Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special6 Urdha dan Azkia


__ADS_3

“Rasyi!” Fares buru-buru kemari.


Aku diam saja duduk di samping kasur Rasyi. Menunggu baikan dan keluar rumah sakit.


Fares elus muka istrinya yang tidak bangun-bangun, “Apa kata dokter?”


“Katanya cuma gara-gara capek.”


Walau aku tidak percaya itu.


Nafsu makan Rasyi belakangan ini semakin kacau. Cepat kelelahan dan terkadang lebih memilih mengerjakan komik daripada tidur. Jauh lebih sering juga aku lihat dia keluar masuk kamar mandi.


Tidak ada yang bisa aku simpulkan kalau tidak menjalankan banyak tes.


Bisa saja itu CKD, Chronic Kidney Disease. Kondisi penurunan bertahap pada fungsi ginjal.


Dengan kesehatan dan usia yang tidak mendukung, Rasyi punya banyak kemungkinan untuk dapat penyakit itu. Putri ini suka manis, dan dia tidak punya banyak imun yang kuat karena kelahirannya prematur. Sudah aku duga-duga kalau dia akan komplikasi saat tua.


Harapannya, itu hanya pemikiranku yang berlebihan.


Kalau aku tinggalkan pesan ke dokternya, apa mereka percaya? Tes saja tidak merugikan mereka karena kami juga yang membayar semuanya.


“Abi!” Fares teriak.


Jadi, aku melamun? “Hmm?”


“Tidak papa. Nanna baik-baik saja,” dia elus kepalaku lembut.


Semua berharap begitu.


Orang tidak pernah menentukan masa depannya sendiri. Apapun, harus disiapkan secara fisik atau hati.


Huuuh, ternyata seperti ini rasanya saat Rasyi menungguku di rumah sakit.


Tidak enak.


Dan semua semakin buruk.


.


.


.


“Sakit....”


“Rasyi, tidak papa. Kakak di sini, sayang. Kuat ya?”


Tangisan Rasyi setiap kali kami kejar waktu ke rumah sakit. Sirine-nya. Lampu yang tidak mau tenang. Rasanya seperti aku yang sedang sakit.


Pengalamanku yang selalu ada di rumah sakit tidak cukup untuk tahan perasaanku untuk keadaan seperti ini.


Hari makin ke hari, putri ini semakin layu.


“Abi....”


“Abi di sini, Nanna,” aku pegang tangannya erat, “Tahan sebentar ya?”


Tetap di sini.


Bertahan.


Aku mohon, tetap sama papa. Ya?


“Hihihi...,” Rasyi tertawa?


“Jangan tertawa...,” itu lebih sakit buat didengar.


Tolong berhenti.


Rumah sakit sudah di depan mata. Mereka semua sigap mengamankan Rasyi ke ruangan. Lampu tanda operasi di mulai.


Aku sudah belajar menjadi dokter lebih dari tiga kali kehidupan. Menjadi dokter ternama di tiga waktu berbeda. Tapi aku selalu tidak bisa menyelamatkan orang tersayang. Untuk apa aku pernah jadi dokter kalau aku cuma berdiri di luar ruang operasi?


Tepukan di kepala, “Maaf ya. Ulang tahun Abi malah dapat seperti ini....”


Fares benar orang tua yang baik. Dia sampingkan dulu khawatirnya dia hanya untuk cucunya. Bahasan ini tidak begitu berarti di umurku ke-22 tahun.


Perlahan Rasyi berjuang dengan penyakitnya. Makin kronis dan makin komplikasi. Suaminya pasti sakit hati sekarang. Dan cuma ada aku di sini.


Kami berdua harus terima keadaan. Temani satu sama lain mungkin sederhana, tapi harus dilakukan.


Sakit ditinggal. Tidak aku sangka aku akan merasakannya lagi setelah kehidupan 'itu'. Dan sekarang tidak hanya putriku, tapi juga neneknya yang pergi.


“Nanna tidak papa. Nanna kuat,” Fares meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Di saat yang dimaksud telah sampai, semua ketenangan anak ini bisa meledak.


.


.


.


PRANG!


“Ma, maaf. Pappa tidak fokus.”


Aku memahaminya. Rasyi... melihatnya dalam keadaan ini saja sudah mengacaukan kepala.


Pecahan kacanya harus aku bersihkan.


“Pappa pulang, terus istirahat, ya?” aku mendekat ke sana cari sapu, “Abi yang jagain di sini.”


“Tidak. Pappa masih mau di sini.”


Kami... sama-sama sudah melihat akhirnya.


“Abi pikir pengacara paham kalau kondisi mempengaruhi hasil. Gelasnya murah, tapi membersihkannya tidak lucu, Pap.”


“Heh,” setidaknya dia mau tertawa, “Pappa paham.”


Ruang rawat inap jadi sepi sekali. 


Fares mau bicara apa sambil tepuk kepalaku lagi? “Abi mirip sekali ya?”


“Dengan ayahnya Nanna? Iya, Abi tahu.”


“Kalau begitu,” dia tahan kepalaku, “Pappa beritahu apa yang Abi tidak tahu. Pappa tidak pernah dengarin ayahnya Nanna.”


Heh, hehehe. Kurasa begitu.


“Jadi, Pappa tetap di sini. Buat Nanna, buat Abi.”


Aku tersenyum. Dia memang tidak bisa diatur sama sekali.


Kulajutkan, “Walau Pappa harus pergi beli makan?”


