Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 75 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Saat ini Allena sudah berada di kantin sekolah bersama para sahabatnya seperti biasa. Tapi disana tidak Manaf, pria itu memang sudah sangat jarang berkumpul bersama mereka. Bahkan pria itu juga sudah sangat jarang masuk sekolah. Entah apa yang terjadi kepada Manaf.


Sementara dari jauh muncul Aziel dan juga Setya yang berjalan masuk kedalam kantin. Suasana kantin menjadi sangat heboh karena kedatangan dua pria yang menjadi idola di sekolah besar itu.


Aziel kemudian menoleh kearah meja tempat Allena, dan langsung menghampiri gadis cantik blasteran itu di tempatnya.


Aziel berdiri dihadapan Allena lalu mengangkat tangannya, "Udah makan?". Tanya Aziel sambil memegang lembut puncak kepala Allena dan tersenyum manis dihadapan gadis itu.


Murid-murid yang ada dikantin dan melihat itu seketika histeris dan menjadi sangat heboh. Pemandangan yang begitu sosweet bagi mereka yang melihatnya.


Para sahabat Allena saja sampai menganga melihat pemandangan itu didepan mereka.


Dua orang yang menjadi idola di sekolah itu langsung menjadi pusat perhatian yang ada disana. Apa lagi para ciwi-ciwi SMAN Nasional terlihat sangat histeris sambil memukul-mukul teman mereka yang ada disamping karena saking gemasnya melihat pemandangan sosweet itu.


Allena mendongakan kepalanya menatap Aziel, "Ini lagi makan, lo nggak lihat apa?". Allena sedikit ketus menjawab. Sebenarnya saat ini dia sangat berdebar karena perlakuan Aziel padanya. Pria itu selalu saja berbuat sesuatu yang membuatnya jadi gugup dan salah tingkah sendiri.


Tapi Allena saat ini harus berusaha tenang dan tidak boleh memperlihatkan rasa kegugupannya. Malu dong, gengsi dong. Rusak dong citra yang dia bangun selama ini. Apa lagi dia dikenal di sekolah itu sebagai orang yang cuek dan santai terhadap sesuatu.


Allena tidak akan membiarkan hanya karena perlakuan Aziel padanya membuat dirinya terlihat seperti wanita pada umumnya yang selalu memuja Aziel karena ketampanan pria itu.


Aziel hanya berdengus lucu mendengar perkataan Allena, "Boleh ikut gabung nggak?". Tanya Aziel sambil memandangi sahabat Allena keseluruhan.


Zee tentu saja tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini. Jika Aziel ikut bergabung otomatis pasti Setya ikut bergabung juga.


"Boleh boleh, Kak El sama Kak Setya kalau mau ikut gabung boleh boleh aja. Sini sini, Kak Setya duduk disamping Zee aja". Zee menjawab dengan antusias.


Sementara Alvian memandang Zee dan Setya dengan tatapan tak suka.


"Ayang Zee ngapain sih? Duduk disamping Babang Alvian aja lah". Alvian terlihat tak suka adanya keberadaan Setya disana. Karena dia tahu Zee sangat menyukai Setya.


"Apaan sih lo Alvian? Suka-suka gue dong mau duduk sama siapa". Zee mendelik tak suka kearah Alvian.


Zee kembali beralih kearah Setya, "Kak Setya duduk disini aja. Bisa kok". Zee memandang Setya dengan wajah berbinar. Sementara Setya terlihat mengalihkan pandangannya jengah karena Zee yang terkesan agresif.


Aziel kemudian beralih kearah Setya, "Ya, pesanin gua makanan seperti biasa, terus lu bawa kesini". Ucap Aziel memerintah Setya.


"Hmm". Setya hanya membalas dengan bergumam. Lelaki itu kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya.


Zee yang melihat ingin menyusul Setya, "Kak Setya tunggu! Gue ikut". Zee beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menyusul Setya.


Sementara Aziel mengambil tempat disamping Allena dan duduk disana.


"Gimana entar? Jadi juga ke rumah sakitnya?". Tanya Aziel pada Allena.


