
Kewarasanku sungguh dipertanyakan. Dimana ia membawa tindakanku ke arah tak menentu.
Aku tidak paham kenapa aku merindukan rumah yang sedang dingin ini. Papa belum pulang. Berada di tempat ini hanya menambah keraguanku.
Lucu kedengarannya bila papa bisa terganggu dengan diriku yang khawatir. Namun, aku pun tahu itulah dia. Dingin kepribadiannya hanya di luar, bukan dirinya.
Aku masih harus berusaha menenangkan diri.
Papa baik-baik saja.
Sudah cukup dengan keributan di sekolah sampai aku mengundang keluarga besar Hendra. Berbondong-bondong hanya untuk menjemputku dan mewakili aku izin pulang lebih cepat.
Apapun alasan diri ini ingin pulang kemari, aku harus tetap tenang seperti sudah-sudah.
“Non, tidur loh.”
Bibi semakin rajin mengurusiku. Mungkin karena motivasi Sari dengan seratus satu banyaknya nasihat.
“Sebentar lagi. Seru,” aku masih sibuk memeluk bantal sofa selagi menonton televisi.
“Udah jam sepuluh, non. Nanti tidak bisa bangun sekolah loh.”
Mulai cerewet, tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Hubungan kami tidak sedangkal asisten rumah tangga dengan anak tuan rumah.
Aku mengenal bibi ini sejak aku bayi. Karena rumah Sari jauh dan saat itu pun Fares masih baru saja masuk TK, sering kalanya ia tidak bisa merawatku. Bibi-bibi rumah ini yang menjagaku dan bertanggung jawab atas segala sesuatu aku.
Ditambah lagi, meski papa tidak punya sisi posesif, kalau papa marah juga tidak pernah baik hati.
Papa....
“Non~ tidur!”
Duh, “Iya iya~”
Papa baik-baik saja.
Aku berdiri dari sofa. Melempar bantal itu dan pergi ke salah satu pintu yang berjejer di ruang tengah lantai dua.
“Lah? Non? Kamar non yang itu.”
Hmm? Apanya?
Oh, tanpa sadar aku mendekati pintu kamar papa. Padahal jelas-jelas pintunya berbeda dengan pintu kamarku yang dihias manis dengan papan nama.
Berbalik aku memandang ke bibi, “Tidak... cuma... Rasyi mau tidur di kamar papa.”
Kuharap bibi tidak berpikir aneh-aneh. Bukan hal baru aku tidur di kamar papa.
“Langsung tidur loh non. Gak ada gambar-gambar.”
Aku tersenyum, “Iya~”
Malam hari yang dingin disambut oleh kamar papa yang dibiarkan apa adanya. Bersih dan rapi yang terjaga, layaknya keadaan papa bukan hal besar bagi ruangan ini. Seakan yang bisa terjadi bukan urusan mereka.
__ADS_1
Jam yang larut ini membawaku sebaliknya. Ia mengingatkanku akan kengerian tak terbayangkan.
“Huh...,” aku menghempaskan badanku di ranjang.
Tak kubenci kehampaan yang sejuk di sprei lembut nan kalemnya. Rasanya nyaman tak terharapkan.
Apa sejauh itu aku merindukan pria ini?
Bisa jadi semua itu masih dipengaruhi perasaan Sekar. Dirinya yang selalu kesepian tanpa orang tua. Ia sangat bahagia memiliki satu.
Yah. Siapa yang tahu dengan diri Rasyi ini? Terkadang aku pun tak paham.
Hmm? Tak lama aku melupakannya. Tadi pagi aku ada pekerjaan rumah.
“Bangun, bangun!” aku menegakkan tubuhku.
Kudekati pintu coklat muda yang tertutup itu. Meraih besi pegangan yang keras⏤
“Tunggu....”
Otakku mengatakan tugas itu sudah selesai aku kerjakan.
Tidak. Mungkin yang Fisika? Hari ini baru diberi gurunya, kan? Seharusnya pelajaran selanjutnya minggu depan. Oh iya, aku juga janji bawa Firna belajar bareng.
Iya, Kimia. Besok ada kimia. Ada pekerjaan rumah yang mana?
Sebentar. Kimia kan aku dapatnya hari Jum'at. Hari ini kan hari Rabu. Hari Harun akhirnya bisa lepas dari lomba dan bisa berkumpul bebas denganku lagi.
Tunggu. Itu, bukannya pekerjaan rumah itu sudah lewat?
Pening di kepala seharusnya terjawabkan dengan ini.
Hari ini tanggal...?
Aku menyandarkan keningku di ujung meja itu bersamaan dengan lutut menyentuh ubin dingin. Menyadari kabel-kabel otakku sungguh tak tersambungkan dengan baik.
Hari aku melihat Harun lagi, sudah lebih dari seminggu yang lalu.
Ya, itu berarti papa sudah hilang sebulan penuh.
