Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#129 Permulaan


__ADS_3

Coba aku chat dia.


[Rasyi masih ada di cafe?]


Langsung dijawab. Rasyi selalu cepat kalau mengetik.


[Iya, Rasyi masih di sini. Kakak bisa jemput Rasyi tidak? Rasyi mau sekalian ke rumah kakak.]


Aku tertawa. Kenapa tiba-tiba? Siapa yang bisa keberatan?


[Bisa. Tunggu disana.]


[Terima kasih kak~]


Berdiri. Tinggalkan meja dengan note. Ibu tidak akan ketinggalan catatan sebesar ini. Ayah juga pasti langsung mengerti.


Rekaman suara paman Rizki sudah disimpan di laci.


Paman sudah ada bersama mereka.


Yang belum terjadi, hanya Rasyi dan aku yang menyusul ke sana.


Aku harus masuk ke sarang penjahat.


Dada kiriku, selalu sakit waktu mikir begini. Padahal paman sudah pasang chip-nya dengan hati-hati. Berhenti berpikir, lakukan saja.


Raih kunci kendaraan, pergi.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Bisa kelihatan.


“Rasyi.”


“Kak Fares~!” senyum Rasyi manis sekali, “Rasyi tidak ganggu kakak, iya kan?”


Dekati meja Rasyi dan Harun, “Tidak kok. Kakak sedang menganggur juga.”


“Ih, sombong, sudah dapat undangan kuliah!”


Duduk dulu di sana, “Nanti Rasyi juga dapat sendiri.”


BRAK!


Harun berdiri. Kenapa dia mukul meja gitu?


“Maaf,” senyumnya Harun bergoyang, “Karena sudah ada kak Fares, aku langsung saja ya?”


“Iya. Hati-hati Harun~” Rasyi senyum saja.


Rasyi tidak tahu. Harun pasti sedang sakit hati karena dia merasa ditinggal. Maaf, Harun, lebih baik kamu tidak tahu apa-apa.


Kalau tidak pergi sendiri, aku yang akan usir Harun. Ini hari yang bahaya. Kalau sedikit saja beda dari rencana paman Rizki, tidak tahu lagi gimana ke depannya.


Oh. Rasyi mengambil sesuatu di bawah kakinya.


“Ada apa di bawah?”


“Tidak~” dia kelihatan masih tenang, “Ada yang menempel di sepatuku. Orang buang sampah sembarangan.”


Kertas? Aa, pasti itu pesan yang dikatakan paman Rizki.


“Oh...,” aku harus bertingkah kayak aku percaya.


“Kakak tunggu dulu sebentar di sini, ya?” dia ambil tasnya, “Di sebelah ada toko kue, Rasyi mau beli itu dulu.”


Benar kata paman, dia pasti coba sendiri buat pergi.


“Rasyi pergi sendiri?”


Dia kelihatan sedih, “Kenapa? Tidak boleh?”


Apa yang aku lakukan? Seharusnya dibiarkan saja Rasyi pergi dulu.

__ADS_1


“Ya boleh sih. Tapi Rasyi yakin?” aku masih bantah?


“Apaan sih? Di sini tidak begitu ramai kok. Masih kuat lah~”


Takut, ini namanya takut.


“Ya sudah, langsung telpon kalau kenapa-napa loh,” harus biarkan Rasyi pergi.


Berhenti berpikir yang aneh-aneh. Rasyi hanya temui mereka lebih awal. Tidak lama aku harus susul. Harus aku ikuti. Dia tidak kulepas kok.


Jadi aku harus ikuti alurnya dulu. Itu memang rencananya.


“Siap~ Rasyi pergi dulu~”


Heh, sempatnya dia kasih hormat bendera sebelum pergi.


Satu, dua, tiga, empat, lima.


Dompet. Tinggalkan dulu beberapa digit uang untuk cafe.


Sekarang, harus susul sebelum hilang.


Masker, topi. Ini cukup kan? Setidaknya untuk bisa lihat dari jauh tapi Rasyi tidak sadar.


Ke luar jalan, sepi. Cocok sekali untuk kriminal-kriminal itu ke sini. Ada bagusnya aku bawa kamera punya tante Ira. Lebih mudah kalau aku menggambarkan diriku sendiri sebagai fotografer yang masuk ke tempat baru.


Sudah di depan toko roti.


Rasyi tiba-tiba berbalik, “Siapa?!”


Bukan aku, dia bicara ke orang lain di belakangnya.


Dia, pasti dia.


Rasyi ikut dia pergi ke mana. Harus susul sekarang.


Cukup jauh juga berjalan, sampai akhirnya ke taman yang sepi. Untung saja banyak pepohonan yang bisa dipakai. Telingaku bisa tangkap apa yang mereka omongin.


Sebanyak itu orang dan seramai itu. Rasyi benar di bawa ke kerumunan itu.


“Makin cantik cui!”


Jangan berpikir, tahan. Belum waktunya.


“Rasyiqa, sayang~” dia... dia siapa? “Senangnya lihat cucuku mau ketemu sama kakeknya.”


