Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 90 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Lo berdua apa-apaan sih dateng-dateng main marah-marah aja. Gila lo berdua". Balas Hera yang berada didekat Alexa.


"Teman lo itu yang gila. Bisa-bisanya dia mau ngecelakain Allena. Lo ada masalah apa sama Allena sampai segitunya. Sirik lo sama Allena, nggak mampu lo nyaingin Allena, iya?". Ucap Zee yang ikut menimpali dengan wajah garangnya.


"Heh cewe bar-bar, teman lo itu yang terlalu sok gayanya, sok kecantikan tau nggak. Lagian ini masalah Allena sama Alexa, kenapa lo berdua yang pada ribet, ikut campur". Balas Hera yang tak kalah garangnya.


Tessa yang sedari tadi emosi mendekat kearah mereka, "Diem lo". Tessa mendorong keras Hera hingga menjauh. Gadis itu kemudian menarik kerah baju Alexa, "Gue udah curiga dari awal, pasti lo kan yang berniat mau nyelakain Allena, dan kecurigaan gue terbukti". Ucap Tessa menatap tajam Alexa.


Sementara Alexa hanya diam membalas tatapan tajam Tessa padanya.


"Kenapa diem? Udah mulai nggak berani lo". Cibir Tessa masih tetap mencengkram kerah baju Alexa.


Chika dengan segera berusaha melepas cengkraman Tessa dikerah baju Alexa.


"Lepasin Alexa! Bukan dia pelakunya. Dia nggak ngelakuin hal itu sama sekali". Ucap Chika yang masih terlihat tenang.


Tidak lama datang Aziel bersama Allena dan juga Airin.


Segera mereka mendekat kearah keributan itu. Kelas sudah mulai dipenuhi dengan para murid-murid yang menonton kejadian itu.


"Bukan Alexa gimana? Jelas-jelas Kepala Sekolah tadi nyebut nama Alexa yang jadi dalangnya. Nyebut nama lengkap lagi". Ucap Tessa yang masih terlihat emosi.


"Tapi emang bukan Alexa pelakunya, dia difitnah. Alexa pas kejadian itu bareng kita berdua terus, Alexa nggak kemana-mana". Ucap Chika yang mulai greget dengan orang-orang yang terus menyalahkan sahabatnya.


"Difitnah?". Zee mulai berbicara, "Gimana mau difitnah, orang Kepala Sekolah sendiri yang ngomong kok. Masa Kepala Sekolah fitnah muridnya sendiri. Lo mikirnya gimana". Ucap Zee yang tak percaya.


"Oh gue tau, karena si Mak Lampir ini sahabat lo berdua kan makanya lo berdua pada belain dia, atau jangan-jangan lo berdua juga ada sangkut pautnya lagi sama kejadian itu". Celetuk Zee dengan sembarangan.


"Jaga ya omongan lo". Alexa mulai bersuara. Dia tak terima jika kedua sahabatnya ikut disalahkan dalam permasalahan saat ini.


"Kenapa? Bener yang gue omongin?". Balas Zee.


"Masalah ini nggak ada hubungannya sama sekali sama sahabat-sahabat gue. Mereka nggak terlibat sama sekali". Jawab Alexa.


Tessa yang sedari tadi emosi mulai muak dengan Alexa yang mengelak. Tangannya yang sedari tadi berada dikerah baju Alexa mulai naik keleher Alexa dan mencengkramnya.


"Gue muak sama orang-orang kaya lo. Dasar baji*ngan". Umpat Tessa yang sudah tak sabar. Gadis itu dengan segera mendorong Alexa kebelakang hingga ketembok dengan terus mencengkram leher Alexa.


Tessa semakin menekan Alexa ketembok dengan wajah seramnya, "Masih ngelak lo dengan perbuatan lo sama Allena ha". Bentak Tessa.


Murid-murid yang ada disana seketiga kaget dengan apa yang dilakukan oleh Tessa pada Alexa. Perbuatannya diluar batas.


Sahabat-sahabatnya pun ikut kaget atas perbuatan Tessa. Itu terlalu berlebihan bukan.


Allena saja yang melihat itu kaget bukan main. Tessa terlalu berbahaya jika emosi.


"Udah Sa, jangan kaya gitu". Allena berlari kearah kedua wanita itu.


