Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 105 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Malam harinya nampak Allena terbangun dari tidurnya karena ada yang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Allena terlihat masih memakai seragam sekolahnya.


Allena bangun lalu beranjak untuk membuka pintu, dan tampaklah Louis berdiri didepan pintu kamarnya dengan wajah yang lebam.


"Apa?". Tanya Allena dengan ekspresi datarnya.


"Makan malam dulu, Bibi udah masakin". Jawab Louis.


Allena menghela nafasnya, "Hmm oke gua mandi dulu, lu kalau mau duluan aja makannya". Ucap Allena kemudian.


Louis menggeleng, "Gue tunggu". Balas Louis.


"Hmm terserah". Allena kemudian menutup pintu sebelum Louis berbicara lagi.


Sementara Louis hanya tersenyum simpul sembari menatap pintu kamar Allena yang sudah tertutup. Louis kemudian turun kebawah menuju ruang makan dan menuggu Allena disana.


Hingga sekitar 20 menit Allena selesai dari ritual mandinya lalu turun kebawah menuju ruang makan.


"Kan gua udah bilang duluan aja". Ucap Allena saat mendapati Louis yang tengah memainkan ponselnya. Pria itu belum menyentuh makanan sama sekali.


Louis mendongak, "Nggak papa, gue mau makan bareng lo". Balas Louis sembari meletakan ponselnya disamping atas meja.


Allena tidak membalas, gadis itu terlihat menyendok makanan untuk dirinya.


"Ambilin gue juga dong Len, tangan gue masih sakit banget nih rasanya". Ini Louis kenapa jadi manja banget dah. Curi-curi kesempatan sama Allena dengan menggunakan alasan sakitnya saat ini.


Allena melirik Louis yang terlihat menyunggingkan senyum cengengesan.


"Hmm". Allena bergumam. Gadis itu mulai mengambil piring Louis lalu menyiapkan makan untuk Louis, lalu memberikannya pada Louis.


"Makasih Allena. Nahh ini nih contoh calon bini yang baik". Celetuk Louis.


"Udah diem aja, makan". Semprot Allena.


Ini Louis masih lebam aja masih banyak omong ya. Minta ditambahin lagi kali ya.


Mereka kemudian mulai makan dengan tenang tanpa berbicara. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang bersahutan.


Setelah makan malam kini Louis sudah berada di teras depan rumah. Pria itu terlihat duduk dilantai bagian sudut bersandar dipilar teras sembari memainkan ponselnya.


"Louis!!". Dengan cepat Louis mematikan ponselnya dan meletakannya kesamping. Pria itu terlihat gugup.


"Eh Allena, ada apa?". Sebisa mungkin Louis menetralkan kegugupannya saat Allena sudah berada disampingnya.


"Sini gua obatin luka lu". Allena terlihat membuka kotak P3K yang dibawanya tadi.


"Ciee calon bini, tumben banget perhatian, nggak biasanya. Biasanyakan marah-marah mulu ke calon suami ini". Celetuk Louis.


"Udah diem! Gua obatin atau gua tambahin lukanya.


"Iya obatin dah, obatin, galak bener.


"Majuan sini dikit". Allena mulai membersihkan terlebih dahulu luka diwajah Louis lalu memberikannya obat.


"Aww..shh, pelan dikit napa Len". Ringis Louis.


"Ow iya sorry sorry nggak sengaja". Allena seberusaha mungkin mengobati Louis dengan hati-hati.


Sementara Louis terlihat memandangi wajah Allena yang begitu dekat dengannya. Selama ini dia dan Allena tak pernah sedekat ini, dan kejadian saat ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk dirinya.


Nggak papalah muka luka lebam kaya gini yang penting bisa dekat dan dapat perhatian dari Allena.


"Dah, selesai". Allena membereskan kotak P3K setelah selesai mengobati luka diwajah Louis.


"Gua kedalam duluan". Namun dengan cepat Louis menarik lengan Allena mencegat gadis itu yang mulai beranjak, dan langsung memeluk Allena lalu menjatuhkan dagunya dibahu Allena.


"Eh-". Allena ingin melepaskan namun Louis semakin mengeratkan pelukannya.


"Bentar aja Len". Suara berat Louis mampu membuat Allena membiarkan pria itu memeluknya.


Allena menghela nafasnya perlahan, "Hahh.. oke, tapi jangan lama-lama engap gua.


"Lima menit, kasih gue waktu lima menit buat meluk lo kaya gini". Louis semakin memeluk Allena posesif dan menjatuhkan kepalanya dibahu Allena.


Allena mulai mengangkat tangannya lalu menepuk-nepuk pelan punggung Louis membiarkan pria itu memeluknya leluasa.


