Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 76 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Sementara saat ini Allena sudah diobati oleh petugas UKS yang ada diruangan itu. Allena terlihat berbaring miring agar punggungnya tak tertindis oleh kasur.


Kata petugas yang mengobati Allena, punggung Allena tidak terlalu parah. Kulitnya tidak akan melepuh dan hanya akan membengkak serta memerah saja. Sebab kuah bakso yang sengaja ditumpahkan oleh Alexa itu bukan kuah bakso yang mendidih atau baru diangkat dari panci. Jadi dengan rutin mengoleskan salep mungkin satu atau dua minggu punggung Allena akan sembuh.


Allena masih sedikit merasakan perih dipunggungnya sehingga dia berbaring tak memakai baju dan juga bra. Hanya memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Gimana? Masih sakit punggungnya?". Tanya Aziel yang saat ini duduk dikursi samping tempat tidur berhadapan dengan Allena.


"Perih dikit, tapi udah nggak apa-apa". Jawab Allena.


"Sakit banget ya tadi pas Alexa numpahin kuah baksonya?". Ucap Aziel menatap mata hazel cantik itu.


Allena menatap Aziel dengan wajah masamnya, "Ya sakitlah, pake nanya lagi lu". Allena menjawab dengan ketus.


Aziel berdengus lucu, "Lu tuh ya, sakit aja masih bisa marah-marah. Galak banget sih". Ucap Aziel geleng-geleng akan sikap Allena.


Gadisnya itu memang sangat tempramental ya. Masih bisa marah-marah meskipun keadaannya kaya gitu.


"Ya lu lah, udah tau sakit, masih nanya lagi. Coba lu rasain sendiri kalau gitu, biar lu tau rasanya kaya gimana". Allena memasang tampang cemberutnya.


Aziel memandang serius Allena, "Kalau gua bisa bertukar posisi sama lu tadi, gua bakalan rela Len. Pasti lu nggak akan rasain sakit kaya gini sekarang". Ucap Aziel membuat Allena langsung terdiam.


Manik mata mereka bertemu. Saling pandang dalam diam.


Tiba-tiba pintu UKS terbuka dan membuat mereka menoleh kearah pintu.


"Allena... bestiku sayang! Gimana keadaan lo yaampun? Pasti sakit ya Allena". Teriak Zee masuk kedalam ruangan dan langsung mengahampiri Allena yang tengah berbaring.


Disana juga ada yang lainnya ikut masuk kedalam ruangan.


"Huwaa.. Allena, Gimana keadaan lo? Parah banget ya Len?". Zee terlihat sangat kasihan kepada Allena sahabatnya itu.


"Eh, lu bisa nggak disitu? Nanti lu nyenggol Allena, gimana sih!". Aziel memerintah Zee agar tak terlalu dekat dengan Allena. Pasalnya gadis itu duduk diatas ranjang yang ditempati oleh Allena.


"Eh iya, sorry sorry gue lupa. Maaf!". Zee dengan cepat turun dari ranjang.


Tessa langsung saja menjitak kepala Zee, "Lo sih, pake acara naik ke ranjang segala. Kalau kena punggung Allena gimana. Nggak mikir lo". Tessa heran melihat tingkah sahabatnya itu yang terlalu aktif tak mengenal situasi.


"Yaudah sih, gue kan lupa. Namanya juga khawatir sama sahabat sendiri". Zee berkata sambil memegang kepalanya yang dijitak oleh Tessa.


Mereka yang ada disana hanya menggeleng heran melihat tingkah Zee itu.


"Gimana keadaan lo, Len?". Tanya Alvian seketika.


"Iya Len, gimana keadaan lo. Parah ya?". Tessa bertanya, terlihat aura khawatir diwajah gadis itu.


Allena menoleh kearah para sahabatnya, "Nggak juga. Kata petugasnya satu atau dua minggu bakalan sembuh. Nggak melepuh kok". Jawab Allena biasa saja.


"Duhh kasihan banget sih lo My Bestie.


"Gara-gara si Mak Lampir sialan tuh. Untung Airin udah kasih pelajaran ke dia tadi". Ucap Zee yang terlihat kesal mengingat kejadian di kantin tadi.


