
"ALLENA!". Mommy Tiara begitu syok melihat Allena sudah berdiri di depan pintu dalam keadaan basah kuyup.
Allena dengan tatapan begitu datar menatap Mommy Tiara yang terlihat sangat khawatir padanya. Rambut panjangnya yang basah hampir menutupi wajahnya.
"Allena Sayang, kok kamu basah begini Nak? Kamu mandi hujan?". Tanya Mommy Tiara yang begitu khawatir.
Ini sudah malam, dan Allena pulang dalam keadaan basah kuyup. Tentu saja Mommy Tiara sangat khawatir melihat keadaan anaknya seperti itu.
Allena hanya diam. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya melewati Mommy Tiara masuk ke dalam mansion dengan menunduk.
Mommy yang melihat Allena segera menyusulnya. Disana tidak ada Papah Robert. Karena Papah Robert masih sangat sibuk di kantor mengurusi pekerjaannya yang begitu padat mengharuskan Papah Robert lembur untuk malam ini.
"Sayang, biarin Mommy bikinin kamu jahe hangat ya". Seru Mommy Tiara.
Namun Allena tak menggubris dan tetap melangkahkan kakinya sambil terus menunduk.
"Len!". Tegur Louis yang berdiri di dekat sofa sambil memandang Allena.
Allena mengangkat kepalanya dan mendapati Louis yang berdiri sembari menatapnya penuh perasaan bersalah.
Sekali lagi Allena tak menggubris, dan kembali menunduk lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga.
Louis hanya bisa memandangi Allena dengan tatapan sendunya. Louis jadi merasa bersalah terhadap Allena. Gadis itu sangat-sangat berubah tidak seperti dulu lagi. Allena seperti tidak ada semangat hidup. Semakin datar dan selalu bersikap semakin dingin. Louis merasa semua yang terjadi pada Allena karena dirinya.
Tapi Louis tak bisa berbuat apa-apa. Dia masih sangat sayang dan cinta pada Allena. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu. Louis tak ingin Allena berakhir dengan Aziel. Biarkanlah seperti ini dulu. Setelah Allena selesai bersekolah, Louis akan langsung menikahi Allena dan akan membawa gadis itu pergi bersamanya, dimana Aziel tidak ada di kehidupan meraka nantinya. Pasti lama-kelamaan Allena juga akan mencintai dirinya. Begitu pikiran Louis.
...******...
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Selama itu pula Allena menjalani hari-harinya sendirian. Allena menjalani kehidupannya bagai air mengalir.
Allena seakan kembali seperti dulu lagi. Tidak ada teman atau pun sahabat. Dengan semua sahabat-sahabatnya Allena seperti tidak ada hubungan lagi. Hanya ada keluarga yang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan.
Dan juga... Aziel, tidak ada lagi Aziel di kehidupan Allena. Mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing seolah-olah seperti tak ada hubungan apapun. Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu terhadap mereka. Seperti melupakan sesuatu yang pernah mereka lakukan bersama. Saling menjauhi satu sama lain. Saling mengasingi satu sama lain. Benar-benar dua orang berlainan jenis yang sangat asing.
Selama itu juga Aziel di sibukan dengan belajar dan belajar untuk menghadapi ujian. Semua kelas 12 juga sangat sibuk karena itu selama ini. Makanya mereka tidak ada waktu lagi untuk bermain selama beberapa bulan ini.
Hari berganti terus ulangan sudah di selesaikan, ujian bagi kelas 12 pun juga sudah di lewati.
Dan hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu bagi seluruh murid-murid SMAN Nasional. Hari ini adalah hari perpisahan setelah semua murid-murid telah menyelesaikan tugas-tugas mereka sebagai murid-murid di sekolah elit itu.
Siang harinya, terlihat kelima bersahabat Airin, Zee, Tessa, Alvian dan juga Gamma sudah berada di depan gerbang mansion keluarga Albern.
