
Satu minggu berlalu. Murid-murid SMAN Nasional sudah mulai aktif belajar. Zee yang awalnya tidak masuk hari pertama sekolah sudah masuk rabu lalu.
Berbeda dengan Allena, gadis itu tak kunjung terlihat dan datang sekolah hingga saat ini. Ke-6 temannya juga tak kunjung mendapatkan kabar Allena hingga hari itu. Allena hilang bak di telan bumi. Tak ada kabar sekalipun dari gadis itu.
Saat ini ke-6 orang itu sedang berada di kantin tanpa Allena. Terlihat wajah lesu dari Zee saat ini.
"Kok Allena nggak ada kabar ya sampai sekarang. Dia nggak ada ngabarin kita sekalipun gitu. Udah 1 minggu lebih loh dia nggak datang". Ucap Zee lesu sambil membaringkan kepalanya dimeja kantin dengan bertopang pada kedua tangannya yang dilipat.
"Ayang Zee jangan sedih gitu dong. Kalau Ayang Zee sedih Babang Alvian kan juga bisa ikutan sedih". Hibur Alvian disamping Zee sambil mengelus-elus kepala gadis itu dengan lembut.
"Tapi Allena nggak ada kabar Alvian. Gimana gue nggak sedih". Cicit Zee dengan wajah memelasnya.
Dari kejauhan tampak Setya memperhatikan Alvian dan juga Zee. Saat ini dia bersama Aziel dan juga Brayen. Jarak mereka tak jauh dari tempat mereka. Sekitar 3 meja batas antara mereka. Setya terus memperhatikan Alvian yang mengelus puncak kepala Zee.
"Woyy.. ngapain lo ngelamun Ya? Mikirin apa sih lo? Lo lagi mikirin Hera yaa..?". Goda Brayen tiba-tiba membuyarkan pandangan Setya seketika.
"Ck.. Apaan sih lo? Ngapain juga gue mikirin tu cewe. Nggak penting amat". Desis Setya ketus.
"Yaelahh.. bilang aja kali. Nggak usah sok gengsi kaya gitu". Cibir Brayen.
"Gue bilang nggak juga. Apaan dah? Ngapain sih lo bawa-bawa tuh cewek". Ucap Setya tak terima.
Brayen yang melihat itu hanya menahan tawanya. Pria itu merasa sangat lucu akan ekspresi Setya saat ini. Brayen berhasil menggodanya.
Berbeda dengan Aziel, laki-laki itu sedari tadi hanya diam dengan terus memandangi tempat teman-teman Allena. Pria itu seperti mencari sesuatu.
Tidak berapa lama datang Alexa dengan dua orang temannya Chika dan Hera. Mereka kemudian mendatangi tempat Aziel dan langsung duduk disana.
"Hai Aziel". Sapa Alexa dan duduk disamping Aziel.
Aziel yang melihat Alexa hanya mendengus malas. Alexa benar-benar tak berhenti mengejar Aziel. Padahal pria itu sudah meminta Alexa untuk menjauhinya. Tetapi Alexa tak menyerah juga.
"Hello My Honey Bunny Setya. My Honey udah makan?". Ucap Hera dengan manjanya yang juga duduk disamping Setya sambil bergelayut manja dilengan kekar Setya.
"Astaga ini apa lagi sih?". Desis Setya tak suka.
"Hera bisa nggak sih lo nggak manggil gue kaya gitu. Nggak suka gue dengernya. Dan ini juga, bisa nggak lo geser dikit. Engap gue lama-lama kalau kaya gini terus". Cicit Setya risih sambil menjauhkan Hera darinya. Hera selalu saja mengganggunya tak berhenti.
"Iih.. Kenapa? Emang nggak boleh ya? Nggak apa-apa dong My Honey". Ucap Hera kembali menggandeng Setya dan bergelayut manja.
"Yaelah Hera.. Geser dikit napa. Sempit nih tempat gue. Tuh lihat, luas banget loh disamping lo". Desis Setya sambil melepas tangan Hera dan menggesernya. Setya benar-benar risih sekali.
"My Honey Bunny kenapa sih gitu banget sama Hera". Ucap Hera dengan nada manja sedih yang dibuat-buat.
Sementara Chika yang duduk disamping Brayen, gadis itu hanya memandang heran terhadap tingkah laku kedua sahabatnya itu. Chika benar-benar tak habis pikir dengan tingkah dan sifat keduanya.
"Lo sanggup sahabatan ama dua orang aneh ini?". Tanya Brayen tiba-tiba pada Chika.
"Sanggup nggak sanggup sih. Tapi mau gimana lagi? Gue udah sahabatan lama ama mereka dua orang ini". Jawab Chika pasrah.
