
“Huuuh...,” aku tidak pernah merasakan ketegangan yang sangat mengekang seperti ini.
Lain dari biasanya, papa mengelus kepalaku kasar seperti memang mau menghamburkan rambutku. Bapak ini memang sengaja.
“Ngapain tegang begitu?” papa akhirnya melepaskan tangannya.
Aku memanyunkan mulutku sambil memperbaiki kerusakan rambut yang diakibatkannya, “Soalnya kan....”
Kecuali karena kejadian Harun mengejek papa, aku tidak pernah marah dengan Harun. Dan marahku itu tidak mengubah apapun. Papa masih mendapatkan julukan jelek dari Harun.
Benarkah dia akan mendengarkanku kalau aku bicara?
Atau bahkan lebih buruk. Mungkin aku yang akan kehilangan kepercayaan diri.
“Ingat papa pernah ngomong apa?”
Heh? Yang mana? “Apa?”
“Jangan takut salah. Papa yang bakal beresin semua. Lakukan aja.”
Aku terdiam. Jujur itu lebih dari cukup untuk menenangkanku, “Iya~” aku tersenyum.
Kepalaku sekali lagi ia tepuk, dan sekilas memberi kecupan selamat jalan, “Pulang, telepon papa.”
“Bye~”
Ia pun meninggalkan aku di lorong depan kelas. Sosoknya yang menarik perhatian itu akhirnya pergi dengan anggun.
Aku berniat melepas sepatuku⏤oh!
“Firna,” aku menyadari sosok yang ternyata sudah dekat dimana aku berdiri.
Dia tersenyum kaku. Yang terjadi kemarin memang meninggalkan debu perih di mata.
Heh? Saga?
Dia menarik Firna pergi?
Vian? Tunggu.
Aku bahkan tidak sempat mengatakan apapun. Ini harus aku selesaikan!
Langsung aku tahan lengan Vian yang berdiri di belakang mereka.
Apa yang harus aku katakan? “Maaf,” hanya itu yang terpikir.
Setidaknya mereka menghentikan langkah mereka.
“Maaf aku sempat tidak percaya, kalau Harun yang pukulin kamu,” aku pastikan genggamanku masih kuat.
“Tidak usah bodong. Orang juga tahu. Kamu tidak bakalan percaya sama kami. Jangan ganggu, deh!” Saga tampak sangat marah mendekatiku.
“Aku percaya,” kucondongkan tubuhku menekankan kalimatku.
Dia menarik tanganku menjauh dari Vian. Membantingnya kembali ke arahku, “Ngomong aja. Gampang!”
Ternyata papa benar. Inilah yang membuat mereka memilih untuk menjauhi daripada bicara langsung denganku. Mereka tahu, hati dan ragaku akan langsung membela Harun apapun masalahnya.
“Maafin aku,” aku menggenggam kedua tangan si kembar ini, “Aku bodoh tidak mau pikir dulu. Harusnya aku percaya. Maaf. Aku minta maaf.”
“Lepasin,” Saga masih terdengar marah.
Aku menggeleng keras.
Seakan tidak mau ditinggalkan sendirian. Layaknya tak tega untuk bahkan menjauh satu langkah dari mereka. Bahkan aku memeluk tangan mereka lebih erat.
“Lepasin!” dia berteriak lebih keras.
Aku hanya bisa mempertahankan genggaman di bajunya saja. Namun aku bersikeras untuk tidak melepaskannya.
“Yang ada kamu percayanya sekarang aja! Mau Vian masuk RS habis dipukuli si gila, paling tidak percaya juga!” langsung dia banting lagi tanganku, “Kamu cuma minta maaf doang!”
__ADS_1
Bagaimana bisa aku tega mendengarnya? “Jangan bilang gitu! Aku tidak mungkin biarin Vian sampai begitu!”
“Aslinya, kamu bakal bela mati-matian tuh si gila!” dia mendekat dan memamerkan wajah sangarnya.
“Udah dong!” Firna, dia berusaha menenangkan Saga.
Saga merentangkan tangannya untuk menghalangi Firna, “Diam dulu, kak.”
“Please, Saga⏤”
Heh? Harun?!
“Si gila muncul!” Saga menjauh selangkah dengan malasnya.
Lelaki yang disebutkan Saga ini dengan tegap berdiri di antara kami. Ia layaknya melindungiku dari bahaya yang tidak ada. Jelas-jelas ia tidak suka aku bersama kedua kaka beradik ini.
“Kalian ngapain ke Rasyi?” Harun lagi-lagi marah tanpa alasan.
Harus aku hentikan sebelum semakin tidak terkendali, “Harun. Mereka⏤”
“Aku tahu. Mereka memang menyusahkan. Rasyi tidak usah terlalu baik.”
Langsung aku genggam lengannya, “Bukan. Aku yang duluan ganggu mereka.”
Harun memandangku bingung.
“Udah tahu, dia!” Saga menekankan apa yang ia rasakan jelas di wajahnya, “Bawa pergi sana, pacarmu. Tahu ganggu, masih aja!”
Harun melepaskan genggamanku dan mengganti posisinya sampai kami saling berkait jari, “Ayo kita langsung masuk saja.”
Jangan, please.
Aku langsung menarik tanganku, “Harun, tunggu. Biarin aku bicara dulu.”
