
Kembali seperti angin yang menyertai kapal pelayar. Kalanya akan kembali lagi. Seakan aku pasar yang mesti dipenuhi amis masalah.
Lelah.
“Marah karena kita berangkatnya dekat-dekat jam masuk?”
Kutatap Firna. Aku tertawa kecil, “Kenapa marah?”
“Kalau gitu dengerin dong~”
“I, iya. Aku dengar.”
“Waktu aku coba edisi matcha, kulitku malah kering. Tapi yang sakura juga tidak cocok,” dia masih saja mengeluh.
Aku hanya mendengarkan dan memperhatikan gerak-geriknya.
Hmm?
Mataku menangkap sesuatu di belakang Firna. Kelompok orang berbaju bebas. Tidak. Bila ditanya, pakaiannya terlalu bebas seperti kelompok preman.
Sekalipun aku tidak pernah melihat mereka berkumpul di depan pagar sekolah begitu.
“Rasyi!”
Aku memandang asal suara itu, “Hmm?”
“Dicuekin gitu aku?!” Firna tampak kesal menutupi arah pandangku.
“Maaf, maaf,” aku pastikan dia tidak mulai ambek, “Aku dengarkan. Apa tadi?”
“Sudahlah. Yuk masuk ke kelas.”
Aku menahan tawa, “Jangan marah~”
“Bodo!”
Ia menarik keras tanganku seperti aku boneka besar yang dijalankan. Aku hanya pasrah dengan tarikan itu. Sampai kami ada di jalan lebar yang menemani bangunan khusus jurusan IPA, tujuan kami.
“Kamu masih mikirin kak Fares?” Firna menghentikan langkah.
Heh?
Firna berpikir lagi, “Atau gara-gara si kembar? Oh, pasti Harun sih yang jadi prioritas.”
Ha ha, Firna tahu saja kalau semua orang di sekitarku selalu saja jadi biang kerong permasalahanku. Ibaratkan aku adalah ibu dari semua anak nakal ini dan aku harus bertanggung jawab akan hal itu.
Atau, aku putri salju yang merawat kurcaci-kurcaci ini?
“Hihihihi!”
Kenapa malah imajinasiku kemana-mana?
Firna, dengan pelukan kejutannya di tanganku, aku tertahan di dekatnya, “Jangan gitu ih! Serem! Habis galau malah ketawa.”
Aku hanya tertawa.
Perempuan ini masih menarikku berjalan memasuki sekolah, “Apa lagi sih sekarang? Saga?” ia memandangku.
Si kembar? “Mereka baik saja sih⏤”
“Eh, panjang umur tuh,” Firna menunjuk kedua lelaki yang berjalan di depan kami.
Aku memang tidak sedekat sampai bertukar cerita seperti aku dan Firna. Namun, kami selalu tukar sapa setiap kali bertemu. Meski mereka selalu bertukar kejahilan kepadaku.
Bagaimana kalau aku yang mengejutkan mereka sekarang?
Kutarik Firna dan mendekati mereka. Tampaknya mereka sibuk mendiskusikan sesuatu. Sampai akhirnya aku melepaskan tangan Firna.
Aku merangkul tangan keduanya dari belakang, “Hai~!”
__ADS_1
Mereka pasti kaget. Wajah kaget mereka terkadang bisa jadi hiburan.
Vian sampai tergesa-gesa menarik tangannya dari rangkulanku. Pasti⏤eh?!
“Vin?! Kenapa kamu? Kok luka semua?!” aku panik mendapati lelaki ini memandangku penuh luka di wajah.
Bukan luka lagi, tapi semuanya membiru!
Kupandang Saga yang sudah melepas tangannya pula, “Kenapa? Kalian berkelahi?!”
Saga satu ini, kenapa tuh?! Lihat aku sambil marah seperti itu! Aku kan khawatir!
“Sag, apaan?” Firna ikut penasaran berdiri mendekatiku dan memegangi pundak Saga.
Ia mengalihkan pandang ke Firna, “Tidak, kak. Vian kemarin dipukuli orang aneh. GILA kali dia,” nada marah itu membuatku semakin bingung.
“Kalian bareng Rasyi kan kemarin?”
“Orang gilanya masuk rumah.”
Heh?! Kok bisa?! Itu membuatku lebih khawatir, “Kalian tidak apa? Orangnya sudah diamankan, kan?”
“Kak Fir, kami ke kelas,” Saga memandang Firna.
Firna bingung mengiyakan saja. Tak kalah, aku bingung dengan tingkah mereka yang tidak merespons aku sama sekali.
Sungguh?!
Langsung aku genggam lengan baju Saga, “Sag! Aku tuh tanya! Kamu tuh kurang ajar banget⏤”
Heh?
“Ayo, Vin,” Saga merangkul Vian pergi, “Duluan, kak Firna.”
Perlahan aku sentuh lagi tanganku. Memastikan kebenaran rasa sakitnya.
Saga memukul keras tanganku sampai melepaskan genggamanku.
Tidak. Bukan itu yang aku terkejutkan. Lelaki ini sering kasar, tapi, dia tidak pernah menatapku sampai semarah itu.
Layaknya masalah Vian di IGD dulu.
Ia sungguh mengatakan layaknya, ia membenciku dari hati terdalamnya.
Namun, kenapa?
