Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 149 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Dan saat ini mereka semua telah berada di salah satu rumah sakit yang dimana keluarga Albern merupakan pengelola terbesar di rumah sakit itu.


Segera Louis membaringkan Allena ke atas brankar rumah sakit dan langsung di dorong oleh para petugas di rumah sakit itu.


"Mohon untuk para pengunjung lebih baik menunggu di luar ya". Ucap salah satu perawat yang ikut mendorong brankar yang ditempati Allena.


"Tapi saya mau lihat tunangan saya Mbak". Ucap Louis yang ingin menerobos.


"Tidak bisa Mas, mohon untuk Masnya menunggu di luar saja ya". Ucap perawat tadi dan langsung menutup pintu ruangan.


Sementara itu terlihat Mommy Tiara yang sedang ditenangkan oleh Tessa dan juga Airin.


Sedang Alvian memastikan dirinya untuk tetap berada didekat Zee. Pria itu takut, bisa saja Zee kambuh di saat-saat seperti ini.


"Tidak apa-apa Alvian, saya benar-benar tidak apa-apa. Kamu tidak perlu selalu menjaga saya seperti ini kan". Ucap Zee pada Alvian yang duduk di sampingnya.


Mereka semua saat ini memang sedang berada di depan ruangan Allena.


Tidak berapa lama Papah Robert datang bersama beberapa anak buahnya. Airin dan Tessa yang melihat Papah Robert datang segera menyingkir untuk membiarkan Papah Robert duduk di samping Mommy Tiara.


"Ada apa Mah? Kenapa Allena?". Tanya Papah Robert sembari menenangkan istrinya yang mulai menangis.


"Pah, Allena Pah, Allena". Cicit Mommy Tiara yang menangis.


"Iya Mah, Mamah yang tenang ya". Ucap Papah Robert sambil mengusap-usap punggung Mommy Tiara agar lebih tenang.


"Gimana Mamah bisa tenang sih Pah? Allena sekarang ada di dalam, dan kita nggak tau sekarang keadaannya kaya gimana". Desis Mommy Tiara yang terus menangis.


Papah Robert berhenti berbicara. Dia juga tidak tau harus berbuat apa sekarang. Papah Robert tak mengira Allena bisa sampai masuk rumah sakit saat ini.


Pasalnya selama ini juga Papah Robert melihat Allena selalu bersikap biasa-biasa saja, tidak ada gerakan yang mencurigakan dari anaknya itu.


Selama ini Papah Robert memang mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menjaga dan mengawasi Allena tapi itu juga dari kejauhan. Papah Robert juga melakukan itu agar Allena tidak terganggu dengan keberadaan anak buahnya. Apa lagi setelah Allena mempunyai teman, Papah Robert jadi tidak lebih membatasi Allena lagi karena melihat Allena begitu bahagia bersama teman-temannya.


Setidaknya dengan teman-temannya itu Allena jadi tidak kesepian karena dirinya dan Mommy Tiara terus bekerja setiap hari. Sebenarnya Papah Robert sudah melarang Mommy Tiara untuk bekerja agar bisa lebih banyak waktu dengan Allena. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Hubungan mereka berdua dengan Allena anak mereka sudah jauh dan sangat tidak seakrab dulu. Allena selalu menjauh dari mereka berdua padahal mereka tinggal bersama. Allena juga selalu mengasingkan diri dengan mereka berdua sehingga menciptakan jarak yang begitu jauh antara kedua orang tua dan anak.


"Mamah tunggu disini. Papah mau telfon orang dulu". Ucap Papah Robert seketika.


"Iya Pah". Sahut Mommy Tiara tersedu.


Papah Robert kemudian beranjak berdiri dan menjauh dari keramaian.


"Halo!". Seru Papah Robert dengan aura dingin dan juga tegas.


"......"


"Saya punya tugas untuk kamu". Ucap Papah Robert kepada orang di sebrang telepon.


Sementara itu di depan ruangan Allena yang sedang ditangani terlihat semua orang menunggu dengan harap-harap cemas.


Tidak lama pintu ruangan terbuka dan keluarlah seorang Dokter pria bersamaan dengan Papah Robert yang sudah selesai berbicara dengan orang suruhannya.


"Dok gimana keadaan anak saya Dok? Anak saya tidak kenapa-napa kan Dok?". Tanya Mommy Tiara yang kembali menangis.


"Gimana keadaan anak saya Dokter?". Tanya Papah Robert yang ikut khawatir.


Dokter itu terlihat diam, bingung harus menjelaskan seperti apa kepada kedua orang di hadapannya itu yang diketahuinya adalah keluarga Albern pengelola terbesar di rumah sakit tempat kerjanya sekarang ini.


