Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 125 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Sementara itu saat ini Aziel, Allena dan lainnya sudah tiba di parkiran restoran.


Saat di mansion tadi Papah Robert memang mengizinkan Allena untuk keluar bersama mereka malam ini tapi dengan syarat Louis harus ikut bersama mereka.


Hingga berakhirlah mereka semua berangkat bersama dengan menggunakan mobil Allena juga mobil Aziel yang mereka tumpangi tadi.


"Ngapain kita kesini?". Tanya Allena pada Aziel saat sudah di parkiran.


"Entar juga lu tau". Sahut Aziel, "Yaudah kita masuk sekarang!". Aziel dan Allena kemudian berjalan berdampingan.


Sementara di belakang sana Louis hanya memandangi interaksi kedua orang itu dengan tatapan datarnya.


Namun baru beberapa langkah tiba-tiba ponsel Aziel berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Aziel langsung berhenti kemudian merogoh ponselnya di saku jaket kulitnya, menerima panggilan telepon yang ternyata dari salah satu anak buahnya.


"Halo!". Seru Aziel.


"......"


"Apa? Lu coba ngomong yang bener!". Sentak Aziel tiba-tiba setelah mendegar berita yang disampaikan anak buahnya dari sebrang telepon sana.


Sontak mereka semua langsung ikut berhenti dan terdiam ketika mendegar sentakan Aziel itu.


Raut wajah Aziel seketika berubah sembari menatap Allena yang ada di sampingnya dengan ponsel yang masih ditempelkan di telinga sebelah kanannya.


"Ada apa?". Tanya Allena langsung, mendapati raut wajah Aziel yang terlihat syok.


"Zee kecelakaan". Jawab Aziel cepat sembari menatap mereka bergantian.


Membuat mereka semua yang ada disana langsung kaget dan syok mendengar ucapan Aziel barusan.


"Maksud lo apa?". Kali ini Alvian yang bertanya dengan tatapan tak percaya.


Allena yang tadi masih diam langsung menarik lengan Aziel.


"Antarin gua ke sana sekarang!". Sentak Allena menarik Aziel menuju mobilnya.


"Cepat Aziel!". Sentak Allena lagi saat mereka sudah berada dalam mobil Aziel.


"Iya". Sahut Aziel dan dengan cepat menjalankan mobilnya menuju rumah sakit yang diberi tahukan oleh salah satu anak buahnya saat di telepon tadi.


Sementara yang lainnya segera mengambil kendaraan masing-masing dan mengikuti mobil Aziel dari belakang.


...******...


Dan saat ini mereka semua telah sampai disalah satu rumah sakit yang ada di kota tersebut.


Tanpa basa-basi dengan cepat Allena langsung keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit diikuti yang lainnya.


Nampak dari wajah mereka terlihat mencemaskan keadaan Zee saat ini.


Aziel terlebih dahulu menanyakan kepada resepsionis rumah sakit dimana saat ini Zee ditangani.


Setelah mengetahuinya segera mereka semua menuju ruangan tersebut.


Saat mereka tiba disana, ternyata sudah ada anak geng Alcandor juga Setya yang menunggu di depan pintu ruangan Zee yang saat ini sedang ditangani pihak rumah sakit.


"Gimana keadaan Ziva?". Allena bertanya ke arah geng Alcandor yang terlihat diam saja saat ditanyai oleh Allena.


"Cewek itu lagi ditangani sama dokter di dalam". Jawab Gabriel.


Segera Allena menuju pintu ruangan berusaha untuk melihat keadaan dari balik kaca pintu. Terlihat raut kekhawatiran di wajah gadis itu.


Sementara itu...


"Ya!". Panggil Aziel ke arah Setya yang tengah duduk di kursi dengan menundukan kepalanya, "Kenapa bisa kaya gini Ya?". Tanya Aziel kemudian.


Setya mendongak dan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Aziel. Wajah Setya terlihat pucat, bibirnya keluh tidak tau mau jawab apa.


Alvian tiba-tiba saja menghampiri Setya dan langsung menarik kerah jaket yang dikenakan oleh Setya sampai membuatnya berdiri dari kursinya.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan gue, kenapa Zee bisa sampai kaya gitu? Kenapa Zee bisa sampai kecelakaan?". Sentak Alvian di hadapan Setya. Kilatan kemarahan di wajah Alvian kini sangat jelas menatap Setya.