Sementara tak jauh dari sana sepasang mata seorang pria tengah memandangi kedua orang yang saling berpelukan itu. Tangannya mengepal dengan kuat menahan amarah bercampur emosi.


Dia Aziel yang berdiri melihat pemandangan tersebut dari luar gerbang rumah besar nan megah itu. Amarahnya bergemuruh ingin dilepaskan.


"Baji*ngan!!". Umpat Aziel sembari berbalik menuju motornya dan pergi dari sana mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Pria itu kini berhenti disalah satu club malam dan berjalan masuk kedalam.


"Eh Sob, tumben-tumbenan lo datang. Ada apa nih?". Seorang barista pria yang dikenal sebagai teman dekat Aziel tentu saja merasa heran dengan Aziel yang tiba-tiba saja datang kesana.


"Yang enak, cepetan!". Mengerti akan maksud Aziel, segera barista itu melaksanakan apa yang diinginkan oleh sobatnya itu.


"Nih gue kasih, ini anggur yang lagi diminati orang-orang, emang harganya mahal sih tapi okelah". Barista itu meletakan segelas minuman beralkohol itu dihadapan Aziel dan Aziel langsung saja menyambar lalu meminumnya hingga tandas.

__ADS_1


"Lagi lagi, yang banyak". Kembali Barista itu melaksanakan perintah Aziel hingga sampai botol kaca itu kosong tak tersisa.


"Wuishh gue akuin sih lo Bro, emang jago kalau masalah minum-minum kaya gini". Pujinya.


Aziel ini memang sangat kuat minum hingga beberapa botol minum alkohol pun masih bisa dijambanginya.


Tapi kali ini pria itu sudah terlihat teler, bahkan kepalanyapun sudah dia baringkan diatas meja bar panjang itu.


Kadar alkohol yang terdapat di wine itu memang sangat tinggi. Sehingga baru beberapa gelas meminumnya sudah membuat mabuk.


"Oy Van!". Seorang gadis berseru kearah mereka.


Barista yang bernama Evan itu menoleh, "Wehh.. Alexa, soib gue. Udah lama gue lihat lo Lex, kemana aja?". Ucap Evan sambil bertos gaya mereka berdua.


"Iya nih lagi sibuk". Jawab Alexa sembari mendudukan bokongnya dikursi depan meja bar.


"Ceilahh gaya lo sibuk, lo kira gue nggak tau. Palingan lo nyebar tuh pacarin semua cowok-cowok, ti atiloh". Evan geleng-geleng melihat gaya hidup soibnya itu. Terlalu bebas, apa lagi Alexa itu perempuan.


"Yaelah sirik aja lo, makanya cari pacar sono. Emang lo nggak bosen main sama sabun mulu.


"Males gue pacaran. Biar dikata gue sering cola*i gue juga nggak mau sembarangan nusuk kali". Ohmai vulgar banget kalian ngomong. Emang ya anak muda zaman sekarang.


Alexa hanya mendelik, lalu beralih menoleh kearah Aziel yang masih dengan posisinya, "Ini Aziel mabuk?". Tanya Alexa kemudian.


"Iya, teler dia". Jawab Evan.


Alexa memandangi Aziel sebentar, kemudian beranjak mendekat kearah pria itu.


"Gue bawa balik kalau gitu, biar Aziel balik ama gue aja". Evan diam sebentar sambil sedikit mengkerutkan alisnya memandangi Alexa yang mulai memapah Aziel.


"Oh yaudah. Tadinya sih gue yang mau bawa balik El, tapi karena udah ada lo, lo aja kalau gitu. Tapi gue bantu mapa sampai kedepan aja ya". Evan bergegas membantu untuk memapah Aziel.


Namun dari arah lain muncul Brayen menghampiri mereka, "Eh eh lo pada mau bawa El kemana?". Cegat Brayen.


"Oy Bro, kebetulan lo ada disini. Aziel udah teler banget nih, lo bisa nggak bawa El balik ke apartemennya.


"Hedehh ngapain lagi sih tuh bocah, nyusahin amat. Yaudah-yaudah biar gue aja". Segera Brayen ingin mengambil alih tempat Alexa.


Sementara yang mabuk sudah terlihat sempoyongan susah menyeimbangkan badan, dan sesekali mengigau tak karuan.


"Eh lo mau ngapain? Biar gue aja yang bawa Aziel balik.


"Ck, lo apaan sih? Minggir-minggir!". Brayen menarik lengan Alexa lalu mengambil alih memapah Aziel, "Lo itu cewe, mana kuat lo mapah Aziel entar lo lagi yang nyusahin. Lagian lo ngapain inisiatif bawa Aziel balik". Brayen seketika memberi tatapan curiga pada Alexa.


"Ngapain lo liatin gue kaya gitu. Terpesona lo ama kecantikan gue.