"Hmm". Allena hanya menjawab dengan gumaman.


Beberapa menit kemudian Setya kembali bersama Zee sambil membawa pesanan Aziel dan juga pesanan untuk Setya sendiri.


"Lo bisa geser dikit nggak?". Setya berkata dihadapan Gamma membuat Gamma mendongak padanya.


"Iya Kak". Ucap Gamma sambil menggeser bokongnya memberikan Setya tempat duduk disampingnya.


Setya kemudian duduk disamping Gamma tanpa mempedulikan aura Zee yang sudah memasang tampang cemberut.


Pria itu mulai makan tanpa berbicara sepata kata pun.


Sementara dari sudut kantin yang lain nampak Regina dan beberapa teman gengnya berkumpul dalam satu meja.


"Waduh Re, gimana tuh sama Kak El? Ketikung lo sama adik kelas". Ucap salah satu teman Regina.


Regina menatap kesal kearah Allena yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Gadis itu sudah mulai emosi sedari tadi ketika melihat kedekatan Aziel dengan Allena. Terlihat Regina mengepal kuat kedua tangannya sambil terus memandangi Allena.

__ADS_1


"Nggak bisa lo biarin tuh Re, jangan mau kalah lo sama adik kelas. Lagian mereka itu nggak pacaran kan? Masih bisa lo tikung balik tuh cewe, masa lo mau kalah gitu aja". Ucap teman Regina yang satunya lagi.


Regina tersenyum miring, gadis itu berencana melakukan sesuatu.


Saat dia beranjak dari tempatnya ingin ketempat Allena, Regina dikejutkan dengan Alexa yang menubruknya dari belakang sambil membawa semangkuk bakso ditangannya.


Alexa terlihat berjalan cepat kearah Allena berada dan langsung menumpahkan kuah bakso tersebut dibelakang punggung Allena.


Terdengar suara teriakan Allena yang langsung memenuhi penjuru kantin. Allena kesakitan.


"AAAA...PANAS PANAS PANAAAAS!! PANAS BANGET... HUHU.. HUHU.. PANAS BANGET...SAKIIITT!!". Allena menjerit merasakan panas dipunggung belakangnya akibat tumpahan kuah bakso Alexa.


Allena terlihat menangis kesakitan berdiri dari duduknya sambil mengangkat-angkat bajunya yang terkena kuah bakso yang panas itu.


"AAAA... PANAS!!". Allena terus menjerit kepanasan.


Sementara Alexa terlihat membulatkan matanya kaget karena perbuatannya. Dia lupa jika bakso yang dibawanya tadi masih panas. Alexa tadi sudah sangat emosi dan tidak bisa mengontrol amarahnya karena melihat kedekatan Aziel dan Allena.


Wanita itu sampai tak sadar jika apa yang diperbuatnya bisa berakibat sangat fatal.


"ALEXA LU APA-APAAN". Bentak Aziel pada Alexa.


Alexa menoleh kearah Aziel, "Gue nggak sengaja El, gue bener-bener nggak sengaja". Elak Alexa.


Aziel yang melihat itu segera mendekat kearah Allena dengan perasaan takut dan khawatir. Gadis dihadapannya saat ini terlihat berteriak kesakitan tak berhenti.


Para sahabat Allena yang melihat itu seketika juga ikut takut dan khawatir dengan keadaan Allena. Mereka sampai kaget karena Allena berteriak kepanasan.


"Allena, Len, Len..". Aziel terlihat sangat khawatir. Pria itu tak bisa berkata-kata saking khawatirnya.


Aziel mendekat kearah Allena agar berhenti bergerak-gerak, karena gadis itu sangat gelisah ditempat duduknya merasakan panas dipunggungnya semakin menjadi-jadi dan tak bisa menahannya.


Allena berbalik kearah Aziel dan mendekat kearah pria itu, "Sakit El, Panas.. Sakit banget". Allena menangis.


"Kita ke UKS ya sekarang. Jangan nangis, kalau gini gua bisa khawatir sama lu". Aziel terlihat sangat khawatir pada Allena dia takut jika itu bisa berbahaya bagi Allena.


