Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 135 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

BRAKK


Akkhh....!!


Allena meringis saat Aziel sudah mendorongnya sampai menabrak meja di belakang sana, sembari mencengkram lehernya.


"FU*CK! UDAH GUA BILANG JANGAN PERNAH OMONGIN TENTANG PERTUNANGAN SIALAN LU ITU DI DEPAN GUA! GUA NGGAK SUKA ALLENA!". Bentak Aziel langsung menatap tajam gadis itu.


"Akhh lepasinhh! Sakithh!". Desis Allena memegang tangan Aziel di lehernya. Ekspresi wajahnya terlihat menahan sakit.


Aziel perlahan mendekatkan dirinya ke arah Allena.


"Kita udah nggak berhubungan lagi belakangan ini. Udah bagus-bagusnya kemaren lu jauhin gua. Kenapa lu kaya gini lagi?". Cicit Allena terbata karena Aziel tak kunjung melepaskan cengkraman di lehernya.


"Gua udah coba untuk lupain lu, gua udah coba Allen. Berbagai cara gua lakuin untuk lupain lu, untuk lupain semua tentang lu, semua yang pernah terjadi diantara kita. Tapi lu tau, gua nggak bisa. Gua nggak bisa Allen. Susah buat gua lupain segala hal tentang lu. Dan gua nggak akan pernah bisa lupain semuanya. Kenapa lu nggak ngerti juga? Kenapa?". Cicit Aziel frustasi, dan tanpa sadar tangannya semakin keras mencengkram leher Allena.


"Akhh lepasin EL sakithh!". Ringis Allena mendesis kesakitan.


"Gua akan lepasin setelah lu mau mutusin buat jadi milik gua. Lu harus putusin pertunangan sialan lu itu sama Louis. Dan lu harus sama gua, nggak ada yang lain". Ucap Aziel dengan penuh penekanan.


"Lu jangan...


"Tapi kalau lu masih tetap mau pertahanin pertunangan lu sama Louis, gua nggak akan segan-segan hilangin Louis dari muka bumi ini". Ancam Aziel dengan cepat memotong perkataan Allena. Sorot matanya bahkan menunjukan keseriusan. Tidak ada main-main.


Allena menatap tajam mendengar perkataan Aziel. Dengan sekuat tenaga Allena melepas cengkraman Aziel di lehernya dan langsung mendorong pria itu menjauh darinya.


"LU SAIKO TAU NGGAK, LU GILA!". Bentak Allena langsung, "Ini yang nggak gua suka dari lu. Lu terlalu pemaksa. Selalu maksain gua buat ngikutin kehendak lu, nggak pernah mau mikirin gimana perasaan gua". Balas Allena.


"Karena gua sayang ama lu Allen, gua cinta ama lu. Gua nggak mau kalau sampai lu sama orang lain bukan gua. Gua nggak akan pernah bisa nerima itu kalau sampai lu ama orang lain Allena". Memang benar Aziel tak akan sanggup dan tak akan terima jika Allena sampai bersama orang lain bukan dirinya.


Allena diam sebentar setelah mendengar perkataan Aziel. Ada satu hal yang ingin dia tanyakan pada Aziel. Pertanyaan ini yang selalu ingin dia tanyakan. Selama ini Allena memang selalu menahannya karena berpikir hal yang akan ditanyakannya ini tidak penting baginya. Tapi mungkin Allena memang harus menanyakannya.


"Kalau lu emang cinta ama gua, gua ada pernyataan buat lu. Dan lu harus jawab jujur". Ucap Allena seketika sambil menatap Aziel, "Ada hubungan apa lu ama Regina?". Tanyanya kemudian.


Aziel seketika menautkan alisnya bingung mendengar pertanyaan Allena barusan. Emang ada hubungan apa dia dengan Regina?


"Kenapa lu diem? Jawab!". Sentak Allena melihat Aziel yang diam.


