
PR-nya akhirnya selesai juga. Miley kayaknya juga.
[Gak papa?]
Aku senyum. Balas pakai bahasa isyarat juga.
[Gak papa.]
Dia merengut.
[Kamu kan gak harus ikut pakai bahasa isyarat. Aku bisa baca mulut kamu.]
[Tidak boleh?]
Memang aku belajar bahasa isyarat satu bulan ini biar menggampangkan kami berdua komunikasi. Semuanya buat dia.
[Ceritakan dirimu dalam bahasa isyarat!]
Dia mau ngetes seberapa jago aku pakai bahasa isyarat.
Kami lagi bagi meja belajar pakai tambahan kursi ruang makan. Aku milih buat mutar kursi lihat ke dia.
[Namaku Harun Yudhistira. Delapan belas tahun. Ikut program pertukaran pelajar di Amerika. Ketemu cewek yang namanya Miley. Dia cewek cerewet.]
“Auw!” sampai kena pukul. Tapi pukulan dia bikin ketawa.
Tangannya bisa aku tahan. Dia diam gitu aja tiba-tiba. Pelan tangannya dia tarik. Mungkin dia mau gerakan isyarat lagi.
[Kamu sudah bisa ketawa]
Oh? Jadi dia khawatir sama aku. Gak lama sebelum ini, dia harus lihatin aku... nangis. Itu bikin malu, tapi aku lega itu Miley.
Aku balas.
[Terima kasih. Sudah tidak papa]
[Kalau gak ada yang bikin kamu senang, jangan paksa senyum. Oke?]
Selalu itu yang dibilang. Cewek aneh. Malah tidak suka kalau aku senyum. Tapi gitu-gitu, malah bikin senang. Beneran aneh.
Satu tangannya masih bisa aku tangkap. Kudekatin ke daguku biar bantu nahan sampai gak jatuh.
Aku menggerakkan mulut, “Don’t want to....”
‘Tidak mau’
Mukanya gak tetap. Satu detik malu, satu detik marah, satu detik dia pukul-pukul lagi.
[Berhenti godain gitu!]
Gak bisa berhenti ketawa.
[Maaf]
Dia kayaknya mau bicarakan lagi.
[Apa aku boleh tanya?]
[Tanya apa?]
[Yang tadi itu.... teman Harun?]
[Kenapa? Cemburu?]
Dia manyun lagi.
[Kalau tidak mau jawab, gak usah!]
Tahan lagi tangannya yang pingin mukul-mukul. Lagi komunikasi dengan mulutku.
“She used, to be, my crush,” aku jujur saja, dia dulu pernah jadi gebetanku.
[Used to?]
“Used to,” pernah.
Dia kayak gak percaya.
Aku senyum, “Well....”
Lanjut aku pakai bahasa isyarat.
[Itu suka dari kecil. Jadi rasanya susah buat lepas waktu tahu dia suka sama orang lain. Aku ke sini juga buat bisa move on.]
Miley mau ikut pakai isyarat.
[Tidak berhasil?]
[Aku cuma kaget. Di sosmed mereka ternyata beneran pacaran. Tapi kayaknya aku sudah bisa lepas.]
Mukanya kayak dapat sesuatu. Lanjut lagi.
__ADS_1
[Itu yang bikin Harun gak bisa tenang?]
Apa? “What?”
Dia mulai jelasin lagi.
[Dari kelas pertama, bahasa badan kamu tuh kayak gak mau ada di sini. Senyum sih, tapi kamu gak kelihatan nyaman. Makin ke sini baru kelihatan kamu lebih enakan. Tapi aku masih penasaran apa yang gangguin kamu terus.]
Apa?
Dari pamannya Miley, aku tahu kalau Miley memang punya kekurangan pendengaran dan bersuara dari lahir. Alat pendengarnya cuma bantu sedikit.
Miley harus pintar-pintar baca bibir dan ekspresi orang. Karena gak semua suara bisa ditangkap.
Gak ngira juga kalau dia bisa sepeka itu sama emosi orang.
Aku jadi penasaran....
[Apa itu yang bikin kamu gangguin aku terus di kelas?]
Dia kaget kenapa?
[Aku gangguin kamu?! Maaf maaf maaf banget! Aku gak tahu caranya bikin teman biar tenang soalnya aku gak punya banyak teman. Itu aku maksudnya⏤]
“Hehehehe,” ketawaku sampai lepas banget, “Aauw,” dia mukul-mukul lagi.
Aku keluarkan bahasa isyarat lagi.
[Terima kasih]
Dia tiba-tiba diam. Mukannya, kok merah. Jauhin mataku juga.
Yang aku tahu, kalau sudah begini, dia sudah mulai suka. Gak sengaja aku pancing satu orang lagi.
Dia mulai mau lihat lagi. Isyarat lagi.
[Pokoknya panggil aku kalau kamu mau lebih move on. Aku pasti bantu]
Bantu move on, katanya? Iya, iya, aku percaya.
Oh.