Allena terlihat disusul yang lainnya. Mereka berusaha melepaskan cengkraman Tessa dileher Alexa.


"Ughh ughh.. lep-ppa-hh-ssiin..nn!". Alexa berusaha melepas.


Terlihat Alexa yang hampir kehabisan nafas saking kuatnya Tessa mencengkram lehernya.


"Udah Sa, jangan. Lepasin Alexa". Ucap Allena yang mulai khawatir.


"Orang kaya gini harus dikasih pelajaran tau nggak, biar nggak semena-mena lagi. Gue kasih tau ke lo, jangan pernah ganggu Allena lagi atau lo nggak akan pernah lihat dunia lagi selamanya". Gertak Tessa masih mencengkram leher Alexa.


Suasana semakin menegangkan sekaligus menakutkan dengan Tessa yang terlalu bertindak brutal.


Tiba-tiba Brayen muncul dan langsung menerobos masuk, melepas cengkraman Tessa dari leher Alexa dengan kuat.


Pria itu terlihat berusaha melepas cengkraman Tessa dan langsung mendorong Tessa menjauh dari Alexa.


Alexa langsung ngos-ngosan menarik nafas mencari oksigen. Badannya seketika lemas hilang keseimbangan.


"Lo gila apa". Bentak Brayen menatap tajam kearah Tessa.


Pria itu kemudian beralih kearah Alexa yang sedang dipapah oleh Chika dan Hera. Gadis itu terlihat lemah.

__ADS_1


"Tapi Kak, dia udah mau berbuat jahat sama Allena. Kak Brayen sendiri dengarkan tadi apa kata Kepala Sekolah. Alexa pelakunya". Ucap Tessa masih marah.


"Iya gue tau. Tapi lo juga seharusnya nggak sampai berbuat kaya tadi kan. Kalau lo kaya gitu, lo juga bakalan kena masalah nantinya". Ucap Brayen.


Zee ikut berbicara, "Si Mak Lampir ini nggak mau ngaku kalau dia pelakunya. Sementara udah jelas-jelas Kepala Sekolah yang bilang dia pelakunya, ngelak aja terus". Cibir Zee.


"Karena emang bukan Alexa pelakunya, dia nggak ngelakuin hal itu". Jawab Chika. "Harus berapa kali gue bilang, Alexa nggak kemana-mana waktu acara pensi itu, dia sama gue dan Hera terus. Nggak kemana-mana sama sekali". Bela Chika.


"Alahh.. Ngaku aja lo, nggak usah bohong. Udah terbukti juga, masih aja ngelak". Gertak Tessa kearah Alexa.


Alexa yang mendegar mulai emosi. Dia tak terima jika terus disalahkan dengan hal yang bahkan tidak dilakukannya.


"BUKAN GUE PELAKUNYA". Teriak Alexa seketika.


Murid-murid yang ada disana langsung melirik kearah Alexa.


"Bukan gue pelakunya!!!". Ucap Alexa sekali lagi dengan tegas.


Tessa kembali ingin mendekati Alexa, "Bukan lo gimana, jelas-jelas Kepala Sekolah ngomong kalau lo pelakunya. Dari tadi ngelak mulu lo, greget gue ama lo lama-lama". Namun dengan cepat Brayen menahan Tessa sekaligus yang lainnya ikut menahan Tessa. Gadis itu terlalu berbahaya jika marah.


"Bukan gue pelakunya". Ucap Alexa lagi. Kali ini dia menatap kearah Allena dengan serius.


Mendengar itu, Allena hanya membalas memandang Alexa tanpa ekspresi.


Beberapa saat kemudian Allena berbicara, "Kita pergi sekarang. Jangan perpanjang masalah ini lagi". Ucap Allena seketika.


Gadis itu kemudian berbalik, melangkahkan kakinya dan keluar dari kelas tersebut.


"Sekarang semuanya bubar, kembali ke kelas kalian masing-masing. Masalahnya udah selesai. Bubar kalian semua". Seru Aziel kemudian kepada murid-murid yang ada disana menonton.


"Kalian juga semua bubar, jangan bikin keributan lagi". Aziel menoleh kearah mereka semua.


Setelah itu Aziel menyusul Allena keluar dari dalam kelas tersebut.


"Ingat kata-kata gue, jangan ganggu Allena lagi. Awas aja lo". Ancam Tessa menatap sinis kearah Alexa.


