
"ALLENA!!". Seru seorang pria yang berjalan menghampiri Allena.
"Beneran datang lo? Kirain lo boongin gue". Ucap pria itu saat sudah di dekat Allena.
"Hmm". Gumam Allena dengan ekspresi datarnya.
Brayen, pria itu ternyata Brayen. Seketika Brayen berdecak mendapati sikap Allena yang masih saja bersikap dingin setiap bertemu dengan orang.
"Allena Allena!". Gumam Brayen sambil menggelengkan kepalanya, "Yaudah kalau gitu kita cari tempat dulu biar enak ngobrolnya.
"Kenapa harus cari tempat dulu? Kenapa nggak langsung suruh pindah aja mereka?". Ucap Allena sambil melirik ke arah para pengunjung yang ramai di restoran milik Brayen itu.
Brayen langsung melongo mendengar perkataan Allena.
"Mana bisa Allena, mereka itu pengunjung, sumber uang buat gue ckck". Decak Brayen tak habis pikir.
"Emang lu butuh duit? Yaudah gua kasih. Berapa emang lu mau?". Perkataan Allena semakin membuat Brayen frustasi sendiri. Bisa-bisanya Allena dengan santainya berkata seperti itu.
"Nggak usah! Makasih! Mending lo ikut gue sekarang sebelum gue cium lo disini". Canda Brayen membuat Allena langsung memberikan tatapan tajam ke arah Brayen.
"Apa?
"Eh nggak nggak, bercanda doang kok Len". Cengir Brayen, "Yaudahlah mending lo ikut gue sekarang!". Brayen langsung menarik lengan Allena tanpa permisi, membawa gadis itu menuju ke salah satu meja yang ada di sisi restoran.
Setibanya di tempat itu, Brayen langsung menarik kursi mempersilahkan Allena untuk duduk. Kemudian Brayen beranjak duduk di kursi berhadapan dengan Allena.
"Makanannya mana?". Tanya Allena seketika.
"Yaampun Len, Len, soal makanan aja lo gercepnya minta ampun dah. Sabar napa, gue udah nyuruh pelayan bawa makanan kesini Len.". Brayen sebenarnya hampir tak habis pikir dengan gadis datar di hadapannya ini, kalau udah soal makanan semangat 45 langsung keluar.
"Lama!". Cetus Allena.
"Ya sabar atuh Neng Lena, kan baru dipesenin juga.
"Hmm". Gumam Allena kemudian, "Kalau gitu, emang lu mau ngomong apaan sampai ngajak gua kesini segala?". Tanya Allena akhirnya sembari menatap Brayen tanpa ekspresi.
"Lo duluan deh! Lo juga ada yang pengen diomongin kan?". Sahut Brayen.
"Hmm yaudah!
"Emang lo pengen ngomong soal apa?". Tanya Brayen.
"Gua mau lu kasih tau ke cewek lu untuk nggak gangguin sahabat gua, Airin". Perkataan Allena itu berhasil membuat Brayen mengerutkan alisnya bingung.
"Maksud lu?". Tanya Brayen tak paham.
"Alexa! Cewe lu Alexa kan?". Sontak Brayen terlihat terkejut mendengar perkataan Allena.
"Len, lu...
"Kenapa? Salah?
"Bukan, bukan gitu. Cuman lu tau dari mana kalau Alexa itu cew..eh maksud gue lo tau dari mana kalau gue suka sama Alexa?". Tanya Brayen menatap serius Allena. Sepertinya memang belum banyak yang dia ketahui tentang Allena. Gadis itu memang selalu terlihat tak peduli dengan keadaan sekitar dan juga orang lain. Tapi ternyata Brayen salah.
"Gua cuman tebak aja". Jawab Allena santai.
"Oohh gitu". Brayen manggut-manggut. Biarkan sajalah kalau Allena memang mengetahui jika dirinya sudah menyukai Alexa. Toh emang benar kan kenyataannya kaya gitu.
"Iya, jadi gua minta lu kasih tau ke cewek lu itu. Harusnya lu bersyukur gua nggak sampai ngebuat keluarganya bangkrut. Kalau bukan karena lu, gua udah bikin cewek lu tidur di jalanan sekarang. Berani-beraninya dia ganggu sahabat gua tadi". Ucap Allena datar.
"Yee jangan dong Allena! Tega amat lo sama Alexa". Sahut Brayen. Bagaimana pun Brayen tentu saja tahu seperti apa keluarga Albern itu. Satu kali jentik saja sudah bisa memporak-porandakan suatu bisnis apalagi bisnis yang masih berada dibawahnya keluarga Albern.