"Tapi sakit banget El, gua nggak kuat hu...hu...sakit Aziel hu..hu..". Allena terus menangis menyandarkan kepalanya didada bidang Aziel. Gadis itu benar-benar kesakitan.


"Kita ke UKS sekarang El, gua nggak tahan". Ringis Allena mendongakan kepalanya meminta Aziel membawanya ke UKS.


"Iya kita ke UKS sekarang, hati-hati". Aziel membawa Allena dengan perlahan agar tak mengenai punggung gadis itu.


Brayen yang sedari tadi berada disana karena mendengar teriakan Allena langsung menatap tajam kearah Alexa.


"Alexa lo apa-apaan sampai Allena kaya gitu? Lo nggak lihat dia sampai kesakitan kaya gitu. Apa yang ada dipikiran lo sampai lo berbuat kaya gitu sama Allena? Lo nggak mikirin dampaknya kaya gimana sama Allena". Brayen membentak Alexa dengan keras.


"Gue nggak sengaja Brayen. Gue bener-bener nggak sengaja. Tadi kaki gue kesandung dan akhirnya bakso yang gue bawa jatuh kena Allena. Gue nggak ada niatan jahat sekalipun sama Allena. Itu murni kecelakaan". Alexa berusaha membela diri.


Zee yang sedari tadi sudah emosi mendekati Alexa dan mendorong gadis itu, "Lo bohong kan? Lo emang ada niatan buat Allena sampai kaya gitu kan. Lo nggak usah ngelak". Bentak Zee dihadapan Alexa. Gadis itu terlihat emosi.


"Iya Lex, ngaku aja lo nggak usah drama. Kita tau lo orangnya kaya gimana. Lo emang keselkan sama Allena karena Aziel selalu dekat sama Allena. Lo juga kesel karena Aziel nggak perhatiin lo, nggak pernah nganggap lo.


"Makanya lo ngaca, sadar diri, kenapa Aziel nggak pernah lirik lo sekalipun. Jadi lo ngelampiasin kekesalan lo sama Allena. Iyakan? Ngaku lo, sialan". Tessa ikut emosi. Dia tak habis pikir akan perbuatan Alexa kepada sahabatnya Allena.


Alexa menatap kesal kepada dua orang wanita itu, "Gue bilang gue nggak sengaja. Gue nggak ada niatan apapun sampai berbuat kaya tadi sama Allena. Lo berdua nggak usah fitnah gue kaya gitu". Alexa terus mengelak.


"Alahh muka-muka busuk kaya lo itu nggak bakal ada yang percaya. Kita juga tau mana kawan mana lawan. Mana teman mana musuh. Lo itu nggak bisa bohong sama kita-kita, ya karena kita tau lo itu orangnya seperti apa". Cibir Zee.


"Lo...". Ucapan Alexa terhenti.


"Kenapa lo lakuin itu sama Allena?". Ucap Airin yang tiba-tiba bersuara sambil menatap Alexa tanpa ekspresi.

__ADS_1


Alexa menoleh kearah Airin dengan tatapan sinis, ”Eh cewe miskin, ikut-ikutan juga lo fitnah gue. Sama kaya teman-teman lo dua orangnya ini". Sinis Alexa.


"Gue tanya sekali lagi ke lo". Airin berjalan perlahan mendekati Alexa masih dengan tatapan tanpa ekspresi, "Kenapa lo beraninya ngelakuin hal itu ke Allena?". Sambung Airin.


Alexa menatap Airin yang berjalan mendekat kearahnya. Apa gadis itu mulai berani padanya, "Apa lo ha? Mulai berani lo sama gue? Emang lo dasar cewek miskin nggak tau diri. Harusnya lo sadar disini tuh bukan tempat cewek miskin kaya lo". Cibir Alexa tak suka.


Airin terlihat mengepalkan kedua tangannya, dia sudah cukup sabar kepada Alexa yang selalu mengatainya. Alexa selalu saja menghina dirinya.


Airin melirik salah satu meja yang ada disana. Gadis itu dengan segera mengambil gelas berisi jus milik salah satu murid dan..


BYURR..!!


