Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#148 Konfirmasi


__ADS_3

Rasanya tidak nyaman. Padahal aku hanya berjalan.


“Udah. Bisa sendiri,” papa menolak bantuan kak Fares.


Ia menggantikan peranku yang seharusnya menuntun papa untuk masuk ke rumah. Orang-orang yang baru saja keluar rumah sakit terlihat rentan. Namun, papa tidak ingin dilihat lemah. Masih saja tegap.


Bibi-bibi dari dalam membukakan pintu. Papa tampaknya sudah lelah dan bersantai di sofa ruang tamu.


“Tidak langsung ke kamar, paman?” Fares berdiri di dekat papa terduduk.


Wajah papa seperti menyindir, “Buat apa keluar rumah sakit kalau balik lagi ke kasur?”


“Kan paman baru saja keluarnya.”


“Kamu dokternya?”


Fares menggeleng, “Saya cuma khawatir.”


Papa malah berdiri, “Malah mendingan gerak.”


“Paman ke mana?”


“Baca sesuatu,” langkahnya yang masih pelan tetap berjalan pergi, “Bi, tolong teh Licorice Root, yang kemarin baru beli.”


“Siap,” bibi berjalan pergi setelah membantu membereskan tas papa.


Terdiam Fares, ia merasakan sofa di samping tempat yang tadi papa duduki.


Orang-orang yang ada di lingkungan ini sungguh tahu, membujuknya akan terbilang mustahil bila dia berkeyakinan kuat. Layaknya niat itu bata yang disusun dan diperkuat dengan semen.


Lembut tangan yang menggenggam, bisa aku rasakan menarik perlahan, “Rasyi, janjinya?”


Keras kepala, yang hanya wrecking ball yang bisa menggoyahkannya ya?


Aku rasa tidak sesederhana itu. Bolehkan aku diam saja?


Kubuat wajahku sepolos yang aku bisa, “Janji apa?”


“Rasyi....”


Bagaimana bisa aku selalu lemah dengan hanya mendengar namaku dipanggil dia?


Mulutku tidak bisa berhenti kesal. Rasanya sungguh gelisah. Diriku seperti permen asam, yang di dalamku tidak semanis aktingku.


Ia mengelus kepalaku meski aku masih berdiri tegak, “Kakak tahu Rasyi kuat. Ngomong saja pasti mudah. Ya kan?”


Tetap saja, aku tidak bisa menggerakkan hatiku.


“Ingat tidak, waktu Rasyi dikurung paman waktu Firna mau jalan ke pantai?”


Kepalaku berputar. Oh, kurasa yang ia maksud di saat aku masih SD dulu. Ya. Itu pernah terjadi dan tidak pernah terlupakan karena aku bahkan tidak selesai ambek selama satu minggu. Itu semua karena aku tidak mengerjakan PR sebelumnya.


Namun, “Kenapa?”


“Ingat waktu kakak masuk?”


Oh, “Kakak ketawa gara-gara Rasyi ngomel ke Putih?”


Kenapa Fares ketawa lagi?


Waktu itu aku hanya sangat kesal. Aku mengomeli si putih yang kupeluk selama mengerjakan PR. Si kelinci itu sampai tidak bergerak layaknya mabuk karena mendengar. Dan saat kak Fares datang, dia bangun dan memukulku dengan kakinya.


Ya..., itu memang lucu. Bahkan si putih, kelinciku yang sudah lama mati itu, tahu kalau aku keras kepala dan omelanku sangat menjengkelkan.


“Ready?”


Aku mengangguk. Harus menyanggupi untuk bicara, atau semua ini tidak akan ada selesainya. 


Kami berhasil melangkah ke tujuan papa tadi, perpustakaan papa.


“Kenapa?” papa duduk membaca di sofa.


Ragu untuk menjawab. Namun genggaman tangan Fares yang tidak melonggar, menarikku perlahan untuk mendekat.


“Paman, ada yang perlu kami bicarakan.”

__ADS_1


Terdiam papa memandang kami. Aku menghela nafas. Fares masih menuntunku duduk di samping papa.


“Ada apa?” papa masih saja bertanya.


“Paman, ada satu hal yang perlu paman tahu. Kami, sebenarnya melihat...,” bahkan Fares juga ragu.


“Melihat Ira di kamarku?”


Aaa....


Bisa-bisanya dia membicarakannya dengan santai seperti itu. Meskipun ia menyadari kalau kami mengetahuinya, apa perlu dia secuek itu?


Ini masalah besar bagiku!


“Hendra mulai bicarakan? Memang dia harus tahu kalau kami mau menikah,” papa kembali memandang Fares yang belum duduk, “Atau kamu yang tidak setuju?”


Jadi benar? Mereka mau melanjutkan hubungannya lebih. Dan menjadi keluarga baru yang indah, tanpa bekas luka dari istri pertamanya.


Aku Cinderella kah? Lucu!


“Paman, ini bukan saya,” Fares menatapku, “Akan lebih baik anda bicarakan lagi. Saya rasa itu perlu.”


Aku bisa merasakan tatapan papa. Namun aku belum ingin bicara.


“Rasyi,” Rizki memanggilku.


