
"Dih". Allena mendelik, "Nggak Tante, dia bohong. Cowo ini bukan pacar saya, saya nggak pacaran sama dia". Ucap Allena.
"Bener Tante, Allena pacar saya kok". Aziel mendekat kearah Allena menyelipkan tangannya dilengan Allena.
"Iih apaan sih lo". Allena berusaha melepas gandengan Aziel namun tak berhasil, Aziel malah mengeratkan rangkulannya.
Melihat itu, Ibunya Airin hanya tersenyum melihat keduanya.
"Yo ndak apa-apa to Nak kalau kalian memang pacaran. Kalian cocok kok, sama-sama kasep dan gelis". Ucap Ibu Airin sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Nggak bisa dong Bu, Allena itu udah dijod..". Ucap Airin yang terhenti.
"Airin..!". Allena langsung memotong pembicaraan Airin sambil melotot kearah wanita itu.
Airin yang paham langsung merapatkan bibirnya, 'Duh nih mulut ya'. Airin membantin tak karuan. Hampir saja gadis itu keceplosan.
Aziel yang merasa ada yang aneh diantara kedua wanita itu hanya melirik mereka secara bergantian.
"Ternyata pacar kamu romantis ya Nak sampai nyariin kamu kesini". Goda Ibu Airin tiba-tiba.
"Tante mah gitu. Dia itu bukan pacar saya Tante". Allena kembali memasang tampang cemberutnya, dia tak suka jika diusilin seperti itu.
Mereka yang melihat itu hanya menahan tawa akan reaksi Allena. Aziel pun ikut cengengesan disamping Allena dengan masih menggandengnya.
"Ibu bercanda to Nak, wong jangan dianggap serius perkataan Ibu". Ucap Ibu Airin kemudian.
"Serius juga nggak apa-apa kok Tante". Celetuk Aziel.
"Lu apaan sih? Udah nggak". Allena mendorong Aziel sembari menatap kesal pria disampingnya itu.
"Sudah-sudah, jangan berantem lagi". Ibu Airin melerai.
"Mumpung Nak Aziel ada disini, Nak Aziel bisa cobain kue buatan Ibu kalau mau". Tawar Ibu Airin.
"Emang boleh Tante? Kalau gitu Aziel mau cobain, kayaknya enak". Aziel langsung saja mencomot kue yang diambil Allena tadi.
"Itu kue gua, kenapa lu makan". Allena dengan cepat mengambil kotak kue tersebut melarang Aziel untuk memakannya.
"Yaelah baru satu doang gua makan, pelit amat lu". Cibir Aziel.
"Ya gua nggak mau berbagi ama lu". Tolak Allena dengan wajah galaknya.
Ibu Airin yang melihat itu hanya geleng-geleng melihat Allena dan Aziel.
"Kalian tidak usah bertengkar to, Nak Aziel ambil yang ini saja". Ibu Airin memberikan sekotak kue juga pada Aziel.
"Makasih Tante". Ucap Aziel.
"Iya sama-sama, dimakan ya Nak". Balas Ibu Airin.
Suasana di dapur menjadi sangat ramai karena kedua pendatang itu. Aziel terus saja mengusili Allena. Mulai dari Aziel mengambil kue Allena, mengolesi pipi gadis itu dengan tepung, hingga mencipratkan air kearah Allena ketika gadis itu sedang belajar mencuci piring.
Sementara yang empunya rumah hanya bisa melihat kelakuan kedua sejoli itu. Berasa dunia milik berdua ya BunðŸ¤ðŸ˜…
"Oh iya, Om dimana Rin? Kok nggak kelihatan dari tadi". Tanya Allena.
Saat ini mereka sudah berada di ruang tamu. Mereka telah selesai dari membuat kue.
"Bokap gue lagi di kamar, tidur kayanya". Jawab Airin.
"Umm... yaudah kalau gitu gua balik sekarang ya". Ucap Allena kemudian.
"Nak Allena udah mau balik to rupanya". Seru Ibunya Airin yang muncul dari ruang tengah ke ruang tamu.
"Iya Tante, Allena balik dulu ya Tan, salam buat Om". Ucap Allena sembari mencium punggung tangan Ibunya Airin.
