Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#122 Gelombang Emosi


__ADS_3

Huh~ Minuman ini memang segar.


“Aaaam!” rasa manisnya aku suka sekali~


Walaupun tidak sehat, tapi rasa sirup khas jajanan murah ini tetap enak. Mulutku harus menikmati dengan sangat baik sebelum papa melihatku. Larangannya itu... terlalu mematikan?


“Gitu saja sudah senang,” Saga mau meledek siapa, hmm?


“Kalau tidak mudah bersyukur, maka aku tidak mudah tersenyum. Maka setiap hari aku akan membuatmu menderita,” aku masih menikmati kelapa dengan gula sirup di batoknya langsung.


“Mampus,” Vian tertawa.


Firna yang duduk di sampingku tampak ikut tercerahkan kebahagiannya, “Story time~”


Dia mau bermain seperti itu? Baiklah~


Wajahku mendekat ke arahnya, “Gimana gebetan~?”


“Kenapa bicarain itu sih~?!” Firna mengamuk meski mengikuti nada bicaraku.


“Bahasan tidak penting,” Saga malah ikut-ikutan marah, “Btw, mending bahas tentang Riri.”


Mata kami beralih ke arah Vian yang ingin melahap satu sendok parutan kelapa. Ia langsung membuang sendok itu di batoknya. Wajahnya tak nyaman dan memaksa tatapan ke arah lain.


“Apanya?” Vian tidak ingin berkomentar.


Saga merangkul kakaknya ini sampai tertawa, “Apanya apa? Kalian udah pacaran, kan?”


“Uhuk!!” aaargh! Aku hampir tersedak daging kelapa! “Apa?!”


Vian tiba-tiba bermuka merah, “Berisik, Sag!”


“Hah? Sama siapa?!” Firna, duh, kamu seharusnya hilangkan kebiasaan mudah melupakan orang! Apa lagi di saat seperti ini!


“Bukan siapa-siapa!” Vian menepis lengan Saga.


Suara ponsel?


Mata Saga mengintip isi ponsel yang ada di samping makanan Vian, “Ei, pas banget. Ditelpon pacar~” tangannya langsung menyikat ponsel itu.


“Hei!”


Mereka masih berebut ponsel yang masih berdering ini. Sementara aku masih membersihkan tenggorokanku dengan meminum banyak air kelapa dengan bantuan sedotan.


Itu sangat mengejutkan. Maksudku, tidak lebih dari seminggu aku ada di tengah perdebatan itu. Kemarahan Vian ke Saga dan Clarisa itu.


Tanpa tahu menahu, ternyata mereka pacaran sekarang?!


“Siapa sih?” Firna masih tidak mengerti situasiku yang baru saja hampir tersedak?


Aku mendekatkan wajahku, “Teman kak Fares yang kita ketemu di kampus kapan lalu.”


“Oh, dia... lah? Kok bisa pacaran?!”


Vian berhasil mengambil ponselnya dan mematikan suara ribut itu, “No comment!”


Terdiam aku menatap wajah yang tidak kunjung tenang itu, “Kak Clarisa bilang suka ya? Pas di sekolah seminggu lalu ya?”


“Kapan, dimana?” Saga, sepertinya tidak tahu apa-apa akan hal ini.


“Oh,” Vian masih berusaha mempertahankan sisi cool-nya, “Kamu ngomong apa ke Riri sampai dia begitu?”


Aku menyipitkan mataku. Yang aku lihat sekilas, semua terjadi seperti itu saja tanpa konfirmasi apapun dari berbagai pihak. Layaknya tim penyelenggara yang tidak ada komunikasinya.


Semuanya pada miscommunication. Kacau tapi untungnya semua berakhir baik.


Telengan kepalaku menatapnya, “Kak Clarisa langsung nembak?”


“Tidak,” konfirmasi Saga membuatku semakin bingung.

__ADS_1


Suara ponsel yang sama.


Kepo yuk!


Langsung aku ambil ponsel itu dan mengangkat panggilannya tanpa Vian sempat berkedip.


“Halo, kak Clarisa?” aku memanggil siapa yang ada di balik panggilan itu.


[“Siapa ya?”] 


“Rasyi Rasyi~”


“Ras!” Vian masih berontak. Namun Saga dengan senangnya menahan gerak Vian.


Aku dengan refleks menyalakan mode speaker dan menaikkan volume-nya. Menahan uluran tanganku di tengah meja kayu yang tidak muda sambil menahan jarak dari tangan Vian.


[“Oh, iya. Maaf gak recognizable suara kamu.”]


“Kakak sejak kapan pacaran sama Vian?” aku tersenyum jahil menatap pria yang masih berusaha meraih ponselnya ini.


Wajahnya seakan ingin mengancam tapi merah pipinya menggagalkan pembangunan wajah sangarnya, “Rasyi!”


Aku tak mendengarkannya, “Kakak jahat deh. Tidak ada kabar-kabar~”


[“Itu, anu... Aaargh!”] 


Kedengarannya wanita ini salah tingkah.


Aku berusaha kembali memancingnya, “Kakak emang langsung nembak pas di sekolah kemarin?”


“Riri, matiin. Gak usah dijawab! Matiin!” Vian berteriak selagi pacarnya ini tertawa.


