
SMAN Nasional Pukul 10.20
Saat ini Allena dan ke-5 sahabatnya sudah berada di kantin sekolah.
Hari ini Allena benar-benar sedang dalam kesal-kesalnya.
Bagaimana tidak? Pagi tadi banyak sekali murid-murid yang terlambat datang ke sekolah dan dia harus mengurusnya.
Terlebih lagi yang terlambat itu adalah kebanyakan dari adik-adik kelas cowok dan selalu saja berusaha menggodanya.
Meskipun Allena akan seperti biasa tidak menggubris. Tapi dengan jumlah yang banyak seperti itu Allena tidak bisa menanganinya.
Sementara anak OSIS saja tidak sebanyak yang terlambat itu.
Akhirnya Allena hanya bisa menahan kesal dan memberikan mereka semua hukuman.
"Udah Len, jangan marah-marah terus. Dari tadi nggak hilang-hilang kekesalan lo". Airin berusaha menenangkan Allena yang sedari tadi makan dengan marah-marah.
"Gimana Allena nggak marah, tadi ada adik kelas yang gangguin Allena terus. Malah tuh adik kelas pake acara nembak Allena segala di depan anak-anak yang pada terlambat". Alvian menahan tawanya ketika mengingat kejadian dimana adik kelas meminta Allena untuk jadi pacarnya.
Terlebih lagi adik kelas itu menembak Allena dengan memberikannya bunga dihadapan murid-murid yang terlambat.
Tentu saja Allena kesal dan langsung memberikan hukuman adik kelas itu membersihkan kamar mandi sekolah.
"Hah, yang bener lo? Terus-terus gimana, Allena terima nggak?". Tanya Zee sambil melirik Allena.
Mereka ikut tertawa setelah mendengar cerita dari Alvian.
Sementara Allena terlihat makan dengan kesal.
"Kalian mau makan, apa mau ngebahas hal yang nggak penting". Allena seketika berbicara sembari menatap kesal kearah sahabat-sahabatnya.
Mereka yang ditatap seperti langsung saja berhenti berbicara dan berusaha menahan tawa. Tau sendiri kan Allena itu marahnya kaya gimana.
"Sorry Len, sorry. Abis yang diomongin sama Alvian lucu sih. Pasti tuh adik kelas senang karena udah berani kek gitu sama orang kaya lo. Pasti ada rasa kebanggaan tersendiri tuh die". Ucap Tessa.
"Kalian itu bisa nggak sih nggak usah bahas itu. Bahasnya yang penting-penting aja napa". Keluh Allena yang masih terlihat kesal.
Selama mereka terus menggoda Allena, tidak lama muncul Aziel bersama Setya masuk kedalam kantin.
Adik-adik kelas cewek yang ada disitu seketika histeris melihat kedua bujang tampan itu. Suasana kantin langsung heboh karena kedatangan Aziel dan Setya. Maklum kakak kelas terpopuler di sekolah sekaligus menjadi idola para ciwi-ciwi.
Tiba-tiba Zoya yang juga ada disana langsung berlari kearah Aziel ketika melihat kedatangan pria itu. Zoya mengambil tempat disamping Aziel dan langsung bergelayut manja dilengan kekar Aziel.
"Hai Kak El! Kak El ganteng banget deh hari ini". Ucap Zoya dengan nada yang dimanja-manjain. Gadis itu bahkan sengaja menyentuhkan lengan Aziel didadanya.
Aziel nampak risih akan tingkah Zoya yang seperti itu. Eneg tau nggak.
"Kak El mau nggak makan bareng Zoya, entar Zoya yang pesenin kok buat Kak El. Mau kan?". Zoya semakin bertingkah. Badannya semakin dia sengaja dekatkan dengan Aziel.
Zee seketika mencibir ketika melihat kelakuan adik kelasnya itu, "Dih apaan sih tuh adik kelas, gatel banget. Eneg gue lihatnya.
