Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#42 Pelarian


__ADS_3

“Tunggu di sini.”


Aku memandang teman sebangku ini. Ia akan meninggalkanku di tengah keramaian? Terlebih lagi, tenda merchandise yang satu itu dikelilingi orang mengantri bukan main-main panjangnya. Ia sungguh ingin menerobos ke sana?


“I'll be back~!”


Tu! Firna sungguh menerjang ke sana?!


Keramaian semakin kental. Entah berapa persen dari seluruh penghuni sekolah yang sudah berkumpul jadi satu. Hanya untuk tenda-tenda sponsorship ini.


Di bawah pohon tentu sejuk. Aku beruntung masuk di sekolah dengan hijaunya terjaga sampai oksigennya tak terkuras.


“Hihihi...,” aku menyadari Firna terjebak di dalam kerumunan itu.


Daripada takut, tawaku menyerbu tentang apa yang tertangkap mata tentang kelakuan Firna. Lihat saja bando kelincinya itu meronta-ronta seperti sedang mengangkat tangan.


Setidaknya aku tahu dia ada di mana walaupun mukanya sudah tenggelam. Apalagi Firna termasuk cewek tinggi. Ya... Jauh lebih tinggi dari aku.


“Fuuh!” aku mulai meniup bunga kemerahan flamboyan yang jatuh dari pohon sampingku, “Auw.”


Apa? Sesuatu mengetuk kepalaku.


Pinus?


Biji⏤buah atau apanya pinus⏤tepat sekali dia jatuh di kepalaku.


Aku sering bertemu dengan benda keras seperti bunga ini. Itu karena sepanjang pagar dalam sekolah ditanami pinus yang tinggi. Mungkin karena dulu ini daerah hutan pinus.


...


Tunggu! Di sampingku kan pohon flamboyan! Kenapa ada anaknya pohon pinus di sini?!


Langsung aku pandang ke a, atas?


“Hahaha, lama banget sadarnya.”


Ha, ha, haa. Bagaimana bisa ada yang sadar kalau anda punya bakat jadi penghuni hutan tanpa diberitahu? Vian ternyata tidak sekalem itu ya~


Vian masih tersenyum dengan posisi duduknya di atas batang pohon, “Lagi ngapain?”


“Hmm. Kayaknya keadaan anda lebih pas sama pertanyaannya deh.”


“Hahahaha!”


Mohon berhentilah tertawa, wahai tarzan yang agung.


“Di atas enak loh. Mau coba?”


Tolong dikondisikan pertanyaannya, “G!” oh, omong-omong, “Mana Saga?”


Dia mengangkat bahunya, “Tidak tahu.”


“Loh?”


“Kami kembar bukan berarti samaan terus. Terserah mau ke mana.”


Akan tetapi kedua anak ini termasuk jarang pisah-pisah seperti sekarang. Rasanya aneh.


Hmm? Dia sudah turun saja. Memangnya dia ini habis berguru dari Tarzan? Lincah sekali. Pantas saja bisa sering kambuh asmanya.


Benar juga. Orang ini seharusnya lebih kalem.


“Hati-hati dong. Kalau kamu banyak tingkah⏤”


“Temani aku, mau?”


Apa? “Ke mana?”

__ADS_1


Dia tampak berpikir menyentuh ujung bibirnya, “Mungkin ke bazar buku di alun-alun?”


Mataku terbelalak, “Keluar sekolah?”


“Asyik kan?”


Serius nih anak? “Itu namanya bolos.”


“Kan lagi pada lomba. Memang kamu ikut?”


Kami memang berada di puncak acara bulan bahasa yang tidak kurang dari lima hari. Dan banyaknya acara lomba untuk penduduk sekolah sendiri membuat satu minggu tidak ada pelajaran sama sekali.


Aku menggeleng.


“Kalau gitu tidak ada masalah kan?”


Eh?! “Tunggu!” kenapa dia main meraih tanganku?! “Aku disuruh tunggu di sini sama Firna.”


Dia mulai menarik tanganku dan menuntunku bersamanya, “Bilang saja aku yang culik.”


Enak banget dia bilang!


“Yuk!”


“Aa!” aku tak bisa menahan tarikannya yang dominan daripada tenagaku.


Ia sungguh memang kembaran Saga. Keduanya memiliki tenaga seperti buldoser.


Tangan kanan itu sungguh mengait kuat di antara jemariku. Ia membawaku memasuki gerbang yang memisahkan SMA dan SMP-ku dulu. Sekolah ini memang terhubung satu sama lain. Dan melewati gerbang itu bukan hal yang baru.


Langkah itu semakin jauh membuatku pasrah sepenuhnya. Selagi tangan kananku mencoba mengetik pesan singkat daring untuk teman kelinciku di gerombolan antrian.


Ini sungguh bukan hal yang bagus, tapi senyumnya seperti tidak ingin kalah dari matahari. Di penghujung kemarau yang mulai dingin ini ikut mendinginkan kepalaku.


Si kembar pasti tahu apa yang terjadi di dies natalis. Paling tidak mereka mendengar bahwa tangisku pecah.