Dokter itu kemudian menghembuskan nafasnya gusar.


"Ada apa Dok? Anak saya tidak kenapa-napa kan Dok? Kenapa Dokter diam saja dari tadi. Cepat dijawab Dokter!". Papah Robert mulai tak sabaran. Dokter di hadapannya itu terlalu lama menurutnya.


Dokter itu menatap kedua orang tua Allena dengan tatapan merasa bersalah, "Maaf Tuan, Nyonya, lebih baik Tuan dan Nyonya langsung lihat ke dalam saja. Saya bingung harus menjelaskannya bagaimana". Ucap Dokter itu.


Segera Papah Robert dan Mommy Tiara masuk ke dalam ruangan setelah mendengar yang dikatakan Dokter itu.

__ADS_1


"Kalian kalau mau masuk juga silahkan masuk". Ucap Dokter mengizinkan yang lainnya juga ikut masuk ke dalam.


Segera keenam orang itu ikut masuk ke dalam ruangan dengan perasaan yang begitu khawatir. Takut dengan apa yang ada dipikiran mereka benar-benar terjadi.


Saat Papah Robert dan Mommy Tiara masuk ke dalam ruangan itu, mereka melihat tubuh Allena anak mereka yang masih terbaring di atas brankar tapi tidak ada alat rumah sakit apapun yang terpasang di tubuh gadis itu. Tubuh Allena pun terlihat sangat pucat, benar-benar pucat.


"Ada apa Dok? Kenapa dengan anak saya? Kenapa tidak ada satu pun alat yang menunjang di badan anak saya? Dia tidak kenapa-napa kan Dok?". Dengan air mata yang terus mengalir Mommy Tiara menangis di pelukan suaminya.


"Pah Allena Pah, anak kita. Dia tidak kenapa-napa kan Pah?". Cicit Mommy Tiara dengan terus menangis.


"Dokter kenapa dengan anak saya? Kenapa anak saya seperti ini?". Tanya Papah Robert ke arah Dokter sambil berusaha menenangkan istrinya.


Dokter itu diam, seolah bingung harus menjelaskannya bagaimana.


"JAWAB DOKTER! KENAPA DIAM SAJA DARI TADI?". Bentak Papah Robert yang langsung membuat seisi ruangan itu riuh seketika.


Dokter memandangi mereka semua yang ada disana terlihat begitu sangat cemas. Tapi Dokter harus menyampaikan kenyataan yang terjadi dan Dokter berharap mereka semua menerimanya dengan lapang dada.


"Sebelumnya saya mohon maaf untuk Tuan dan Nyonya karna harus menyampaikan ini, tapi...


"Ada apa Dok? Kenapa dengan anak saya?". Cicit Papah Robert yang mulai memikirkan bahwa sudah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada anaknya itu. Itu tidak mungkin terjadi kan?


Dokter sekali lagi menghembuskan nafasnya kasar. Dia harus menyampaikan ini.


"Maaf Tuan Nyonya, tapi... Nona Allena sudah tidak ada, Nona Allena sudah meninggal". Ucap Dokter itu.


DEG!


Semua yang ada disitu seketika terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dokter. Allena meninggal? Benarkah itu? Tidak mungkin kan?


"Pah?". Mommy Tiara mendongak ke arah Papah Robert dengan berlinang air mata, "Itu nggak mungkin kan Pah? Allena nggak mungkin meninggal kan? Anak kita nggak mungkin meninggal kan Pah?


Papah Robert terdiam menatap istrinya yang menangis. Masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dokter tadi.


"Mohon maaf Nyonya, tapi itu memang adanya. Nona Allena sudah meninggal". Ucap Dokter itu yang ikut merasa sedih.


Sedang Papah Robert sudah menarik kerah baju Dokter tadi memberikan tatapan tajam dan mata yang memerah menahan tangis, "Katakan Dokter! Kenapa anak saya bisa meninggal? Apa yang kalian kerjakan sedari tadi sehingga anak saya bisa meninggal seperti itu". Bentak Papah Robert.


"M-ma-maaf Tuan! Ta-ta-tapi saat Nona Allena diantarkan kesini, Nona Allena memang sudah meninggal". Terang Dokter itu terbata karena takut.


Papah Robert seketika melepaskan cengkramannya di kerah baju yang dikenakan Dokter itu dan langsung menoleh ke arah brankar yang ditempati anaknya. Segera Papah Robert berjalan cepat dan juga ikut memeluk tubuh jasad Allena dan ikut menangis bersama Mommy Tiara.