"Len, lo nggak samperin tuh bocah? Sengaja banget nempel-nempel ke Aziel". Ucap Zee pada Allena.
"Ngapain? Bukan urusan gua juga kan". Allena terlihat santai tak peduli.
"Lah bukannya lo sama Kak El udah...
"Kan gua udah bilang kejadian itu nggak sengaja, ngapain juga gua harus pikirin". Allena memotong perkataan Zee. Gadis itu terlihat benar-benar sangat santai.
"Yang bener Len, lo nggak cemburu gitu, nggak ada sakit hati gitu lihat adek kelas keganjenan itu deket-deket sama Kak El?". Tanya Zee sambil menatap Allena serius. Apa benar Allena nggak ada rasa cemburu biarpun sedikit. Secarakan mereka tau bahwa Allena sudah sangat begitu dekat dengan Aziel.
"Nggak ada. Ngapain juga gua harus cemburu? Lagian gua juga nggak ada hubungan apapun kan sama dia". Jawab Allena. Hidupnya emang dibawa santai woyy Allena ini. Emang nggak peduli atau gimana nih?
"Hedehh oke oke kalau gitu mah". Zee hanya pasrah melihat reaksi Allena yang tidak pedulian seperti itu. Apa benar Allena tak terganggu melihat pemandangan antara Zoya dan Aziel?
Allena tetap melanjutkan makannya yang tinggal sedikit itu. Setelah selesai Allena berdiri dan beranjak kekasir lalu membayar makanannya kemudian keluar dari kantin menggunakan pintu yang lainnya.
Memang di kantin itu terdapat 3 pintu sebagai tempat keluar dan masuknya para murid-murid sekaligus para pekerja yang bekerja di kantin sekolah itu.
"Eh Allena mau kemana? Cepat amat perginya nggak nungguin kita-kita dulu". Seru Airin ketika Allena pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Melihat Allena pergi, Aziel mulai melangkahkan kakinya ingin menyusul Allena.
Namun Zoya yang memang masih bergelayut langsung menarik lengan Aziel mencegatnya agar tak pergi.
"Eh eh Kak El mau kemana? Tempat duduknya bukan disitu tapi disana" Ucap Zoya sambil menunjuk tempat yang dia tempati tadi. Disana ternyata ada teman-temannya yang lain juga.
Aziel yang mulai kesal langsung melepaskan gelayutan Zoya dengan kasar dan mendorong keras gadis itu.
"Jauh-jauh lu dari gua. Dasar cewek murahan!". Maki Aziel dengan keras.
__ADS_1
Orang-orang di kantin sontak melihat kearah Aziel dan Zoya. Terlihat wajah Aziel yang begitu kesal karena tingkah Zoya yang berani-beraninya seperti itu padanya.
Dengan segera Aziel langsung saja melangkahkan kakinya keluar dari kantin.
...*****...
"Allena tunggu!". Aziel mengejar Allena yang ingin ke kelasnya.
"Tunggu bentar Len, kita bicara dulu!". Dengan segera Aziel mencegat Allena agar berhenti berjalan.
"Apa sih ah!?". Allena menepis tangan Aziel yang mencengkram lengannya.
"Lu itu kenapa Len? Masih marah lu ama gua, gua ada salah apa sebenarnya?". Aziel benar-benar bingung dengan sikap Allena padanya. Kalau memang iya Allena marah padanya karena ada hubungannya sama Regina tentang yang waktu itu, coba Allena bilang supaya Aziel tau dan ngejelasin semuanya.
"Gua kan udah bilang jauhin gua. Lu masih nggak ngerti juga". Allena menatap dingin Aziel.
"Mana bisa gua jauhin lu Allena, itu nggak akan mungkin terjadi, nggak akan pernah sekalipun". Balas Aziel tegas.
"Terserah lu, dan gua nggak peduli". Allena kemudian mulai melangkahkan kakinya dari sana.