Bermain alis dia.


“Heh,” akhirnya tangannya dia lepas, “Ya, BRB. Abi lanjutkan saja skripsinya.”


Kami sudah sepakat dengan apa yang kami lakukan. Fares masih ada di waktu cutinya. Sedangkan aku tidak bisa selamanya cuti. Rasyi... masih tidur.


Huuuh. Aku bersihkan dulu gelasnya. Lanjutkan kerjaku sambil tunggu Fares balik.


Tapi kalau selesai pun, aku tetap tidak bisa berhenti melamun sambil melihat muka Rasyi.


Sama seperti yang Rasyi lakukan setiap tidak ada hal yang dilakukan.


“Huuuu,” duduk di sana, pegangi kepala sendiri.


Kenapa jadi seperti ini? Aku kembali ke lingkungan ini karena Rasyi harus bahagia. Dia tidak boleh hidup dengan beban kehilangan.


Faktanya, aku tidak bisa melakukan apapun sampai dia menemui detik terakhir.


“Maaf, maafkan papa...,” rasanya sakit, seperti waktu kehilangan Nisa.


Tahu rasanya kehilangan, berkali-kali. Kali ini rasanya, terlalu sakit.


“Abi...?”


Heh?


Kutangkap tangan dia. Aku buat dia bangun? Genggam tangan dia pelan-pelan.


“Ya, Nanna, Abi di sini. Kenapa? Air putih? Ada yang sakit?”


Dia lihat aku saja. Tidak ngomong, tidak bergerak. Matanya masih lebar tidak berbeda dari terakhir kali aku meninggalkan putri ini.


Aku tersenyum kecil. Elus kepala dia, rapikan rambut panjang dia, perbaiki posisi bantalnya. Sama seperti yang aku lakukan setiap kali putri ini sakit.


“Papa?”


Hmm?


Dia pasti dengarkan aku menggumam tadi. Mungkin dia salah paham. Atau dia maksud Fares?


“Pappa cari makan. Abi bisa bantuin Nanna. Nanna mau apa?”


“Tidak...,” dia nunjuk ke sini, “Dinosaurus.”

__ADS_1


Apa?


“Hihihi,” dia tertawa? “Dinosaurus penjaga gunung es. Hihihihi....”


Ini bisa jadi titik terendahku.


Selama ini aku tidak pernah tahu kenapa aku di-reinkarnasi sampai ratusan kali. Penderitaan itu terus berlanjut. Tapi kalau semua itu untuk mengerti arti sayang... pelajaran itu menyakitkan.


“Iya,” aku benar menangis, “Papa di sini.”


“Hihihihi....”


Aku cium tangan dia. Tidak bisa berhenti takut. Kehilangan benar-benar akan hampiriku sebentar lagi.


Yang bisa aku syukuri, aku bisa melihat wajahnya yang jauh lebih cerah dari biasanya. Senyumnya....


“Heh,” aku terlalu kacau sampai bisa menangis sambil tertawa, “Kelinci penipu bisa istirahat sekarang. Papa temani sampai Rasyi tidur.”


“Rasyi... sayang papa....”


“Papa juga sayang Rasyi.”


Air mata itu tidak akan berhenti selama seminggu lamanya.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Kakak jelek! Kakak jelek kakak jelek kakak jelek!”


Huuuh, kehidupanku kali ini akan menyusahkan. Apa tujuanku dapat reinkarnasi kali ini? Menjadi kakak dari adik kecil yang rewel ini?


Kali ini akan lebih baik untuk pulang. Sudah terlalu sore, mandi dan makan. Lalu belajar⏤


“Kak Urdha~”


Tapi adik ini semakin menjengkelkan, “Apa?”


“Azkia cakep~”


“Ya, siapa yang merengek minta sepedaan sampai kesasar tadi? Pintar sekali.”


Dia manyun saja lagi, “Iiih~ Kakak jelek!”


Sekarang aku sudah lelah. Tidak ada gunanya marah ke anak perempuan umur lima tahun. Aku, kakaknya yang masih tujuh tahun, tidak seharusnya kasih nasihat. Jalan saja terus.


Masih untung dia tidak menangis karena ban sepedanya kempes.


“Ayo jalan. Nanti keburu malam.”


“Azkia capek~!”


“Jalan. Nanti kakak tinggal.”


“Iiish!” dia masih menggerutu tapi setidaknya dia masih mau ikuti di belakangku, “Dasar dinosaurus gunung es....”


Hmm?


Aku berhenti dan lihat ke dia. Dia bilang....


“Apa~? Azkia jalan nih!”


“Heh,” tertawa aku tidak sangka bisa dengar itu setelah bertahun-tahun.


“Jangan ketawa~!”


Lanjutkan saja jalanku, “Iya, iya, kelinci penipu.”


“Heh? Eh?!!”


Jalan saja terus.


“Tu, tunggu tunggu tunggu!” dia berlari dan berhenti di depanku, “Kakak tadi bilang apa?!”


Aku senyum saja. Kasih tepuk di kepalanya terus jalan lagi lewati dia.


“Papa?!”


Kakiku tidak berhenti, “Ayo pulang.”


“Tunggu! Tungguin Azkia~!”


Aku tidak pernah mengalami kehidupan bersama orang yang pernah di-reinkarnasi sebelumnya.


Heh. Kehidupan ini akan jadi unik sekali lagi. 


^^^APK Special THE END^^^

__ADS_1


__ADS_2