
Selama ini Zee berpikiran apakah Gamma dan Tessa ada hubungan lebih dari seorang teman. Apakah keduanya mempunyai hubungan yang biasa orang sebut dengan "PACARAN"?.
"Gue mua nanya deh ke kalian berdua. Kalian itu ada hubungan apa sih? Pacaran ya? Kok gue lihatnya kalian kaya deket banget. Berdua mulu". Tanya Zee curiga yang ditujukan kepada Gamma dan Tessa.
"Siapa? Gue ama Gamma? Pacaran? Yakali gue pacaran ama nih bocah tengil satu". Elak Tessa.
"Yaaa.. Habisnya kalian berdua mulu. Ke sekolah aja bareng terus kalau gue lihat-lihat. Jadinya gue kirain kalian pacaran gitu". Ucap Zee masih curiga.
"Ya nggak lah. Gue ama Gamma kan sepupuan. Makanya gue ama dia terus". Jelas Tessa.
Mereka semua yang mendengar perkataan Tessa seketika terkejut ketika mendengar pengakuan Tessa. Mereka tak mengira ternyata Tessa dan Gamma adalah sepupuan.
"Jadi kalian berdua ini sepupuan?". Timpal Airin tak menyangka.
"Iya. Bokap gue sama Nyokapnya Gamma saudaraan. Adik kakak gitu maksudnya". Jawab Tessa menjelaskan.
"Wahh.. Nggak nyangka gue Bro. Kirain kalian berdua ini pacaran. Selama ini lo nggak bilang ama gue Gam". Ucap Manaf menimpali.
"Lahh.. Lo juga kan nggak nanya". Ucap Gamma.
"Gue berasal gagal Bro jadi sahabat lo. Ternyata gue masih belum tau ya semua tentang lo". Ucap Manaf.
"Yaelahh.. Emang lo harus tau semua tentang gue ampe kedasar-dasarnya. Nggak penting juga kan lo harus tau kalau gue tuh sepupuan ama ni si tomboi satu. Gue aja sebenarnya nggak sudi ngakuin kalau gue sepupuan ama dia". Sarkas Gamma.
"Yeee... Maksud lo apaan ngomong kek gitu. Minta di tonjok lo? Gue aja nggak sudi ngakuin lo sepupu gue". Ucap Tessa tak terima.
"Nohh... Lihatkan! Gue juga bilang apa. Dia tu laki bukan cewek". Sarkas Gamma.
"Apa lo bilang? Dasar sepupu laknat lo". Desis Tessa.
"Udah udah! Kalian nggak usah berantem. Banyak orang yang lihat. Gimana sih? Kalian ini kan sepupuan". Lerai Airin.
"Gamma tu yang duluan. Nyari ribut dia ama gue". Ucap Tessa.
"Lahh.. Kok gue. Lo tu yang duluan. Sepupu nggak tau diri". Balas Gamma.
"Yee.. Lo tu yang duluan. Apa lo?". Ucap Tessa ketus.
"Lo tu". Balas Gamma.
"Duhh.. Kalian ini. Udah ributnya. Nanti kita diusir loh". Lerai Airin lagi.
Gamma dan Tessa lalu memberhentikan perseteruan mereka berdua. Mereka lalu mencoba kembali duduk diam dan tenang.
"Gitu dong. Ribut mulu dari tadi". Ucap Zee.
"Mmm.. Yaudah! Berarti lo bakal ke Singapura ya Gam?". Tanya Zee kembali mengalihkan pembicaraan yang sebelumnya.
"Iya. Juga kalian do'a in ya semoga persalinan Nyokap gue lancar". Ucap Gamma.
"Ha? Nyokap lo mau lahiran? Wahh.. Dapat adik dong kita". Timpal Alvian.
"Kalau gitu nanti kita ikut kesana deh kalau Nyokap lo udah mau lahiran". Ucap Alvian.
"Iya bener. Nanti datanglah kita". Timpal Zee.
"Widihh.. Punya adik baru nih. Mantap-mantap!". Timpal Manaf sambil mengangkat kedua jempol tangannya.
"Iya nih". Ucap Tessa sambil menaikan kedua alisnya.