Sementara Aziel, kita tahu sendiri pria itu tak akan membiarkan Allena pergi begitu saja. Dengan segera Aziel menyusul Allena dan langsung menyeret gadis itu dengan kuat hingga ke kelas 11 IPA 1.
Di kelas itu masih ada beberapa murid-murid.
"Keluar kalian semua!". Teriak Aziel kepada mereka yang ada di kelas itu.
Dengan segera murid-murid itu langsung keluar setelah mendengar teriakan Aziel. Mereka tentu saja tak berani pada Aziel.
Setelah semuanya keluar dari sana, Aziel langsung menghempaskan Allena kedalam kelas diikuti dirinya. Aziel kemudian mengunci pintu dari dalam tak membiarkan siapapun masuk.
"Eh ngapain lu kunci pintunya. Buka nggak". Allena berjalan kearah pintu namun Aziel menghadang Allena dan mendorong gadis itu hingga mundur kebelakang.
"Lu gila ya. Bukain pintunya gua bilang!?". Allena kembali melangkahkan kakinya namun Aziel juga kembali menghadang dan mendorong Allena.
Sementara murid-murid yang ada diluar mulai mengintip dari jendela yang tak tertutup tirai. Mereka ingin tau apa yang terjadi antara dua sejoli yang menjadi idola di sekolah itu.
Murid-murid seketika histeris dari luar ketika mereka melihat Aziel membuka jas almamater yang dikenakannya.
Ke-5 sahabatnya Allena mulai berdatangan ketika mereka melihat murid-murid mengerumuni kelas mereka dari luar. Terlihat murid-murid itu berjejer dari jendela yang satu ke jendela yang lainnya.
"Weh weh ada apa nih? Kok anak-anak pada banyak kumpul disini?". Seru Gamma seketika.
Pria itu kemudian bertanya ke salah satu murid yang ada disana, "Ada apa nih? Kok rame-rame gini?". Tanya Gamma.
"Hah? Emangnya mereka ngapain? Coba gue mau lihat". Tessa dengan segara ikut melihat dari jendela, "Woyy minggir-minggir gue juga mau lihat!". Ucap Tessa kemudian diikuti yang lainnya. Mereka penasaran apa yang terjadi antara Allena dan Aziel.
Sementara itu di dalam kelas Aziel terlihat melempar almamaternya kesegala arah dan mulai berjalan perlahan kearah Allena.
"Lu mau ngapain ha? Jangan macam-macam lu ama gua". Ucap Allena waspada akan Aziel yang mulai berjalan mendekatinya.
"Gua bakalan ngelakuin sesuatu hal yang nggak akan pernah lu lupain dalam hidup lu". Ucap Aziel dengan tersenyum miring sambil terus berjalan mendekati Allena.
Aziel mulai membuka kancing seragamnya sambil memandangi Allena intens membuat gadis itu langsung membelalakkan matanya melihat aksi Aziel.
Murid-murid yang ada di luar mulai histeris begitu juga ke-5 sahabat Allena juga ikut histeris membelalakkan mata mereka.
"Oyy oyy oyy Kak El mau ngapain Allena tuh wah bahaya ini". Seru Gamma yang mulai tak enak melihat kedua orang yang ada didalam kelas itu.
"Woy Alvian lakuin sesuatu dong, lo kan anggota OSIS disini. Masa cuman ngelihatin gitu aja sahabat kita kaya gitu". Tegur Zee pada Alvian yang terlihat tak berbuat apa-apa.
"Duhh gimana ya gue juga bingung harus ngapain". Ucap Alvian. Dia tak tau harus berbuat apa.
Sementara murid-murid yang ada disana terlihat tak berani untuk berbuat sesuatu.
Pasalnya ini Aziel woyy... kalau mereka mencari masalah, bagaimana nasib mereka nanti. Yang ada habis malah.
