
"KENAPA TUHAN KENAPA? INI... INI SAKIT HIKS HIKS INI TERLALU SAKIT!!
Allena. Dengan segala rasa sesak di dadanya, gadis itu mencurahkan semua isi hatinya di bawah guyuran air hujan yang deras menimpa tubuh lemahnya.
"KENAPA HARUS SEPERTI INI? KENAPA? KENAPA TUHAN? APA SALAH SAYA? SEMUANYA TERLALU BENAR-BENAR MENYAKITKAN UNTUK SAYA!!
Ya tubuh lemah. Lemah dengan segala yang terjadi dalam hidupnya. Allena lelah. Lelah harus terus-terusan menjadi gadis yang sok kuat. Gadis yang harus selalu berpura-berpura tidak pernah merasakan sakit dalam hidupnya. Bersembunyi dibalik sikap sok cuek dan tidak peduli dengan keadaan. Selalu memasang tampang datar tanpa ekspresi agar tidak ada siapa pun orang yang tau apa yang sedang dirasakan olehnya.
"AAAAA... HIKS HIKS HIKS INI SAKIT INI TERLALU SAKIT!
Allena mengangkat tangannya sembari meremas dada kirinya dengan terus menangis, begitu sangat sesak yang dirasakannya.
"LU JAHAT, LU JAHAT AMA GUA! KATANYA LU SAYANG SAMA GUA, KATANYA LU CINTA AMA GUA. TAPI KENAPA MALAH LU YANG BUAT GUA MAKIN SAKIT, BUAT GUA MAKIN HANCUR. KENAPA LU MALAH NINGGALIN GUA KAYA GINI HIKS HIKS HIKS!
Allena menuduk meremas pasir putih itu dengan terus menangis tanpa henti. Ini terlalu sakit baginya.
"HIKS HIKS GUA BENCI AMA LU GUA BENCI!!
Teriak Allena dengan suara yang serak karena terus menangis sedari tadi. Gadis itu tak bisa untuk tak mengeluarkan air matanya.
Ini untuk pertama kalinya Allena menangis separah ini. Selama ini dia selalu menjadi gadis yang sok kuat untuk menghadapi masalahnya.
Dia tak ingin seorang pun mengetahui masalah apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia hanya tak ingin merepotkan apa lagi menyusahkan orang lain. Termasuk orang tuanya sekali pun.
Air hujan yang turun semakin banyak seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Allena selama ini. Berpura-pura menjadi gadis yang sok kuat dan sok tegar sangat tak gampang untuknya.
Tapi selama ini Allena selalu berusaha menjadi gadis yang seperti itu.
"GUA TAU GUA YANG SALAH TAPI LU HARUSNYA NGGAK KAYA GINI JUGA KAN? LU SEMAKIN BUAT GUA HANCUR!!
...******...
CEKLEK!!
"Non Lena? Astaga Non, Non Lena kenapa? Non Lena kenapa basah-basah gini Non?". Bi Ratih dengan segera menuntun Allena ke arah sofa ruang tamu.
Saat membuka pintu tadi, Bi Ratih sudah melihat Allena dalam keadaan basah kuyup.
"Sebentar ya Non Lena, saya bikinin minum sama ambilin handuk dulu untuk Non Lena". Segera Bi Ratih dengan tergopoh-gopoh menuju dapur.
Tidak sampai 10 menit, Bi Ratih kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman jahe hangat juga handuk untuk Allena.
"Diminum Non, biar anget badannya". Ucap Bi Ratih sembari mengelap rambut Allena mengggunakan handuk yang dibawanya tadi.
Sementara Allena hanya menatap kosong ke depan tanpa mengeluarkan sekata patapun.
Sesaat kemudian Allena tiba-tiba berdiri dari duduknya, berbalik, dan langsung melangkahkan kakinya dari sana.
"Eh, Non Lena mau kemana? Ini jahe angetnya diminum dulu Non". Seru Bi Ratih. Tapi Allena seolah tak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya. Seragam sekolahnya pun sudah tak sebasah tadi.
Setelah sudah berada dalam kamarnya, Allena segera menuju kamar mandi dan langsung menyalakan sower, mengguyur dirinya tanpa melepas seragam sekolahnya.
Tubuhnya kembali menyeluruh ke bawah, menyendarkan badannnya ke tembok, lalu melipat kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela kedua lipatan tangannya.
Tidak berangsur lama terdengar suara isakan yang keluar dari mulut gadis itu.
Allena ternyata kembali menangis lagi.
...******...
Malam harinya...
TOK!
TOK!
TOK!