“Rasyi?” hmm? Harun? “Kok diam di sini? Sudah bel tuh.”
Lelaki itu keluar dari kelas. Ia mendekat selagi mengulurkan tangannya ke arah tali ranselku. Penawaran Gentleman untuk membawakannya untukku.
“Dasar Saga tidak jelas,” Firna menggumam, “Kita masuk aja yuk,” Firna memegangi kedua bahuku dari belakang.
Aku mengikutinya. Tidak lama kelas itu kembali dengan ramai yang sempat menyebar. Membawa tiga orang yang baru pertama kali aku kenal.
“Permisi semuanya. Kami dari....”
Tidak bisa. Masih saja aku memikirkannya. Bertanya-tanya apa yang terjadi.
Vian bukan orang yang suka berkelahi meski memang dia tidak punya banyak pilihan kalau adiknya terlibat. Bahkan, luka itu seakan dia dihajar, bukan bekas perkelahian.
Dan lagi, hal yang lebih membingungkan, mereka seperti marah denganku.
Apa yang pernah aku lakukan pada mereka? Kami terakhir kali berkumpul saat di mall, dan untunglah mereka pergi sebelum pertikaian dengan Harun dimulai.
Hal lain, apa ada hal lain yang aku lupakan?
“Rasyi,” bisikkan? Firna? “Tuh,” dia menunjuk ke arah samping mejaku.
Oh, “Terima kasih,” aku tersenyum pada seseorang itu. Menerima lembaran yang ia berikan.
__ADS_1
“Kenapa dek. Sakit?”
Aku menggeleng jelas, “Tidak kok kak.”
“Minum dulu,” beliau pergi membagikan lembaran kepada Harun yang duduk di belakangku.
Huuuh, aku terlalu larut dalam pikiran lagi.
“Ras,” suara bisik itu datang dari belakang.
Kepalaku menggeleng sekali lagi, “Tidak papa kok,” tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil botol minumku, “Nih. Aku minum ini dulu. Lagi kurang fokus saja.”
Tidak ada respons dari Harun. Hanya aku minum satu teguk dari botol berwarna-warni gradasi yang aku bawa.
“Rasyi ikut tidak?”
Firna memainkan sebuah lembaran. Lembaran yang sama dengan yang aku terima. Akhirnya aku memperhatikan lebih, apa isi brosur itu.
“Tapi kalau kamu sih tanpa beasiswa juga bisa.”
Itu, brosur pertukaran pelajar. Aku tidak pernah tahu mereka mengadakan sosialisasi ke sekolah. Pasalnya aku di zaman Sekar dulu tidak pernah menemukan beasiswa untuk sekolah di luar negeri.
“Di sana kalian akan tinggal sama keluarga angkat kalian. Itu....”
Satu tahun belajar di Amerika Serikat? Huuuh. Tidak pernah aku berminat hal seperti ini. Walau papa memang lebih dari mampu untuk membiayaiku penuh.
Masih banyak yang perlu aku urus.
“Rasyi,” bisikan Firna, “Kamu masih mikirin tentang Saga?”
Aaa... aku tidak bisa berpikir balasan lain selain diam dan tersenyum sendu. Namun ia pun tahu tidak ada kata-katanya bisa ia sembahkan untuk akan hal yang berat sebelah ini.
Mau bagaimanapun, ini sungguh janggal.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi bila melihat salah satu temannya terluka. Dan yang ia lakukan hanya menjauh.
Bagaimana caranya aku tahu apa yang salah?!
Hal-hal yang tidak menyenangkan ini selalu menumpuk di satu titik kecemasanku. Semuanya seakan terkikis perlahan, bersembunyi dari pengawasan. Detik layaknya akan memakannya habis.
Sampai aku sadar, tidak ada yang tersisa.
“Kalau begitu cukup sampai sini. Jangan lupa, PR dikumpul besok!”
Heh?
“Rasyiqa, jangan lupa ke UKS. Istirahat di sana.”
Eh? Sejak kapan beliau ada di depan kelas? Beliau langsung pergi? Seluruh kelas juga pergi?
“Rasyi,” tepukan dari sampingku?
Aku menatapnya bingung, “Harun? Bukannya tadi ada sosiali⏤”
“Kita ke UKS. Ayo,” dia menahan lengan atasku berusaha untuk mengajakku berdiri bersamanya.
Berarti, aku memikirkan hal lain di tengah sosialisasi dan pelajaran ini? Pantas saja wajah Harun sangat khawatir seperti itu.
“Ti, tidak apa. Aku tidak sakit kok,” berusaha aku menarik tangan dari genggaman Harun.
Menukik alisnya marah, “Terus apa kalau tidak sakit apa? Kamu pucat, Rasyi!”
“Aku... mikirin hal...,” ucapanku entah bagaimana tertahan.
“Gini deh,” Firna paksa memutar arah tubuhku sampai memandangnya, “Aku tanya langsung deh ke Saga. Mereka masih mau dengerin aku,” perempuan ini berdiri, “Tunggu saja dulu.”
Firna langsung bergerak cepat. Bahuku menurun dari tegangnya. Terlambat tapi masih bisa berpikir. Ini bisa jadi jalan terbaik untuk mengetahui apa masalahnya.
Namun, tidak aku sadari, ini bisa jadi pembukaan pita untuk ke tempat bermasalah.
__ADS_1