__ADS_1
"Kak Brayen sendiri gimana? Kak Brayen sanggup temenan ama dua orang ini?". Tanya Chika balik pada Brayen yang ditujukannya pada Aziel dan juga Setya.
Bagaimana tidak? Bagi Chika dua pria dihadapannya itu 11/12 sifat mereka. Terkesan tegas dan galak. Akan tetapi Aziel lebih mendominasi. Laki-laki itu kadang-kadang sifatnya dapat berubah-ubah. Kadang diam, kadang datar dan terkesan dingin. Kadang serius, kadang galak dan arogant. Siapapun tak bisa menebak sifat Aziel yang seperti itu.
"Ya sama. Sanggup nggak sanggup". Jawab Brayen menahan tawanya.
Chika yang mendengar itu ikut menahan tawa.
"Eh cowo mesum. Ngapain lo ketawa? Ada yang lucu emang?". Seru Alexa tiba-tiba pada Brayen. Gadis itu memberikan tatapan sinis kepada Brayen.
"Kenapa emang? Suka-suka gue dong mau ngapain aja. Kenapa lo yang sensi? Dasar cewe gesrek, cewe tengil". Cibir Brayen tak mau kalah.
"Apaan sih lo? Lo mending pergi deh dari sini. Ngapain sih lo disini? Ganggu aja tau nggak". Usir Alexa.
"Cih.. Lo aja yang pergi sana. Orang gue yang dari tadi disini kok. Kenapa lo yang ngusir-ngusir gue. Emang lo kira nih kantin punya Nenek Moyang lo apa?". Cibir Brayen tak mau kalah.
"Ihh nih cowok ya nyebelin banget. Nggak mau kalah banget sama cewe. Lo cowok apa banc...". Ucap Alexa terhenti.
BRAKK!!
"Kalian berdua bisa diam nggak? Sakit kuping gua dengerin kalian ribut. Kalau mau berantem disono noh di ring tinju, bukan disini. Gua mau makan jadinya nggak bisa kan. Ilang nafsu makan gua karena dengar kalian nggak berhenti adu mulut". Bentak Aziel tiba-tiba sambil memukul meja dengan kuat.
Orang-orang yang ada di kantin seketika kaget dan menoleh ke arah mereka. Tak terkecuali dengan ke-6 teman Allena. Mereka ingin tau apa yang telah terjadi.
Sontak Setya dan juga Zee saling bertemu pandang. Zee yang melihat Setya dan juga Hera yang menurutnya sangat mesra seketika mengalihkan pandangannya. Setya yang melihat itu hanya mengkerutkan keningnya dengan sambil menatap Zee.
Laki-laki itu seketika berdiri dari duduknya ingin pergi dari sana.
"Eh Aziel lo mau kemana?". Seru Alexa ingin mengejar Aziel.
"Jangan ikutin gua". Bentak Aziel pada Alexa.
Alexa yang mendengar bentakan Aziel seketika mengurungkan niatnya mengikuti Aziel.
Orang-orang yang ada di kantin seketika kembali melakukan aktivitas mereka setelah Aziel keluar. Mereka pikir akan ada masalah besar yang terjadi.
"Itu si Mak Lampir buat masalah apa lagi dah? Udah tau Kak Aziel nggak suka dia deketin masih aja dia paksa deketin. Nggak tau malu emang". Cibir Tessa tiba-tiba dari tempatnya sambil memandang Alexa sinis.
"Nggak tau tuh si Mak Lampir. Nggak tau diri emang". Timpal Zee menghujat.
"Udah kalian nggak boleh ngomong kaya gitu. Nggak baik. Biar itu jadi urusan mereka". Timpal Airin menasihati.
"Hahh.. Iya Ibu Airin yang baik". Ucap Zee mengalah.
"Iya Ibu Airin. Nggak lagi-lagi kok". Timpal Tessa gemes akan Airin.
Dua wanita itu sudah hafal akan sifat Airin. Mereka pasti akan dinasihati oleh Airin jika mencibir orang lain. Dan itu akan membuat kedua wanita itu diam. Sebab Airin pasti akan mengeluarkan kata-kata, wejangan-wejangan, pidato-pidato yang akan membuat mereka tak berkutik jika menghadapi Airin.
Disisi lain, Manaf yang tersenyum merasa senang karena bisa menyukai gadis seperti Airin. Gadis itu terlalu baik, dan Airin juga termasuk gadis yang cerdas di sekolahnya.
__ADS_1
Sementara masih ditempat yang sama area kantin, terlihat Alexa dan Brayen beradu monyong. Tidak ada yang ingin mengalah diantara keduanya.