"Allena, ini gue Louis! Tante Tiara nyuruh gue manggil lo buat makan malam". Seru Louis dari luar kamar Allena.
"ALLENA!". Panggil Louis lagi sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Allena.
Merasa tidak ada respon, Louis akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Allena.
CEKLEK!
Ternyata tidak dikunci. Louis kemudian dengan berhati-hati masuk ke dalam kamar Allena.
Louis melirik ke arah ranjang Allena yang kosong, 'Kok nggak ada? Kemana dia?'. Louis membantin.
Louis kemudian berjalan menuju ke arah balkon.
"Allena!". Gumam Louis melihat Allena yang duduk di kursi sambil membelakangi dirinya. Ternyata Allena sedang berada di balkon.
Louis kemudian mendekati Allena, "Allena!". Panggil Louis saat dia sudah berdiri di depan Allena.
__ADS_1
Louis bisa melihat Allena yang sedang menatap kosong ke depan.
"Ngapain lu disini? Siapa yang nyuruh lu masuk ke kamar gua?". Ucap Allena tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Louis.
"Lo kenapa Len?". Tanya Louis tanpa menjawab pertanyaan dari Allena tadi.
"Gua baik. Sebelum lu hadir ke kehidupan gua dan ngerusak semuanya". Sahut Allena masih tak mengalihkan pandangannya.
"Len!". Cicit Louis tak merasa enak dengan perkataan Allena.
"Keluar!". Ucap Allena lagi dan sudah menatap datar Louis.
Louis mengepalkan tangan kanannya melihat tatapan Allena yang begitu datar padanya.
Tiba-tiba saja Louis bergerak mendekati Allena, bertumpu dengan kedua lututnya dan langsung memeluk gadis itu dengan erat.
"Maafin gue Len. Gue bener-bener minta maaf sama lo". Desis Louis dengan perasaan bersalah pada Allena.
Sungguh Louis tak sanggup melihat Allena dalam keadaan seperti ini sekarang. Louis tau bahwa Aziel sudah sangat menjauhi Allena dan tak berhubungan lagi dengannya.
Memang itu yang diingin oleh Louis. Tapi melihat Allena seperti ini sekarang malah membuat dirinya merasa bersalah. Allena terlalu berubah baginya.
Selama seminggu ini Allena sangat berubah. Hubungannya dengan Allena pun makin kurang membaik. Allena tak pernah menunjukan ingin bertemu dengannya apa lagi mau berpapasan dengannya walaupun mereka tinggal dalam satu rumah. Allena benar-benar menjauhi dirinya.
"Gue minta maaf Len, gue minta maaf". Desis Louis lagi.
Sementara Allena hanya diam ataupun setidaknya membalas pelukan Louis pun tidak dilakukannya. Pandangan Allena tetap menatap kosong ke depan dengan tampang datarnya.
"Keluar!". Ucap Allena seketika disela-sela Louis memeluknya.
Louis perlahan melepaskan pelukannya, lalu memandangi Allena, "Allena, gue...
"Keluar!
Seketika Louis berhenti berbicara. Cowok itu mulai menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya Allena benar-benar tidak ingin keberadaannya ada disitu.
"Yaudah kalau gitu gue keluar ya Len. Lo jangan lupa makan, entar lo sakit". Ucap Louis sembari beranjak dan mulai melangkahkan kakinya.
"Gua sakit sekali pun nggak ada urusannya ama lu". Sahut Allena.
"Len...
"Keluar!". Sela Allena cepat.
Sekali lagi Louis hanya bisa menghebuskan nafasnya, lalu benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar Allena.
Sudah 10 menit, dan Allena masih setia berada di balkon kamarnya.
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki melangkah menghampiri Allena.
"Allena, Sayang! Kamu lagi apa Nak?". Itu suara Mommy Tiara. Menghampiri Allena dengan sambil membawa sepiring makanan juga segelas susu untuk Allena.
Kemudian meletakannya di atas meja, "Kenapa kamu diam saja? Mommy lagi bicara sama kamu Sayang". Ucap Mommy Tiara lagi melihat Allena yang hanya terdiam saja dari tadi, "Yaudah kalau gitu Mommy suapin ya.
"Nggak usah!". Tolak Allena cepat.
"Kalau gitu kamu makan Nak. Memangnya kamu nggak lapar?". Ucap Mommy Tiara.
"Allena bakalan makan kalau Mamah keluar dari sini". Sahut Allena yang sudah menatap datar Mommy Tiara.
"Kamu kenapa Sayang? Kamu lagi ada masalah?". Tanya Mommy Tiara yang mengerti dengan apa yang terjadi pada Allena saat ini.