Mereka datang ke sana karena saat di sekolah tadi mereka tak melihat Allena, padahal hari ini adalah hari penting bagi mereka semua. Mungkin memang hubungan mereka berlima dengan Allena belum juga kembali membaik. Tapi tidak ada salahnya kan jika dengan momen saat ini mereka bisa membangun kemistri lagi dengan Allena dan hubungan persahabatan mereka dengan Allena kembali membaik seperti dulu lagi.
"Duhh kok gue jadi gugup gini ya". Ucap Tessa mondar mandir di depan gerbang mansion itu.
"Udah tenang aja Sa, nggak usah gugup gitu, kaya mau kemana aja lo". Tegur Gamma.
"Namanya juga lagi gugup Gam. Kan kita juga udah lama banget nggak ngomong sama Allena. Gue takut dia masih marah sama gue karna gue nampar dia waktu itu". Ucap Tessa.
"Nggak usah mikirin itu, lagian udah lama juga kan. Nggak mungkin juga Allena masih marah ama lo atau pun ke kita-kita. Emang lo pikir Allena itu pendedam kaya lo apa". Cetus Gamma.
Tessa seketika mendelik tajam mendengar perkataan Gamma, "Apaan sih lo Gam, lo kira gue pendedam gitu?". Ucapnya tak terima.
"Ya kali, siapa tau kan lo itu pendedam". Ucap Gamma mencebik.
"Yee nggak ya gue nggak...
"WOYY UDAH NAPA DEBATNYA! MASUK SEKARANG!". Teriak Alvian yang tadi sedang berbicara dengan Pak Penjaga gerbang.
"Debat mulu lo berdua, nggak capek apa". Tegur Alvian saat mereka sudah berada di pekarangan mansion keluarga Albern.
"Si Gamma nih duluan, ngatain gue pendedam. Gue bukan orang jahat ya". Ucap Tessa menggebu.
"Lah, kenyataannya kaya gitu kok". Sahut Gamma.
"Nggak ya, gue nggak pendedam". Cetus Tessa tak terima.
"Udah woy udah, lama-lama gue lakban juga mulut lo berdua". Tegur Alvian yang hampir stres melihat kedua sahabatnya itu. Untung sahabat kalau bukan udah di gantung tuh di pintu gerbang.
Airin dan Zee yang melihat kedua bersepupu itu hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
"Nggak usah heran ya Zee, lo udah terbiasa kan sama kelakuan mereka berdua". Ucap Airin ke arah Zee.
"Iya!". Jawab Zee dengan tersenyum. Gadis itu memang sudah terbiasa dengan kelakuan dua sepupu yang suka berdebat itu.
Sementara itu di ambang pintu mansion sudah berdiri seorang wanita paru bayah seraya tersenyum ke arah mereka berlima.
"Halo Tante!". Sapa Tessa, lalu bergerak mencium punggung tangan Mommy Tiara dengan sopan, kemudian disusul yang lainnya.
"Halo juga anak-anak". Sahut Mommy Tiara tersenyum memandangi mereka satu-persatu.
"Tante nggak kerja Tan?". Tanya Tessa. Setaunya Mommy Tiara memang bekerja juga.
"Nggak, Tante lagi libur hari ini". Jawab Mommy Tiara.
"Ohh gitu ya". Tessa manggut-manggut.
"Iya. Yaudah kalian semua masuk dulu". Ucap Mommy Tiara mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam.
Kelima orang itu kemudian masuk ke dalam mansion keluarga Albern.
"Oh iya, kalian pasti mau ketemu sama Allena kan?". Tanya Mommy Tiara berbalik ke arah mereka berlima.
"Iya Tante. Allenanya ada kan?". Sahut Airin.
"Allena masih di kamarnya, dari semalam dia nggak keluar kamar. Tadi Tante udah ke atas tapi anaknya masih tidur. Kalian semua langsung ke atas aja ya, Tante mau lanjut buat kue". Ucap Mommy Tiara.
"Oke Tante!". Sahut Tessa sambil menaikan kedua jempolnya ke atas.
Kelima bersahabat itu kemudian berjalan menuju tangga untuk ke lantai atas, sementara Mommy Tiara segera kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat kue.
TOK!
TOK!
TOK!