Aziel saat ini sudah berada didekat Allena dan berdiri dihadapan gadis itu dengan kancing baju yang sudah terlepas. Meskipun bajunya belum dia lepas Allena dapat melihat dada bidang dan juga perut sixpak Aziel.
Allena sontak mundur kebelakang satu langkah namun Aziel langsung menarik pinggang Allena kearahnya membuat gadis itu sudah berada didekatnya.
Allena membulatkan matanya ketika tangannya menyentuh perut bagian atas milik Aziel.
Aziel melirik tangan Allena yang menyentuh perutnya lalu kembali mendongak menatap wajah Allena yang terlihat tegang.
Aziel tersenyum miring, "Why? Sepertinya lu udah nggak sabar untuk kita ngelakuinnya". Ucapan Aziel terkesan ambigu bagi Allena.
"Mungkin rasanya bakalan lebih menantang kalau kita ngelakuin itu disini dan ditonton oleh seluruh murid-murid yang juga ada disini". Sambungnya lagi dengan menatap Allena intens.
"Maksud lu apa? Jangan gila lu". Allena semakin membelalakan matanya ketika mendengar perkataan Aziel. Itu benar-bener terkesan mesum woyy bagi Allena. Dia juga tidak bodoh-bodoh amat untuk tidak mengerti apa maksud Aziel.
Aziel semakin mengeratkan rangkulannya dipinggang ramping Allena. Tatapannya turun kearah bibir ranum Allena. Bibir gadis itu memang berwarna pink alami tanpa liptin ataupun lipbam atau polesan apapun. Sehingga Aziel memang-memang sangat menyukai bibir gadis itu.
__ADS_1
Allena mengedarkan pandangannya dan benar saja, banyak sekali murid-murid yang melihat mereka dari luar jendela.
Sementara satu tangan Aziel mulai terangkat lalu menangkup wajah Allena. Wajahnya mulai dia dekatkan kearah Allena ingin mencium bibir gadis itu.
Namun dengan cepat Allena mendorong Aziel hingga menjauh darinya.
Murid-murid diluar seketika tahan nafas ketika melihat aksi berani Aziel. Pria itu benar-benar berani melakukan hal seperti itu di sekolah.
Allena menatap tajam Aziel, "Lu apa-apaan sih? Lu stres apa gimana?". Maki Allena langsung.
Aziel tak menggubris. Pria itu terlihat santai tak peduli.
Allena kemudian mulai melangkahkan kakinya ingin kearah pintu.
Namun tanpa diduga-duga Aziel dengan cepat beranjak menyeret Allena kearahnya, meraih pinggang dan tengkuk gadis itu kemudian langsung meraup bibir Allena dengan rakus. Allena bahkan sampai mundur-mundur kebelakang karena tak siap dan tak menyangka dengan aksi Aziel kepadanya.
Murid-murid disana seketika histeris tak karuan melihat adegan itu. Ke-5 orang sahabat Allena bahkan sampai menganga melihatnya.
Aziel terus memagut bibir Allena tak membiarkan terlepas.
Sementara Allena terus berusaha mendorong Aziel namun tak bisa. Pria itu akan semakin memeluk erat pinggang Allena dan juga semakin menekan tengkuk Allena kearahnya.
Allena bahkan mundur sampai mentok ketembok yang ada dibelakangnya dengan Aziel yang terus melu*mat bibirnya.
"Elghh...". Sentak Allena saat dia berusaha ingin menghirup oksigen.
Namun tangan Aziel menekan bahu Allena ketembok dan tangan satunya lagi menahan tangan kanan Allena, dengan pria itu terus menyesap bibir Allena dengan begitu nafsu.
Murid-murid semakin heboh dan histeris melihatnya. Aziel terlalu brutal woyy terlalu nafsu. Kalian juga nggak ada niatan buat nolongin Allena gitu, bisanya cuman histeris kaya orang gila.