Kakek? Dia, Hari? Berbeda dari yang ditunjukkan paman. Ternyata benar, dia operasi plastik ekstrim.


“Papa di mana?” Rasyi kelihatan berani sekali.


“Rasyiqa cantik khawatir sama papanya ya? Tenang~ Dia cuma istirahat di kamarnya.”


Rasyi, jadi takut. Dia pasti khawatir sama paman Rizki yang sudah hilang berhari-hari.


“Hahaha!” Hari tertawa, “Rasyiqa tegang sekali~ Santai dong dengan kakek. Oh iya! Tolong cek tasnya Rasyiqa ya~ Bisa gawat kalau ada yang membuntuti.”


“Semuanya aman. Kecuali HP sama kalungnya.”


“Tinggalkan saja disini,” senyum Hari aneh, “Pisahkan radarnya sama kalungnya. Hancurkan kalau perlu.”


Dia sudah tahu kalau kalung Rasyi ada radar. Berarti benar, cuma tinggal aku.


“Nah, Ayo kita pulang.”


Tidak. Belum. Harus dipastikan mereka tidak curiga kalau Rasyi tahu aku juga di sini. Semuanya harus lancar. Jangan gegabah.


“Nah, ayo masuk.”


Apa yang aku tunggu lagi, paman? Rasyi kesakitan!


Pergi sekarang! Pergi!


“Hei!”

__ADS_1


Kuterobos mereka. Memukul kalau perlu.


“Kenapa dia, coba?!”


“Hoo~”


Sudah. Aku sudah di depan kriminal ini.


Hari tersenyum, “Hmm…, siapa ya namanya. Oh iya! Faresta ya?”


Benar, kamu harus kenal aku.


Jadi aku bisa mencengkram tangannya. Coba jauhkan Rasyi dari dia, “Lepaskan, sekarang.” 


“Apaan dia ini?!”


“Ganggu saja!”


“Sudahlah semuanya~” Hari malah senang, “Nih, kakek lepas~”


Rasyi tidak apa. Rasyi tidak terluka. Rasyi di sini.


Kalau bisa, aku menjauh dan pergi bawa Rasyi. Tapi itu bukan rencananya.


“Kak Fares kenapa pergi ke sini?! Kakak harus pergi. Sekarang!” Rasyi kelihatan masih takut.


Padahal tangan orang ini  sudah aku lepas, dia malah maju, “Aduh Rasyiqa sayang~ Jangan begitu. Dia kan tamu, jadi harus ikut kita dong.”


“Kumohon, jangan! Biarkan kak Fares pergi, aku mohon!”


Rasyi, jangan begini. Dia....


Aku tahan mukanya, “Rasyi! Tarik nafas!”


Selalu seperti ini. Kalau terlalu takut, Rasyi pasti lupa bernafas.


“Uhuk! Uhuk!”


Peluk lembut dia, biar dia lebih tenang, “Tidak papa. Rasyi nafas pelan-pelan dulu.”


Dia gemetar kuat sekali. Pasti takut ya? Rasyi sudah berusaha keras. Maaf, kita belum selesai. Tolong bertahan sebentar saja. Sudah ya, tenang, kita bakal ketemu papa kok.


“Akhirnya~ Rasyiqa bisa tenang sedikit sejak ada kakaknya~”


Mulai muak aku sama mulut Hari.


Dia tahu kalau Rasyi ketakutan dari tadi. Permainannya benar tidak manusiawi.


Nafas Rasyi, makin berat. Makin erat pegangi bajuku. Tapi makin kerasa takut. Yang bisa aku lakukan cuma kasih peluk dan usap kepala. Semoga dia sedikit lebih tenang lagi.


“Cucuku lucu sekali~ Dia langsung anteng ya? Bagi rahasianya dong, Faresta, gimana bikin Rasyiqa tenang begitu?”


Menjengkelkan sekali.


“Jangan biarkan kamu mengoceh,” aku terlalu marah.


Hari mau juga ikut marah. Silahkan.


“Hahahaha!!”


Dia... gila.


“Senangnya ya bisa lihat Faresta tumbuh besar. Sudah bisa lawan si kakek ini lagi. Jadi ingat waktu masih ada Riza, dulu Fares saja tidak bisa bergerak. Hahaha.”


Dulu? Apa yang dia bicarakan? Aku tidak pernah ketemu dia sebelum⏤Berhenti! Jangan pikirkan.


Harus aku jawab, “Kalau begitu kamu bisa dihukum mati sekarang?”


Pasti dia marah, jadi dia tidak mungkin biarin aku pergi.


“Haha,” tawanya aneh sekali, “Tidak boleh~ Rasyiqa lagi mau ketemu papanya~ Faresta juga boleh ikut.”


Undangan, sudah aku terima. Mereka mungkin akan membuang semua barangku. Beri perlakuan buruk. Tapi yang penting, aku ikut ke lokasi mereka.

__ADS_1


Chip radar di dalam tubuhku harus sampai ke lokasi paman dan Rasyi.


__ADS_2