"Hmm, makanya jagain tuh cewek lu". Ucap Allena kemudian.
"Iya iya bakalan gue kasih tau". Balas Brayen. 'Songong amat! Untung cantik'.
"Yaudah, kalau gitu emang lu mau ngomong apa ama gua?". Tanya Allena.
Brayen seketika memasang cengirannya di hadapan Allena membuat gadis itu mengerutkan alisnya.
"Apa? Cepetan ngomong!". Sentak Allena.
"Sebenarnya gue...
Sebelum melanjutkan ucapannya, Pelayan yang sempat diperintahkan Brayen tadi datang sambil membawa pesanan makanan.
Setelah meletakan makanan di atas meja, Pelayan itu pun menunduk dan pamit pergi dari sana.
"Sambil lo makan aja gimana?". Tanya Brayen pada Allena sebelum ingin melanjutkan ucapannya.
"Hmm". Tanpa berlama-lama Allena langsung meraih piring makanan di hadapannya dan langsung menyantapnya dengan lahap.
Brayen yang melihat hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat Allena yang begitu lahap menyantap makanannya.
"Yaudah lanjut!". Ucap Allena sambil mengunyah makanannya.
"Pelan-pelan aja makannya Len, entar lo kesedak lagi. Pantas aja Aziel suka bilang lo itu rakus. Ternyata emang serakus itu ya". Ejek Brayen dengan terkekeh.
"Nggak usah bahas dia, nggak penting. Sekarang mending lu ngomong apa yang pengen lu omongin ke gua". Ucap Allena.
"Oke oke sensi amat perasaan!
"Yaudah cepetan!". Gertak Allena, "Lama amat sih.
"Iya iya bentar". Brayen mulai menatap serius Allena, "Gini Len, sebenarnya gue kan mau keluar negri nih lusa nanti...
"Terus?
__ADS_1
"Gue mau lo bantu gue buat jagain Alexa. Bisakan?
"Ha?". Allena menaikan sebelah alisnya mendengar permintaan Brayen barusan.
"Iya Len, Alexa tuh batu banget gue bilangin. Makanya gue minta lo untuk bantuin gue jagain Alexa. Jangan sampai dia deket-deket cowok lain selama gue di luar negri". Jelas Brayen.
"Kenapa harus gua?". Tanya Allena menatap Brayen.
"Ya gimana ya". Ucap Brayen sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Gue mikirnya karena nggak ada yang berani lawan lo jadi mungkin gue bisa minta bantuan sama lo aja. Gue udah minta bantuan sama Aziel, tapi katanya dia ogah bantuin gue. Kalau sama lo kan misal ada cowok yang deketin Alexa bisa langsung lo sikat. Hehe!
"Lu kira gua pembantu lu apa?". Sahut Allena galak.
"Mau dong Allena mau yah, ya ya ya. Masa lo nggak mau bantuin gue sih". Cicit Brayen dengan memasang tampang pupy ayesnya sambil menggenggam tangan Allena di atas meja.
"Ih apaan sih, jijik tau lihat lu kaya gitu". Ucap Allena mendelik jijik.
"Pokoknya gue nggak mau tau lo harus bantuin gue. Soalnya cuman lo yang bisa bantu gue untuk jagain Alexa". Kekeh Brayen tanpa melepaskan genggamannya ditangan Allena.
"Yaudah lepasin dulu tangan gua!
"Nggak mau, lo harus jawab dulu sekarang!". Paksa Brayen.
Sementara itu tanpa mereka berdua sadari, dari kejauhan dua orang tengah berjalan menghampiri tempat mereka.
Salah satu orang dari keduanya langsung menarik tangan Allena hingga terlepas dari genggaman Brayen.
"Ikut gua sekarang!". Ternyata itu Aziel. Dengan segera pria itu langsung menarik Allena dengan kasar sehingga gadis itu beranjak dari kursinya, dan Aziel langsung membawa Allena keluar dari restoran itu.
Sementara Brayen yang melihat kepergian Allena bersama Aziel langsung menyadari ada seseorang yang dikenalinya disana. Orang yang datang bersama Aziel tadi. Seorang gadis. Lebih tepatnya gadis yang disukainya, Alexa.
Matanya langsung bertemu dengan mata Alexa saat dia mendongak menyadari gadis itu ternyata juga ada disana.
"Lex!". Panggil Brayen merasakan sesuatu yang aneh ketika menatap mata gadis itu.
Tanpa berkata apa pun, Alexa langsung berbalik meninggalkan Brayen disana.
"Alexa, tunggu!". Panggil Brayen beranjak menyusul gadis itu.
Sedang saat ini di luar restoran...