“Aku tidur saja deh,” aku sadar otakku butuh istirahat, bahkan lebih banyak di keadaan seperti ini.
Ingin kurebahkan diriku dengan sungguhan sekarang.
“Hmm?”
Bingkai foto kecil? Tak pernah aku tahu kalau papa memilikinya di meja tidurnya. Aku yakin itu portrait mama. Yang tidak kalah cerah dari foto di ruang tengah.
Mengubah posisi, berpaling ke arah foto itu.
Wangi sprei yang selalu baru setiap minggu. Mengundangku tenggelam, diangan-angan awan yang menahan tubuhku tengkurap. Goresan mesin yang disebut foto itu jadi perhatianku.
“Mama, apa kabar? Baik kan?” pindah arah lipatan tanganku sampai bisa menopang wajah, “Foto mama, keadaan bagaimanapun, kelihatan asyik ya?”
__ADS_1
Hening. Bukan karena mengharapkan jawaban, tapi aku sadar akan apa yang aku lantunkan.
“Aku jadi gila~”
Ini menggelitik perut. Semuanya mengingatkanku akan malam aneh dimana papa baru sadar dari pingsannya. Waktu itu aku masih lima tahun, dan tidak banyak yang bisa aku lakukan selain bermanja layaknya putri kecil pada umumnya.
Lebih lucu mengingat kalau aku sampai sekarang pun tidak bisa melakukan apapun.
“...,” kupandang sosok terekam di lembaran cetak berwarna itu, “Mama, gimana kalau misalnya aku bilang aku bukan anak mama?”
Udara semakin menusuk. Layaknya bicara dengan foto adalah hal besar, sama seperti bicara dengan orang sungguhan.
“Namaku Sekar Bunga Melati. Aku anak kantoran yang suka begadang. Tidak ada yang spesial selain bisa lulus kuliah dengan tanpa keluar biaya.”
Aku tidak pernah mengatakan ini pada siapapun. Bukannya aku ingin menyembunyikan identitas, aku hanya merasa akan lebih baik kalau aku tidak dikira gila.
“Malam ulang tahunku, aku mati tertembak oleh orang asing. Padahal aku hanya mau membantu mengobati luka orang yang lewat. Saat aku buka mata, aku sudah menjadi bayi yang digendong Sari dan anaknya.”
Rekam jejak itu, semakin tergali.
“Saat aku delapan bulan dan bisa merangkak, akhirnya aku bisa bertemu papa. Dan saat itu juga aku tahu kalau papaku ingin membuangku ke panti asuhan. Kejamnya lagi, mereka tahu kalau ada yang mau merenggut nyawaku di luar sana. Itu berlebihan untukku yang tidak tahu apa-apa, kan?”
Di umur yang sangat belia itu, aku masih tidak tahu apa yang ada di luar sana. Karena itu aku menyimpulkan akan lebih baik bersama Rizki, melihat delapan bulanku aman seperti itu.
“Tapi, meski aku sudah bersama papa, aku akhirnya bertemu dengan kakek. Aku paham kalau dia cukup tega untuk merenggut nyawaku.”
Aku tak senang dengan kejadian itu. Tidak pernah. Walau aku hanya dibawa pergi sebentar ke cafe yang ramai.
“Takut, aku takut. Rasanya lega sekali saat papa menemukan aku. Tapi, ma, aku tidak bisa percaya dengan papa. Aku seperti ini, karena papa yang membawa masalah. Aku juga tahu, mama dan kak Riza mati karena ini.”
Kenyataan yang terlalu berat. Pikiranku tidak pernah bisa terbiasa.
“Malamnya, mama ingat? Papa bicara dengan mama di ruang tengah. Itu juga habis bangun gara-gara pingsan kecapekan. Papa bilang lebih baik aku dibuang ke panti asuhan daripada kena masalah.”
Membekap wajahnya dengan bantal yang aku peluk.
“Apa gunanya? Aku sudah terikut! Buktinya saat aku umur dua belas tahun, aku diculik lagi! Bahkan temanku sampai kehilangan nyawa. Lalu papa minta aku pergi? Gimana dengan papa?!”
Aku merasakan diriku menangis lagi.
“Ma, di mana pun papa sekarang, tolong tendang dia!”
Tanganku bergetar sampai suaranya jelas.
“Walaupun papa tidak bisa tangkap mereka, aku kehilangan temanku, walau aku dimanfaatkan papa untuk rencananya. Rasyi tidak peduli!”
Kedudukan posisiku.
Mengambil bingkai kecil itu.
Dekat memeluknya.
“Ma, Rasyi tidak mau dibuang. Tolong... Suruh dia pulang.”
__ADS_1
Aku merasakan tubuhku tergeletak di ranjang. Mataku berat. Rasanya ingin sekali mengistirahatkan mataku yang basah sampai sakit ini.
“Tolong, lindungi papa sampai pulang ke rumah....”