"Iya Len, lo tau sahabat kita ini udah mulai berani ngelawan". Timpal Tessa.


"Tadi dia nyiram muka Alexa pakai jus, terus jambak-jambakan sama Alexa". Sambung Tessa yang terlihat bersemangat bercerita membuat Allena langsung menoleh kearah Airin yang hanya tersenyum padanya.


Setya kemudian muncul dari balik pintu dan masuk kedalam ruangan. Pria itu memutar matanya jengah ketika melihat Zee yang ada disana. Wajah Zee seketika berbinar karena melihat kedatangannya Setya.


Setya kemudian menghampiri Aziel, "Nih El, sesuai yang lo mau". Setya memberikan Aziel berupa jaket kaos berbahan lembut.


"Ukuran besar kan ini?". Tanya Aziel sambil membolak-balik jaket tersebut yang masih terbungkus rapih.


"Coba lo periksa! Kayanya sih gitu". Jawab Setya.


Aziel kemudian membuka bungkusan jaket tersebut dan memeriksanya.


"Oke, pas. Thank's, Ya". Aziel berterima kasih dan hanya dibalas anggukan oleh Setya.


Aziel kemudian menoleh kearah Allena yang masih berbaring, "Lu pakai jaket ini dulu ya". Ucap Aziel lembut.


Allena mengangguk, "Iya". Jawab Allena. 'Lu tau El, gua seneng banget lu bisa perhatian sama gua kaya gini. Rasanya bahagia banget'. Batin Allena dalam hati. Dia selalu ingin Aziel perhatian padanya. Hal itu membuatnya senang sekaligus sangat bahagia.

__ADS_1


Mereka kemudian memutuskan akan balik ke kelas terlebih dahulu dengah Allena yang tetap berada di UKS hingga pulang sekolah nanti.


Allena menolak untuk pulang karena tidak ingin para sahabatnya dan juga Aziel meninggalkan pelajaran hanya karena dirinya.


Kini Allena sudah berada dalam UKS sendirian. Gadis itu bangun dari ranjang dan beranjak perlahan masih dengan memakai selimut menuju sofa untuk mengambil tas miliknya.


"Aww.. shh.. masih perih ya". Allena duduk disofa dengan perlahan sambil membuka resleting tasnya.


Lagi dan lagi, Allena melakukan hal yang sama lagi. Gadis itu kembali mengambil barang yang sering dibawanya dan meneguknya kembali bersama air digelas yang tersedia di UKS.


Allena kemudian diam memandangi stoples kecil berisi barang yang paling sangat dibutuhkannya setiap saat. Dipandanginya terus benda yang ada ditangannya itu.


Tidak berselang lama terdengar suara isakan yang ternyata berasal dari bibir Allena.


"Hiks hiks.. gua cape, gua capeee... banget kaya gini terus". Allena menangis sambil menggenggam erat benda ditangannya.


"Sampai kapan gua harus bertahan? Rasanya gua udah nggak kuat nahan rasa sakit ini terus-terusan.


"Kenapa harus kaya gini ya Tuhan. Rasanya Allena pengen nyerah aja". Ringis Allena masih terus menangis pedih mengingat keadaannya sekarang ini.


"Hiks..hiks.. gua bener-bener nggak kuat lagi". Allena mengusap air matanya dengan keadaan pedih. Dadanya sangat sesak tak kuat menghadapi cobaan yang diberikan oleh Tuhan untuknya.


Allena kemudian memasukan kembali barang tersebut kedalam tasnya masih terus menangis. Air matanya tak mau berhenti seakan ikut mengerti apa yang dialaminya.


Gadis itu kemudian kembali beranjak menuju ranjang dan berbaring seperti semula.


"Hiks..hiks..". Allena masih terus menangis. Dia hanya ingin menumpahkan kesedihannya. Gadis itu benar-benar rapuh, sangat rapuh.


Allena memang mempunyai sahabat-sahabatnya yang selalu bersamanya.


Allena juga mempunyai Aziel yang mulai dekat dan perhatian padanya.