"Allena anak Papah! Kenapa jadi seperti ini ini Nak? Kenapa kamu cepat tinggalin Papah sama Mamah? Papah mau minta maaf sama kamu. Ini semua memang salah Papah". Cicit Papah Robert yang ikut menangis sambil memeluk jasad anaknya.


Sementara mereka yang ada disana, Airin, "Nggak, nggak mungkin, ini nggak mungkin kan". Desis Airin yang perlahan mundur ke belakang dengan air mata yang mulai keluar, "Allena nggak mungkin meninggalkan? Itu nggak mungkin". Badannya luruh ke bawah dengan tangis yang pecah.


Tessa dan Zee yang melihat itu segera menghampiri Airin dengan ikut menangis. Ketiganya saling berpelukan setelah mengetahui sahabat mereka meninggal. Tidak tau kenapa Zee merasa ikut kehilangan Allena. Apalagi Allena meninggal disaat hubungan persahabatan mereka sedang tidak baik-baiknya.


Mereka berniat untuk meminta maaf dan ingin memulai kembali persahabatan kembali dengan Allena. Tapi yang mereka dapatkan malah berita palik buruk. Allena sudah tidak ada. Allena meninggal. Sahabat mereka sudah pergi dan tidak akan kembali lagi.


Sedang Gamma dan Alvian hanya diam berdiri di tempat mereka sambil memandangi Allena yang sudah tidak ada lagi. Mereka kehilangan satu-satunya sahabat cewek mereka dalam keadaan seperti ini. Sungguh rasa penyesalan di diri mereka tidak bisa terbendung lagi. Padahal mereka senang sekali bisa bersahabat dengan Allena.


Louis? Ah entah apa yang dipikirkan Louis. Cowok itu hanya diam sembari menatap Allena yang terbaring di atas brankar dengan semua pikiran yang terlintas dibenaknya. Cewek yang dicintainya sudah tidak ada lagi. Cewek yang paling disayanginya sudah meninggal. Benar-benar sesuatu yang paling-paling buruk bagi Louis.


Semua orang di ruangan itu merasakan kehilangan seorang Allena. Dengan suara tangisan yang memenuhi ruangan mereka semua menumpahkan kesedihan mereka masing-masing.


"Kenapa Dok? Kenapa dengan anak saya? Kenapa anak saya bisa meninggal seperti ini?". Tanya Papah Robert menoleh ke arah Dokter dengan berusaha tegar. Meskipun kenyataannya Papah Robert tidak terima harus kehilangan Putri kesayangannya.


"Begini Tuan, saya masih belum bisa terlalu memastikan. Tapi dari yang saya lakukan pemeriksaan tadi Nona Allena mengidam penyakit jantung, dan sudah mencapai fase akhir". Terang Dokter dengan hati-hati.


DEG!


Semua yang ada disana kembali terkejut dengan yang dikatakan Dokter itu.


Allena punya penyakit jantung? Dan tidak ada satupun orang yang tau diantara mereka. Jadi selama ini Allena menyembunyikan penyakitnya dan tidak pernah memberi tahukan kepada siapa pun tentang penyakit yang diidamnya. Tiada satu pun orang yang tau termasuk orang tuanya sekali pun.

__ADS_1


Wahh mereka pantas harus terkejut dengan itu. Allena benar-benar hebat menyembunyikan penyakit yang dideritanya selama ini.


"Dan juga...


"Dan juga apa Dok?". Kali ini Louis yang berbicara. Apa lagi yang harus didengarkannya kali ini. Apalagi yang sudah disembunyikan oleh Allena kepada mereka semua.


"Dan juga karena penyakit jantung yang diderita oleh Nona Allena, Nona Allena mengalami lumpuh total. Saya memang masih belum bisa memastikan, tapi karena efek penyakit jantung yang sudah sampai dalam fase akhir, Nona Allena mengalami gejala penyakit lain, tapi saya belum tau penyakit apa saja itu. Hanya saja kelumpuhan yang dialami Nona Allena merupakan efek dari penyakit jantung yang diderita oleh Nona Allena". Terang Dokter itu lagi.


Lagi dan lagi. Mereka harus mendengar kenyataan pahit soal Allena. Kenyataan pahit kenapa Allena bisa meninggal seperti ini. Semuanya terlalu menyakitkan bagi mereka semua.


Allena meninggalkan mereka semua dalam keadaan merasa bersalah yang begitu besar.


"ALLENA MAAFIN MOMMY SAYANG! JANGAN TINGGALIN MOMMY!". Teriak Mommy Terus menangis histeris sembari memeluk tubuh anaknya.


