
“Mau yang gimana?”
Terpikirkan olehku, bentuk tangan itu menggambarkan diri pemiliknya. Kasar, lembut, tebal ataupun ramping. Ada kalanya setiap kali kita merasakan elusannya, kita tahu seperti apa orang itu.
Namun orang yang akan menata rambutku ini berbanding terbalik dengan karya tangannya. Bahkan aku tidak bisa menata rambut sehebat dia.
“Jangan yang erat-erat tapi tidak panas,” aku memainkan rambut panjang hitamku, “Maunya sih kepang tapi kemarin sakit seharian.”
Papa meraih beberapa helai rambutku selagi ia duduk di belakangku, “Kalau gitu, yang loose saja.”
Yang longgar? “Nanti lepas gimana?”
“Tidak,” tangan itu mulai memberikan keajaibannya.
Karena aku jarang keluar, aku jadi semangat sekali kalau jalan-jalan. Papa seperti biasa selalu membebaskan aku melakukan apapun sepanjang itu bukan kelakukan yang bodoh, menurut beliau.
Beberapa menit dan papa tampaknya selesai dengan kepangan yang terasa berbeda.
“Sudah,” papa menyibakkan hasil kepangannya ke depan pundakku.
Aku dapat melihat pantulannya di cermin depanku. Kepangan itu tampak lebih besar dari kepang biasa, sangat manis dengan model yang terkesan berantakan. Yang terpenting, terasa ringan.
Papa memang jago~
“Ganti baju,” dia berdiri menghadap ke depanku dan membelah poni lurus milikku dengan beberapa jepit.
“Hee?!” aku kan sudah susah payah memilih setelah baju ini.
“Pake kemeja pastel, terus skirt putih.”
“Tapi kan Rasyi suka baju ini.”
“Bisa percaya sama papa tidak sih?”
Mana bisa?!
Namun sekali papa bilang, aku harus mengikutinya. Papa tahu betul apa saja baju yang aku punya. Sehingga aku menggunakan baju yang ia bilang. Kumasukkan kemeja jingga pastel itu ke dalam rok lipit jarang-jangang berwarna putih terang, berhias garis bunga di pinggangnya.
Aku masih merapikan kemejaku selagi keluar dari kamar mandi. Papa yang menunggu masih diam saat aku mendekati kaca..., imut.
“Itu lebih Rasyi,” suara papa terdengar dekat. Ia mengikatkan pita kuning manis dengan bunga daisy di ujung kepangan.
“Papa harus jadi penasehat fashion pribadi Rasyi.”
Tampaknya papa sudah sibuk dengan barang bawaannya, “Hmmm.”
“Mau keluar?”
“Ke RS.”
“Kerja?”
“Antar Daffa ke dokter Dara.”
Oh? Sudah waktunya? Aku pergi mengunjungi beliau di umur tiga tahun, tapi Daffa cepat juga. Padahal tidak sakit apa-apa. Itu kah alasan kenapa papa sering keluar dengan tante Ira?
“Bareng Harun atau Fares?” papa ikut mempersiapkan diri dengan jaket dan barang-barang yang ia bawa ke kamarku ini.
__ADS_1
Aku pasang sepatu kets putih dengan garis hijau yang kalem, “Sama Firna.”
Kutangkap alis sang pria ini dipermainkan, “Papa berangkat.”
“Hati-hati~” pintu itu ia biarkan terbuka meskipun aku masih sibuk memasukkan barang-barang di tas selempang.
“Non! Non Firna sudah tunggu!!”
Saatnya aku pun berangkat, “Iya!”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Ramainya. Membuat mual.
Oh, “Harun! Kak Far⏤!” terpotong panggilanku yang disertai dengan lambaian di tengah lautan manusia.
Panggilan itu tak kulanjutkan tentu saja karena terkejut.
“Selamat datang,” satu anak ini memampangkan wajah menjengkelkan, lebih dari wajah datarnya sendiri.
“Ini bukan rumahmu,” Firna sepertinya tetap tidak suka dengan kehadiran mereka, “Kalian kenapa di sini?”
“Bioskop,” anak yang kalem menunjukkan dua lembar tiket bioskop.
Oh, itu film dan waktu yang sama dengan kami berempat.... Kenapa mereka bisa mendapatkannya?! Kebetulan ini semakin tidak masuk akal!
Anak yang paling ribut mulai lagi, “Jutek amat kak. Makanya tidak dapat pacar.”
“Kayak kamu punya,” Firna menyerang kembali.
Saga ini tetap saja. Dia tidak pernah belajar dari Vian yang bisa lembut dengan wanita. Perlukah aku ikut membalas?
Firna menyipitkan matanya, “Playboy.”
Barangkali aku tidak perlu repot membantu dan lebih sibuk menahan tawa. Lihat wajah Saga yang kalah itu. Firna membalasnya jauh lebih baik.
Rasanya kurang puas sih....