Allena memang sedari tadi belum juga keluar kamar. Hingga Mommy Tiara pasti tau pasti ada sesuatu yang terjadi pada Allena saat ini.
Bagaimana pun Allena adalah anaknya. Meskipun dia dan Allena sudah tak sedekat dulu, yang namanya Ibu dan anak akan selalu ada ikatan batin.
Sejujurnya Mommy Tiara juga sangat merasa bersalah pada anaknya itu. Allena sekarang menjadi anak yang sangat pendiam dan tidak banyak bicara.
Sebenarnya Allena anaknya memang sangat irit bicara dan sudah berperangai datar sejak dulu. Apa lagi terhadap orang baru. Sifat datar dan dingin yang dimiliki oleh Allena sebenarnya juga merupakan turunan dari Papah Robert. Hanya saja Papah Robert orangnya lebih keras dan juga tegas. Namun Allena juga masih bisa mempunyai teman walau hanya ada beberapa.
Tapi setelah Allena menginjak kelas 3 SMP, sifat Allena menjadi lebih tertutup dan juga sifat datar dan dinginnya lebih menjadi-jadi. Allena juga lebih menjadi anak yang tak peduli dengan keadaan apapun apa lagi terhadap orang lain.
Terhadap kedua orang tuanya pun Allena selalu bersikap datar dan tidak peduli. Kadang juga Allena suka melawan jika Papah Robert sudah menasihati dirinya.
Dan mengingat semua yang terjadi pada Allena selama ini membuat Mommy Tiara menjadi merasa bersalah dan merasa gagal menjadi Ibu untuk Allena.
Apa lagi tuntutan pekerjaan membuat hubungannya dengan Allena menjadi lebih jauh lagi. Mommy Tiara terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga tak ada waktu dengan Allena. Begitu pula dengan Papah Robert yang sama-sama sibuknya mereka berdua dengan pekerjaan.
"Yasudah kalau gitu Mommy keluar sekarang ya Sayang. Dimakan makanannya, Mommy nggak mau kamu sakit karna nggak makan". Mommy Tiara mengelus lembut puncak kepala anaknya sebentar, lalu berjalan pergi dari sana.
Allena melirik ke arah makanan yang dibawa oleh Mommynya tadi. Tidak berselang lama Allena mendekati meja yang terdapat makanan itu, lalu mulai menyantapnya dengan tenang dan hikmat. Bagaimana pun yang namanya lapar itu harus makan, kalau nggak makan ya meninggoy😅😅
...******...
Keesokan harinya di sekolah terlihat Allena yang berjalan keluar kelas.
Tessa yang melihat Allena pergi seketika menghela nafas panjang lalu mengehebuskannya kasar.
__ADS_1
BRUK!
Kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja, memasang tampang memelas.
"Yaudah si Sa, minta maaf kalau gitu lo sama Allena". Ucap Gamma.
"Ya itu masalahnya, gue mau minta maaf sama Allena tapi dia kaya marah banget sama gue". Sahut Tessa memelas.
Ya Tessa tau dia salah. Tak seharusnya dia menampar Allena begitu saja. Tapi tangannya memang tidak bisa diajak berkompromi, suka sekali menampar orang. Lama-lama dia bisa potong saja tangan lucknutnya itu.
"Lo juga sih pake acara nampar Allena segala. Ngapain juga lo harus nampar Allena, cuman karna gara-gara dia tau lo suka sama Louis. Nggak segitunya juga kali paniknya ampe nampar orang segala. Allena lagi". Cetus Gamma.
"Ihh Gamma diem aja deh lo kalau gitu. Lo nggak ngebantuin gue sama sekali tau nggak". Cetus Tessa yang kesal pada sepupu satunya itu. Bukannya bantuin malah ngatain. Kan jadi makin kesel.
Sedang Allena terus berjalan tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
Saat Allena melewati kelas kosong, tak sengaja dia mendengar suara samar-samar dari dalam kelas kosong itu.
Awalnya Allena tak peduli, tapi sesaat dia seperti mengenali suara yang berasal dari dalam sana.
Allena kemudian berbalik dan mencoba ingin melihat siapa saja yang ada di dalam kelas kosong itu.
BRAK!
Pintu terbuka lebar karena Allena mendorongnya dengan keras. Dan tampaklah di hadapannya saat ini Regina dengan ketiga temannya juga ada Zoya yang sudah tersungkur ke lantai.
"Eh, ngapain lo disini? Pergi sana!". Usir Regina pada Allena yang sedang memperhatikan mereka semua.
