Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 100 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

SMAN Nasional pukul 10.15


"Gam, ke kantin yok! Anak-anak yang lain udah pada mau ke kantin tuh". Seru Alvian pada Gamma yang terlihat sedang membereskan barang-barangnya diatas meja.


Gamma mendongak kearah Alvian, "Oh kalian duluan aja, gue masih ini... ada urusan bentar". Jawab Gamma dan kembali membereskan barangnya.


"Umm, yaudah kalau gitu gue duluan ya.


"Iya.


Alvian kemudian pergi dari sana menyusul yang lainnya.


Gamma yang sudah selesai terlihat duduk dikursinya seperti tengah memikirkan sesuatu.


Gamma kemudian keluar dari dalam kelas dan berhenti tepat didepan kelas 11 IPA 2. Kelas mereka memang saling bersebelahan.


"Bro, ada Chika nggak didalam?". Gamma bertanya kepada murid-murid yang sedang berkumpul didepan kelas.


"Di dalam kayanya, eh nggak tau juga sih. Coba lihat aja". Jawab salah satu murid.


"Oh yaudah makasih Bro". Dengan segera Gamma masuk kedalam dan menghampiri Chika yang terlihat tengah sibuk menulis.


"Oyy laki!!". Seru Gamma membuat Chika mendongak kearahnya.


"Apaan?". Ucap Chika sembari menaikan sebelah alisnya.


"Rokok, rokok! Bawa rokok nggak lo?". Tanya Gamma sambil menirukan gaya orang lagi nyebat.


"Bawa. Kenapa emang?


"Gue minta". Jawab Gamma. Pria itu tiba-tiba menarik lengan Chika, "Ikut gue sekarang, sama bawa rokok lo itu". Sambungnya. "Cepetan laki!!


"Ha?". Chika mengerutkan keningnya bingung. "Yaudah bentar-bentar". Chika kemudian membereskan barang-barangnya terlebih dahulu lalu memakai tas punggungnya.


Tanpa berlama-lama Gamma langsung menarik gadis itu keluar kelas.


"Eh lo pada mau kemana?". Mereka berpapasan dengan Hera dan juga Alexa yang entah dari mana.


"Gue ada urusan bentar. Izinin ke gurunya kalau udah masuk, bilangin gua lagi ke toilet". Seru Chika masih terus berjalan karena Gamma yang tetap menariknya.


"Tumben akur tuh dua bocah, biasanya pada berantem kalau ketemuan". Ucap Alexa seketika.


"Lagi gencatan-senjata kali, makanya pada akur dulu". Timpal Hera.


Sementara Gamma terus menarik lengan Chika sampai ke gedung belakang kelas yang tak terpakai. Keduanya masuk kedalam, dan Gamma langsung menutup pintu.


"Mana rokoknya? Gue lagi pengen nyebat nih". Ucap Gamma sambil berjalan kearah Chika.


"Bentar aelahh.. miskin amat rokok lo minta". Chika mengeluarkan 3 bungkus rokok kedalam tasnya dengan merk yang sama dan meletakannya diatas meja yang terlihat buluk.


'Ngeri juga nih cewek'. Gamma membantin melihat Chika mengeluarkan semua bungkus rokoknya.


Chika mulai membuka satu bungkus rokok dan mengambilnya sebatang, "Nih ambil". Chika melepar bungkus rokok yang diambilnya tadi keatas meja.


Gadis itu kemudian mengeluarkan korek disaku bajunya lalu membakar rokoknya dan menikmatinya.


"Fyyuuhh". Asap keluar dari mulut Chika.


Gamma terus memperhatikan cara gadis itu menyesap menikmati batang rokok itu.


"Kenapa, kok diam aja? Lo nggak ngerokok?". Chika berbicara pada Gamma sambil terus menyesap rokok ditangannya.


Gamma tak menggubris. Pria itu malah berjalan mendekati Chika berdiri dihadapannya.


"Kenapa?". Tanya Chika sambil menyesap rokoknya.


Gamma sedikit mendekatkan badannya lalu tiba-tiba mengambil rokok dibibir Chika kemudian menyesapnya sendiri.


"Gue mau yang ini". Ujar Gamma seketika. Pria itu kemudian menyemburkan asapnya dihadapan Chika.


"Uhuk.. itukan punya gue. Kenapa lo ambil?". Chika menggoyang-goyangkan tangannya diudara untuk menghilangkan asap.