"Saya juga ikutan pamit kalau gitu, makasih buat kuenya ya Tan, wenak tenan lo iki kue buatan Tante". Puji Aziel sambil mengacungkan jempolnya.
"Alah pasti ada maunya tuh, bilang aja biar digratisin lagi". Cibir Allena tiba-tiba.
"Nyii.. sok tau". Aziel menyentil dahi Allena, "Nggak kok Tan. Kue buatan Tante emang enak". Puji Aziel lagi beralih kearah Ibunya Airin.
"Kalian berdua ini wong bertengkar terus to. Jangan suka bertengkar, entar jadi jodoh loh". Goda Ibunya Airin.
"Doa'in aja Tante". Balas Aziel.
"Ngimpi". Celetuk Allena. "Awas, minggir sana". Allena mendorong Aziel lalu melangkahkan kakinya kearah pintu keluar.
Sementara Aziel hanya geleng-geleng melihat tingkah Allena, "Kalau gitu saya juga balik ya Tante, sekali lagi makasih untuk kuenya". Aziel berkata sembari mencium punggung tangan Ibunya Airin.
"Iya sama-sama. Lain kali berkunjung lagi ya Nak, kalau bisa sama Nak Allenanya juga". Balas Ibu Airin.
"Iya Tante". Jawab Aziel.
__ADS_1
Aziel kemudian menyusul Allena yang sudah berada diteras bersama Airin.
"Ingat Rin, lu harus ikut besok. Awas aja lu nggak ikut". Ucap Allena kepada Airin.
"Iya Allena tenang aja, gue bakalan ikut kok besok. Takut banget gue nggak ikut". Airin berpikir sepertinya Allena sangat ingin dirinya ikut. Yasudalah nggak papa ikut aja, dari pada Allena marahkan. Toh hanya ikut datang ke bandara saja.
"Emang kalian pada mau kemana besok?". Aziel tiba-tiba muncul sambil menatap kedua wanita itu dengan tampang curiga.
"Kepo lu". Sinis Allena pada Aziel.
"Udah ah, gua balik Rin. Males gua ada penguntit disini, hum". Allena kemudian berbalik melangkahkan kakinya menuju mobil.
Dengan segera Aziel menyusul Allena.
"Ngapain lu ikutan masuk? Keluar nggak lu dari mobil gua". Allena kaget dengan Aziel yang membuka pintu mobil disebelahnya dan masuk kedalam mobilnya.
"Lu jawab dulu pertanyaan gua tadi. Besok lu mau kemana, ngapain emang?". Aziel ingin tahu akan kemana Allena besok.
"Apaan sih? Keluar nggak lu dari mobil gua sekarang". Gertak Allena.
Namun Aziel tak peduli dengan Allena yang menggertaknya, dia malah menarik lengan Allena, "Lu jawab pertanyaan gua atau gua bakal lakuin sesuatu hal diluar batas saat ini juga". Ancam Aziel dengan menatap Allena serius.
Allena mendelik, "Apaan sih lu?
"Jawab Allena". Paksa Aziel dengan tegas.
"Oke oke gua jawab, gitu banget ngancemnya". Allena.
"Yaudah jawab sekarang". Ucap Aziel sekali lagi.
"Gua bakalan ke bandara besok, puas lu". Jawab Allena cepat.
"Ke bandara? Lu mau kemana emang?". Tanya Aziel. Apakah Allena akan pergi lagi seperti dulu pikirnya. Kalau iya, Aziel tak akan membiarkannya. Dia tak ingin Allena pergi lagi dari hidupnya, bisa gila dia nanti.
"Bukan gua yang pergi, tapi sahabat gua. Gua cuman nganterin aja". Jawab Allena.
"Umm..". Aziel manggut-manggut, ternyata kekhawatirannya tidak benar. Bagus deh.
"Kalau gitu gua ikut". Ucap Aziel kemudian.
Allena melirik tajam kearah Aziel, "Terserah lu". Ketus Allena.
Aziel berdengus lucu, sesaat kemudian Aziel menarik lengan Allena kearahnya dan langsung mencium bibir Allena sekilas.