“Sudah,” Fares yang sedari tadi menunggu dengan sabar mulai menghentikan tingkah si kembar dengan tangannya di kepala keduanya, “Langsung ke bioskop yuk, nanti telat.”
Kupeluk Firna sambil memulai langkah kami semua, “Lima mantan loh. Ternyata Saga lebih parah daripada ikan lele.”
“Hei! Aku pacarannya gantian. Bukan pacaran lima cewek barengan!” Saga berhasil marah.
“Oh. omong-omong si lele,” Vian ikut menggubris.
“Iya,” Saga mengeluarkan ponselnya meski kami masih sibuk berjalan, “Lihat nih.”
Kami memandang apapun yang ia tunjukkan di layar ponselnya. Pasti ini ada hubungannya dengan si lele, panggilan yang kami setujui untuk kak Nafis si pembohong amis.
Sudah lewat beberapa hari sejak kejadian itu. Lima atau empat hari mungkin. Aku pun tidak mencari kabar tentang si lele sama sekali sejak ia masuk rumah sakit. Yang mustahil untuk tidak peduli bagi keluarga Saga yang bertanggung jawab.
“Ada apa sih?” aku memandangi video yang lagi-lagi hasil kebosanan si kembar ini.
Video itu terus berputar dan menunjukkan si lele ini sedang berbicara dengan... Caca? Di lobi rumah sakit ya kan? Sepertinya di mau keluar setelah ia dirawat.
Loh? Loh loh loh? Kok tiba-tiba muncul dua cewek? Mereka berdebat kah? Terlalu ribut, entah dari videonya yang menampilkan banyak orang yang melihat atau karena mall ini terlalu ramai.
__ADS_1
“Hik!” Firna terkejut.
Bagaimana tidak? Caca ini tanpa aba-aba langsung menampar pasien yang mau keluar ini. Jangankan Caca, cewek yang lain juga menampar keras bergantian.
Ouch.
“Hahahaha,” Vian yang ikut menonton tidak bisa membendung tawanya.
Pikiranku, mengatakan si kembar ini yang memancing drama, “Kok... bisa?”
“Ternyata ada satu senior basket yang kenal sama lele,” Vian yang berhenti tertawa sepertinya siap bercerita, “Dia tahu kelakuan lele itu gimana. Dia juga kasih tahu kontaknya cewek-ceweknya.”
“Kami kirimin deh video kamu kencan sama lele,” Saga melanjutkan.
Mereka... ternyata niat sekali.
Saga menyimpan kembali ponselnya, “Vian maunya sebarin videonya di sosmed. Kalau begitu kan aku yang repot soalnya aku yang pukul.”
“Kan lebih seru kalau semuanya tahu. Kamu tidak penasaran gimana jadinya lele?” Vian tersenyum seram.
“Iya juga sih. Kurang seru kalau cuma kita yang tahu. Susah cari-cari, kok tidak disebar,” Saga, kamu tidak berpikir untuk mengikutinya kan?
Mereka ini bisa menjadi sangat kejam di saat mereka sedang bosan ya. Rasa menyesalku untuk dekat dengan mereka semakin besar semakin hari.
“Karena kami sudah melakukannya dengan sangat baik, kak Rasyi bisa dong kasih imbalan kue lebih banyak~?” akting baikmu tidak akan berhasil, Saga.
Aku tidak ada niat untuk melayanimu lebih dari dua toples cookies yang sudah disetor, “Mau toples saja? Ada banyak di rumah~”
“Pelit. Kak Firna? Belum kasih apa-apa nih.”
Firna menyengir, “Aku kan tidak minta!”
“Tapi puas kan?” Saga, berhenti mengerjai Firna.
“Iya-iya! Nanti aku traktir popcorn!” Firna sepertinya mengalah.
Saga tersenyum puas. Apakah dia selalu melakukan apapun demi makanan? “Gitu dong~”
“Murah,” Vian melanjutkan tawanya.
“Kamu tuh, kemahalan!”
Hmm?
Dari tadi aku tidak mendengar suara Fares dan Harun? Mereka mengikuti dari belakang kami kan?
Aku mencoba melihat ke belakang, selagi membiarkan pelukan tanganku pada lengan Firna membimbing arah jalanku.
Harun tepat di belakangku tersenyum manis sesaat ia sadar aku memandangnya. Meski jarak kami cukup jauh. Itu juga yang membuatku tidak menyadarinya di belakangku.
Loh? “Kak Fares?” aku menghentikan langkahku. Kulihat Fares tak berjalan mengikuti kami, “Kakak kenapa?”
Fares tampak terguncang kecil. Dan akhirnya tersenyum tipis tak berbeda dari biasanya, “Tidak. Ayo lanjut jalan.”
Kalau mereka tidak membahas apa yang kami berempat bahas, seharusnya Fares dan Harun berbicara berdua selama ini. Membahas apa? Bukan hal buruk kan? Namun reaksi Fares sungguh tidak menenangkan.
Aku harap itu bukan perkelahian.
__ADS_1