"Iih apaan sih lo, gue tuh cuma mau ngantarin Aziel balik. Sembarangan lo kalo ngomong". Elak Alexa.


"Alahh.. ngaku aja lo. Emang lo tau Aziel tinggal dimana?


"Y-y-ya..ya dirumahnya kan, emang dimana lagi?". Alexa gugup.


"Nahkan gue bilang juga apa, lo itu emang udah ngerencanain sesuatu. Sok ngatain gue mesum, ternyata lo sendiri yang mesum. Mesum teriak mesum". Cibir Brayen.


"Eh apa lo bilang? Gue nggak mesum ya, lo itu yang mesum. Dasar gila". Alexa tentu saja tak terima dikatai seperti itu.


"Woyy udah ah berantemnya, berat nih". Evan hampir stres sendiri melihat kedua orang yang malah adu monyong itu. Dikata Aziel nggak berat kali ah dari tadi harus dipapah terus. Apalagi Aziel dari tadi semakin tak bisa terkontrol dan terus mengigau. "Mala berantem lo pada. Bawa Aziel dulu terus lo pada bisa lanjutin berantemnya". Sambungnya lagi.


"Gara-gara nih cewe tengil satu". Brayen malah menyalahkan Alexa.


"Minggir sana!!". Dengan segera Brayen dan Evan membawa Aziel keluar dari club malam tersebut.


Sementara Alexa hanya bisa memandang Aziel yang sudah dibawa pergi. Kedua tangannya mengepal keras. Lagi-lagi rencananya harus gagal.


"Dasar Brayen sialan!!


...*****...


Pagi harinya terlihat Allena yang sedang berjalan ingin ke ruang OSIS.


BRUKKH!!


"Aduhh lo punya mata nggak sih? Lihat-lihat dong kalau jalan". Itu Alexa. Keduanya saling bertubrukan.


Allena memandangi Alexa yang terlihat kusut seperti tak biasanya. Rambutnya yang tergerai terlihat sedikit berantakan.


"Apa lo lihat-lihat!?". Sentak Alexa lagi. Gadis itu memijit-mijit kepalanya.


Allena tak berbicara dan hanya menatap datar Alexa. Sedetik kemudian Allena mulai melangkahkan kakinya tak menggubris.


"Eh eh tunggu!". Seru Alexa tiba-tiba yang membuat Allena berhenti dan berbalik kearahnya.


Alexa berjalan menghampiri Allena berdiri dihadapannya, "Gue cuman mau bilang semalam gue ketemu sama Aziel di club, dan yaa Aziel mabuk dan gue temenin dia semalaman". Ucap Alexa.


Allena menaikan sebelah alisnya mendengar perkataan Alexa.


"Lo pasti taukan apa aja yang dilakuin cowok sama cewek kalau cuman berduaan semalaman. Apa lagi saat mabuk". Ucap Alexa lagi sembari tersenyum miring.


Sementara Allena hanya diam mendengar perkataan Alexa dengan ekspresi datarnya. Gadis itu tak menggubris sama sekali.

__ADS_1


Melihat Allena tak bereaksi sama sekali membuat Alexa kesal. Padahal niatnya adalah ingin memanas-manasi Allena. Tapi Allena sedari tadi tak berbicara apapun dan hanya memberikan tatapan datarnya.


Tapi bukan Alexa namanya jika dia tidak bisa membuat Allena sakit hati perkara Aziel.


"Yaa gue harap lo nggak deketin Aziel lagi, mengingat gue sama Aziel itu ada hubungan spesial, lebih malah". Lanjut Alexa lagi. "Lo ngertikan apa maksud gue?!". Alexa semakin tersenyum miring. Gadis itu kemudian berbalik berjalan meninggalkan Allena yang hanya memandang datar kepergiannya dari sana.


Allena seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat namun ekspresinya tetap terlihat begitu tenang.


Allena kemudian bergegas menuju ruang OSIS.


BRAKK!!


Allena memukul meja saat tiba disana. Tangannya mengepal kuat menahan gemuruh didadanya. Gadis itu terus terlihat menghebuskan nafasnya dengan kasar berkali-kali.


"Ughh hah..hah..hah..hah!!". Allena meremas sebelah dadanya yang sakit. Rasanya sesak dan perih, dia hampir mengeluarkan air mata karena tak bisa menahan sakit yang begitu menyesakan.


Allena luruh kebawah meja karena sudah tak tahan lagi. Dia semakin meremas dadanya yang sesak dan sakit.


"Ughh.. sakit.. sakit banget!!". Desis Allena.


Oh Mai ini terlalu menyakitkan bagi Allena. Sampai kapan dia harus terus begitu.


"ALLENA!!". Alvian yang baru saja datang melihat Allena segera menghampiri.


"Len, lo kenapa? Lo nggak papa kan, Len!". Alvian ikut luruh kebawah terlihat khawatir pada sahabatnya itu.


