
Saat ini Allena dan Brayen tengah dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Brayen kemudian memberhentikan mobilnya di suatu gedung restoran elit. Brayen kemudian memarkirkan mobilnya dan mengajak Allena untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Mereka kemudian masuk dan menuju ke salah satu meja makan yang ada di restoran itu. Mereka lalu duduk disana.
"Lo cobain deh makanan disini. Makanan khas dari Indonesia. Pasti lo suka". Ucap Brayen pada Allena.
Brayen kemudian memanggil pelayan dan tidak lama, datang seorang pelayan perempuan menghampiri mereka.
"Silahkan Tuan! Anda mau pesan apa?". Tanya pelayan tersebut.
"Saya mau Sate Padang, Lumpang Emas satu sama nasi putihnya, juga... umm... oh iya minumnya orange juice aja dua, sama air putihnya juga dua". Ucap Brayen.
"Itu aja Mbak. Tolong cepat sedikit ya". Ucap Brayen lagi.
"Iya Tuan! Mohon ditunggu". Ucap Pelayan tersebut dan segera beranjak dari sana.
Tidak lama pelayan yang tadi pun kembali datang bersama dua pelayan lainnya, sambil membawa pesanan yang diminta oleh Brayen, dan segera meletakan semua pesanan itu di atas meja. Setelah itu semua para pelayan berlalu pergi dari sana.
"Nih.. Allena! Ini namanya Lumpang Emas. Lo cobain deh". Ucap Brayen sambil memberikan menu makanan Lumpang Emas pada Allena.
"Kalo gue yang ini. Sate Padang ama nasi putihnya". Ucap Brayen lagi sambil meraih menu tersebut.
"Kalo gitu kita makan sekarang. Ayo Len cobain". Ucap Brayen.
Mereka berdua lalu mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Nampak Allena menyukai makanan yang tengah disantapnya.
"Gimana Allena? Enak kan?". Tanya Brayen.
"Iya". Jawab Allena.
"Kalo gitu habisin ya". Sarkas Brayen sambil tersenyum pada Allena.
"Iya". Ucap Allena lagi.
Mereka berdua kemudian melanjutkan makan dan sekitar 20 menit mereka pun selesai.
"Gimana Allena.. Udah selesai?". Tanya Brayen.
"Udah". Jawab Allena.
"Kalau gitu lo ikut gue sekarang". Ucap Brayen.
"Kemana?". Tanya Allena was-was.
"Udah lo ikut aja. Mau ya?". Ucap Brayen.
"Hmm.. Oke". Jawab Allena.
"Yaudah kita pergi sekarang". Ucap Brayen beranjak dari tempatnya dan berjalan duluan.
Allena kemudian mengikuti Brayen dari belakang. Brayen lalu mengajak Allena untuk naik ke atas rooftop gedung restoran tersebut. Setibanya disana Allena kemudian mengikuti Brayen ke salah satu tepian atap yang dibatasi dengan tembok beton sebatas pinggangnya.
Dari sana Allena disuguhkan dengan pemandangan yang indah berasal dari lampu-lampu perumahan atau gedung-gedung di penjuru kota.
Allena yang melihat itu semua seketika tersenyum tipis sambil memejamkan matanya merasakan terpaan angin yang menurutnya sangat sejuk mengenai dirinya. Hatinya merasa tentram dan damai.
Sementara Brayen, lelaki itu terus memandangi Allena yang menurutnya sangat cantik dengan terpaan angin yang mengenai rambut curly nya.
Brayen benar-benar sangat menyukai Allena. Ingin sekali dia mengungkapkan perasaanya pada Allena. Tapi dia masi cukup ragu untuk mengatakan itu. Brayen belum berani mengungkapkan perasaannya pada Allena.
"Dulu gue sering banget datang kesini sama Bokap dan Nyokap gue. Main bareng sama mereka disini. Nikmatin pemandangan indah ini sama-sama. Tapi itu dulu dan gue nggak bakalan pernah ngalamin hal itu lagi". Ucap Brayen tiba-tiba membuka obrolan.
"Sering?". Tanya Allena membuka matanya dan menghadap Brayen yang tidak jauh berdiri disampingnya saat ini.
"Iya.. Sering. Emangnya kenapa? Restoran ini kan punya gue". Ucap Brayen.
"Ha? Punya lu? Yang bener lu". Tanya Allena tak percaya.
"Nggak sih. Sebenarnya punya Nyokap gue. Cuman sekarang udah dialihinnya ke gue. Makanya sekarang punya gue". Ucap Brayen menjelaskan.
"Ohh.. Pantas. Emang Nyokap lu kemana?". Tanya Allena.
"Nyokap gue udah meninggal". Ucap Brayen santai.
"Oh! Sorry sorry gua nggak bermaksud". Ucap Allena merasa bersalah.
__ADS_1
"Udah nggak apa-apa. Santai aja kali. Lagian itu juga kan udah lama". Ucap Brayen tak mempermasalahkan.
"Sekali lagi gua minta maaf". Ucap Allena.