"Sampai ketemu lagi Baby". Ucap Aziel. Pria itu kemudian membuka pintu lalu keluar dari dalam mobil Allena.
"Waduh tuh dua bocah ngapain dulu?". Airin bergumam saat melihat Aziel keluar dari dalam mobil Allena.
Ternyata gadis itu masi berdiri di teras rumahnya karena melihat mobil Aziel dan Allena yang belum pergi dari pekarangan rumahnya.
"Akhh.. Airin, kenapa pikiran lo jadi mesum kaya gini sih". Gumam Airin bergerutu sambil menampar-nampar pelan kepalanya.
"AIRIN KEMARI SEBENTAR NDUK!". Teriak Ibunya Airin tiba-tiba dari dalam rumah.
"Iya Bu, Airin kesana sekarang". Balas Airin berbalik dan langsung masuk kedalam rumahnya.
...*****...
Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 pagi, kini Allena sudah berada di bandara. Disana sudah ada Manaf dan yang lainnya juga, minus Airin. Sepertinya gadis itu belum datang.
"Gimana nih, kok Airin belum datang-datang juga?". Ucap Zee.
Saat ini mereka tengah berada di ruang tunggu sebelum pesawat akan berangkat.
"Syutt.. Allena, Airin angkat nggak telfon lo?". Zee beralih kearah Allena yang terlihat tengah sibuk dengan ponselnya.
Allena mendongak, "Dari tadi gua telfon nggak diangkat sama dianya". Jawab Allena.
"Duhh nih Airin kemana sih? Di telfon juga nggak diangkat-angkat sama dia". Zee terlihat pusing, "Lagian tuh bocah pake acara nggak mau dijemput segala". Sambungnya lagi.
Tiba-tiba dari arah lain muncul Aziel dengan pakaian casualnya yang membuat pria itu terlihat sangat tampan saat ini.
Disana juga ada Setya dengan memakai pakaian santainya. Sepertinya pria itu tak ingin repot dengan staylenya. Apa lagi tadi Aziel memintanya untuk membantunya mengobati luka dipunggungnya, jadi tak ada waktu untuk bergaya. Meskipun begitu, kamu tetap tampan kok Setya. Zee saja sampai tak berkedip melihat kamu saat iniðŸ¤ðŸ˜‚
"Hai Baby". Aziel kemudian langsung mengambil tempat disamping Allena.
Zee langsung saja mendekat kearah Setya bergelayut manja dilengan pria itu. 'Astaga nih cewe lagi. Bisa stres gue lama-lama karena nih cewe pengganggu'. Batin Setya sambil berusaha melepas tangan Zee yang terus menggandengnya. Pria itu merasa risih.
Sementara Manaf terlihat berdiam diri sedari tadi dikursi penunggu. Dia tak henti-hentinya memikirkan Airin yang akan datang atau tidak. Pria itu sangat berharap ingin melihat Airin meskipun mungkin itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Gamma menghampiri sahabatnya itu dan merangkulnya. Gamma tentu saja sangat paham dengan perasaan Manaf saat ini. Mereka berdua adalah sahabat dari bangku Sekolah Menengah Pertama. Susah dan senang mereka pernah lewati bersama. Apa lagi disaat kedua orang tua Manaf memutuskan untuk berpisah, Gamma adalah satu-satunya tempat pelarian Manaf dan juga sebagai tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu pula sebaliknya.
Ya intinya mereka sama-sama saling mendengarkan dan menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Persahabatan pria itu memang bisa dibilang sangat dekat dan erat.
Tak ayal jika Gamma merasa sedih dan kurang bersemangat jika Manaf akan pindah ke luar negri. Mereka mungkin akan jarang bertemu atau mungkin jarang berkominakasi lagi.
"Eh gais gais gais, Airin ngechat gue nih". Tiba-tiba Tessa bersuara.
Gadis itu kemudian membaca pesan tersebut, "Airin bilang dia nggak bakalan datang kesini, ada urusan katanya". Ucap Tessa sembari melihat kearah mereka yang ada disitu.
Terlihat Manaf langsung berubah raut wajahnya seperti tidak bersemangat ketika mengetahui Airin tidak akan datang.
"Emang ada urusan apa?". Tanya Alvian kemudian.