Sedang Setya tidak menjawab dan tetap diam menunduk.


"Jawab sialan!". Alvian langsung memberikan bogeman mentah di wajah Setya hingga membuatnya jatuh tersungkur.


Anak geng Alcandor yang ingin menolong langsung tidak jadi menolong saat Aziel memberi kode untuk tidak ikut campur.


Sedang Alvian kembali menarik kerah jaket Setya ke arahnya, "Kenapa bisa sampai lo biarin Zee kecelakaan? Kenapa ha? Kenapa?". Alvian kembali memberikan bogeman mentah di wajah Setya. Hingga darah mulai mengalir di sudut bibir pria itu.


Setya langsung menendang perut Alvian agar menjauh darinya hingga membuat Alvian menabrak tembok di belakangnya.


"Gue nggak tau kalau kejadiannya bisa kaya gini. Gue nggak tau kalau Zee bisa sampai kecelakaan". Sentak Setya membalas.


Alvian yang mendengar berdecak sinis, "Heh nggak tau?Lo bilang nggak tau? Jelas-jelas Zee pergi bareng lo tadi. Dan lo bilang nggak tau?". Alvian kembali mendekati Setya, "Emang sialan lo!". Alvian kembali memukul Setya dengan membabi buta.


Mereka yang ada disana kemudian dengan cepat berusaha melerai keduanya yang saat ini bertengkar.


"Sialan lo emang! Kalau lo emang nggak suka sama Zee, lo harusnya nggak biarin Zee sampai kecelakaan juga anji*ng! Bang*sat lo se*tan!". Maki Alvian yang berusaha memberontak dicekalan anak-anak Alcandor lainnya yang menahan.


Sementara Setya berhenti memberontak dicekalan beberapa anak geng Alcandor. Dia tau ini salahnya. Gara-gara dia Zee sampai kecelakaan dan berakhir di rumah sakit sekarang ini. Entah apa yang terjadi pada Zee di dalam sana.


Tapi yang harus kalian ketahui Setya benar-benar tak mengangka akan berakhir seperti ini. Setya tak menyangka Zee akan mengalami kecelakaan hanya karena ingin menghampirinya saat dia sedang berkumpul dengan se-geng motornya.


Jika saja waktu bisa diulang, Setya tak akan membiarkan Zee menyusulnya. Dia harusnya ikut masuk bersama Zee saat di toko tadi. Dia harusnya membantu Zee bukan malah membiarkan Zee sendiri dan meninggalkannya untuk bertemu dengan teman-teman se-gengnya. Hingga akhirnya Zee berakhir dengan kecelakaan yang sangat parah.


Mengingat Zee berbaring di jalanan dengan tubuh tak berdaya tak sadarkan diri juga darah yang terus keluar tanpa henti membuat Setya merutuki dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya yang membiarkan Zee menyusulnya di saat jalanan sedang padat-padatnya dengan kendaraan yang berlalu lalang, sehingga Zee mengalami tabrakan maut yang begitu parah.


"Oh jadi lu?". Seru Allena tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah Setya, "Jadi lu yang buat Ziva kecelakaan ha?". Allena menghampiri Setya sembari menunjuk pria itu dengan telunjuknya.


Allena langsung menarik jaket kulit Setya, "Emang breng*sek lu!". Maki Allena di hadapan Setya semakin mencengkram kuat jaket yang dikenakan Setya.


"Salah Ziva apa ama lu sialan, ha! Salah Ziva apa ama lu!. Bentak Allena keras.


"Gue...


"Aakhh diam lu!". Sentak Allena melepaskan cengkramannya, "Sekarang lu pergi dari sini! Pergi!


"Lo nggak denger ha?". Potong Alvian yang masih ditahan, "Pergi lo dari sini! Sebelum gue habisin lo sekarang juga". Umpatnya.


Setya memandang jengkel Alvian, "Gue nggak ngomong sama lo". Sentak Setya, kemudian kembali memandang Allena yang terlihat menatapnya bengis. "Gue nggak akan pergi dari sini. Gue bakalan tetap disini sampai...


"Gua bilang pergi! Nggak ada yang butuhin lu disini". Bentak Allena cepat, "Pergi lu sana! Jangan pernah lu tunjukin muka lu disini!


"Tapi Len gue...


"Pergi gua bilang!