Bisa disimpulkan kalau Vian juga khawatir, bukan?


Sungguh bukan hal yang bagus!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Terakhir kali Allendie panjat ke panel kontrol tapi jatuh. Tidak bisa bangun lagi. Huh, dipotong gitu gimana?”


Satu hal lagi yang aku baru tahu tentang Vian. Dia pecinta novel. Pantas saja dia mengajakku ke bazar buku. Berbanding terbalik denganku ya~


Aku semakin ragu, apa dia membawaku untuk menghiburku atau hanya mau bersenang-senang.


Ini jam berapa? “Kayaknya kita harus balik deh.”


“Kenapa?”


Entahlah. Karena kita sedang membolos dan aku bosan?


Aku diingatkan dengan suara ponsel dari arah Vian, “Soalnya teror Firna tidak akan selesai kalau aku tidak dikembalikan.”


Ini sudah dua jam. Dan Firna terus menerus menghubungi dan mengirim pesan pada Vian. Untung saja para guru dan murid sibuk dengan lomba. Bahkan walau tidak ikut hari ini, mereka masih harus menyiapkan lomba untuk beberapa hari ke depan.


“Bodo amat. Kan cuma ke bazar.”


Dia menunjukkan sisi imutnya yang ambek.


Langkahnya sambil menendang bebatuan di ujung jalan aspal, selagi ia menuntun gandengan tangan kami. Kukejar tingginya dengan berjalan di pedestrian tinggi, mampu memperlihatkan kemerahan rambutnya yang berantakan.


Seperti anak kecil saja, suka ambekan.


Aku menghela nafas, “Sekali ketahuan, kita bakal 'mati' loh.”

__ADS_1


“Halah, tidak sampai begi, tu... uhuk huk!”


Loh? Loh loh loh?! “Vian? Ayo kita duduk dulu!”


Tuh kan! Pasti dia lelah sudah berkeliling di lapangan alun-alun yang ramai dan luas ini selama dua jam!


Aku berhasil menuntunnya di semenan pendek yang membatasi rerumputan dan pedestrian. Dia lebih baik duduk dan beristirahat sebelum paru-parunya menekan dirinya.


Setidaknya ia tidak banyak berkomentar dan mengiyakan tuntunanku untuk duduk di sana. Wajah yang tampak lelah itu merendah sampai aku bisa dengan mudah menahan bahunya. Kudorong wajahnya untuk tetap tegak dan bisa kupandang. Agar ia bernafas.


Mungkin aku harus membelikan minum?


“Tunggu di sini. Biar aku carikan minum⏤”


“Sini saja,” Vian, menggenggam tanganku. Menghentikanku dari melangkah lebih jauh, “Duduk,” matanya memberikan kode ke arah samping kanannya.


Tak berkutik mulutku terbeku karena kebingungan. Namun wajah memohonnya menamparku untuk tidak berani-beraninya tega. Kakiku pada akhirnya menurut dan duduk berdampingan dengan Vian. Dengan genggaman tangannya yang tak berkutik.


Ini terasa canggung.


“Saga sudah nembak kamu kan?”


...


Heh?


“Dia tidak bilang ke aku. Apa waktu dia kasih bunga buat minta maaf? Atau saat kalian kelahi?”


Ini sungguh canggung....


Kutarik nafas, “Keduanya.”


“Berarti kamu tolak?”


Aku tidak nyaman pada arah pembicaraan ini, “Dia yang menyerah. Kenapa memang?”


“Hah?” dia tampak terkejut, “Hahahahaha!” dan tertawa? “Pecundang banget.”


Eh? “Yang kamu ejek itu kembaranmu sendiri loh.”


“Bukan berarti aku tidak bisa benci.”


Aku memang kaget karena dia mengolok-olok Saga. Padahal terakhir kali di rumah sakit, ia marah karena Saga dikatai bodoh.


Dan keterkejutanku bertambah dengan satu kata yang keluar dari mulutnya.


Kutekuk kedua kakiku dan mendekapnya sampai lutut itu dekat dengan wajahku, “Kenapa Vian benci Saga?”


Ia terdiam dalam lirikannya. Wajah imut yang tak menceritakan tingkah dia dan kembarannya di tiap harinya. Kai ini ia tersenyum seperti menahan tawanya.


Mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Tertahan walau aku sudah semakin kesal dan membuang wajah.


“Kalau dia tahu aku suka kamu, kami pasti kelahi sih.”


...


Aku kembali menatapnya, tak berbicara.


Dia tertawa lagi, “Tidak ada komen?”


Bagaimana aku bisa berkomentar?!


Eh? Eh?!! Kenapa dia tiba-tiba memainkan rambut di samping telingaku?!


“Saga boleh nyerah, tapi aku tidak.”


Heh?

__ADS_1


Ia tersenyum. Memamerkan wajahnya yang memang tidak bisa dipandang setengah mata walau karakter di wajah itu masih tampak seperti anak-anak.


Jemarinya masih bertengger di sekitar telinga kiriku, “Tidak bakal aku kasih kamu ke Harun.”


__ADS_2