Louis yang juga ada disana segera mundur kebelakang mengambil ancang-ancang dan langsung berlari kearah pintu kelas, dan dengan sekali tendangan Louis berhasil merusak kunci pintu sehingga pintu terbuka lebar.
Segera Louis berlari kearah Allena dan juga Aziel.
Dengan perasaan yang marah bercampur emosi Louis menarik Aziel dengan kuat sehingga ciumannya terlepas pada Allena.
"ANJI*NG LO!!". Umpat Louis seketika dan langsung memberi pukulan keras diwajah Aziel membuat pria itu jatuh tersungkur.
Louis kemudian kembali mendekat kearah Aziel menarik kerah baju Aziel sampai Aziel kembali berdiri, dan sekali lagi kembali memberi bogem mentah diwajah Aziel dengan keras.
Sahabat-sahabat Allena segera berlari masuk kedalam membantu Allena sekaligus melerai Louis yang ingin kembali memukul Aziel.
Allena terlihat menarik nafas mencari udara. Ke-3 sahabat wanitanya membantunya menenangkan diri, sementara Gamma dan Alvian menghadang Louis.
"BANGUN LO ANJI*NG! BERANI-BERANINYA LO KAYA GITU SAMA ALLENA, BANG*SAT LO EMANG!!". Maki Louis dengan keras. Dia tak terima dengan apa yang dilakukan Aziel terhadap Allena.
Sementara Aziel terlihat dengan santainya berdiri sembari mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Aziel berdiri dengan gaya coolnya sembari memiringkan kepalanya memandang remeh Louis.
Sedetik kemudian Aziel membalas memukul wajah Louis lebih keras.
"ANJI*NG LU BERANI AMA GUA". Umpat Aziel tak kalah kerasnya.
Aziel kemudian kembali memukul Louis hingga pria itu yang jatuh tersungkur.
Aziel kemudian berjalan mendekati Louis menarik kerah baju Louis hingga pria itu terbangun.
Aziel memiringkan kepalanya sembari menatap Louis dengan tersenyum devil. Pria itu terlihat seperti psikopat saat ini.
Murid-murid bahkan sampai ngeri melihat ekspresi Aziel yang terlihat seperti psikopat menyeramkan.
Tanpa babibu Aziel menghajar Louis dengan membabi buta.
Murid-murid yang ada disana semakin histeris tak berani menghadang Aziel. Pria itu terlihat sangat berkabut emosi sekarang.
Bahkan Alvian dan Gamma yang tadi sempat melerai tak berani menghadang Aziel.
Sementara Aziel tak berhenti menghajar Louis yang tidak melawan dan hanya berusaha menutup dirinya menggunakan kedua tangannya didepan sebagai tameng.
Aziel sama sekali tak memberikannya waktu untuk membalas.
Aziel kemudian berhenti menghajar Louis dan seketika menarik kerah baju Louis lalu menghempaskan Louis dengan kuat kearah jajaran tempat duduk murid-murid membuat pria itu terjatuh kebawah karena hilang keseimbangan.
Mereka yang melihat itu benar-benar tak menyangka dengan Aziel yang begitu tak memberi ampun untuk Louis.
Aziel mendekat kearah Louis yang terlihat babak belur dan kehabisan tenaga tak bisa melawan. Aziel benar-benar tak memberinya ampun tadi. Aziel terus menghajarnya.
"Apa karena cowo ini lu ngejauhin gua Len? Apa karena cowo ini juga lu nggak nerima ungkapan pernyataan cinta gua ke lu?". Aziel berbalik menoleh kearah Allena dan menatap tajam gadis itu.
Allena terlihat berdiri ditempatnya sambil memandang tak percaya dengan Aziel yang sekarang ini. Pria itu lebih terlihat seperti orang jahat psikopat dibandingkan dengan Aziel yang selama ini bersikap manis kepadanya. Allena baru saja mendapatkan sisi lain dari seorang Aziel.
__ADS_1