"Nggak, nggak akan! Gue mohon sama lo Len. Gue cuman mau ada disini sampai Zee sadar. Sampai gue tau kalau Zee nggak kenapa-napa. Udah itu aja! Jadi biarin gue disini ya. Gue mohon banget sama lo!". Desis Setya yang terlihat frustasi.


"Nggak kenapa-napa lu bilang? Enteng banget lu ngomong kaya gitu nggak kenapa-napa". Allena kemudian mendorong Setya, "Udah, sekarang lu pergi dari sini! Pergi lu! Pergi gua bilang!". Allena terus mendorong-dorong Setya agar beranjak dari tempatnya.


Aziel yang melihat itu segera menahan Allena, "Udah Allen, udah! Lu jangan marah-marah terus". Ucap Aziel.


"Gimana gua nggak marah ha? Dia yang udah buat Ziva sahabat gua sampai masuk rumah sakit sekarang". Sentak Allena.


"Iya Len, gua tau. Tapi lu nggak usah marah-marah juga kan. Ini rumah sakit loh". Aziel berusaha menenangkan Allena yang terlihat emosi.


"Jadi lu ngebela dia, iya?". Sentak Allena, "Lu ngebela dia ha?


"Astaga bukan gitu Allen, gua cuman...


"Bukan gitu gimana maksud lu?". Bentak Allena.


Mendapati Allena yang terlihat berbalut emosi, Aziel hanya bisa menghela nafasnya. Dia harus bisa menenangkan Allena. Dia juga tidak boleh emosi. Bagaimanapun semua yang terjadi ada sangkut pautnya dengan sepupunya, Setya.


"Yaudah tunggu bentar. Tenang ya!". Setelah berbicara seperti itu Aziel berjalan menghampiri Setya.


Aziel menepuk pelan pundak Setya, "Ya, mending sekarang lu pergi dulu dari sini. Lu ngertikan sekarang suasananya lagi nggak memungkinkan". Aziel berusaha berbicara setenang mungkin.

__ADS_1


"Tapi EL, gue...


"Setya...!". Aziel langsung memberikan tatapan mengintimidasi pada Setya.


Setya yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Beberapa detik kemudian Setya berbalik dan berjalan ingin pergi dari sana. Mungkin memang keberadaannya tidak dibutuhkan. Melihat suasana begitu menegangkan.


"Tunggu!". Seru Allena tiba-tiba membuat Setya kembali berbalik.


Terlihat Allena menghampiri Setya dengan tatapan dinginnya, lalu menarik jaket Setya, "Kalau sampai sahabat gua kenapa-napa, habis lu ama gua. Ingat itu!". Kemudian mendorong Setya.


"Pergi lu sana!". Usir Allena kemudian.


Setya hanya diam, kemudian bergegas pergi dari sana diikuti anak geng Alcandor yang diperintahkan oleh Aziel untuk menyusul Setya.


"Tenang Allen, jangan marah-marah terus". Aziel yang sudah menghampiri Allena merangkul gadis itu, mengelus-elus belakang punggungnya dengan lembut.


Terdengar hembusan nafas pelan dari Allena, "Kalau sampai Ziva kenapa-napa gimana?". Allena kemudian mendongak menatap Aziel dengan tatapan sendunya.


"Jangan nangis! Gua nggak bisa lihat lu nangis Allen".Desis Aziel membalas tatapan Allena.


Allena menghadap Aziel dengan menundukan kepalanya mencoba menahan matanya yang sudah berkaca-kaca. Sedang Aziel seberusaha mungkin menenangkan Allena dengan terus mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


"Yaudah lu duduk dulu!". Aziel kemudian mengajak Allena untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan Zee.


Sementara Louis yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa memperhatikan dengan tatapan datarnya tanpa ikut campur apapun.


Mereka semua kemudian mencoba untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan lagi sembari menunggu di depan ruangan tempat Zee yang saat ini masih ditangani.


Tidak berapa lama datang seorang wanita paru bayah namun masih terlihat begitu cantik dan modis dengan ditemani tiga pria yang ketiganya berpakaian serba hitam. Bodygoard!!


"Tante Yuna!". Seru Tessa ke arah wanita paru bayah itu.


"Tessa!". Sahut Tante Yuna seraya menghampiri Tessa, "Gimana keadaan anak Tante, Nak?". Tante Yuna ternyata adalah Mamahnya Zee. Terlihat aura kekhawatiran di wajah beliau.