"Allena!". Panggil Tessa sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Allena, "Allena yuhuu ini gue Tessa!
"Oyy Sa, rusak pintu kamar orang lama-lama lo gituin". Tegur Gamma melihat Tessa yang terus menggedor pintu kamar Allena.
"Ya supaya Allena bukain pintunya lah. Siapa tau kan Allena nggak denger". Cetus Tessa.
"Tapi nggak gitu juga kali, rusak entar pintunya. Lagian nggak mungkin juga Allena nggak denger suara cempreng lo itu". Ejek Gamma.
Tessa yang berniat ingin membalas perkataan Gamma seketika berhenti saat dirinya melihat Louis di belakang sana dan tengah berjalan ke arah mereka.
"Louis!". Seru Tessa yang membuat yang lainnya langsung menoleh ke arah Louis.
"Ngapain kalian disini?". Tanya Louis menatap datar mereka semua secara bergantian.
"Ya ngapain lagi kalau bukan mau ketemu sama Allena. Pake nanya lagi lo". Sahut Tessa ketus.
Louis seketika menatap dingin Tessa, lalu mendekati gadis itu, "Minggir!". Cetusnya sambil mendorong Tessa.
"Biasa aja kali nggak usah main dorong-dorong segala". Seru Tessa yang kesal.
"Ck, berisik lo!". Ucap Louis berdecak.
"Suka-suka gue dong. Gue yang berisik kenapa lo yang sewot". Balas Tessa.
"Bacot banget sih! Pergi lo sana!". Usir Louis.
"Eh eh, siapa elo nyuruh-nyuruh gue pergi? Emang lo pikir ini tempat tinggal lo apa? Disini tuh lo cuman numpang, jadi lo nggak usah sok berkuasa. Ngerti lo?". Sinis Tessa.
"Apa lo bilang tadi?". Tantang Louis yang sudah menghadap Tessa.
"Gue bilang lo itu nggak...
"Astaga udah Sa, nggak usah debat terus. Dari tadi lo debat terus loh, udah tadi sama Gamma sekarang Kak Louis. Lo bisa berhenti nggak sih Tessa? Kita disini itu untuk ketemuan sama Allena bukan lomba debat. Cape gue lama-lama ngomong sama lo". Ucap Airin yang langsung melerai perdebatan kedua manusia itu. Kalau dibiarin terus nggak kelar-kelar tu perdebatan.
"Tuh dengerin sahabat lo". Imbuh Louis yang langsung mendapat pelototan dari Tessa. "Minggir sana! Biarin gue aja yang bukain pintunya!". Sambungnya. Lalu bergerak membuka pintu kamar Allena yang ternyata tidak dikunci.
__ADS_1
Mereka semua kemudian masuk ke dalam kamar dengan tanpa bersuara, karena melihat Allena yang ternyata masih tidur dengan terlihat sangat tenang.
Posisinya Allena tertidur di ujung ranjang sebelah kanan, telentang dengan memakai selimut sebatas pinggangnya. Wajahnya terlihat sangat tenang dan kedua tangan di samping kiri dan kanan dia atas selimut yang dipakainya.
"Lama bener tidurnya Allena nggak bangun-bangun". Celetuk Gamma seketika.
Tessa langsung menyikut pinggang Gamma, "Ssstt nggak usah berisik lo. Entar Allena bangun lagi.
"Aww shh sakit bego, nggak usah nyikut pinggang gue juga kan". Ucap Gamma meringis, "Lagian Tante Tiara sendirikan yang nyuruh kita bangunin anaknya yang kebo ini". Cetusnya.
"Yaelah mulai lagi nih dua bocah". Tegur Alvian yang langsung memberikan peringatan pada Tessa dan Gamma.
Sementara Louis mulai bergerak mendekati tepi ranjang sebelah kanan untuk membangunkan Allena.
"Allena! Allena! Hei Allena bangun! Teman-teman lo pada dateng nih. Ada tuh satu temen lo yang gesrek datang juga". Ucap Louis sembari menggoyangkan tangan Allena.
"Eh, lo omongin gue ya?". Seru Tessa yang tau akan maksud ejekan Louis barusan.