Tentang move on, kayaknya bisa pakai ini. Paket dari orang tua kemarin sebenarnya dari Rasyi.
Kalau sama Miley, kayaknya bisa.
Jadi aku bawa langsung ke meja belajar.
[Bantu aku buka paket ini]
Apa yang dikirim Rasyi, kotak besar begini. Tumpukan banyak barang kecil?
Kuambil dulu satu biar lebih jelas.
Ini buku. English handbook? Ada juga yang masih di kertas kado.
Miley kasih lihat sesuatu? Ini, deodorant? Suara Miley samar gak jelas gara-gara ketawa.
Buat apa Rasyi kirim yang beginian? Ada tulisannya....
[Biar gak bau kak, hahaha!]
Ini pasti dari Saga.
Miley ulur barang lain... smartphone? Dari kotaknya kelihatan keluaran terbaru.
Rasyi memang terlalu baik, tapi dia bukan orang yang asal kasih gini.
Kayaknya Miley penasaran mau buka⏤dia ketawa. Isi kotaknya ada saos tomat saset.
Dari siapa sih?!
Note-nya....
[Passion orang Indo itu sambel. Makin banyak makan sambel, makin dipandang sama orang lain.]
Omong kosong apa si gob... ini?! Robek aja! Gak ada kerjaan, gak gini juga anj...!
Miley mukul-mukul lagi?
[Apa isinya?]
[Gak penting.]
Miley kasih manyun lagi. Tapi dia ngambil barang lagi dari kotak paket. Keluarin apa lagi si Miley? Joke apa lagi yang dipakai kembar bangs... itu?
Figura foto kali ini. Loh, ini kan foto anak-anak kelas. Ini baru diambil. Tidak ada aku di situ.
Miley kasih tulisan yang ada di figura.
Isinya....
__ADS_1
[Jangan lupa sama kami loh! By Agina]
Dia teman sekelasku di Indo. Kenapa ada benda dari dia?
Jadi, kalau gitu....
Aku langsung ambil satu-satu barang di dalam paket. Gak peduli apa barangnya, aku cuma mau tahu ini semua dari siapa.
Ternyata benar, ini semua dari teman-teman sekelas. Kenapa mereka tiba-tiba kirim yang beginian?
Rasanya tanganku diketuk Miley.
[Ada yang paling besar nih.]
Benar, dia ngasih kotakan kado yang besar. Gak ada tulisan dari siapa. Aku robek saja langsung.
Ini boneka?
Ada surat, baca dulu....
[Harun~ Gimana di sana? Udah enak? Udah banyak teman belum? Harun jarang banget update status, jadi anak-anak kelas juga penasaran.]
Ini dari Rasyi.
Kelanjutannya....
[Aku minta maaf sudah bikin kamu sedih segitunya. Tapi kita masih temenan kan? Aku gak bakal kirimin yang beginian lagi kok kalau kamu mau sendirian. Aku cuma mau tahu kabar kamu aja. Tante sama paman juga khawatir loh di sini. Sering-sering telpon dong kalau luang!]
Dia masih aja suka khawatirin orang.
Ada lagi di balik kertasnya....
[Oh iya. Ini boneka kamu simpen aja dulu. Kalau aja Harun dapat cewek, hihihi.]
Apa? “Heheh,” selalu gak terduga.
Bisa dia mikirin sampai ke sana.
Miley kayaknya saking penasaran ngetuk tanganku terus.
“Yes?” aku tanya langsung.
[Dari siapa?]
[Mantan gebetan.]
Kok dia kaget? Lanjut isyarat lagi.
[Buang!]
Apa? Coba aku tanya....
[Kenapa?]
[Move on!]
“Heh hehehe,” yang satu ini tidak kalah random.
Aku godain lagi mungkin.
[Benar gak cemburu?]
Dia melotot.
Gak bisa ya? Angkat tangan aja deh, “Sorry.”
Maunya aku kasih isyarat lagi....
[Dia cuma bilang kalau bonekanya bisa aku kasih ke cewek yang aku suka]
Kelihatannya Miley bingung tuh. Tapi aku lanjut.
[Jadi, aku mikir.]
Aku ambil boneka dalam kotak itu, kasih ke dia. Sudah dia bawa. Bisa lanjut isyarat lagi.
[Mau jadi pacarku?]
Wah, mukanya merah banget. Ini terlalu cepat kah? Tapi aku tidak mau ulang kesalahan. Kalau aku memang suka, kali ini aku harus langsung bilang.
Dia, ngangguk?
Dia ngangguk!
“Heheheh,” dia malu gitu malah lucu.
Apa lagi tambah manyun. Dia, kelihatan senang padahal mukanya merah banget.
Tangan dia aku ambil lagi. Ngomong pelan-pelan, “Thank you, for giving me a chance to be happy.”
Terima kasih, sudah memberikan aku kesempatan untuk jadi bahagia.
__ADS_1
___________________________________
^^^Selamat berbahagia, oh my sad boy~ Huhuhuhu (╥﹏╥)^^^