
Ujung jari-jemari kakiku bisa merasakan tanah aspal meski bersepatu hangat. Kawasan yang tidak begitu ramai, tak jauh dari komplek yang tak ramai pula.
Wajahku terasa membeku. Petang yang baru sampai ini memberikan udara baru yang dingin.
“Silahkan, masuk-” lelaki ini menahan pintu.
Aku tidak mengenalnya lagi. Namun, aku mengikutinya seperti anak yang diiming-imingi permen. Yang aku tahu, di dalam mobil tidak hanya aku dan dia. Bahkan, selain yang ada di belakang kemudi itu, aku yakin akan ada orang lain yang bertambah.
“Rasyi manis juga rambutnya dikonde gitu, haha!”
Aku tak menghadap dirinya sama sekali.
Kalau benar Dhika ini termasuk kumpulan kurang ajar-nya Kirana, aku tidak punya alasan untuk berperasaan padanya. Dia adalah orang yang hanya berseringai dengan santai mengatakan papa ada dengan mereka.
“Rasyi marah ya aku bohongi?”
Aku lebih memilih amati setiap lampu jalan di luar jendela mobil. Kecepatan yang tidak stabil itu melewati lampu lalu lintas yang khas dengan nama 'lampu merah' dan sesekali berbelok.
Namun keempat rodanya, terhenti di satu titik jalan yang dipenuhi pedagang kaki lima.
Tenang, Rasyi. Mereka tidak akan menyakitimu.
“Hai, Rasyiqa~” Kirana masuk, sudah duduk di sampingku.
Suasana mobil semakin sesak dengan kedua rekannya. Layaknya dugaanku kalau dia akan menyambutku cepat atau lambat.
Namun, ini terlalu cepat. Aku tidak bisa melihat ke mana arah rencana orang-orang ini. Membawa papa dan aku yang entah di mana. Tidak menghiraukan dua kali pemanggilan polisi, dan sekarang mereka bertingkah lagi.
Kuat, aku harus kuat. Waspada akan semua yang bisa terjadi.
Jangan takut, Rasyi! “Mau apa kalian?”
“Aku cuma mau ngomong sama kamu,” Kirana duduk bersandar pada pintu, memandangku jelas, “Gak usah sok jual mahal!”
“Yakin lu, Na? Gading bakal marah besar loh,” salah satu rekan di samping kursi kemudi tampak mencuatkan wajahnya.
“Aku sudah muak sama nih anak,” Kirana menyibak rambutnya, “Takut apa sih? Hendra cuma besar muka kalau dia dapat bukti.”
“Kirana sih pinter. Mana ada yang rekam kalau kita naik turunnya di jalan raya. Hehehe!”
Memang pintar, tapi, apa yang mereka rencanakan sampai sangat berhati-hati?
“Jangan tegang~ Dengerin aja aku ngomong~” Kirana mendekatkan wajahnya pada telingaku, “Aku mau kasih rahasia~”
Bola mataku mengarah ke wanita ini. Aku harus tetap tenang. Itu hanya gertakan.
“Kamu itu dulu mau dibuang pas kecil.”
Heh. Apaan itu? Seperti kabar baru saja.
“Itu karena kamu tidak berguna.”
Marah aku membalas matanya, “Nenek sok tahu saja.”
__ADS_1
Wajahnya jelas tidak senang, “Aku tahu pikiran kita sama. Gading bisa buang kamu kapan aja dia mau.”
Terkunci mulutku. Fakta tentang aku yang tidak bisa melawan argumen itu membuatku terasa ditusuk oleh ribuan paku dinding.
Aku hanya tahu alasan kenapa papa ingin memasukkan aku ke panti. Bukannya bagaimana perasaan ia saat merawatku, di tengah bertingkah layaknya orang tua yang baik. Siapa tahu, selama ini tindakannya sekedar kemanusiaan. Yang ada batasnya.
Kirana tampak membuka cermin kecil, “Aku tahu seberapa cintanya Gading ke Nisa. Gading itu kecil sama aku. Gak pernah aku lihat Gading senyum. Tapi sama Nisa, encer. Senyum terus.”
“Aku sering lihat papa senyum.”
“Oh ya?” Kirana mengarahkan cerminnya kepadaku, “Mukamu mirip siapa? Gading kan?”
Aku tersenyum sinis, “Intinya?”
“Bodoh kah kamu? Kamu itu cuma fotocopy-an. Dia nahan kamu, cuma gara-gara dia mikir kamu anaknya Nisa.”
Itu....
“Misalnya nih ya, aku macam-macam sama asal kamu. Bukan anak kandung kah, bukan anaknya Nisa kah. Gimana jadinya?”