"Iya nggak apa-apa". Ucap Brayen tersenyum sambil memandang Allena.
"Gue cuman kadang ingat aja ke Nyokap kalau gue datang ke sini". Ucap Brayen lagi.
"Terus kenapa lu bawa gua kesini?". Tanya Allena.
"Nggak apa-apa. Gue bawa lo kesini cuman buat nemenin gue aja". Sarkas Brayen.
"Cih..!". Decak Allena.
"Lu bawa gua kesini buat lu mau sombongkan ama gua?". Sinis Allena.
"Tau aja lu". Sarkas Brayen sambil mendekati Allena lalu mencolek dagu Allena.
"Dih.. Berani banget lu nyolek gua". Ucap Allena sambil memukul keras pundak Brayen.
"Aduhh.. Sakit amat lo mukulnya Len". Ringis Brayen sambil memegang pundaknya yang dipukul Allena.
"Makanya jangan macam-macam lu ama gua. Abis lu". Ancam Allena.
"Lo itu kenapa galak amat dah?". Ucap Brayen heran dengan sifat Allena.
"Suka-suka gua lah". Jutek Allena.
"Ya terserah lu dah. Heran gue ama lo". Ucap Brayen mengalah.
Brayen kemudian berjalan menuju kotak tak jauh dari mereka berdiri. Brayen lalu mengambil sesuatu yang ada dalam kotak tersebut yang ternyata adalah sebuah bola basket.
"Allena kita main basket. Lo bisakan?". Ajak Brayen.
"Masukinnya kemana? Nggak ada tiang ringnya kan disini?". Tanya Allena sambil berjalan ke arah Brayen.
"Tuh ada. Masa lo nggak lihat dari tadi". Ucap Brayen sambil menunjuk tiang ring basket yang jaraknya tak jauh dibelakang Allena. Gadis itu kemudian menoleh ke belakang.
"Gue tu dari kecil suka main basket disini. Makanya gua jadiin aja lapangan basket. Biar gue mainnya enak karena pemandangan disini tu bagus. Jadi nyaman aja gitu mainnya". Jelas Brayen.
"Iya lah. Brayen gitu loh". Ucap Brayen bangga.
"Ck.. Yaudah! Kapan nih kita main basketnya?". Tanya Allena.
"Emang lo bisa main basket gue tanya?". Tanya Brayen.
"Kita main aja dulu. Entar lu lihat seberapa bisanya gua dalam bermain basket". Ucap Allena santai.
"Jiahh... Sombong. Nggak yakin gue". Ucap Brayen dengan nada meremehkan.
"Makanya kita mulai sekarang. Ngomong mulu lu". Ucap Allena.
"Yaudah ayo". Ucap Brayen menantang.
Mereka berdua kemudian mulai bermain basket. Nampak Allena terlihat lihai mendrible bola dan merebut bola dari Brayen.
"Yess.. Masuk!". Ucap Allena ketika dia berhasil memasukan bola ke dalam ring basket.
"Gimana?". Tanya Allena dihadapan Brayen dengan tampak sok kerennya.
"Lumayan. Lu bisa main basket". Jawab Brayen manggut-manggut.
"Lumayan? Gua main kek gitu lu kata lumayan. Yakali". Ucap Allena tak terima dengan penilaian Brayen.
"Bilang aja lu nggak terima karena gua udah kalahin lu". Ucap Allena lagi.
"Sebenarnya sih gue sengaja kalah. Karena lo tu cewe". Ngeles Brayen.
"Alasan. Bilang aja lu nggak terima kalah dari gua. Banyak omong lu". Cibir Allena.
"Yaudah main lagi ayo. Gue bakal tunjukin cara pemain basket bermain yang handal". Ucap Brayen sombong.
"Alahh.. Gaya banget lu". Cibir Allena.
Mereka kemudian melanjutkan bermain basket bersama.Tampak ekspresi girang diwajah keduanya. Allena selalu tertawa lepas saat ketika bermain basket bersama Brayen. Apa lagi ketika dia berhasil memasukan bola ke dalam ring.
__ADS_1
Setelah cukup lama bermain mereka kemudian berhenti dan beristirahat. Mereka lalu duduk istirahat dilapangan itu sambil melentangkan kedua kaki mereka. Brayen duduk disebrang tak jauh dari sebelah Allena.
"Haaahhh...!! Cape juga ya". Ucap Brayen sambil menghela nafas.
"Lo ternyata bisa juga ya main basketnya Allena". Puji Brayen pada Allena.
"Umm... Emang". Ucap Allena.
Brayen hanya tersenyum. Dia tak menyangka Allena sangat pandai bermain basket. Brayen mengira Allena hanyalah seorang perempuan yang mempunyai kelebihan terlahir sebagai anak orang kaya dengan paras yang cantik. Ternyata Brayen salah. Masih ada hal lain yang belum ia tau tentang Allena. Dan itu membuat Brayen semakin ingin dekat dengan Allena dan mencari tau hal tentang Allena.