"Nggak tau, dia nggak bilang juga ada urusan apa". Jawab Tessa.
Manaf semakin menunduk lesu dikursinya. Dipandanginya foto Airin yang terpampang dilayar wallpaper ponselnya.
"Tuan Muda!". Tiba-tiba seorang pria dengan berjas rapi muncul dan terlihat tengah menghampiri Manaf.
"Sebaiknya kita bergegas sekarang. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi". Ucap pria berjas tersebut.
Manaf menghela nafas sambil menggenggam kuat ponselnya, "Baiklah". Pria itu kemudian berdiri dari kursinya.
"Kalau gitu gue berangkat ya". Ucap Manaf kemudian sambil memandangi para sahabat-sahabatnya.
"Baik-baik disana Bro, jaga kesehatan". Alvian dan Manaf saling bertos dan memeluk.
"Iya tenang aja". Balas Manaf berusaha tersenyum.
Manaf kemudian memandang ketiga wanita sahabatnya, "Kenapa kalian diam aja? Nggak mau ucapin salam perpisahan gitu ke gue". Ucap Manaf kepada ketiga wanita itu yang hanya menatap dirinya.
"Huwaa... Manaf...". Zee berlari kearah pria itu dan memeluknya, "Jaga kesehatan ya lo nya, biar kita bisa kumpul-kumpul lagi kaya dulu, jangan lupa sama kita-kita". Ringis Zee dengan sedihnya karena harus melepas kepergian sahabatnya itu.
Manaf berdengus lucu, "Iya tenang aja. Mana mungkin gue lupa sama sahabat cerewet kaya lo". Ucap Manaf mengusap-usap punggung Zee.
Keempat sahabat yang lainnya tadipun ikut berpelukan juga dengan Manaf. Mereka membentuk lingkaran dengan saling merangkul satu sama lain tanpa Airin.
Mereka mungkin akan jarang bertemu lagi dengan Manaf, yang mereka kenal dengan tingkah petakilannya itu.
"Udah-udah nggak usah sedih-sedih". Mereka kemudian saling melepas rangkulan.
"Gue titip Airin ke kalian, jagain dia ya". Ucap Manaf kemudian.
"Iya tenang aja, dijagain kok". Ucap mereka.
Manaf kemudian bertos bersama Aziel dan Setya.
"Kak saya duluan ya". Ucap Manaf.
"Iya hati-hati". Balas Setya.
Setelah berpamitan, Manaf kemudian mengikuti pria berjas tadi untuk segera berangkat.
"Dahh". Manaf melambaikan tangannya kearah mereka semua.
"Dahh bestie... jangan lupa jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan begadang terus, pokoknya jangan jangan lah". Seru Zee membalas lambaian Manaf.
"Iya bawel". Balas Manaf juga.
Pria itu kemudian terus berjalan hingga hilang dari pandangan mereka semua.
...*****...
Saat ini Allena dan Aziel sudah berada dalam mobil milik Allena.
Sebelumnya saat di bandara mereka berpisah dengan yang lainnya dan Setya yang mengambil alih mobil Aziel dan membawanya.
Sementara Aziel menumpang pada mobil Allena dan ingin mengajak wanita itu kesuatu tempat.
"Ini sebenarnya kita mau kemana sih?". Tanya Allena pada Aziel yang sedari tadi mengemudi dan tidak memberi tahu akan pergi kemana mereka.
"Kita makan dulu entar. Emang lu nggak lapar?". Ucap Aziel sambil melirik Allena sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"Makan?". Tanya Allena dengan menaikan kedua alisnya keatas sambil menoleh kearah Aziel disampingnya.
"Iya, gua tuh tau kalau lu itu laper. Iya kan". Aziel berbicara dengan tetap fokus mengemudi.
"OKE". Allena terlihat sumringah.
Aziel berdengus melihat reaksi Allena, "Soal makanan aja cepat. Dasar rakus". Cibir Aziel.
"Biarin". Allena tak peduli akan cibiran Aziel, yang penting apa? Yang penting makan dong😂
Hingga akhirnya setelah mereka menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kedua orang itu telah sampai disalah satu restoran.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobil, Aziel dan Allena keluar lalu masuk kedalam restoran tersebut.