“Papa tidak bisa dibodohi begitu! Papa⏤”
“Papamu juga beritahu kamu kan? Kami pintar nyembunyiin diri.”
Itu hanya gertakan. Gertakan kosong!
“Gading sudah korbanin banyak banget, cuma buat anak yang nyusahin. Kamu? Ngapain? Hidup mewah? Centil, pamer ke mana-mana?”
PRAK!
...
Auw....
“Kirana! Mati kita kalau kayak gini!”
“Biru mukanya putri. Kamu tampar gitu, Na.”
“Berisik!” Kirana menarik nafasnya, “Bawa dia ke sungai kek biar hanyut!”
“Kirana!”
“Buat apa kalau main mulut sama dia?! Dia tuli!”
Kusentuh pipi kiri ini. Panas sampai tidak bisa merasakan apapun di sana.
Jujur dalam hati. Ini membuatku takut. Aku tidak tahu rasa ini akan kembali lagi.
Lucu. Mau dilihat dari mana pun, aku ini sudah berpengalaman diculik. Dan semuanya, yang aku takuti adalah ancaman pada nyawaku. Namun, entah kenapa tubuhku tidak bergetar karena itu.
Seluruh tubuhku, takut....
Itu semua karena akulah yang paling tahu.
__ADS_1
Jiwaku, bukan anak dari⏤
“Kamu bukan anaknya Gading!!”
Tanganku mengepal di lengan bajuku. Menggigit bibir bawah sampai tertahan air mata itu. Berteriak kejam pada diri sendiri, aku tidak boleh lemah.
“Gading cuma punya satu anak. Itu Riza. Anak yang sudah pasti lahir dari Nisa!”
Berisik.
“Riza lama banget udah mati. Orang-orang lupa sama dia. Ya gara-gara ada kamu!”
Tutup mulutmu!
“Aku beritahu aja nih. Gading gak pernah sekali aja sayang sama orang sebesar Nisa. Anaknya saja dibiarin mati. Itu Riza yang bener anaknya Nisa. Gimana kalau kamu?!”
Itu semua bohong!!
“Gading bukan sayang sama kamu! Gak mungkin sayang! Cuma bisa senang-senang doang. Buat apa ngasuh kamu kalau bikin susah begini?”
Hentikan....
“Kamu itu cuma pengganti! Gading cuma rasa kasihan dan pungut kamu! Kamu cuma buat gantiin Nisa!!”
Langsung aku menutup kedua telingaku. Dengan bibir yang masih kupaksa tertutup. Masa bodoh dengan gelak tawa berbagai arah. Kalimat-kalimat itu memang membuatku takut.
“Hmm!” aku terkejut.
Sebuah tangan yang aku yakini dari Kirana menarik satu tanganku yang bersandar di salah satu alat pendengar milikku.
“Aku pasti bikin gitu,” suara rendah Kirana yang berbisik mendekat di telingaku, “Kamu bakal dibuang sama Gading.”
Jangan menangis! Itu cuma gertakan! Papa tidak mungkin membuangku! Papa yang bilang sendiri dia tidak mungkin kuat kalau aku tidak ada! Tidak mungkin papa membuangku!!
“Yok balik,” Kirana, ia terdengar sangat percaya diri.
Rasanya kesal mendengarnya. Marah, takut. Namun aku tidak bisa menyepak kebenaran dari mulut wanita ini.
Bisa saja aku yakin, Rasyiqa kecil adalah anak dari papa. Tidak hanya itu. Aku yakin akan seluruh dirinya. Masa lalunya, identitasnya. Bagaimana dia menghadapi masa kecilnya, sampai kenapa dia mengganti namanya dari Gading ke Rizki.
Namun aku tidak bisa melupakan, apa sebenarnya diri Rasyiqa ini. Ia adalah anak yang dimasukkan jiwa seorang wanita. Wanita yang sudah bereinkarnasi.
Jiwa yang tidak mengenal sama sekali papa ini.
Kalau papa tahu....
Bahkan banyak orang tua yang membuang anaknya tanpa ada perasaan. Rizki orang yang ingin menitipkan aku ke panti di awal aku mengenalnya.
Kirana dan aku tahu, itu bisa terjadi lagi. Apa bedanya dengan dibuang?!
“Kiri, bro. Dekat sini ada cafe biasa,” satu rekan memberi aba-aba sampai mobil berhenti.
Gerasak pergerakan banyak orang yang menuruni mobil. Pintu yang lebar itu tertutup sampai suasana sunyi. Isak tangis yang masih aku tekan sekuat mungkin semakin terdengar menggema di telinga.
__ADS_1