"Zee masih ditangani sama dokter di dalam Tante. Tante yang tenang ya". Tessa berusaha menenangkan Tante Yuna yang terlihat sangat khawatir.


Bagaimana tidak? Saat ini anaknya sedang berada di dalam sebuah ruangan rumah sakit dengan keadaan yang begitu tidak baik.


Tadi Tessa sempat menghubunginya saat masih sedang dalam perjalanan pulang ke mansion, dan mengatakan Zee anaknya mengalami kecelakaan.


Dengan segera Tante Yuna memerintahkan sopir pribadinya untuk menghantarnya ke rumah sakit yang telah diberi tahu oleh Tessa.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu sama anak Tante, Nak? Tante tidak mau kalau sampai anak Tante kenapa-napa". Tante Yuna mulai menangis. Mengingat saat ini hanya dia yang ada di rumah sakit itu. Suaminya juga anak laki-lakinya sedang berada di Jepang untuk mengurusi pekerjaan.


"Tante jangan ngomong kaya gitu Tan! Kita berdoa saja supaya keadaan Zee nggak terlalu parah dan cepat ditangani dengan baik". Tessa mengelus punggung Tante Yuna yang sudah duduk dikursi depan ruangan. Menenangkan Tante Yuna yang terus menangis.


Yang lainnya hanya diam melihat interaksi antara Tessa dan Tante Yuna yang merupakan Mamahnya Zee. Mereka sama khawatirnya dengan Tante Yuna. Khawatir jika sampai keadaan Zee tidak baik-baik saja dan tidak bisa diselamatkan( Waduhh! Jangan sampai woyy😣😣😣)


...******...


Hingga hampir tiga jam menunggu, pintu ruangan yang ditempati Zee mulai terbuka dan seorang dokter pria terlihat keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana Dok? Bagaimana dengan keadaan anak saya?". Tante Yuna dengan tak sabaran menghampiri dokter yang menangani Zee.


"Mohon untuk Ibu yang tenang ya. Jangan sampai membuat keributan disini.


"Saya tidak peduli Dok. Yang saya pedulikan hanya anak saya. Bagaimana dengan anak saya? Bagaimana keadaannya saat ini? Anak saya tidak kenapa-napa kan Dok? Anak saya baik-baik saja kan?". Tante Yuna begitu sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya saat ini. Beliau ingin cepat-cepat mengetahui keadaan anaknya, Zee.


"Begini Bu, tolong untuk tenang terlebih dahulu!". Sahut Dokter berbicara setenang mungkin, "Pasien saat ini masih tidak sadarkan diri. Benturan keras yang terjadi di kepalanya membuat pasien sedang dalam masa kritis saat ini. Tapi Ibu tenang saja, pasien masih bisa kami tangani dengan sebaik mungkin dan masih bisa kami selamatkan". Mendengar penjelasan Dokter membuat mereka yang mendengar itu menghela nafas lega. Setidaknya untuk saat ini Zee masih bisa diselamatkan meskipun masih dalam masa keadaan kritis.


"Kalau begitu saya mau masuk kedalam. Saya mau menjenguk anak saya". Tante Yuna yang ingin masuk ke dalam tiba-tiba terhenti saat Dokter pria itu mencegatnya.


"Mohon maaf Ibu, untuk sekarang pasien masih belum bisa dijenguk. Pasien benar-benar membutuhkan istirahat yang banyak juga penanganan alternatif agar penyembuhan terhadap pasien bisa berjalan dengan baik dan sesuai protokolnya". Jelas Dokter tersebut.


"Terus kapan baru kita bisa menjenguknya Dok?". Kali ini bukan Tante Yuna yang bericara melainkan Allena. Cewek itu tak sabar ingin secepat mungkin mengetahui keadaan sahabatnya itu saat ini.


"Nanti setelah pasien bisa dijenguk baru saya akan memberitahukannya kepada kalian". Ucap Dokter itu, "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, karena masih ada yang harus saya lakukan. Permisi!". Setelah berbicara seperti itu, Dokter yang menangani Zee mulai melangkahkan kakinya.


"Oh iya". Dokter tadi berhenti dan kembali berbalik ke arah mereka semua, "Tolong untuk kalian semua mematuhi aturan dan perkataan saya tadi". Kemudian Dokter tersebut berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana.

__ADS_1



__ADS_2