"Ya gue mau yang ini, biar kita impas. Lo nggak ingat waktu itu lo ngambil rokok gue juga". Ucap Gamma.


"Yaelah ketimbang sisa doang lo itung. Pelit amat". Cibir Chika.


"Gue nggak ikhlas karena gue masih enak-enaknya nikmatin lo ambil. Ya gue balas aja". Gamma kembali menyemburkan asapnya dihadapan Chika.


"Terserah lo". Chika mendorong Gamma agar menjauh darinya. Gadis itu kembali mengambil sebatang rokok, membakarnya lalu menikmatinya.


"Mulai kapan lo ngerokok?". Tanya Gamma seketika.


"Baru sih. Awal-awal kelas 10, tapi dulu masih nggak sering. Kalau sekarang... yaa.. lumayanlah". Jawab Chika.


"Kelihatan sih". Gama mendekat kearah meja lalu meletakan rokok yang diambilnya dari Chika tadi, "Tapi untuk sekarang gue ambil ini semua". Sambungnya sembari mengambil 3 bungkus rokok yang ada diatas meja.


"Eh lo mau bawa kemana semuanya?". Chika mendekat ingin mengambil rokok ditangan Gamma.


"Lebih baik lo berhenti ngerokok sekarang, nggak baik buat kesehatan lo. Ngerti". Gamma menjauhkan tanganya dari Chika yang terdapat 3 bungkus rokok disana.


Pria itu berdiri dihadapan Chika lalu melirik bibir Chika, "Lihat tuh bibir lo dah menghitam". Ucap Gamma sambil menyentil pelan bibir Chika.


"Iih apaan sih?". Desis Chika sembari membekap mulutnya sendiri dan menatap sinis Gamma.

__ADS_1


"Lain kali nggak usah ngerokok lagi, mau lo sakit-sakitan". Tegas Gamma dan mulai berjalan menuju pintu, "Yang ini biar gue bawa". Sambungnya lagi lalu membuka pintu pergi dari sana meninggalkan Chika.


"Dih apaan sih tuh cowo, nggak jelas banget!!



Sementara saat ini terlihat murid-murid berlarian keluar dari dalam kelas diiringi dengan suara heboh. Semua murid-murid itu berlarian menuju kearah lapangan yang ada ditengah-tengah sekolah itu.


"Kenapa tuh? Kok pada heboh banget. Emang ada artis yang datang?". Zee berujar kepada sahabat-sahabatnya.


Saat ini mereka tengah berkumpul didepan kelas mereka.


Mereka kemudian segera melihat apa yang terjadi dari atas balkon kelas mereka.


Para murid-murid yang berada dilantai dua juga ikut ingin melihat apa yang terjadi dibawah sana.


Nampak di tengah-tengah lapangan seorang gadis yang diketahui adalah adik kelas dengan memegang sebuket bunga yang besar dan juga sekotak coklat.


Dihadapan gadis itu berdiri seorang Aziel dengan masih memakai pakaian basketnya.


"Kak Aziel mau nggak jadi pacar aku?".


Murid-murid yang mendengar perkataan dari adik kelas itu seketika histeris dan menyoraki mereka. Dari lantai dua juga ikut menyoraki mereka.


"Oh Mai apa-apaan tuh adik kelas". Seru Zee dari atas sana.


Sementara Allena terlihat menyipitkan matanya sambil terus melihat adik kelas yang mencoba mengungkapkan perasaanya pada Aziel.


"Zoya dari dulu udah suka sama Kak El, tapi Zoya baru bisa berani bilang sekarang. Zoya harap Kak El mau jadi pacar Zoya.


Semuanya semakin menyoraki mereka dengan keras.


Sedang Aziel hanya diam berdiri ditempatnya sambil memandangi adik kelas yang baru saja mengungkapkan perasaanya padanya. Pria itu sangat tampan dengan ikat kepalanya.


Baru Aziel mau melangkah tiba-tiba dari arah lain muncul Alexa dan langsung mendorong adik kelas tadi hingga jatuh tersungkur.


"He apa-apaan lo, adik kelas nggak tau diri. Berani-beraninya lo minta Aziel buat jadi pacar lo". Maki Alexa dengan keras.


Alexa kemudian dengan segera berjalan kearah bunga dan coklat yang dibawa adik kelas itu dan langsung menginjak-injak kedua barang itu hingga hancur.


"Ini juga apaan sih lo bawa-bawa ginian. Norak tau nggak". Maki Alexa masih terus menginjak.