"Emang gua ada hubungan apa sama Regina, Allen? Gua nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kenapa lu malah nanya kaya gitu?". Sahut Aziel bingung. Memang selama ini Regina selalu berusaha mengganggunya, tapi Aziel sama sekali tak menggubris cewek itu. Bahkan tak menganggapnya sama sekali.


"Bohong!". Sentak Allena, "Lu ada hubungankan sama dia? Lu nggak usah bohong.


"Gua nggak ada hubungan sama sekali sama dia Allena. Gua deket sama dia pun enggak. Lu lihat sendirikan dia yang coba deketin gua terus". Sahut Aziel mencoba menjelaskannya pada Allena.


"Bohong! Gua nggak percaya". Allena menggeleng tak percaya.


"Kok lu jadi nuduh gua ada hubungan sama cewek itu? Gua nggak ada hubungan apapun Allen, sama dia. Percaya ama gua". Allena diam mendengar pembelaan Aziel. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Mata hazelnya terus memandangi Aziel.


Sedetik kemudian Allena mulai melangkahkan kakinya.


"Lu mau kemana?". Aziel menarik lengan Allena yang berjalan melewatinya. Menahan cewek itu.


"Lepasin! Gua mau keluar dari sini. Kita nggak nggak ada hubungan apapun sama sekali. Kita udah selesai". Ucap Allena tegas.


"Udah gua jawab tadi, gua nggak ada hubungan apa-apa sama Regina. Masih lu nggak percaya juga". Ucap Aziel masih tetap menggenggam lengan Allena.


"Lepasin!". Allena menghentakan tangannya dengan kuat hingga terlepas, dan tanpa berlama-lama Allena langsung berbalik dan berlari dari sana.


Aziel yang melihat Allena berlari segera ikut berlari untuk menyusulnya.


"Len, Allena tunggu! Lu mau kemana? Jangan lari!". Teriak Aziel sambil berlari.


Allena yang sudah keluar segera menutup pintu ruangan itu dan kembali berlari dari sana.


"Shi*t!". Umpat Aziel sembari membuka pintu yang sengaja di tutup Allena tadi. Allena memang sengaja untuk memperlambat Aziel.


Saat sudah berhasil keluar, Aziel kembali berlari untuk mengejar Allena yang sudah jauh di depan sana.


"Allena!". Panggil Aziel.


Tapi Allena tak mempedulikan panggilan Aziel, dan tetap berusaha terus berlari.


Allena dengan cepat berlari menaiki tangga untuk ke lantai dua tanpa berbalik ke belakang. Sementara di belakang sana Aziel terus berlari untuk menyusul Allena.


Setibanya di depan kelasnya Allena langsung masuk ke dalam tanpa permisi, padahal sudah ada guru yang mengajar. Sementara guru dan murid-murid yang ada di kelas itu sedikit kaget melihat Allena yang terlihat agak ngos-ngosan saat masuk ke dalam kelas.


"Dari mana kamu Allena? Kenapa kamu terlihat lelah begitu?". Tanya guru yang mengajar di kelas itu.


"Bukan urusan Ibu!". Sahut Allena sembari berusaha menetralkan dirinya.


Sementara guru yang mengajar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Allena.

__ADS_1


"Yasudah kalau begitu kita lanjut saja pelajarannya". Ucap guru itu kemudian dan melanjutkan pelajarannya yang sempat terhenti tadi.


Sementara itu...


"Ngapain lo ngejar-ngejar Allena tadi? Gangguin Allena lagi lo?". Tanya Louis di hadapan Aziel.


Tadi saat Aziel berlari untuk menyusul Allena, tiba-tiba saja entah dari mana Louis muncul dan langsung menghadang Aziel.


"Bukan urusan lu. Minggir!". Aziel menyenggol bahu Louis dan mulai melangkahkan kakinya.


Dengan cepat Louis mendorong Aziel hingga termundur ke belakang.