Dan aku tetap diam.


“Ya, benar,” papa setuju, “Bisa tinggalkan kami?” dia meminta Fares pergi?


Fares menatapku seakan menanyakan keinginanku.


Itu... ide bagus. Mau bagaimanapun, Fares masih orang luar. Masalah seperti ini harus dimulai dengan diskusi orang dalam. Dimulai dari aku dan papa.


Aku tersenyum, “Rasyi tidak apa. Kakak tunggu di luar dulu ya?”


Lembutnya senyum itu sungguh membuatku lebih tenang. Melangkahnya pergi dan menutup pintu.


Baiklah, aku harus mulai dari mana?


“... tidak...,” bukan itu yang aku permasalahkan.


“Rasyi tidak mau Ira jadi mama baru?”


“Bukan,” aku tidak mempermasalahkan itu juga.


“Rasyi, kalau Rasyi tidak ngomong, papa tidak tahu apa yang salah.”


Aku... tidak tahu....


Jari jemari itu bermain dengan rambut panjangku. Mengepangnya seperti biasa bila kami duduk bersama.


Kesenangan ini sudah sangat lama tidak terjadi. Papa sudah tiga hari di rumah sakit sebagai pasien. Lama sekali kami tidak saling senang seperti ini....


Senang ya?


Aku menghela nafas, “Rasyi tidak masalah kalau papa mau menikah lagi kok. Kalau papa memang maunya begitu....”


Harus terima cepat atau lambat kan?


Maaf, Fares, aku hanya tidak tega untuk menolak.


“Rasyi tidak mau papa nikah lagi?”


“Tidak apa.”


“Bukan itu maksud papa. Rasyi tidak mau punya mama baru?”


“Tidak apa.”


“Rasyi,” suaranya lebih tegas, “Lihat papa.”


Entah kenapa aku tidak berniat untuk mengikuti perkataannya.


“Rasyi, lihat sini,” tangan papa terasa memutar paksa pandanganku, “Kenapa Rasyi sedih gitu?”

__ADS_1


“Tidak!” aku menghentakkan wajahku, “Aku bakal terima kalau papa memang maunya menikah lagi. Rasyi tidak apa!”


“Apa?”


Kenapa dia bertingkah seperti itu? Sudah cukup sulit untukku ada di sini.


“Sebentar. Kayaknya ini yang dimaksud Fares.”


“Jangan mengganti topik.”


“Tidak. Ini pasti salah paham.”


“Apanya?!”


Papa mengendalikan arah pandangan wajahku lagi, ke arahnya, “Dengar. Papa mau menikah lagi, karena Rasyi.”


Heh?


“Papa pikir Rasyi mau punya mama baru.”


Loh? “Maksudnya?”


“Rasyi pikir papa mau sama Ira karena suka?”


“Memang bukan?”


“Tidak,” papa kembali memainkan rambutku, “Papa biarin saja Ira begitu karena pikir.... Rasyi mau Ira jadi mama Rasyi.”


Aku yang mau? “Rasyi tidak....”


Papa tertawa, “Ternyata kita berdua salah paham.”


Tunggu, tunggu tunggu tunggu!


Biar aku luruskan dulu!


Jadi, papa dan Ira sudah saling dekat. Papa bilang mereka ingin menikah. Namun ternyata, papa melakukan semua itu karena berpikir itulah yang aku mau. Dia pikir aku menginginkan ibu yang merupakan tante Ira.


Kesimpulannya adalah, kami mencoba melakukan keinginan satu sama lain yang sebenarnya tidak pernah ada.


Heh?!


“Rasyi, dengarkan papa,” ia menyapu poniku ke belakang, “Jujur, Rasyi mau mama baru, atau tidak?”


“Tidak! Rasyi senang begini saja!”


Oh? Aku mengatakannya dengan gamblang?


Papa tertawa lagi. Duduknya bahkan tidak terlepas dari sandaran sofanya, tapi masih bermain dengan rambutku. Membuatku, yang tidak ikut bersandar, memilin tubuhku sampai bisa melihat wajahnya.


Kembali aku bicara, “Apa papa memang mau menikah lagi?”


“Papa sudah puas jadi duda,” ia tersenyum, “Urus Rasyi sudah capek.”


Sungguh?!


Ia menegakkan duduknya, “Papa tidak akan nikah kalau Rasyi memang tidak ada mau punya mama baru.”


“Rasyi juga tidak mau.”


Senyum itu melebar. Ia mengecup keningku, “Masih sedih?”


Aku tersenyum, “Tidak~” langsung aku memeluk pria ini.


Namun, aku langsung melepasnya dalam beberapa detik. Menatapnya kesal dengan wajah ambekku.


“Tapi Rasyi marah!”


Bisa-bisanya membuatku kepikiran sampai otak ke lutut dan kaki ke kuping?!


“Hmm...,” seperti biasa, apa tidak peduli. Senyuman itu tidak hilang, “Bulan depan mau ultah gimana?”


Terdiam aku sesaat. Dia selalu menemukan cara untuk bisa melupakan marahku.


“Rayakan di cafe! Harus!”

__ADS_1


__ADS_2