[“Long story short, aku jujur memang waktu itu. Terus Vian ajak kencan Jumat malam kemarin.”] 


“Oooo~” aku memandang Vian dan disahuti pula oleh Firna.


Lihat seberapa jelasnya wajah panik Vian saat ini, “Matiin telponnya, Ri!”


“Biar tahu aja nih! Aku sama Riri gak pacaran!”


Wah, nih anak sudah kehilangan akal atau bagaimana? Panas pipinya sudah sampai ke otak?


“Mas. Dengerin ya. Kalau aja bukan pacar, punya hak kamu buat bilang kasar gitu?” aku mengatakannya dengan keras, “Nanti ditinggal kak Clarisa lagi, nyesel~! Nanti kelahi lagi, marahan lagi~!”


“Ga, gak, gak gitu!” tuh kan, sedikit lagi Vian pasti sudah mulai nyesel.


[“Sorry sorry. Aku matiin deh, jangan marah lagi ya?”]


Vian tambah memerah saja tuh.


Firna beraksi, “Kak, lain kali injak aja si Vian. Jangan kasih waktu buat ngulur-ngulur waktu lagi.”


Aku memastikan suaraku senang, “Atau perlu aku yang injak, kak?!”


“Kalian anj... banget sial!!” sudah tidak karuan lagi tuh wajah Vian.


Saga sudah tertawa lepas sekali, sukses membuat kakaknya ini sudah seperti perkedel kentang. Penyet, digilas, sampai sudah tidak ada harga dirinya lagi.


Hihihihi!


[“Well, talk to you later. Kali ini bakal aku kabarin kok kalau sudah pacaran. Heheheh!”] 


“Aargh!!” Vian menggaruk-garuk kepalanya dengan menunduk sekuat mungkin untuk menutupi wajahnya.


Ponsel tertutup. Dan tangan yang masih basah berkeringat itu mengambil langsung ponselnya.


“Jangan begitu lagi!” wajah marahnya saja sudah tidak seram lagi.


Huuh, mereka happy sekali.

__ADS_1


Memang belum sampai pacaran, tapi siapa yang bisa membantah akhir cerita mereka. Kebahagian yang berasal dari keberanian.


Berani. Tentu saja aku keras kepala dan tidak tahu malu. Seharusnya itu tidak sulit!


Aku langsung berdiri dan meraih lengan Firna, “Cari-cari spot foto yuk.”


Firna langsung berburu-buru menghabiskan kelapanya, “Yuk.”


“Have fun,” Saga masih tersenyum bangga dengan Vian yang kacau.


Melangkah aku lebih semangat daripada Firna yang memang suka mengambil gambar petualangan. 


Ini memang hanya alasan.


Mendengar kenyataan kedua joli ini, membuatku terbakar. Kedua orang kaku itu saja bisa, bukannya ini artinya sudah waktunya untuk giliranku?


“Mau foto ke mana sih? Kok jalan terus?” Firna sudah dari tadi mempersiapkan kamera ponselnya.


Aku ingin mencarinya. Menemukannya dan menahannya agar tidak pergi lagi. Harus aku pastikan aku melakukan lebih dari yang aku punya sampai aku tidak meninggalkan penyesalan.


“Kita ke sana aja yuk!”


“Aaa!” aku tidak bisa mempertahankan arah jalanku selain mengikuti Firna, “Iya, iya! Jangan diseret gini juga!”


Ternyata perempuan ini membawaku masuk ke jalur pelabuhan. Warna-warni yang tidak senada di pasang sepanjang pagar dan lampu-lampu yang belum bertenaga. Namun, aku merasa kehebatan pondasi itu bergoyang setelah dihantam ombak.


Laut sungguh sedang melambai hebat.


Oh!


Aku berhasil melepaskan genggaman Firna dan melangkah lebih cepat ke salah satu ujung bercabang pelabuhan.


“Ketemu~!” aku menatap seseorang yang ada di permukaan kayu yang terbuka itu.


Matanya terkejut dan berubah canggung hanya dalam waktu beberapa detik. Namun aku tidak akan mundur sekarang. Kugenggam pergelangan tangannya sebelum ia menghilang tanpa aku sadari.


“Kakak ngapain sendirian di sini. Mending sama kami makan kelapa~”


“Ye, malah ikut pacaran juga?”


Fi, Firna?!


“Aa, anu, itu, tu, Irna, Firna!!” mulutku jadi salah tingkah kan!


Hmm? Apa ini? Kak Fares mencoba melepaskan genggamanku?


“Kakak, mau. Kakak mau ke toilet,” dia berbohong lagi?!


“Kak!”


“Rasyi, jangan tarik kakak.”


“Tapi kakak jangan ke mana-mana dulu!”


“Rasyi.”


Tidak mau! Aku tidak mau menyesal melepaskannya! Mau apapun yang terjadi, akan aku tarik terus. Genggamanku tidak akan aku lepas...!


“Rasyi!”


...


Heh?


BYUR!!


“Ada yang jatuh!”


“Tenggelam ada yang tenggelam, tolong!!”

__ADS_1


Eh?


Kak... Fares?


__ADS_2