Tessa pun pergi dari sana disusul oleh Zee dan juga Airin.


"Alexa, gue mohon sama lo berhenti buat masalah lagi". Ucap Brayen tiba-tiba.


Alexa yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tak menyangka kearah Brayen, "Bukan gue pelakunya Brayen. Kenapa lo jadi kaya mereka, ikut-ikutan nuduh gue juga. Gue nggak ada sama sekali sangkut pautnya dengan kejadian itu". Bantah Alexa. Dia tak terima jika Brayen ikut menyalahkannya.


"Gimana gue bisa percaya Lex, sama omongan lo. Sementara Kepala Sekolah sendiri yang bilang kalau lo pelakunya, lo dalang dari kejadian waktu diacara pensi itu. Gimana kita bisa percaya sama lo". Ucap Brayen.


"Bukan gue pelakunya Brayen, bukan gue. Gue difitnah, gue dituduh sama kejadian yang bahkan gue sendiri nggak ngelakuin hal itu. Gue sendiri kaget kenapa bisa jadi gue yang disalahin. Kenapa lo bisa percaya itu? Kenapa lo bisa percaya kalau gue pelakunya". Alexa mulai frustasi. Kenapa Brayen sangat tidak percaya padanya.


"Udah Lex, udah. Nggak enak diliatin sama murid-murid yang lain". Chika menenangkan Alexa yang mulai marah.


"Mending Kak Brayen keluar deh dari sini. Kalau emang Kak Brayen ikutan nggak percaya sama Alexa, Kak Brayen tinggal ngejauhin Alexa, jangan dekat-dekat sama dia lagi. Yang namanya orang jahat harus dijauhikan?". Ucap Chika kepada Brayen.


Brayen yang mendengar itu langsung terdiam. Sebenarnya pria itu sangat bimbang, antara percaya atau tidak percaya terhadap Alexa.


Tapi dengan apa yang sudah terjadi dan juga pengakuan dari Kepala Sekolah membuatnya susah percaya terhadap Alexa.


"Sekarang lo pergi, sebelum gue juga mulai benci lo kaya orang-orang tadi. Kalau lo datang kesini cuman mau nuduh gue kaya mereka. Mending lo pergi sekarang". Ucap Alexa kemudian.


Gadis itu lalu berjalan melewati Brayen sambil menatap sinis pria itu menuju bangkunya dan duduk disana dengan mencoba meredem emosinya.


Kedua sahabat Alexa tadi kemudian menyusul wanita itu lalu menenangkan dirinya.


Sementara Brayen terlihat masih berdiri ditempatnya dengan mengepalkan kedua tangannya. Pria itu melirik Alexa sekilas yang sedang ditenangkan oleh kedua sahabatnya.


Brayen kemudian melangkahkan kakinya, "Haishh", pergi dan keluar dari dalam kelas tersebut.


Sementara saat ini di kelas 10 IPA 1.


"Gua udah bilangkan ke kalian, jangan perpanjang masalah ini lagi. Semuanya udah selesai". Ucap Allena kepada Tessa dan juga Zee dengan tatapan mencekamnya.


"Sorry Len, gue udah emosi tadi pas tau kalau ternyata Alexa pelakunya". Balas Tessa.

__ADS_1


"Iya Len, gue juga minta maaf. Tapi si Mak Lampir itu udah kelewatan banget. Gimana kalau lo sama Alvian yang kena waktu itu, dan jadinya apa, malah Kak Aziel kan yang kena timpa lampu itu". Timpal Zee.


Aziel yang juga ada disana mulai ikut berbicara, "Apa yang diomongin Allena itu ada benarnya, nggak usah diperpanjang lagi. Masalahnya udah selesai, dan kita juga udah tau siapa dalangnya". Timpal Aziel dengan tampang datarnya.


Tessa dan Zee langsung diam tak berani berbicara lagi. Mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan dua makhluk kutub utara. Kedua wanita itu nyalinya langsung ciut jika berhadapan dengan dua makhluk yang saling mendominasi itu.


Aziel kemudian menghela nafasnya, "Haah.. Sudahlah. Kalian berdua harusnya merasa beruntung karena tidak dikeluarkan dari sekolah, mengingat hari ini adalah hari terakhir kalian menjadi adik kelas. Lain kali kalian jangan berbuat seperti itu lagi". Ucap Aziel menasihati.