"Gue nggak sebut nama ya. Tapi kalau lo ngerasa, ya bagus deh kalau gitu". Sahut Louis sinis.
"Hiii dasar Cowok Nyebelin! Nyebelin lo!". Cetus Tessa yang kesal.
Namun Louis tak menggubris dan kembali mencoba membangunkan Allena yang masih saja tidur.
"Allena bangun! Hei bangun Allena!". Seru Louis yang terus menggoyang-goyangkan tangan Allena namun tak ada respon sedikit pun dari Allena. Masih saja setia menutup matanya.
Airin yang melihat Louis berusaha membangunkan Allena namun Allena tak kunjung bangun juga mulai mendekati ranjang itu, "Allena bangun! Kita semua datang kesini buat minta maaf sama lo". Ucap Airin seraya menggoyang-goyangkan kaki Allena. Namun hasilnya tetap sama. Tak ada respon dari Allena.
"Ini Allena kok nggak bangun-bangun ya". Ucap Alvian mengerutkan alisnya bingung sembari menatap Allena yang masih setia tidur. Pasalnya sedari tadi Allena coba dibangunkan tapi tak bangun-bangun juga.
Zee yang sedari tadi serius memperhatikan Allena mulai merasakan kejanggalan. Ditatapnya serius tubuh Allena dengan alis yang mengerut.
"Itu perut Allena tidak bergerak ya?". Ucap Zee yang sontak membuat mereka semua langsung menoleh ke arah Zee.
Seketika mereka semua diam mencoba mencerna apa maksud dari perkataan Zee barusan.
Louis seketika menyingkap selimut Allena, lalu memandangi perut Allena dengan serius. Benar saja perut Allena sudah tidak bergerak lagi. Louis kemudian menatap wajah Allena. Satu hal yang baru disadari, wajah Allena terlihat pucat dengan bibir yang ikut pucat. Bahkan pucatnya seperti bukan pucat orang sakit biasa pada umumnya.
Louis kemudian dengan cepat bergerak meraih lengan Allena, menekan lengan gadis itu mencoba merasakan apakah nadinya masih berdenyut atau tidak. Louis membulatkan matanya, lalu dengan cepat berpindah ke hidung Allena.
"NGGAK ADA NAFASNYA!". Ucap Louis sembari menoleh ke arah mereka semua dengan membola.
Seketika mereka semua terkejut mendengar perkataan Louis barusan.
"Wahh yang bener lo Louis, jangan bercanda". Ucap Gamma yang masih belum yakin dengan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"GUE NGGAK BERCANDA BANG*SAT!". Bentak Louis.
Dengan cepat Louis bergerak untuk menggendong Allena ala bride style.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kasih tau Tante Tiara juga". Ucap Louis dengan membopong Allena keluar dari dalam kamar itu.
Setibanya di bawah...
"Louis, ada apa? Kenapa Allena?". Tanya Mommy Tiara yang kebetulan habis dari dapur dan melihat mereka semua berjalan terburu-buru di ruang tengah.
"Tante Allena Tante, kita harus bawa Allena ke rumah sakit sekarang juga". Dengan segera Louis kembali melanjutkan langkahnya keluar dari mansion.
"Tante, Tante yang tenang ya. Kita doakan saja semoga nggak terjadi apa-apa sama Allena". Ucap Tessa sembari membantu Mommy Tiara berjalan di sampingnya.
"Memangnya ada apa dengan Allena Nak? Kenapa Allena harus dibawa ke rumah sakit". Ucap Mommy Tiara yang mulai cemas.
"Kita ke rumah sakit dulu ya Tan, takutnya Tessa salah ngomong". Ucap Tessa berusaha menenangkan Mommy Tiara.
Bagaimana pun mereka semua harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikan semuanya.
Entahlah kini mereka semua takut. Jangan sampai apa yang mereka pikirkan benar terjadi adanya.
Mereka semua kemudian mengambil kendaraan masing-masing yang mereka bawah tadi, lalu mengikuti mobil Louis yang mulai berjalan duluan di depan sana.
__ADS_1