
“Buat Rasyi~?<3”
“Syukurlah Rasyi suka,” senyum itu boleh jadi tipis, tapi pasti harinya sangat indah saat tahu aku menerimanya sangat gembira.
Bukan apa-apa. Ini hanya tiket bioskop yang sangat ingin kutonton sejak trailer keduanya keluar sebulan lalu.
Tidak mustahil untuk membelinya sendiri, tapi setiap kali aku punya waktu untuk memesan, tiket itu selalu sold out. Dan meski aku punya tiketnya, jadwalku bertentangan.
Impianku padahal menonton film ini sebelum terlalu banyak spoiler yang terdengar di sekolah. Dan kak Fares berhasil booking dua tiket minggu depan!
“Nanti ajak Harun. Pasti mau temani,” kak Fares memainkan ujung mug kopinya.
Loh kok? “Kak Fares belum nonton juga kan?”
Dia mengangkat ujung itu dan meminumnya perlahan, “Belum sih.”
Ini kan uang dan hasil jerih payah Fares. Daripada memberikannya pada orang lain, kan lebih baik memakainya sendiri. Tuh, kak Fares membeli dua tiket. Satunya bukannya memang untuk dia sendiri.
“Ya sudah, kak Fares saja yang temani Rasyi,” aku memiringkan duduk sampai lengan atasku mengetuk miliknya.
“Kakak tidak apa kok. Mending ajak Harun.”
Aku memajang wajah heran, “Ya tidak boleh loh. Ini kan uangnya kakak. Kakak yang harus nikmati.”
Terbisu aku menatap sosok yang sudah meletakkan kembali mug di atas meja. Senyum itu masih ada tapi suasananya mirip seperti saat ia sedih.
Saat aku mengingatnya, aku sering melihatnya tampak sedih. Namun aku tidak pernah tahu apa alasannya.
Lalu apa yang ia pikirkan sekarang dengan ekspresi seperti itu?
Ia menelengkan kepalanya sehingga wajahnya jelas menghadapku, “Rasyi tidak mau kencan dengan Harun?”
Ke, ke, kencan?! “Ma, ma, masa kencan berduaan aja ninggalin kakak...!”
Tunggu, apa yang aku katakan? Memang seperti itulah konsep kencan!
Aaaarg! Aku kan jadi salah tingkah!
“Heh,” dia tertawa manis, “Tapi Rasyi mau kan?”
“Ti, ti, ti, ti, tidak! Nanti Rasyi usahakan booking tiket juga untuk kakak,” aku menunjuk wajah si pria ini, “Tidak ada penolakan!”
“Tapi bisa jadi sudah habis. Kan lebih enak kalau ajak kencan Harun.”
“Ma, ma, ma, makanya Rasyi kencannya sama kakak saja⏤tu....” apa tadi aku bilang?! Kencan kok sama kakak sendiri?!
“Hehehe, ya sudah kakak mengalah. Makasih.”
“Tidak boleh menolak!! Rasyi pergi sama kakak! Titik!!” aku melipat tanganku sambil membuang wajah yang malu.
“Iya, iya, kakak pergi.”
“Ka, kalau, kalau kakak tidak temani Rasyi,” kutarik lengan itu keras sampai condong samping ke arahku, “Ra, Rasyi ngambek!”
Eh?
Aku menatap pria ini.
__ADS_1
Fares masih menatapku dengan senyumnya..., “Hehehehehe, iya kakak temani.”
Iiiiih!! Aku melakukannya lagi. Padahal dia sudah bilang iya dan aku malah memaksanya terus menerus.
Aaaaaargh!! Gara-gara siapa juga aku salah tingkah seperti ini?!
Kenapa aku malah ingat hari aku dipergoki latihan teater memalukan itu?! Rasanya ingin mempersembahkan kuburan untuk diriku sendiri!!
“Mau minum dulu?”
“Tidak!” aku sedang kesal, tahu tidak?!
Cari pembahasan lain! Hindari ketidaknyaman ini! Kabur secepatnya!! Otakku, cari pembahasan lain!
Oh iya!
“Kakak sudah baikan sama Harun? Terakhir kali, Harun masih tidak mau ngomong sama kak Fares kan?”
Dia terdiam, “Kami kan tidak berkelahi.”
“Tapi masa Harun selalu merengut kalau lihat kak Fares? Apa namanya kalau tidak berkelahi? Ada masalah apa sih?”
“Itu⏤”
“Kak Fareeees!!”
Waaa!!
“Kak Fares, dimana,” siapa sih yang tiba-tiba teriak?! “Itu dia!”
Heh? Tunggu.
“Aku pinjam Rasyi-nya dulu kak!!”
Drama apa lagi sih ini?!
Sengaja aku mengunjungi rumah Fares untuk memintanya mengajariku dalam rangka persiapan ulangan harian. Lebih baik pergi malam-malam seperti ini. Tentu naluriku akan menghindari sistem pembelajaran monster dinosaurus yang ada di rumah.