“Tidak usah!” Saga mengetuk pundak kakaknya itu, “Yok Vin!”
“Harun salah, aku percaya,” kudorong perlahan Harun sampai aku bisa berdiri di sampingnya, “Bisa kita bicarakan, tidak pakai marah-marah begini?”
Ini dia. Selayaknya yang dikatakan papa kemarin, aku harus mengatakannya dengan tegas. Harus aku gambarkan dengan jelas kalau apa yang dia lakukan itu tidak aku senangi.
Kuputar pandangan pada Harun, “Kamu yang mengaku kalau kamu pukuli Vian. Ancam mereka buat jauhin aku juga, kan?”
“Itu? Jadi masalah?” dia menahan bahuku, “Aku niat baik. Mereka-mereka ini, tidak bisa dipercaya, Rasyi.”
“Wow. Wow!! Terima kasih!” Saga malah tertawa garing, “Vian, ayo!”
“Saga, kita dengerin dulu,” suara Firna menjadi angin semilir yang sejuk.
Kulepas tanganku dari Harun, “Aku minta maaf soal Vian. Kamu boleh marah sama aku, tapi tolong jangan terus-terusan begini. Aku....”
Menyentuh tangan sendiri. Seakan tahu kalau sebentar lagi gemetar takut akan merajalela. Mengakuinya atau tidak, aku memang tidak suka sendiri.
“Jadi maksudnya kamu lebih bela mereka. Daripada aku?!” Harun menaikkan suaranya.
“Aku tidak bela siapa-siapa. Jangan salah paham,” aku berusaha tenang.
“Terus apa lagi kalau tidak bela mereka?!” Harun?!
Sungguh? Dia sempat mendorong bahu Saga dengan kasar.
Dan Saga tidak menyukainya, “Kurang ajar!!”
“Tunggu!” aku berusaha menengahi.
Firna ikut menahan Saga untuk mengamuk lebih jauh, “Sag! Sudah! Jangan makin bikin rumit!!”
Aku membalas wajah tak senang Harun, “Harun, kamu tahu apa masalahnya. Tidak ada yang minta kamu buat ancam semua orang. Sampai bikin Vian babak belur? Panggil papaku, babi? Sungguh, Harun? Bukan begitu juga.”
“Heh,” wajah Harun, menghinaku? “Kamu tidak tahu apa-apa. Kalau bukan gara-gara aku, mereka sudah makin bikin onar!”
“Oke!” Saga berteriak, “Aku bakal bikin onar, di mukamu!!”
__ADS_1
“Sag, jangan. Sudah!” Vian ikut turun tangan menahan Saga.
“Silahkan!” Harun? Sungguh?!
Tidak bisa! Aku semakin tidak percaya diri dengan keadaan seperti ini. Keduanya tidak mau mendengarkanku.
Jangan! Jangan ragu! Papa pasti ada di belakangku.
Iya!
Aku harus percaya pada papa.
Berdiri aku di tengah mereka, “CUKUP!!”
Berhasil aku mengheningkan keadaan. Mereka bisa memandangku dengan lebih tenang sekarang.
“Saga, tolong tenang dan dengarkan. Jangan jadi buldoser yang kerjaannya marah terus!”
Walau kalimatku bisa membuatnya tampak tambah marah, dia tetap dia tak bergerak.
Lalu aku pandang Harun, “Harun, aku senang kamu peduli, tapi mereka semua itu temanku. Yang aku sayang.”
Aku kembali menatap semuanya.
“Bisa tidak kita kembali ke semula lagi?” rasanya, aku ingin menangis.
“Aku mengerti, Ras,” Vian? “Tapi....”
Harun tersenyum, “Mimpi.”
“Please, Harun!” aku harus menegaskan lagi kah? “Berhenti kontrol hidupku! Mereka temanku dan akan terus begitu!”
Apa aku berhasil...?
Heh?
Harun?
“Aaw!” kesakitan aku menerima genggaman kencang, dari Harun.
Dia....
“Sakit!” sakit sekali! Kenapa Harun menahan genggamannya lebih keras?
“Harun!”
“Lepasin, gila!”
“Berisik!” Harun! Dia semakin⏤
“Sialan!” Saga, dia terasa dengan keras melepaskan tangan Harun.
Harun tampak semakin marah, “Kalian⏤”
“Kenapa lagi kalian ini?!” Heh? Guru?
Ada guru?
“Sudah! Masuk kelas masing-masing!!”
Aku terdiam. Sadar akan keadaan sekitar. Ternyata sudah banyak sekali yang mengelilingi kami. Orang-orang ini mungkin menyangka kami sedang berkelahi.
Walaupun memang pembicaraan ini lebih ke arah sana.
“Iya, bu,” Harun? Menatapku sangar.
Saga, ia tidak mengatakan apapun dan melepas tangannya dari pundakku. Demikian Vian yang memilih tersenyum tipis dan pergi bersama dengan adiknya.
Lingkungan semakin sepi dengan murid-murid yang tidak tertarik lagi melihat. Tidak dengan aku yang terpatung.
“Rasyi?” Firna? “Yuk masuk.”
__ADS_1
Aku terdiam, tapi aku bisa sedikit lebih lega. Mengangguk dan tersenyum.