"Lo kenapa Len?". Ucap Alvian lagi.


Allena segera bangun dan berdiri kemudian menggeleng, "Nggak, gua nggak kenapa-napa". Jawab Allena. Gadis itu berbohong.


"Nggak kenapa-napa gimana, itu tadi lo sampai kaya gitu, kesakitan". Alvian tentu saja tak percaya. Melihat Allena seperti tadi membuatnya berpikir lain.


"Udah gua kenapa-napa kok. Itu tadi gua ini apa shh.. gua nggak sengaja nabrak meja, kena ujungnya. Jadi tadi gua sempat jatuh kebawah karena sakit banget". Allena mencoba mencari alasan sebagus mungkin sekaligus menetralkan dirinya. Mencoba lebih setenang mungkin.


"Ohh gue kira tadi lo kenapa. Ternyata lo kesakitan karena nabrak meja". Alvian sempat khawatir tadi, dikiranya Allena ada apa. "Tapi udah nggak papa kan". Alvian memastikan.


"Iya nggak papa". Jawab Allena. "Yaudah kalau gitu lo bantuin gue ini dulu". Allena kemudian memberikan laptopnya pada Alvian.


...*****...


"Awas-awas minggir woyy!!". Zee saat ini terlihat sedang berlarian ingin menuju kantin dan harus melewati lapangan. Disana ada murid-murid yang sedang bermain basket.


"Et buset dah!". Zee mengusap kepalanya yang berdenyut akibat hantaman dari benda keras. Bola basket.


Dengan kesal gadis itu bangkit untuk memungut bolanya, "Siapa yang lempar!?". Sentaknya galak.


Seorang cowok tinggi berlari dari lapangan mendekati Zee. Tangannya menengadah, "Siniin bolanya". Pintanya cuek. Tapi tetap tampan dengan ikat kepala warna hitam yang melingkar.


"Eh Kak Setya". Zee langsung saja berubah jadi sok imut. Tadi galak banget perasaan.


"Iya kenapa? Ada masalah lo ama gue". Setya tetap saja seperti itu. Bersikap cuek dan jutek terhadap Zee.


"Eh nggak kok Kak nggak nggak". Namun Zee terus saja berusaha mendekati Setya. Padahal Setya sangat risih padanya.


"Yaudah bawah sini bolanya". Setya langsung saja menarik bola basket itu dari tangan Zee.


Setya kemudian mendelik seakan jijik pada Zee dan pergi begitu saja dari sana kembali ke lapangan bermain basket.


"Omo omoo yaampun Kak Setya ganteng banget sih. Kapan ya dia jadi pacar gue aaa...mmm". Zee terus memandangi Setya dengan wajah berbinar kesenangan.


"Eh cewek bar-bar lo nggak usah kepedean Setya mau jadi pacar lo. Sadar diri napa". Hera datang dan langsung saja mendorong Zee membuat gadis itu hampir terjungkir.


"Apaan sih lo, nyari masalah lo ama gue? Lo mau ribut? Yaudah ayo gue jabanin. Cewe kecentilan kaya lo itu nggak ada apa-apanya.


"Yaudah ayo. Gue juga nggak takut sama cewek bar-bar nggak tau diri kaya lo.


Kedua gadis itu sudah mulai maju satu sama lain dan langsung saling menjambak rambut masing-masing.


"Lepasin rambut gue anji*ng!". Umpat Zee masih terus menarik rambut Hera dengan kuat.


"Lo yang lepasin rambut gue, aww". Hera meringis tapi tetap juga menarik rambut Zee tak kalah kuatnya.


Kedua orang itu terus saling menjambak hingga murid-murid ikut berkumpul melihat pertengkaran kedua gadis itu.


Murid-murid terus menyoraki keduanya tak ada yang melerai seakan itu adalah sebuah pertunjukan yang sangat seru.


Chika yang juga melihat itu segera berlari ingin melerai kedua gadis itu.


"Woyy lo pada ngapa lihatin aja? Ditahan dong merekanya, pada nontoin aja lo semuanya. GOBLOK!!". Chika dengan seberusaha mungkin melerai dan memisahkan Zee dan juga Hera.


Chika bahkan sampai ikutan terkena jambak dan cakaran tangan dari kedua wanita itu. Tenaga keduanya tak ada habisnya, Chika sampai ikutan terkena imbasnya.


"Chik, biarin aja napa sih? Biar Hera kasih pelajaran sama tuh cewek bar-bar". Alexa ikut menyoraki mereka.


Pokoknya para murid-murid tak ada yang ikut melerai, mereka tetap ingin menonton perkelahian kedua wanita cantik itu.


"APA-APAAN KALIAN INI!!


__ADS_1


__ADS_2