Airin melemparkan jus tersebut kearah wajah Alexa yang membuat orang-orang disana kaget atas tindakan gadis itu.


Mereka mengenali Airin sebagai murid cerdas dan pendiam yang tidak pernah membuat masalah di sekolah. Tapi dengan perbuatan yang dilakukan oleh Airin hari ini cukup membuat mereka terkejut, termasuk sahabat-sahabatnya Airin sendiri yang melihat itu saat ini.


"Anji*ng". Umpat Alexa sambil menatap tajam Airin, "Berani lo sama gue. Dasar cewek miskin sialan, kurang ajar lo". Alexa menghampiri Airin dan dengan cepat menarik rambut Airin dengan kuat.


Sementara Airin, gadis itu juga membalas jambak Alexa dengan kuat. Dia tak mau mengalah sama Alexa saat ini. Alexa sudah sangat keterlaluan baginya.


Suasana kantin menjadi sangat heboh karena pertengkaran kedua wanita itu. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.


"Lepasin tangan lo cewek miskin. Sialan lo". Ringis Alexa sambil terus menarik rambut Airin.


Bukannya melepas Airin tambah menarik dengan kuat rambut Alexa yang membuat gadis itu semakin meringis kesakitan.


Brayen yang melihat itu dengan cepat melerai keduanya dengan masuk ke tengah-tengah diantara mereka berdua.


Kedua sahabat Alexa juga membantu melerai dengan menahan Alexa agar berhenti.


"Airin udah". Brayen melepas tarikan Airin dirambut Alexa dan membawa gadis itu menjauh dari Alexa.


Sementara Alexa berhasil ditahan oleh kedua sahabatnya Chika dan Hera, "Cewe miskin, lo salah kalau cari masalah sama gue. Gue bakalan bikin hidup lo menderita". Ancam Alexa dengan aura kemarahan yang terpancar diwajahnya.


Airin menatap tajam Alexa, "Kalau sampai sahabat gue kenapa-napa hidup lo yang bakalan menderita.


"Dan satu lagi, mulai sekarang gue nggak bakal mau dibully sama lo lagi. Gue akan ngelawan sama cewek jahat kaya lo. Ingat itu". Airin menunjuk-nunjuk Alexa dengan tatapan tajamnya, dan setelah selesai berbicara gadis itu pergi dari sana.


Zee menatap sinis Alexa, "Rasakan itu Mak Lampir! Makanya, jangan kurang ajar lo sama kita-kita". Ucap Zee kemudian berlalu pergi dari sana menyusul Airin.


Yang lainnya pun ikut menyusul Airin dan berlalu keluar dari kantin.


"Gue nggak nyangka Lex, segitu jahatnya lo sampai berbuat kaya gitu sama Allena. Bahaya banget lo itu untuk dia. Lo tau itukan". Brayen terlihat frustasi akan perbuatan Alexa.


"Iya, gue emang jahat puas lo.


"Tapi asal lo tau ya, gue itu bener-bener nggak sengaja soal tadi. Itu murni kecelakaan, bener-bener kecelakaan Brayen". Alexa mencoba menjelaskan.


"Udalah Lex, nggak percaya gue sama lo". Brayen kemudian berbalik dan beranjak ingin pergi dari sana.


Alexa menatap kesal kearah Brayen yang berjalan, "Jadi lo sama kaya mereka, nggak percaya sama gue. Iya?". Alexa berteriak pada Brayen yang masih terus berjalan tak peduli pada teriakannya.


"Brayen..!!". Teriak Alexa sekali lagi, namun pria itu tetap berjalan pergi dari sana tak peduli.


Sementara Alexa hanya mengepalkan kedua tangannya kesal sambil menatap kepergian Brayen.


"Udah Lex, kita pergi dari sini". Ucap Chika pada Alexa.


Alexa menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Gadis itu kemudian pergi dari sana dengan perasaan kesal.


"Widihh.. ganas juga tuh cewek. Tambah satu saingan lagi lo Re". Ucap teman Regina.

__ADS_1


Sementara Regina hanya memandang kepergian Alexa dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


__ADS_2