"Harusnya gua yang nanya. Ngapain lu pada?". Tanya Allena dengan ekspresi dingin. Sangat dingin. Atmosfer dalam ruangan itu seketika berubah saat Allena menatap mereka semua dari ambang pintu.
"Bukan urusan lo! Mending lo pergi sana! Ini sama sekali nggak ada urusannya dengan lo". Ucap Regina ketus.
Allena tak membalas. Mata hazelnya menatap dingin ke arah Zoya yang terlihat berantakan. Rambutnya sudah berantakan seperti kena jambak. Pandangan mereka sekilas bertemu, tapi Allena langsung mengalihkan pandangannya seolah tak peduli.
Ketika Allena berbalik ingin pergi, tiba-tiba saja Aziel muncul entah dari mana dan langsung menerobos masuk ke dalam kelas kosong itu, menghampiri Zoya yang masih di lantai.
Allena yang awalnya berniat ingin pergi seketika mengurungkan niatnya. Gadis itu kembali berbalik ingin melihat apa yang terjadi. Dengan ekspresi datarnya Allena memandangi Aziel yang sedang membantu Zoya berdiri dari lantai.
"Lu apain Zoya ha?". Bentak Aziel ke arah Regina.
"EL, gue tadi cuman...
"Kalian semua apain Zoya?". Bentak Aziel lagi ke arah teman-temannya Regina.
"Dengerin penjelasan gue dulu EL, tadi itu kita cuman...
"Cuman apa?". Sentaknya menatap tajam Regina, "Cuman lu bilang? Zoya sampai nggak bisa jalan gini lu bilang cuman. Otak lu dimana ha?". Bentaknya.
"Dia itu bohong. Itu akal-akalan dia aja sok-sokan nggak bisa jalan. Dia itu mau cari perhatian sama lo EL". Cetus Regina.
"Diem bang*sat! Orang kaya lu harusnya nggak ada di dunia ini". Bentak Aziel lagi semakin marah karena omongan Regina.
Kemudian beralih pada Zoya, "Lu nggak papa?
Zoya menggeleng lemah, "Zoya nggak papa Kak.
"Kita pergi dari sini". Lalu menggendong Zoya ala bride style dan mulai melangkahkan kakinya.
Saat tiba di samping Allena yang masih berdiri di ambang pintu Aziel berhenti, "Kenapa lu diem aja dari tadi? Kenapa nggak nolongin?". Ucap Aziel tanpa menoleh ke arah Allena, tatapannya tetap ke depan seolah tak berniat melihat Allena.
Sedang Allena hanya diam berdiri di tempatnya dan juga tak menoleh ke arah Aziel. Posisinya mereka berbalik berlawanan arah. Allena menghadap kelas kosong itu yang masih ada Regina dan teman-temannya di dalam sana, sedang Aziel menghadap luar dengan menggendong Zoya.
Sedetik kemudian Allena berbalik dan langsung pergi dari sana tanpa berkata apapun.
Aziel yang melihat Allena pergi hanya memandangi punggung gadis itu yang mulai menjauh dengan perasaan tak menentu.
"Kak EL gob*lok banget sih. Kenapa nggak disusul Kak Allenanya?". Celoteh Zoya di gendongan Aziel.
"Buat apa?". Imbuh Aziel datar dan mulai melangkahkan kakinya.
"Pake nanya lagi, ya disusul lah Kak Allenanya. Ini kan kesempatan buat Kak EL supaya bisa baikan lagi sama Kak Allena". Cetus Zoya yang mulai kesal. Padahalkan ini kesempatan bagus buat Aziel bisa bicara lagi sama Allena.
"Nggak usah". Sahut Aziel.
"Loh kenapa?
"Nggak usah banyak nanya. Lu itu masih bocah, jadi nggak usah ikut campur sama urusan Kakak. Mending lu diem aja sekolah yang bener. Biar si Brayen itu nggak marah sama Kakak". Omel Aziel.
"Jadi menurut Kak EL, Zoya nyusahin gitu?". Cetus Zoya yang sudah memasang tampang cemberutnya.
"Ya iyalah, pake nanya lagi. Kalau bukan karna Brayen ngapain juga gua susah-susah ngejagain elu. Ngerepotin banget tau nggak". Celoteh Aziel.
"Iihh Kak EL nyebelin tau nggak. Pantas aja Kak Allena nggak mau sama Kak EL. Orang Kak EL nyebelin kaya gini". Ucap Zoya mencebik.
"Udah diem diem! Mau Kakak jatohin disini sekarang!
__ADS_1