"Iya Kak, maafin kami berdua". Ucap Tessa kemudian.


"Iya Kak, maafin kami". Timpal Zee.


Aziel kemudian hanya menggeleng. Pria itu lalu menoleh kearah Allena, "Gua balik ke kelas dulu ya Baby, sampai jumpa lagi nanti". Ucap Aziel sambil mengelus kepala Allena dengan lembut.


Aziel kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kelas tersebut menuju kelasnya.


Penerimaan raport hari ini berjalan dengan lancar. Murid-murid terlihat bahagia dengan hasil akhir yang mereka dapatkan, tetapi ada juga beberapa murid-murid yang kecewa dengan hasil akhir mereka yang tak sesuai ekspetasi. Makanya rajin belajar✍️📖


Terlihat Allena yang sedang berdiri dihadapan mading sekolah khusus untuk kelas 10. Banyak murid-murid yang ikut mengerumuni mading tersebut, tetapi mereka tak berani mendekat kearah Allena ataupun berdempetan dengan gadis itu.


Allena berdiri ditengah-tengah mereka tanpa ada yang berani mendekatinya. Dengan tampang datarnya, namun matanya begitu jeli melihat deretan nama-nama pada kertas yang ditempelkan dimading tersebut.


Nama-nama Siswa :


1. Allena Gilmer Putri Albern (98,50)


2. Airin Silvana Mahendra (98,00)


3. ...........


4. ...........


5. Alvian Raindra Argantara (92,00)



...........


dan seterusnya .....................................



"Mana mana mana, coba gue mau lihat. Siapa taukan gue masuk 10 besar". Seru Adrian yang tiba-tiba muncul dan menerobos diantara anak yang lainnya.


"Waduhh". Celetuk Adrian akhirnya.


"Kenapa Dri? Masuk berapa besar lo?". Ucap Gerald yang juga ada disana.


"Peringkat ke 152 Rald". Jawab Adrian.


Gerald melongo, "Wah yang bener lo, coba gue mau lihat juga". Ucap Gerald yang juga mencari namanya, "Waduh beda dua angka doang cuy, guenya peringkat 154 Dri". Ucap Gerald kemudian.


Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari seseorang, "Buahaha.. Lo berdua emang gob*lok ternyata, dapat peringkat segitu. 152 sama 154, buahaha...". Tawa Tessa, "Makanya kaya dua sahabat gue ini dong rangking 1 sama 2, iya nggak". Sambung Tessa sambil merangkul Allena dan Airin dengan sombongnya.


"Dih, gayanya". Cibir Adrian. "Emang lo rangking berapa kalau gitu?". Adrian menoleh kearah Gerald, "Rald, coba lo lihat nih anak dapat rangking keberapa, sombong amat gue lihat-lihat". Sambungnya lagi memerintah Gerald dan langsung dituruti pria itu.


"Rangking ke 97 Dri". Seru Gerald beberapa saat kemudian.


Adrian berdengus lucu, "Huh..huh.. Haha.. lo aja nggak masuk 10 besar tapi sombongnya minta ampun. Banyak gaya lo". Cibir Adrian.


"Ya biarin, tapi setidaknya gue diatas kalian berdua kan. Gimana tuh". Balas Tessa.


"Tapi kita berdua nggak sombongin rangking orang kaya lo. Lo aja tadi malah sombongin rangking Allena sama Airin bukan rangking lo sendiri, rangking lo aja dibawah mereka pake acara sombongin diri lagi lo". Cibir Gerald yang ikut menimpali.


Adrian mendekat kearah Tessa, "Makanya jadi orang tau diri. Dasar laki". Adrian langsung mendorong dahi Tessa hingga kepala gadis itu mendongak keatas.


"Kabur Rald, kabur kabur kabur!". Adrian kemudian dengan segera mengajak Gerald untuk lari dari sana sebelum Tessa mengamuk dan jadi monster lagi.


Dengan cepat kedua pria itu kabur dari sana dan berlari dengan sekencang-kencangnya sebelum bencana datang melanda.

__ADS_1


"Woyy lo berdua awas ya, jangan lari. Dasar Duo Pembuat Onar. Awas lo berdua......



__ADS_2