Lalu datanglah si raja hutan yang berisik!
“Saga!” kesal aku menahan tubuhku tetap di tempat, “Jangan tarik-tarik!”
Dia menarik tanganku lebih dekat. Apaan?! Kenapa wajahnya dekat sekali?! Dia mau mengajak kelahi, ya?!
“Ini tentang si kak Nafis itu loh,” bisiknya.
Tunggu! Apa tadi katanya?!
“Saga, jangan paksa Rasyi.”
“Tidak kok kak!” aku mengulurkan tanganku dan memampangkan telapakan ke arah Fares, “Mau ke mana?!”
“Mobil di depan, ada Vian⏤”
“Rasyi pergi sebentar sama si kembar kak,” berbalik sekarang aku yang menarik Saga.
Dua hari ini aku merasa damai dengan kerja mereka yang serius. Bukan berarti aku percaya saja. Jika ada tabrakan dari kedua buldoser ini, bisa gawat!
__ADS_1
Aku harus ikut campur sebelum memburuk!
“Permisi kak!” Saga masih sempat berpamitan.
Kami berhasil keluar rumah yang masih terasa terang di taman depan pada malam hari. Mobil yang aku ketahui bukan milik Hendra telah terparkir di luar pagar. Satu pintunya terbuka dan memperlihatkan sosok si kembar satu lagi.
“Vian,” aku dan Saga mendekat, “Kenapa? Tidak ada hal buruk kan?”
Lelaki itu menyadari keberadaan kami. Membuka pintu lebih lebar di saat yang sama setelah aku sampai, “Masuk dulu. Nanti keburu pergi.”
Tanpa pikir panjang aku langsung menaiki tumpangan putih itu. Kursi tengah yang dibukakan Vian terlihat luas dengan interior yang tampak lebih cerah. Menaikinya dengan tergesa-gesa membuatku duduk diapit oleh mereka berdua.
“Ke tempat tadi, om!” Saga menutup pintu mobilnya.
Roda mobil pun langsung berputar pergi.
“Ke mana?” aku memastikan tas dan segala macam yang penting masih ada bersamaku.
“Lihat dulu deh videonya,” Vian menunjukkan layar ponselnya, “Kami sempat video soalnya takut kalau tidak sempat tunjukin kamu. Tapi kami pikir juga kamu perlu lihat sendiri.”
Apaan sih? Ribet banget, “Kan tinggal video call.”
“Kita belum tukar nomor. Pikun?” Saga membuka mulutnya yang menjengkelkan itu.
Oh, iya juga ya.
“Oke, nanti aku kasih,” kembali aku fokus pada tangan Vian yang sepertinya sudah siap dengan videonya, “Video apa sih?”
“Nih,” Vian menyalakan videonya selagi membantuku meletakkan handsfree di satu telingaku.
Satu menit, dua menit. Video berputar memperlihatkan kak Nafis ini menongkrong seorang diri di warung pinggir jalan.
Memberikan aku rasa takjub dimana si kembar bisa sehebat ini bila mereka memang ingin mengikuti seseorang. Padahal aku menyuruh mereka mencari apapun yang bisa membuat Caca diputuskan oleh kak Nafis agar Firna senang.
Loh? Cewek itu siapa?!
“Tuh,” Saga menegaskan kerja kerasnya.
“Tidak bisa nih,” dengan cepat aku mengeluarkan dengan cepat ponselku, “Nomor kalian berapa, langsung kirimkan aku videonya.”
Aku dengan cepat menggerakkan jari-jemariku seperti mengetik pekerjaan Sekar yang harus selesai sorenya. Video itu harus sampai di mata Firna! Pengiriman dengan cepat bersama beberapa PING stiker yang tidak boleh diabaikan.
“Duh... Kenapa tidak dibuka sih~ Padahal online loh,” bagaimana bisa tidak mengeluh bila teman yang dikhawatirkan malah tidak merespons?
“Sibuk PR?”
Tidak mungkin dong, Vian. Kami satu kelas dan tidak ada PR apapun untuk besok!
“Sampai nih!” ucapan Saga mengagetkan pandangan yang cepat aku buang ke arah jendela depan, “Tuh, yang pakai jaket biru, eh, cewek di depannya ganti lagi.”
Ganti? “Lagi?!”
“Awalnya dia ketemuan sama Caca, makanya kami bingung kenapa mereka tidak balik bareng,” Vian menjelaskan.
Bertambah lagi firasat tidak enak ini bersamaan dengan mobil yang semakin... dekat?
“Lah, itu kak....”
__ADS_1
Aku sama terkejutnya dengan Saga, “Firna?”
Tanpa aku melihat sekitar, ketiga orang di mobil sekarang pasti berekspresi layaknya melihat penampakan di ujung sana.