"Umm.. Yaudah! Kalau lo Allena lo mau kemana liburan ini? Diem aja lo dari tadi". Tanya Gamma tiba-tiba pada Allena yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar.
"Gua bakal ke Amerika". Jawab Allena.
"Widihh.. Kesana lo? Iya sih lo kan asalnya dari sana. Kabar-kabarin ya kalo lo udah disana". Ucap Gamma lagi.
"Iya". Jawab Allena datar.
"Huwaaa.... Berarti kita nggak saling ketemu dulu dong. Bakal kangen nih gue ama kalian". Ucap Zee sedih.
"Yee.. Kan bakal tetap ketemu lagi kalau udah masuk sekolah". Ucap Manaf.
"Iya sih. Tapi kan gue bakalan tetap kangen kalian. Dua minggu itu lama loh". Ucap Zee tetap dengan tampang sedihnya.
__ADS_1
"Gua kayanya nggak bakal balik lagi". Ucap Allena tiba-tiba.
Mereka semua yang mendengar pernyataan Allena seketika memandang Allena dengan ekspresi kaget. Mereka semua masih belum paham apa yang dimaksud Allena dengan tidak akan kembali lagi.
"Nggak bakal balik lagi? Maksud lo apa Len? Maksud lo, lo nggak akan balik ke sini lagi? Lo bakalan menetap tinggal di Amerika? Terus sekolah lo gimana?". Tanya Zee bertubi-tubi dengan ekspresi kagetnya.
"Iya Len? Lo nggak bakal balik? Wah wah.. Lo kok gitu dah. Tolong lo jelasin! Jelasin sejelas-jelasnya". Ucap Manaf dengan ekspresi tak sabar.
"Iya. Tapi masih kemungkinan. Bokap gua yang nyuruh. Dan untuk masalah sekolah mungkin gua bakal pindah dan sekolah di Amerika". Jelas Allena.
"Yaahh.. Allena! Kok lo malah gitu sih. Terus kita nggak bakal ketemuan lagi dong. Kok lo ninggalin kita. Gue kan jadi sedih Allena". Ucap Zee dengan ekspresi sedih.
"Allena! Lo beneran nggak bakal balik lagi? Lo bakal tetap tinggal di Amerika?". Timpal Airin tiba-tiba sambil memandang Allena dengan mencoba menahan sedihnya.
Airin tidak akan tau bagaimana dirinya jika Allena akan benar-benar tinggal di Amerika dan tidak akan kembali lagi. Airin sudah merasa Allena adalah sahabat sekaligus saudara perempuan untuk dirinya.
Allena lah yang pertama kali menjadi temannya. Allena lah yang pertama kali melindunginya. Allena lah yang pertama kali selalu ada untuknya. Allena lah yang pertama kali sahabat yang membuat dirinya menganggap bahwa dia adalah manusia yang layaknya dianggap sama. Bukan hanya karena keterbelakangan keluarga dan juga derajat.
Akan tetapi Allena akan pergi. Airin merasa dia tidak akan ada lagi sahabat seperti Allena. Gadis itu akan meninggalkan Airin.
Allena yang mendengar pertanyaan Airin seketika menatap Airin. Gadis itu tersenyum tipis.
"Masih kemungkinan Airin. Belum tentu. Lu tenang aja. Kalau emang gua bakal menetap disana, gua sesekali bakalan datang kesini". Ucap Allena.
"Tapi kan sama aja Allena. Lo udah ada niatan untuk menetap disana". Ucap Airin dengan ekspresi sedih.
"Udah lu nggak usah pikirin itu. Kalian semua juga nggak usah pikirin itu". Ucap Allena kepada mereka semua sambil tersenyum tipis.
"Huwaa... Allenaaaa...!". Tangis Zee tiba-tiba.
"Dih.. Ngapa lu nangis? Malu tuh dilihatin orang. Banyak orang noh". Ucap Allena merasa lucu dengan reaksi Zee.
"Udah nggak usah nangis Ziva. Kan gua bilang belum tentu juga. Berhenti lu nangis. Banyak yang liatin. Entar dikiranya kita apa-apain lu lagi". Ucap Allena lagi.