"Makan tuh coklat murahan lo". Alexa menendang kotak coklat tersebut kearah adik kelas itu.


Semua yang ada disana seketika terkejut dengan aksi Alexa begitupun Aziel.


Adik kelas yang bernama Zoya tadi seketika berdiri dan langsung memberikan tatapan tajam kearah Alexa.


"Apaan sih lo". Adik kelas itu tiba-tiba membalas mendorong Alexa.


"Anji*ng berani lo ama gue!? Dasar adik kelas murahan, kurang ajar lo!!". Dengan cepat Alexa mendekat kearah Zoya dan langsung menjambak rambut gadis itu dengan kuat.


Zoya yang tak terima dengan perlakuan Alexa membalas ikut menjambak Alexa.


Kedua orang itu seketika bertengkar dengan saling jambak-menjambak satu sama lain.


Murid-murid semakin heboh menonton pertengkaran kedua wanita itu.


"BERHENTI KALIAN!!


Seru Allena yang datang dengan suara tegasnya membuat kedua wanita tadi langsung berhenti bertengkar dan menoleh kearah Allena dengan tangan yang masih memegang rambut satu sama lain.


Tatapan Allena begitu dingin memandangi mereka. Suasana di lapangan itu menjadi berubah terasa menegangkan.


"Kalian berdua ke ruangan OSIS sekarang!!". Ucap Allena tegas kearah kedua wanita itu.


Allena kemudian beralih memandang kearah Aziel yang masih ada disana, "Lu juga ikut". Ucapnya kemudian.


Allena kemudian berbalik dan berjalan duluan menuju ruang OSIS.


Dan disinilah mereka semua sudah berada di ruang OSIS.


"Kalian berdua sebelum pulang sekolah nanti bantu Pak Tatang bersihin sekolah". Ucap Allena memandang datar kearah Alexa dan Zoya.


"Lo siapa nyuruh-nyuruh gue? Nggak mau gue. Lo kira gue pemban...". Ucap Alexa terhenti.


"Kalau lu nggak mau lu tinggal pilih, diskors satu minggu atau keluar dari sekolah ini". Ancam Allena dingin.


Alexa seketika diam sambil menatap Allena bengis, "Oke oke fine". Ucapnya kemudian. Alexa tidak mungkin memilih diantara keduanya. Jika sampai Papinya tau dia diskors atau dikeluarkan dari sekolah bisa habis dia. Papinya pasti akan memarahinya habis-habisan dan tambah mengurangi uang jajannya. Apa lagi setelah masalah yang menyudutkan dirinya waktu itu. Sampai sekarang dia bahkan masih tak menemukan siapa pelaku yang sebenarnya.


"Oke gue kerjain! Belagu lo, mentang-mentang udah jadi Ketua OSIS, songongnya minta ampun". Cibir Alexa lagi.


Allena tak menggubris cibiran Alexa. Gadis itu kemudian menoleh kearah Aziel yang sejak dari tadi berdiri sambil memandanginya dengan senyum smirk khas dirinya.


"Dan lu...". Ucap Allena terjeda, "Bersihin nih ruang OSIS". Sambungnya.


"Lah kok gua juga? Gua kan nggak ngapa-ngapain". Ucap Aziel keberatan.


"Tapi semua yang terjadi karena ada sangkut pautnya ama lu. Ngerti". Ucap Allena kemudian.


"Hmm oke oke". Aziel mengalah. Kalau sama gebetan sendiri nggak apa-apalah yaa mengalah😅


"Yaudah lu bisa kerjain hukuman lu sekarang. Tapi kalau lu mau, bisa sekalian aja pulang sekolah sama mereka". Ucap Allena.

__ADS_1


Gadis itu kemudian memberikan kunci ruang OSIS kepada Aziel.


"Nanti balikin". Allena kemudian berdiri dari duduknya dan beranjak keluar dari ruang OSIS meninggalkan ketiga orang itu.


Sementara Aziel...


"Keluar kalian sekarang!! Gua mau bersihin nih ruangan, nggak sudi gua kalau harus bersihinnya pulang sekolah nanti". Ucap Aziel kepada kedua wanita itu.


"Zoya bantuin ya Kak El, biar cepat selesai. Biar Kak El nggak cape juga". Ucap Zoya dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Gua bilang keluar!


"Tapi Kak...


"Keluar gua bilang! Lu pada nggak punya kuping gua suruh keluar. Keluar sana!!


"CEPATT!!". Aziei mulai meninggikan suaranya.


