaannya cuma hal standar buat berteman kok, “Menggambar. Tapi belakangan ini agak jarang.”
“Kenapa? Coba deh gambar aku~”
Masig reaksi biasa. Masih tidak masalah, “Tidak mau~ Modelnya kurang menarik, hihihi.”
“Ye..., kurang cakep apa gue, ***?”
Hmm? Harun? Badannya yang condong ke depan, masih setengah duduk di kursi yang dia ambil ke antara aku dan Dhika. Ia pasti sengaja mendramatisir cara mengambil kuenya.
Kelihatan lucu dilihat sih.
Aku pandang lagi di Dhika. Dia santai saja sih. Mungkinkah ini lampu hijau untuk keamanan keseharian Rasyi?
Kalau seperti ini kan enak dilihat~ Mereka seperti anak baik yang tumbuh berdasarkan keinginan orang tua mereka.
Namun, Harun... dia tidak mudah untuk senang. Dia hanya diam merengut menatapku.
“Rasyi!”
Siapa lagi itu?
“Hmm? Tante Ira?” terkejut aku menanggapi wanita ini berlari kecil ke bangku kami.
Tak seperti kakaknya, paman Hendra, aku tidak pernah menemui tante Ira di sekolah. Ira tampak tergesa-gesa. Mukanya serius sekali. Jangan bilang, ada yang darurat.
Papa kah?
Langsung berdiri aku terkejut, “Kenapa, tante?”
“Bisa...,” tante gelagatnya aneh, “Bisa bicara sebentar sama tante, tidak?”
Bicara? Firasat yang tak menyenangkan.
“Permisi permisi,” aku memberi isyarat untuk Firna memajukan sedikit mejanya, “Ayo tante, keluar.”
Wanita ini langsung menarikku pelan. Sandalku yang selalu aku pakai terpaksa aku bawa keluar juga. Namun aku lebih khawatir dengan wajah Ira yang tidak baik.
Tubuhku, mulai gemetar lagi.
Kami akhirnya duduk di salah satu kursi taman yang membundar. Perlahan diam-diam aku menenangkan darah di jantungku yang berlarian.
“Ada apa sih?” aku semakin tidak sabar menunggu ceritanya.
“Emm... itu...,” ia terdiam sesaat, “Intinya saja. Tante tidak bisa tidur gara-gara pikirin ini.”
Iya. Apa?!
“Tante cuma mau tanya,” ya? “Rasyi... tidak mau punya mama baru ya?”
...
__ADS_1
Heh?