"Gara-gara lo sih, Aziel jadi pergi kan sekarang". Celoteh Alexa dihadapan Brayen.
"Kok gue. Lo itu yang duluan. Datang-datang udah nyari ribut aja lo ama gue. Makanya jadi cewe nggak usah banyak ngomong. Terlalu bawel sih lo". Cibir Brayen tak mau kalah.
"Lo itu yang bawel. Jadi cowok ko nggak mau ngalah aja sama cewek. Gue parut juga tuh monyong lo". Ucap Alexa tak terima.
Chika yang melihat itu tak tahan lagi. Dua orang itu masih saja adu bacot tak mau berhenti meskipun Aziel sudah memarahi mereka berdua. Sama seperti Setya, pria itu juga tak tahan melihat Kakak kelasnya bertengkar dengan perempuan.
Chika seketika melirik Setya yang juga meliriknya. Mereka kemudian saling mengkode satu sama lain dengan anggukan dan melirik kedua orang yang masih berseteru itu.
Dengan cepat Chika menghampiri Alexa dan Setya menghampiri Brayen. Kedua orang itu dengan cepat menarik teman mereka untuk segera berhenti berseteru.
"Ngapain juga gue ngalah sama cewek tengil kaya lo. Dasar cewek ges...". Teriak Brayen terhenti akibat sumpalan tangan Setya dibibirnya dan langsung menyeretnya ingin membawanya pergi.
"Apa lo? Dasar kakak kelas nggak ada akhlak. Cowo gila. Dasar cowok mes...". Teriak Alexa yang juga terhenti akibat sumpalan tangan Chika yang juga ikut menutup bibirnya menggunakan tangannya dan ikut menyeret Alexa untuk keluar kantin.
"Hera.. ngapain lo diem aja sih? Bantuin napa". Seru Chika pada Hera yang sedari tadi hanya diam melihat mereka.
"Oh iya iya". Cicit Hera dengan cepat menghampiri Chika dan membantu membawa Alexa yang sedari tadi memberontak ingin terus mencecar Brayen
Sementara Brayen, pria itu terlihat dibawa paksa oleh Setya dengan menyumpal mulutnya agar berhenti berbicara.
Mereka mencoba memisahkan dua orang yang terus tak berhenti saling adu bacot.
"Awas lo. Dasar cowo mesum nggak ada akhlak em...". Teriak Alexa terhenti yang terus memberontak dan kembali ditahan oleh Chika dan Hera dengan terus membawa paksa gadis itu menjauh dari Brayen.
"Dasar adek kelas nggak ada akhlak. Cewe tengil. Cewe ges...". Teriak Brayen juga yang mencoba memberontak namun dengan cepat Setya menahan Brayen dan kembali meutup bibir pria itu dengan tetap menyeretnya keluar dan menjauh dari Alexa.
Terlihat suasana kantin sangat heboh dengan Brayen dan Alexa yang terus ingin adu monyong meskipun sudah ditahan.
Dengan cepat Setya dan juga Chika serta Hera memisahkan dan membawa keluar dua orang yang terus berseteru itu dari dalam kantin.
Dilain tempat Aziel saat ini sedang berada di taman belakang sekolah. Laki-laki itu terlihat meredam amarahnya.
Aziel tidak tahu apakah dia emosi akibat Alexa dan Brayen atau hal lain. Yang jelas saat ini dia benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Akhir-akhir ini Aziel memang sering emosi pada sesuatu. Meskipun itu hanya hal-hal kecil.
Sudah satu minggu lebih juga Aziel tak melihat Allena. Lelaki itu juga tak mendapat kabar apapun dari Pak Satpam rumah Allena yang didatanginya tempo dulu. Mungkin itu salah satu hal yang membuat dia tak bisa mengontrol emosinya. Aziel sendiri juga belum tahu.
Tapi dia terus memikirkan Allena saat dia merasa kesepian. Dengan tidak melihat dan bertemu Allena selama itu membuat Aziel gundah gulana. Dan dia tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Apakah dia memang benar-benar menyukai Allena atau hanya sebatas nafsu belaka.
"Aaghh.. Bingung gua". Desis Aziel tiba-tiba sambil mengusap rambutnya kebelakang dengan frustasi.
"Lu dimana sih Allena? Kenapa lu pergi gitu aja?". Ucap Aziel bingung.
"Gue cuman mau mastiin sesuatu aja sama lo". Sambung Aziel.
Laki-laki itu benar merasa galau dan bingung sekarang. Dia tidak tau harus berbuat apa.
__ADS_1