"Brayen! Gua boleh nanya sesuatu sama lu?". Tanya Allena tiba-tiba.
"Nggak boleh". Jawab Brayen.
"Oh. Yaudah". Ucap Allena tiba-tiba dengan nada yang datar.
"Hiihh.. Boleh kok Allena. Gue cuman bercanda. Gitu aja lo udah ngambek". Ucap Brayen merasa lucu dengan reaksi Allena.
"Nggak jadi. Udah males gua". Ucap Allena.
"Yaelahh.. Gitu aja lo marah. Gue kan bercanda. Lo tanya dah. Gue udah penasaran ini". Ucap Brayen penasaran.
"Umm... Kalo gitu gua mau nanya. Maaf nih ya! Emang Nyokap lu itu meninggalnya waktu kapan?". Tanya Allena.
"Oohh.. itu! Gue kirain lo mau nanya apaan. Gini ya nyokap gua itu meninggalnya dari waktu gue umur 12 tahunan". Jawab Brayen.
"Kenapa?". Tanya Allena lagi.
"Nyokap gue kecelakaan". Jawab Brayen lagi.
"Terus perasaan lu gimana?". Tanya Allena.
"Awalnya sih gue nggak nyangka ya, harus kehilangan Nyokap. Gue sayang banget sama Nyokap gue. Almarhum itu Ibu sekaligus Istri yang baik buat gue dan Bokap gue. Nyokap gue itu nggak pernah marah sama gue. Beliau itu orangnya sangat lembut. Dan Bokap gue itu sayang banget ama beliau. Kalau waktu masih ada Nyokap gue tu pasti Bokap gue selalu ada waktu buat gue. Tapi semenjak kejadian itu Bokap gue bahkan nggak ada waktu lagi buat gue. Dia selalu ngehabisin waktunya buat kerja kerja dan kerja!!". Ucap Brayen panjang lebar.
"Sebenarnya gue kasihan ama Bokap gue. Tapi mau gimana lagi, yang namanya musibahkan kita nggak tau kapan datangnya, dan gue juga udah ikhlasin itu semua". Lanjut Brayen.
"Gue cuman kadang iri lihat anak-anak lain tu ngumpul bareng ama orang tua mereka. Ada Ayah dan juga Ibu. Apa lagi Ibu. Gue nggak habis pikir kalau ada anak yang sampe jahat ama Ibu mereka. Ampe buat nangis Ibu mereka. Sementara gue pengen banget ngumpul lagi sama Nyokap gue". Ucap Brayen.
"Kalau mereka kehilangan Ibu mereka baru deh sadar. Mereka bakalan tau rasanya gimana kehilangan seorang Nyokap". Sambung Brayen lagi.
Sementara Allena, gadis itu sedari tadi hanya mendengar perkataan Brayen. Ada perasaan berkecamuk dihatinya ketika mendengar itu semua.
"Eh.. Kok gue jadi curhat ya. Udalah yang penting intinya Nyokap gue tu meninggal waktu gue umur 12 tahun. Umur segitulah pokoknya Len". Ucap Brayen.
"O-o-oh iya iya. Udah lama juga ya". Balas Allena gugup.
"Lo kenapa Len? Kok jadi gugup gitu". Tanya Brayen.
"Gua nggak apa-apa kok. Nggak apa-apa". Ucap Allena sambil berdiri dari duduknya.
"Yaudah kita pulang. Udah mau larut juga nih". Ucap Allena mengalihkan pembicaraan.
"Oh udah malam ya kirain belum. Gue masih pengen banget ama lo". Sarkas Brayen.
"Dih.. Apaan dah? Udah sono kita pulang. Dah malem banget nih". Tukas Allena.
"Iya iya kita pulang. Gue simpan ini dulu. Marah-marah mulu lo". Ucap Brayen sambil berjalan ke arah kotak tadi dan meletakan kembali bola basket miliknya.
"Kalo gitu kita balik sekarang. Entar keburu larut beneran". Ucap Brayen sambil berjalan kembali ke arah Allena.
"Yaudah sana jalan". Ucap Allena.
"Lo nggak mau gue gandeng?". Sarkas Brayen sambil mengulurkan tangannya.
"Dih.. Apaan sih? Gua nggak mau. Cepetanlah jalan. Lama amat lu". Celoteh Allena.
"Ya gue gandenglah. Masa lo nggak mau". Ucap Brayen menatap Allena sambil menaik turunkan alisnya.
"Gua nggak mau lah. Cepetan jalan! Gua tonjok lu ya. Beneran!".
"Oke oke gue jalan. Galak amat dah lo". Ucap Brayen menarik kembali tangannya dan berjalan duluan.
Allena kemudian mengikuti Brayen dari belakang. Mereka turun ke bawah dan terlihat suasana restoran masih begitu ramai dengan pengunjung. Sepertinya Brayen memang berhasil mengelolah restoran milik Almarhumah Ibunya itu.
Allena dan Brayen lalu keluar restoran menuju parkiran. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Brayen kemudian menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan restoran mewah tersebut bersama Allena.
__ADS_1