Dan Allena tidak bisa memungkiri dia sangat senang dengan semua itu.


Tapi disisi lain, disaat dia sendiri, Allena selalu merasakan hampa dihidupnya dan selalu merasa sedih karena apa yang menimpa dirinya. Cobaan yang begitu berat bagi Allena.


Dan Allena menyimpan itu sendiri. Dia berusaha menyelesaikannya sendiri. Gadis itu tidak ingin orang terdekatnya sampai tahu. Gadis itu tidak ingin orang terdekatnya sampai susah karena dirinya.


Allena benar-benar akan berusaha menyelesaikannya sendiri hingga akhir hayatnya.


Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Kini Aziel dan para sahabatnya Allena sudah berada di UKS. Disana juga ada Setya.


Terlihat Allena keluar dari dalam kamar mandi yang ada diruangan itu bersama Airin dan juga Zee. Kedua wanita itu membantu Allena untuk memakaikan jaket yang diberikan oleh Aziel tadi.


"Yaudah kalau gitu gue sama Airin ke rumah sakit dulu ya. Kalian duluan aja". Ucap Tessa seketika kepada mereka semua yang ada diruangan itu.


Allena menoleh, "Gua ikut". Ucap Allena seketika.


"Duhh nggak bisa dong Len, lo harus istirahat biar cepat sembuh". Ucap Tessa melarang.


"Tapi gua tetap mau ikut". Allena memaksa.


"Ayolah Len, lo dengerin napa kata gue. Ini juga demi kebaikan lo kok". Tessa karena sangat khawatir akan keadaan Allena saat ini.


"Len, lu jangan batu kalau dibilangin. Lu itu harus istirahat... I-S-T-I-R-A-H-A-T. Ngerti lu? Batu banget, dibilangin juga". Kini Aziel yang berbicara. Pria itu terlihat gemas akan sikap Allena.


Allena langsung menoleh kearah Aziel, "Iya, iya, gua ngerti kok. Orang gua bercanda doang juga". Ucap Allena ngeles.


Aziel menyentil dahi Allena, "Masih bisa sempat-sempatnya bercanda lu ya dalam keadaan kaya gini.


"Udah udah kita keluar sekarang. Gemes gua ama lu lama-lama". Sambung Aziel sambil membantu membawa Allena keluar dari UKS.


Mereka semua kemudian keluar dari dalam ruangan itu dan pergi dari sana.


Sekitar 30 menit mereka menempuh perjalanan dan kini mereka semua sudah berada didepan rumah Allena.


Sementara Tessa dan Airin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ayah Airin masih dirawat.


Beliau sudah sadar 3 hari yang lalu. Tapi masih harus dalam pemantauan dan masih harus rawat inap di rumah sakit.


Terlihat Allena keluar dari dalam mobil Aziel bersama Zee yang membantunya. Disusul Aziel dan juga Setya yang keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Aziel kemudian mendekat kearah Allena ingin membantu.


"Eh eh, Kak El mau kemana? Kak El mau ikut masuk kedalam?". Tanya Zee ketika melihat Aziel yang ingin ikut masuk kedalam rumah Allena.


"Iya, Kenapa emangnya? Nggak boleh?". Aziel memandang Zee bingung.


"Bukannya nggak boleh Kak, tapi gimana ya?". Zee terlihat menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh cewe aneh, lu kenapa sih? Kita itu mau bantuin si cewek datar ini. Emang nggak boleh apa?". Tegur Setya.


Zee menoleh kearah Setya, "Bukannya nggak boleh Kak Setya, tapi gimana ya ngejelasinnya". Zee terlihat bingung bagaimana mau menjelaskannya.


"Duhh.. pokoknya gini deh, Kak El sama Kak Setya nggak boleh ikut masuk kedalam. Gitu ajalah pokoknya". Sambung Zee kemudian.


"Lah, kenapa gitu? Nggak jelas lo. Cewe aneh lo emang". Setya terlihat aneh melihat tingkah Zee saat ini. Seperti ada yang disembunyikan oleh gadis itu.


'Duhh gimana nih?'. Batin Zee kebingungan sambil memandangi Aziel dan juga Setya secara bergantian.