"Ini udah jadi urusan gue karena lo udah berani ganggu tunangan gue". Ucap Louis tajam.


Aziel berdecak geli mendengar perkataan Louis, "Heh tunangan? Allena aja nggak pernah nganggep pertunangan sialan itu. Kalian juga tunangan pasti karena terpaksa kan? Buktinya selama ini dia selalu ngabisin waktunya bareng gua. Sementara lu, udah tinggal serumah juga tetep nggak ada waktu bareng Allena". Ucapnya sinis.


"Gue nggak peduli lo mau ngomong apa. Yang jelas sekarang yang jadi tunangan Allena itu gue. Dan lo bukan siapa-siapa disini. Lo bukan siapa-siapa dalam hidupnya Allena. Sudah jelas disini status kita berbeda. Gue tunangannya dan lo bukan siapa-siapanya Allena. Paham lo!". Balas Louis penuh penekanan.


"Lu...


"Apa?". Sela Louis cepat, "Lo mau mukul gue? Ayo pukul! Biar kita lihat sama siapa Allena berpihak. Lo atau gue? Karena itu udah pasti gue, tunangannya. Dan lo bakal di benci sama Allena dan Allena nggak akan pernah mau ketemu ataupun berhubungan lagi sama lo". Ucap Louis tersenyum meremehkan.


Louis kemudian mendekati Aziel, "Jadi lebih baik lo siap-siapin diri lo karena Allena bakal sama gue selamanya. Dan lo tenang aja, gue bakal jagain Allena sebaik mungkin". Ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Aziel sebentar dan berlalu pergi dari sana dengan tersenyum penuh merasa kemenangan.


Sementara Aziel hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sambil memandang tajam Louis yang mulai perlahan berjalan menjauh.


"Shi*t! Awas aja lu!". Umpatnya penuh kekesalan.


...******...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Saat ini keempat bersahabat(Airin, Zee, Tessa, dan Gamma) sudah berada di parkiran sekolah.


Sedang Alvian, pria itu masih harus menjalani rapat OSIS sekarang.


Kalau Allena, jangan tanya lagi. Memang hubungan antara mereka sedang tidak dalam akrab-akrabnya. Itupun Allena sendiri yang menjauhi mereka.


Allena memang merasa bersalah sama Zee. Cewek itu masih merasa apa yang terjadi pada Zee sekarang karena kesalahan dirinya. Jadi Allena memutuskan tidak mendekati mereka untuk saat ini.


"Jadi beneran nih Zee lo nyuruh kita balik duluan? Emang nggak papa lo nunggu disini sendirian?". Tanya Airin khawatir. Gadis itu tidak setuju dengan Zee yang menyuruh mereka untuk pulang duluan.


"Iya nggak papa. Saya memang menunggu sopir saya datang menjemput saya disini. Jadi kalian pulang saja". Ucap Zee.


Memang semenjak hilang ingatan, Zee jadi bersikap berbeda. Tidak seperti biasanya yang selalu bersikap ceria dan cerewetnya minta ampun. Gadis itu jadi lebih sedikit pendiam dan jarang berbicara.


Walaupun begitu, teman-teman sekelasnya juga sahabat-sahabatnya masih mau berusaha berinteraksi dengan Zee dan mencoba mengajaknya berbicara dalam hal apapun. Mereka semua juga memaklumi dengan perubahan yang terjadi pada gadis cantik itu.


"Tapi Zee kita khawatir sama lo. Kalau entar lo kenapa-napa gimana?". Sahut Tessa yang juga ikutan khawatir.


"Tenang saja, saya tidak akan kenapa-napa. Kalian tidak usah khawatir". Jawab Zee.


"Emang nggak boleh ya kita temenin lo sampai supir lo tiba disini?". Tanya Gamma berinisiatif.