"Tapi...! Buat kalian semua kalian nggak boleh kasih tau ini ke siapapun. Karena ini masih kemungkinan juga gua bakalan pindah atau enggak. Soalnya Bokap gua juga masih rencanain. Nggak tau deh gua jadi apa enggak. Kalian ngerti kan apa maksud gua? Cukup kalian aja yang tau tentang ini". Ucap Allena menjelaskan.
"Iya Allena!". Balas Zee masih dengan nada sedih dan cemberut.
Mereka semua kemudian melanjutkan obrolan mereka. Berbeda dengan Airin, gadis itu terus memandangi Allena.
Disaat mereka mengobrol, tidak berapa lama Brayen datang kembali dan menghampiri mereka semua.
"Kalian masih disini? Kirain gue kalian semua udah balik". Seru Brayen tiba-tiba.
"Eh.. Iya Kak. Kita masih disini. Kak Brayen gimana? Kak Brayen udah mau balik?". Tanya Zee.
"Tadinya. Tapi karena kalian masih ada disini, sebentar lagi deh". Jawab Brayen sambil tersenyum.
"Kalian udah selesai?". Tanya Brayen.
"Iya Kak udah". Jawab Airin.
"Mmm.. Kalau gitu kalian mau ikut gue ke rooftop nggak?". Tanya Brayen.
"Wahh.. Boleh tuh? Gimana sama kalian?". Tanya Manaf kearah teman-temannya.
"Umm.. Gue ikut deh. Kepo soalnya. Ada apa sih emangnya diatas?". Timpal Tessa.
"Kalau gitu kita ke atas sekarang". Ucap Brayen sambil berjalan terlebih dahulu.
Mereka semua lalu memandang satu sama lain. Mereka kemudian memutuskan mengikuti Brayen dari belakang. Mereka semua lalu naik ke rooftop gedung tersebut.
Setibanya diatas mereka semua merasa kagum dengan apa yang mereka lihat. Mereka kemudian segera berlari menikmati terpaan angin yang mengenai mereka serta pemandangan yang cukup indah dari atas sana.
Mereka semua langsung saja merasakan sangat damai dan tentram dihati mereka dengan semua suguhan yang mereka lihat dan dapat mereka rasakan.
"Wuuhh.. Seru banget yaampun! Rasanya gue pengen lama-lama terus disini". Seru Zee tiba-tiba.
"Iya gue juga. Pemandangannya bagus banget. Indah". Balas Tessa sambil merentangkan kedua tangannya merasakan terpaan angin mengenai dirinya.
"Eh eh.. Jangan lama-lama! Nanti lo masuk angin terus sakit, gue lagi yang dimarahin sama Tante". Ucap Gamma menghampiri Tessa dan menarik lengan Tessa.
"Iiiihhh... Apaan sih Gamma? Gue masih mau menikmati juga". Desis Tessa melepaskan cengkraman Gamma.
__ADS_1
"Nanti lo masuk angin terus gue yang dimarahin Tessa Amelia Atnan Jaya. Udah-udah nggak usah". Ucap Gamma kembali menahan Tessa.
"Woyy.. Kita ngebasket yoook!". Seru Alvian tiba-tiba sambil memutar bola basket dijari telunjuknya.
Mereka yang mendengar seruan Alvian langsung saja berbalik ke arah Alvian dan langsung berlari ke arah Alvian.
"Gue mau main juga". Teriak Tessa berlari ke arah Alvian.
"Gue juga. Tungguin gue". Teriak Zee menyusul.
Mereka semua kemudian bermain basket bersama diatas gedung restoran tersebut. Mereka bermain dengan senangnya.
Terdengar suara teriakan dan juga tawa mereka sangat lepas ketika bermain bersama.
Ditambah lagi suguhan dengan pemandangan yang begitu indah dari atas sana. Mereka semua sangat senang menghabiskan waktu bersama.
Seperti Allena, gadis itu terlihat sangat senang bermain basket bersama dengan orang-orang yang sudah dia anggap sebagai teman-temannya.
Terlihat ekspresi riang diwajahnya. Tidak pernah dia merasakan sebahagia ini sebelum mengenal mereka semua.