"Sekali lagi gua bilang keluar lu berdua atau gua seret kalian sekarang". Ucapnya sekali lagi semakin meninggikan suaranya.


Kedua wanita yang mendapati Aziel seperti itu dengan cepat keluar dari ruangan OSIS sebelum Aziel semakin marah.


Bagaimanapun Aziel mendapatkan hukuman karena mereka berdua.


"Gue peringatin sekali lagi ke lo, kalau sampai lo masih juga berusaha ngedeketin Aziel, awas aja. Abis lo ama gue". Ancam Alexa sambil mendorong Zoya dan berlalu pergi dari sana.


Sementara Zoya hanya memandang sinis kearah Alexa yang mulai berjalan menjauh. Gadis itu kemudian menoleh kearah ruang OSIS. 'Lihat aja nanti, gue bakal ngebuat Aziel suka sama gue'. Batin Zoya dengan PD nya.


Gadis itu kemudian ikut melangkahkan kakinya pergi dari sana. Untuk saat ini biarlah dia berusaha sepelan mungkin agar Aziel bisa takluk padanya. Melihat Aziel adalah orang rang yang keras dan juga dingin, mungkin dia memang memerlukan waktu agar Aziel mau melihatnya.


Yaa.. itupun kalau bisa sih Zoya😂😂


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi dari tadi, dan semua murid-murid terlihat berhamburan keluar kelas.


Saat ini Allena tengah berjalan menuju parkiran.


"Baby!!". Siapa lagi orang yang memanggil Allena seperti itu kalau bukan Aziel.


Allena berbalik dan mendapati Aziel yang tengah berlari kearahnya.


"Nih kunci gua balikin". Ucap Aziel sembari memberikan kunci ruangan OSIS pada Allena.


Allena menerima kemudian berbalik melanjutkan langkahnya.


"Tunggu tunggu tunggu". Segera Aziel menyusul Allena, "Tunggu dulu dong Baby!". Aziel mencegat Allena membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


Seketika Allena menaikan kedua alisnya keatas dihadapan Aziel.


"Lu marah ama gua soal tadi?". Tanya Aziel sambil memandang Allena.


"Hmm? Maksudnya?". Allena malah balik bertanya.


"Yaa lu marah nggak soal tadi, yang pas di lapangan tadi?


"Nggak. Biasa aja". Jawab Allena santai.


"Yang bener lu nggak marah? Bener nih?". Tanya Aziel memastikan.


"Umm iya. Kenapa sih emang?


"Ya bagus deh kalau lu nggak marah". Ucap Aziel dengan tersenyum, "Lu tenang aja gua nggak bakal pindah ke lain hati kok". Sambungnya.


"Dih lebay banget sih lu. Alay tau nggak". Cibir Allena.


"Alay-alay gini tapi banyak yang suka kan". Ucap Aziel dengan PD-nya.


"Dih...


Tiba-tiba Louis muncul dan menarik lengan Allena menjauh dari Aziel.


"Eh eh ngapain nih dekat-dekat kaya gini. Jauh-jauh, jarak 10 meter". Ucap Louis kemudian.


"Woyy murid baru, hak lu apa ngelarang gua dekat-dekat sama Allena. Emang lo suaminya? Bukan kan? Sepupuan doang banyak ngaturnya lu". Ucap Aziel nyolot.


"Lo mau tau hubungan gue sama Allena apa? Iya? Gue itu calon ...". Dengan cepat Allena memotong perkataan Louis.


"Udah diem. Kita pergi sekarang!". Allena kemudian menarik lengan Louis dan membawanya pergi dari sana.


Sementara Aziel hanya memandang Allena yang membawa pergi Louis sambil mengkerutkan alisnya.


Allena kemudian menghempaskan tangan Louis dengan kasar, "Bisa nggak lu nggak usah ngomong kaya gitu ke Aziel. Lu itu kenapa sih?". Ucap Allena pada Louis.


Saat ini mereka sudah berada di parkiran samping mobil Allena.


"Lo itu yang kenapa Len. Sesuka itu lo sama Aziel sampai nutupin hubungan kita yang sebenarnya ke dia.


"Lo sendiri taukan lo sama Aziel itu nggak bakalan pernah bisa sama-sama. Papah Robert udah ngelarang lo". Ucap Louis terdengar frustasi.


Allena mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan Louis.


"Berhenti lu ngomong kaya gitu. Muak gua lama-lama ama lu.

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu Allena bergegas masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana. Allena benar-benar kesal pada Louis.



__ADS_2