"Lepasin! Sakit tangan gua lu tarik-tarik terus". Desis Allena memberontak.
Namun Aziel seolah tak menghiraukan dan tetap menarik lengan Allena.
"Aww shh sakit bego!". Allena terus memberontak namun tak bisa.
Allena yang mulai kesal dengan sekuat tenaga menarik lengannya dengan kuat, "SAKIT AZIEL, LU DENGER NGGAK SIH!". Bentaknya hingga terlepas dari genggaman Aziel.
"Kenapa sih lu selalu kasar ama gua? Lu selalu aja narik-narik tangan gua ampe merah kaya gini. Lu tau nggak tangan gua sakit lu tarik terus". Desis Allena kesal sembari mengusap tangannya yang merah akibat cengkraman Aziel yang begitu kuat tadi.
"Allen, maaf gua nggak sengaja tadi. Sorry!". Ucapnya merasa bersalah.
Allena langsung mundur ke belakang, "Jangan sentuh-sentuh gua!". Sentak Allena memberikan tatapan tajam ke arah Aziel.
"Allen, gua nggak sengaja tadi, gua minta maaf.
"Iya lu minta maaf, dan nggak lama pasti bakal lu ulangin lagi.
"Nggak, gua nggak ulangin lagi kok. Gua minta maaf.
Allena semakin memberikan tatapan kesal untuk Aziel, "Lu bisa nggak sih jauhin gua. Udah gua bilang jauhin gua, gua nggak mau berhubungan lagi ama lu. Lu bodoh apa to*lol sih?". Bentak Allena seketika membuat Aziel langsung mengepalkan kedua tangannya mendengar Allena memakinya.
Namun Aziel sebisa mungkin menahan emosinya agar tak membuat Allena marah lagi.
"Allen, gua...
"JAUHIN GUA! LU KENAPA SIH NGGAK NGERTI JUGA? JAUHIN GUA AZIEL, JAUHIN GUA!". Bentak Allena membuat orang-orang yang melihat dan melintas langsung menoleh ke arah mereka seolah ingin tahu apa yang terjadi dengan kedua sejoli itu.
Sementara Aziel yang mulai terpancing emosinya ingin kembali mendekati Allena, namun tiba-tiba saja tubuhnya terdorong ke belakang karena ada seseorang yang mendorongnya.
"Udah berapa kali gue bilang, jauhin Allena! Jauhin tunangan gue! Nggak ngerti juga lo baji*ngan!". Ternyata orang itu adalah Louis. Entah bagaimana Louis sudah ada disana? Padahal Allena tidak mengatakan apa pun tentang dirinya yang akan ke restoran untuk betemu Brayen.
"Sekali lagi lo gangguin tunangan gue, jangan harap lo masih bisa ada di dunia ini. Lo harusnya bersyukur karena selama ini gue diam aja nggak ngelawan. Tapi sekali lagi, sekali lagi lo masih gangguin Allena, jangan harap gue cuman diam aja. Ingat itu!". Setelah berbicara seperti itu Louis langsung menarik lengan Allena menuju mobi yang dibawanya tadi.
Sementara Aziel hanya bisa menatap mobil Louis yang membawa Allena bersamanya mulai menghilang bersama kendaraan-kendaraan lainnya.
Aziel seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan amarah.
"Cih, berani banget dia ngancem gua!
...******...
Hingga mobil yang ditumpangi Allena dan Louis sudah berhenti di parkiran.
Selama di perjalanan Allena dan Louis hanya diam. Louis dengan pikirannya begitupun Allena.
Louis kemudian keluar terlebih dahulu dari dalam mobil dan langsung berjalan menunju mansion.
"Louis!". Panggil Allena yang mulai berjalan menyusul Louis.
Sementara Louis tetap berjalan tak mempedulikan panggilan Allena.
"Louis tunggu!". Panggil Allena lagi sambil terus berjalan dengan cepat untuk menyusul Louis yang juga tetap tak mempedulikannya.
Saat Louis sudah di depan kamarnya dan ingin membuka pintu, Allena langsung meraih lengannya.
__ADS_1
"Louis tunggu, gua mau ngomong ama lu". Ucapnya kemudian.
Louis lalu berbalik menghadap Allena dengan memasang tampang datarnya.
"Ada apa?". Tanya Louis.
Allena seketika menghela nafasnya, lalu melepaskan genggamannya di lengan Louis.
"Marah lu ama gua?". Tanya balik Allena.
Louis menggeleng.
"Terus?
Louis diam sebentar sembari menatap Allena dalam, lalu mulai berkata, "Gue nggak marah, gue cuman nggak suka aja lo pergi nggak bilang-bilang sama gue. Apalagi lo pergi untuk nemuin Aziel". Jawab Louis masih dengan tampang datarnya.