Allena berjanji dia akan melakukan apa saja untuk mereka semua teman-temannya. Dia tidak akan pernah melupakan rasa bahagia seperti ini yang belum pernah Allena rasakan.
Hingga sekitar pukul satu malam mereka keluar dari restoran tersebut. Nampak restoran itu telah sepi. Karena pukul 23.00 WIB restoran tersebut memang akan ditutup dan selesai.
Saat mereka semua keluar, mereka tampak melihat seseorang pria tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk restoran. Mereka semua tak mengenali siapa pria tersebut, sebab pria itu berdiri sambil membelakangi mereka.
Mereka semua kemudian keluar. Saat mereka dekat dengan pria itu, beberapa saat pria itu langsung berbalik menghadap mereka semua.
Saat pria itu berbalik mereka langsung berhenti dan langsung mengetahui siapa pria itu yang ternyata adalah Aziel.
Aziel yang melihat mereka semua langsung saja memberikan tatapan datar namun begitu mencekam pada mereka semua.
"El..! Ngapain lo Bro malam-malam datang kesini?". Tanya Brayen menghampiri Aziel.
"Gua datang kesini karna ada yang mau gua omongin ama lu". Jawab Aziel datar.
"Kenapa nggak dari tadi aja? Ini udah malam banget loh El!". Tanya Brayen.
"Gua baru ingat. Gua juga tadi udah nyariin lu di rumah tapi lu nggak ada. Terus karena Alexa juga butuhin gua tadi, gua nemenin Alexa dulu. Jadi gua baru kesini sekarang. Tapi ternyata lu lagi sama teman-teman baru lu ya". Ucap Aziel datar sambil melirik mereka semua lalu beralih menatap Allena sebentar dan kembali menatap Brayen.
Allena yang sedari tadi berdiri dan memperhatikan mereka, beberapa saat kemudian melangkahkan kakinya dan berjalan pergi menuju mobilnya.
Sekilas Aziel dan Allena saling bertemu pandang dengan keduanya saling melemparkan tatapan datar antara keduanya.
"Ohh.. Sori El! Lo juga tadi kenapa nggak telpon gue dulu?". Tanya Brayen tiba-tiba.
"Gua udah nelfon lu tadi. Tapi lu nggak angkat-angkat". Ucap Aziel beralih menatap datar Brayen.
"Jadi lo nelfon? Kok gue nggak tau ya". Ucap Brayen beralih mengambil ponselnya di saku celananya.
"Oh iya iya lo nelfon. Tapi ponsel gue ke silent nggak tau deh gue kalau lo telfon". Ucap Brayen menjelaskan.
"Kalau gitu gua pulang dulu. Besok nanti kita bicara. Udah malem juga kan". Ucap Aziel datar seraya pergi dari sana melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Aziel lalu menyalakan mobilnya dan pergi dari sana dengan menaiki mobilnya. Saat didalam mobil Aziel melirik Allena sekilas dari dalam mobilnya dan berlalu pergi dari sana.
"Kak Brayen gimana? Kak Brayen nggak pulang?". Tanya Zee seketika pada Brayen.
"Nggak dulu. Gue disini dulu malam ini. Ada yang mau gue urus soalnya". Jawab Brayen.
"Oohh.. Yaudah! Kalau gitu kita semua pulang duluan ya Kak. Makasih atas hidangannya". Ucap Zee.
"Iya sama-sama. Kalian semua juga hati-hati. Allena lo juga hati-hati". Seru Brayen pada Allena.
Allena tak menjawab. Gadis itu hanya menganggukan kepalanya.
"Ciee... Kak Brayen. Semangat ya!". Timpal Tessa tiba-tiba sambil berjalan menuju mobilnya. Sementara Brayen hanya membalas dengan senyuman.
Mereka semua kemudian berjalan ke arah kendaraan mereka. Mereka semua lalu menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi dari tempat tersebut.
"Duluan Bro. Makasih atas makanannya". Teriak Alvian dari dalam mobil sambil berlalu pergi dari tempat tersebut.
Setelah merasa semuanya hilang dari pandangannya dan sepi, Brayen kemudian kembali berjalan masuk ke dalam restoran miliknya.
__ADS_1