Karena lelah terus menangis dan baru mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, seketika Mommy Tiara jatuh pingsan. Segera Papah Robert dan Louis mengangkat Mommy Tiara, membawanya ke arah sofa di sudut ruangan.


Louis melirik ke arah brankar yang ditempati Allena, lalu melangkahkan kakinya ingin mendekat. Tapi tiba-tiba saja...


BRAKK!!


Seorang cowok muncul dari ambang pintu dan terjatuh sampai menabrak pintu ruangan yang ditempati Allena saat ini.


Di belakang cowok itu ada Alexa dan juga Brayen yang ternyata ikut datang ke rumah sakit.


Cowok yang terjatuh tadi segera bangkit dan berjalan masuk ke dalam dengan kondisi yang acak-acakan dan juga mata yang memerah. Netra matanya menangkap sosok Allena yang terbaring di atas brankar. Gadis yang sangat dicintainya tengah berbaring disana.


"ALLENA!". Gumam cowok itu sembari berjalan perlahan, "A-Al-Allena.. Allena kenapa? Allena kenapa ha?". Ucap cowok itu dengan bibir yang bergetar dan terus berjalan sembari menatap Allena yang terbaring di atas brankar.


"Bos!". Panggil Gamma saat melihat ternyata itu adalah Aziel.


"A-Allena kenapa? Allena kenapa ha?". Desis Aziel bertanya ke arah Gamma.


"Allena...


"Allena kenapa?


"ALLENA MENINGGAL!". Bukan Gamma yang menjawab, melainkan Louis dengan tatapan datarnya menatap Aziel.


Seketika jantung Aziel berpacu dengan cepat kala mendengar ucapan Louis yang mengatakan bahwa Allena meninggal. Matanya membulat sempurna.


Dengan perlahan dan tubuh yang gemetar, Aziel mendekati brankar yang ditempati Allena, berdiri di samping brankar dengan menyebut nama Allena.


"Allena!". Desis Aziel dengan terus memandangi Allena yang berbaring, "Allena!


Seketika Aziel luruh ke bawah bertopang dengan kedua lututnya, "Allena!". Desisnya.


Aziel menunduk, mencengkram kepalanya dengan kuat, "AAAKKHHH... BODOH BODOH LU BODOH AZIEL! LU BENER-BENER BODOH!". Teriak Aziel memukul-mukul kepalanya.


Mereka yang melihat itu hanya membiarkan apa yang dilakukan Aziel. Mereka tau Aziel pasti sangat hancur saat ini.


Aziel beranjak, lalu mendekati jasad Allena, "Allena! Allena! Bangun sayang! Ini gua, ini gua Aziel! Gua udah datang kesini buat lu! Bangun ya bangun! Bangun Allena!". Desis Aziel masih tenang namun air mata mulai keluar membasahi pipinya.


Aziel duduk di atas brankar lalu meraih tubuh mati itu, "Allena bangun sayang! Jangan kaya gini! Jangan tinggalin gua kaya gini! Bangun ya gua mohon! Gua udah ada disini Allen, tolong bangun!". Desis Aziel lagi yang sudah menempelkan dahinya dengan dahi Allena, sehingga air matanya jatuh tepat mengenai pipi putih pucat milik Allena.


"Allena! Len! Allena! Allen!". Aziel memangil nama Allena, memandangi wajah tenang yang pucat itu.


Aziel kemudian kembali menangis, dan langsung memeluk tubuh Allena dengan erat.


"ALLENA MAAFIN GUA, IYA MAAFIN GUA, GUA YANG SALAH! TAPI JANGAN TINGGALIN GUA KAYA GINI! GUA MINTA MAAF! BANGUN! BANGUN!". Teriak Aziel yang terus menangis histeris sambil terus memeluk erat tubuh Allena.


Ingin sekali rasanya Aziel merutuki dirinya, merutuki semua kebodohannya. Kenapa disaat Allena membutuhkan dirinya dia malah menjauhi Allena. Kenapa disaat dia membuat kesalahan dia tidak berusaha mencoba menjelaskan pada Allena meskipun itu hanya sebuah kesalah pahaman.


Harusnya dia mencoba lebih banyak lagi bukan malah ikut-ikutan menjauhi Allena dan ikut-ikutan memutuskan hubungan dengan Allena.


Hingga akhirnya dia benar-benar kehilangan Allena untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi Allena dalam hidupnya. Gadis yang paling disayangi dan sangat dicintai olehnya. Tapi dia harus kehilangan gadis itu dengan cara seperti ini.

__ADS_1


"HIKS.. ALLENA GUA MINTA MAAF! JANGAN PERGI!



__ADS_2