"Iya Zee iya. Kaya gitu aja gimana? Kita temenin sampai supir lo datang gimana? Boleh kan? Pleasee! Kita takut kalau sampai lo kenapa-napa Zee". Ucap Tessa setuju.


"Tidak usah, terima kasih kalian sudah mengkhawatirkan saya. Tapi saya bisa jaga diri kok, saya tidak akan kenapa-napa". Tolak Zee kekeh. Bagaimana pun Zee memang masih merasa sangat canggung bila bersama mereka. Lagi pula Zee juga sangat tidak ingin menyusahkan mereka dengan menjaganya.


"Yaahh Zee, kok gitu. Kita kan sahabatnya elo, jadi wajar dong kita jagain lo. Dan juga lo itu baru sembuh Zee". Cicit Tessa tetap memaksa ingin menemani Zee.


"Sudah, tidak usah. Saya tidak ingin menyusahkan kalian semua. Lebih baik kalian semua pulang duluan saja ya". Mendengar Zee yang terus saja menolak untuk ditemani akhirnya ketiga orang itu pasrah.


"Yaudah deh kalau gitu. Kita duluan balik ya Zee. Kalau ada apa-apa hubungin kita-kita. Lo udah save kan nomor kita semua tadi?". Tanya Airin.


"Sudah". Jawab Zee. Memang benar saat di kelas tadi mereka semua sudah saling bertukar nomor.


Akhirnya dengan berat hati ketiga orang itu meninggalkan Zee sendirian disana. Mereka tentu saja paham kenapa Zee tidak ingin ditemani oleh mereka. Maka dari itu mereka bertiga juga tidak akan memaksa Zee. Takutnya Zee tidak merasa nyaman jika mereka memaksanya.


"Bye Zee kita duluan ya!". Teriak Tessa dari dalam mobil yang mulai berjalan.


Sementara Zee hanya membalas dengan senyum kecut.


Setelah ketiga sahabatnya pergi, Zee diam sebentar lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area parkir. Disana sudah sepi, hanya ada beberapa kendaraan anak OSIS yang masih terparkir rapi.


Zee kemudian mengambil ponselnya di saku almamater yang dikenakannya, lalu menelepon supir yang dipekerjakan untuknya.


Setelah selesai menelpon, Zee kembali diam di tempatnya sambil menunduk dengan alis yang berkerut. Zee kemudian beralih menatap pintu gerbang di ujung sana. Tidak berselang lama Zee mulai melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang dan keluar dari sana.


Terlihat kendaraan berlalu lalang. Maklum sekolah itu memang berada di depan jalan. Sementara Zee, gadis itu semakin mengerutkan alisnya seolah-olah seperti mengingat sesuatu dengan melihat kendaraan yang terus berlalu lalang di jalanan itu.


TIN


TIN

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara klason motor yang berhenti tepat di samping Zee berdiri.


Seorang pria terlihat membuka helm yang dikenakannya.


"Ngapain lo berdiri di tengah jalan gitu?". Tegur pria itu ke arah Zee.


Seketika raut wajah Zee berubah datar melihat pria yang menegurnya ternyata adalah Setya.


"Lo mau balik?". Tanya Setya seketika.


Namun Zee hanya diam tak menjawab pertanyaan Setya.


"Balik bareng gue aja ya. Entar lo kenapa-napa lagi". Ucap Setya.


Zee menjawab dengan gelengan yang artinya dia menolak.


"Kenapa?". Tanya Setya sedikit kecewa dengan penolakan Zee padanya.


"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu selalu bersikap seolah-olah kamu dan saya dekat?". Tanya balik Zee yang membuat Setya langsung diam karena mendengar pertanyaan Zee.


"Gue Setya, teman baik lo". Jawab Setya seketika dengan tersenyum manis.


"Teman? Kamu selalu mengatakan kalau kamu dan saya itu teman baik. Benarkah itu?". Setya mengangguk dengan terus tersenyum manis sebagai tanda jawaban.