Zee kemudian beralih melihat Gamma dan Alvian yang berjalan kearah mereka. Dengan cepat Zee menarik lengan Alvian, "Kenapa Ayang Zee?". Tanya Alvian langsung.


"Lo cepat tahan Kak El sama Kak Setya biar mereka nggak ikut masuk kedalam rumah. Bisa gaswat kalau sampai mereka ikut masuk kedalam. Di rumah Allena ada Louis". Zee berbisik pada Alvian.


"Lah, kenapa emang kalau ada Louis?". Alvian masih belum paham maksud Zee.


"Duhh Alvian... lo gob*lok apa gimana sih ha? Lo kan tau kalau Allena itu dijodohin sama Louis, dan Louis itu tinggal serumah sama Allena lo tau". Ucap Zee masih berbisik pada Alvian.


"Sekarang cepat lo minta bantuan sama Gamma, buat halangin Kak El sama Kak Setya biar nggak masuk kedalam rumah. Berabe nanti urusannya". Sambung Zee lagi.


"Oh iya iya". Alvian manggut-manggut.


"Yaudah cepetan do*ngo. Kasihan Allena berdiri dari tadi, kepanasan dia nantinya. Gob*lok banget sih lo, dari tadi juga". Zee terlihat tak sabar.


"Iya iya, sabar napa". Alvian kemudian bergegas menarik lengan Gamma untuk ikut membantunya sesuai arahan dari Zee.


Sementara Zee langsung menghampiri Allena dan membawa sendiri gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya.


Benar saja, terlihat motor Louis yang terpakir dengan rapi digarasi rumah. Sepertinya pria itu juga habis pulang dari sekolah.


Zee kemudian bergegas membawa Allena masuk kedalam rumah, "Sorry ya Len, takutnya Kak El sama Kak Setya tau kalau lo tinggal serumah sama Louis.


"Soalnya kan mereka belum tau soal hubungan lo sama Louis". Sambung Zee.


Saat ini mereka tengah berada di ruang tamu menunggu Gamma dan Alvian.


"Iya nggak papa, gua paham. Makasih udah mau bantuin". Balas Allena.


Sebenarnya Aziel sangat berharap agar Aziel mau ikut membantunya sampai masuk kedalam rumah. Tapi apa yang dikatakan oleh Zee juga ada benarnya.


Bagaimana jika Aziel melihat Louis yang ada dirumahnya. Pasti Aziel akan tau tentang perjodohan itu dan akan tahu tentang Allena yang tinggal serumah dengan Louis.


Mungkin Aziel akan menjauhinya dan tidak akan dekat lagi dengan dirinya. Mungkin Aziel juga akan menganggapnya sebagai wanita pembohong, karena tidak jujur tentang perjodohan tersebut.


Jujur saja Allena selalu memikirkan tentang hal itu. Bagaimana jika semuanya diketahui oleh Aziel. Sungguh Allena sangat dilema karena semua itu.


Beberapa menit kemudian datang Alvian dan juga Gamma yang langsung menghampiri mereka di ruang tamu itu.


"Gimana? Mereka udah pulang?". Tanya Allena pada kedua pria itu.


"Udah". Jawab Alvian dan Gamma bersamaan.


"Umm yaudah, kalau gitu gua ke kamar gua dulu, mau istirahat. Masih perih nih rasanya punggung gua". Desis Allena yang masih merasakan perih dipunggungnya.


"Gua bantuin, Len". Zee langsung bergegas menghampiri Allena untuk membantu.


Allena berhenti sejenak dan kembali menoleh kearah kedua pria sahabatnya, "Kalian kalau mau makan minta aja sama Bi Ratih di dapur, kalau nggak gofood aja. Anggap aja kaya rumah sendiri.


"Gua mau ke kamar dulu". Ucap Allena tersenyum kemudian berbalik.


"Oke Allena sodaraku.


"Sip lahh.

__ADS_1


Jawab kedua pria itu, Alvian dan Gamma.


Sementara Allena sudah menaiki tangga bersama Zee ingin menuju kamarnya dilantai dua.


__ADS_2