"Gua kesana nggak untuk temuin dia, gua kesana untuk temuin Brayen". Jawab Allena jujur.
"Brayen?
Allena mengangguk perlahan.
Seketika Louis menghembuskan nafasnya kasar, "Terus kenapa lo nggak bilang sama gue? Lo taukan seberapa khawatirnya gue sama lo. Kalau sampai Om Robert sama Tante Tiara nanyain lo gimana? Gue jawab apa kalau sampai mereka nanyain lo sedangkan gue nggak tau keberadaan lo dimana.
Allena diam. Seperti tengah memikirkan sesuatu. Sedetik kemudian...
"Maaf!". Ucap Allena seketika sembari menunduk.
Louis yang mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut Allena sejenak terhenyak. Sebenarnya baru kali ini Louis merasa Allena benar-benar meminta maaf dengan sepenuh hati.
"Len!". Panggil Louis lembut membuat Allena mengangkat kepalanya.
"Gue tau lo masih ada rasa sama Aziel, gue tau itu dan gue paham banget. Tapi cuman satu yang gue minta sama lo Allena-". Louis sedikit menjeda ucapannya, menatap mata hazel milik Allena, "Gue minta tolong sama lo, tolong banget. Tolong lo hargain gue sebagai tunangan lo disini. Cuman itu yang gue minta sama lo Len. Bisakan? Gue harap lo bisa". Setelah berbicara seperti itu Louis berbalik dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Allena hanya diam berdiri di tempatnya sambil memandangi pintu kamar yang tertutup itu.
Allena seketika menghembuskan nafasnya kasar.
'Gua cape, dan kalian semua nggak tau itu'.
...******...
Pagi harinya, hari ini adalah hari minggu. Dimana orang-orang bisa bermalas-malasan, bersantai-santai setelah melakukan aktivitas dihari-hari sebelumnya.
Sama seperti halnya keluarga Albern.
Papah Robert juga Mommy Tiara hari ini berniat untuk wekeend bersama setelah selama ini terus kerja, kerja kerja, dan bekerja.
TOK
TOK
TOK
Pintu kamar Allena diketuk dari luar.
Allena yang memang sudah bangun segera beranjak dari atas ranjang empuknya lalu dengan malas membuka pintu kamarnya.
"Apa?". Tanya Allena ketika mendapati Louis yang berdiri di depan pintunya dengan tampang datarnya.
"Om Robert sama Tante Tiara mau jalan-jalan hari ini. Lo mau ikut?". Tanya balik Louis kemudian.
Allena terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk perlahan.
"Yaudah gua mau mandi dulu". Jawabnya.
"Umm jangan lama-lama entar ditinggal". Sahut Louis jutek kemudian melangkahkan kakinya dari sana.
Sedang Allena hanya memandang kepergian Louis dengan alis yang berkerut.
Ini mereka jadi bertukar posisi nggak sih? Kok jadi Louis yang cuek bebek gitu๐๐
"Idih apa sih? Nggak jelas banget, cih!". Sinis Allena kemudian menutup pintu kamarnya, lalu segera melakukan ritual mandinya.
Setelah 15 menit Allena sudah selesai dari mandinya dan langsung menuju walk in closet untuk bersiap-siap.
Kini Allena sudah selesai bersiap-siap. Gadis itu kemudian keluar dari dalam kamarnya tak lupa menguncinya, lalu bergegas segera turun ke bawah.
Disana sudah ada Papah Robert juga Mommy Tiara.
"Sayang tumben kamu mau ikut jalan-jalan. Biasanya diajak kamu nggak mau". Ucap Mommy Tiara ketika melihat anaknya berjalan menghampiri.
"Allena cuman pengen mau ikut aja". Jawab Allena datar.
"Baguslah, setidaknya kamu juga ada waktu untuk jalan-jalan sama Papah dan Mamah. Iyakan Pah?". Ucap Mommy Tiara sambil memeluk Papah Robert dan bersadar di bahu pria paruh bayah itu.
"Iya Mah". Jawab Papah Robert mencium kening istrinya penuh cinta.
Sedang Allena yang melihat kemesraan orang tuanya hanya memutar bola matanya malas.
Tidak lama Louis datang dengan pakaian casualnya, membuat pria itu terlihat sangat tampan dan kharismatik hari ini. Memang setiap hari dia selalu tampan. Hanya saja hari ini bertambah kadar ketampanannya. Pakain casual memang sangat cocok bila Louis mengenakannya.
"BAIKLAH KALAU BEGITU KITA BERANGKAT SEKARANG!!
__ADS_1