Seketika Zee menautkan alisnya.


"Lebih baik kamu jauhi saya, karena saya merasa tidak pernah dekat dengan kamu". Ucap Zee tegas. Dan setelah berbicara seperti itu Zee langsung melangkahkan kakinya menuju mobil jemputannya yang sudah tiba dan masuk ke dalam.


Sementara Setya hanya bisa menatap mobil jemputan yang ditumpangi Zee mulai menjauh dari pandangannya.


Setya seketika menghembuskan nafas berat, lalu mulai memakai helmnya kembali dan juga ikut pergi dari sana dengan motor sportnya.



...******...


"Kak Arin!". Teriak seorang bocah berusia 12 tahun berlari ke arah Airin yang muncul di ambang pintu rumah. Bocah itu berlari dan langsung memeluk Airin.


"Rendi! Kamu itu udah gede juga masih aja manja sama Kakak". Cetus Airin membalas pelukan adiknya, Rendi.


"Loh, nggak papa dong Kak. Manja sama Kakak sendiri emang nggak boleh ya?". Sahut Rendi bersungut melepaskan pelukannya pada Airin.


Airin hanya berdengus lucu sambil menggelengkan kepalanya mendengar adiknya itu. Rendi memang masih sangat manja pada Airin, Kakaknya.


"Tapi kamu udah gede Rendi, nggak malu apa nanti dilihatin temen-temen kamu". Ucap Airin.


"Nggak dong! Ngapain malu? Kak Arin kan kakak aku". Jawab Rendi.


"Yaudah yaudah! Terserah kamu aja". Sahut Airin sambil mengacak-acak gemas rambut adiknya yang halus itu.


"Oh iya, Ibu dimana?". Tanya Airin kemudian. Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah


"Ibu lagi di dapur Kak". Jawab Rendi.


"Ohh gitu. Lagi bikin kue ya Ibu?. Tanya Airin lagi sembari melepas sepatunya lalu meletakannya di rak sepatu di sudut ruang tamu.


"Iya Kak". Jawab Rendi.


"AIRIN KAMU SUDAH PULANG NAK?!". Seru seorang pria paruh baya yang tiba-tiba muncul dari balik tirai dengan duduk di atas kursi roda.


"Ayah!". Seru Airin menghampiri pria yang dipanggil Ayahnya itu, "Iya Yah, Airin udah pulang". Sahutnya sambil mencium punggung tangan Ayahnya.


"Ayah kok keluar kamar? Harusnya kan Ayah di kamar aja, istirahat Ayah". Ucap Airin lembut sambil mensejajarkan dirinya bertumpu dengan kedua lututnya di hadapan Ayahnya.


"Tidak apa Nak. Ayah bosan di kamar terus". Jawab Ayahnya Airin.


"Hmm yaudah! Kalau gitu Ayah udah makan?". Tanya Airin kemudian.


"Sudah Nak". Jawab Ayahnya Airin. "Ah iya, begini Nak, ada yang ingin bicarakan sama kamu". Sambungnya.


"Iya Ayah, Ayah mau ngomong apa?". Tanya Airin masih dengan posisinya.


"Lebih baik kamu gantian dulu, terus kita bicara.


"Oke Ayah!". Sahut Airin sambil menghormat di hadapan Ayahnya, membuat pria paruh baya itu terkekeh karena melihat tingkah anak pertamanya itu.


Airin kemudian berdiri, lalu bergerak meraih kursi roda yang diduduki Ayahnya itu.


"Ayah mau ke dapur Nak!". Seru Ayahnya Airin ketika anaknya mulai mendorong kursi roda yang didudukinya.


"Baiklah!". Balas Airin, lalu mulai mendorong sesuai perintah Ayahnya.

__ADS_1


Rendi yang di belakang sana ikut mengekori dari belakang sambil membawakan tas kakaknya, Airin.



__ADS_2