Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 116 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Shi*t! Berapa kali pagi ini gue udah bilang shi*t? Hari yang sial! Sialan!". Itu Tessa. Hari ini dia telat karena semalam dia nongkrong dengan teman-teman segeng motor trailnya hingga pukul 3 pagi. Pulang-pulang dia langsung mendapat sambutan dari Ayahnya dan saat itu juga motornya langsung disita. Uang jajannya makin dikurangi. Sungguh malang nasib mu Tessa. Dan pagi ini kamu telat ke sekolah. Kesiangan.


Kaki jenjangnya melangkah ke tembok belakang sekolah tempat biasa murid-murid yang telat lewat sana. Namun sesampainya disana, cewek itu mendesah penuh beban. Dia harus melewati tembok yang tingginya nggak manusiawi itu. Tiga meter woyy. Gimana Tessa harus ngelewatinnya.


"Hedehh apes banget sih nih hidup. Udah motor disita, uang jajan dikurangin, dan sekarang gue harus lewatin nih pagar yang tingginya nggak ngotak. Mana ada ulangan dadakan lagi, astagaa hidup gue kenapa dah". Desis Tessa pasrah akan hal yang terjadi pada dirinya.


"Terus gua lewatin ini gimana? Males banget kalau sampai disuru lari di lapangan". Tessa mengedarkan pandangannya mencari sesuatu agar bagaimana dia bisa melewati pagar tinggi di hadapannya itu.


Matanya seketika tertuju ke arah pohon jambu dan juga tangga yang ada di pohon jambu itu. Sepertinya sengaja diletakan seperti itu.


Tanpa berlama-lama segera Tessa melakukan aksinya. Pertama-tama Tessa melemparkan terlebih dahulu tasnya kedalam sekolah. Biar nanti kalau gagal dia bisa menyuruh siapa pun untuk mengambilkan tasnya.


Setelah itu Tessa mulai naik ke atas tangga yang tidak terlalu tinggi itu dan mulai pindah ke atas pohon jambu mengepaskan dirinya dengan tembok tinggi itu lalu melompat kearah tembok.


Yass berhasil! Hebat juga!


Tapi, tunggu-tunggu masih ada satu masalah lagi. Dia harus melompat ke bawah dan itu tinggi banget woyy. Kalau dia keseleo gimana. Tapi Tessa harus cepat, bagaimna jika nanti ada guru piket yang datang dan melihatnya. Berabe nanti urusannya.


Saat Tessa memarkirkan cara bagaimana dirinya turun ke bawah, Tiba-tiba Tessa dikagetkan dengan kedatangan seseorang dari sampingnya yang melesat bak ninja dan langsung turun melompat ke bawah.


"Waduhh!". Tessa tersentak lalu celingak-celinguk tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Tessa memperhatikan seorang pria yang membuatnya tersentak hampir tak percaya, "Eh, itukan....". Tessa menggantungkan ucapannya menyipit ke arah pria tadi yang terlihat berjalan membelakanginya.


"Woyy cowo rese! Woy woy!". Seru Tessa ke arah pria tadi yang ternyata adalah Louis.


Louis berhenti lalu berbalik ke belakang dan mendapati Tessa yang masih di atas tembok. Menatap tanpa ekspresi.


"Bantuin gue turun bisa? Tinggi banget nih". Kalian harus tau Tessa sampai menurunkan rasa gengsinya hanya untuk meminta bantuan sama Louis yang notabennya dia tuh jengkel pake banget sama Louis.


Louis memandangi Tessa sebentar, tanpa berkata apa-apa Louis kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana tak mempedulikan Tessa yang meminta bantuan padanya.


"Eh eh, woy woy cowo rese bantuin napa. Malah main tinggalin, emang rese tuh cowo sialan satu". Umpat Tessa, "Awas aja tuh cowo!". Tanpa berlama-lama Tessa langsung melompat ke bawah tanpa rasa takut. Rasa ragunya seketika hilang menjadi kesal karena Louis tadi.


Langsung mengejar Louis, "Woy cowo rese, tungguin lo. Awas lo". Tessa berlari dengan sekuat tenaga mengejar Louis.


"Eh eh berhenti berhenti". Tessa dengan segera mencegat Louis menghentikan pria itu berdiri di hadapannya sembari merentangkan kedua tangannya, "Songong banget lo jadi orang. Lo harus tau kalau bukan karena gue ada ulangan dadakan hari ini mana mau gue minta tolong sama cowo rese kaya lo". Sentaknya galak.


"Terus ngapain lo minta bantuan ke gue kalau gitu? Lo sekarang udah ada disini kan. Itu lo bisa.


Tessa langsung terdiam mendengar perkataan Louis. Benar juga ya, kok dia tadi harus minta bantuan sama Louis ya, padahal tadi dia lompat tanpa tanggung-tanggung.


"Diem kan lo, nggak bisa jawab. Halahh bilang aja lo mau dekat-dekat sama gue, minta gue buat gendong lo tadi. Iya kan?


"Idihh PD aja lo, nggak ya. Gue tuh tadi...


"Hey kalian berdua!". Suara itu. Oh Mai Gosh, itu Bu Sita. Guru yang paling terkenal akan kedisiplinan juga galak. Fix lah udah pasti nih..


"Ngapain kalian berdua ada disini?".Mata galak Bu Sita membuat kedua orang itu spichles seketika, "Kalian berdua ini telat ya?


"Eh Ibu hehe Ibu Guru cantik banget deh hari ini.


"Diam kamu Tessa! Kamu pikir Ibu bisa di goda seperti itu. Kamu ini beberapa hari ini sering lihat kamu telat. Kenapa? Kamu juga sering Ibu lihat bertengkar dengan dua orang teman kelas kamu yang sama-sama sering buat keonaran itu. Kenapa kamu tidak gabung dengan mereka saja kalau begitu?!". Yang dimaksud Bu Sita adalah Adrian dan Gerald. Memang Tessa itu kalau sudah betemu mereka berdua bawaanya emosi pengen berantem terus.


"Ih Ibu mana mau saya gabung sama mereka. Entar saya dicap pembuat onar lagi sama kaya mereka.


"Ibu nggak suruh kamu bicara. Ngejawab aja terus kamu ini". Sentak Bu Sita dengan galaknya, "Lama-lama Ibu laporin juga kamu ke Ayah kamu.


"Eh jangan dong Bu, jangan. Ibu mah mainnya lapor-laporan.


"Pfftt...". Itu Louis ngetawain Tessa?


"Ngetawain gue lo? Minta dihajar ha". Sentak Tessa pada Louis.


"Siapa yang ngetawain lo? Orang nggak kok.


"Itu tadi lo pfftt pfftt, maksud lo apa?


"Eh eh kalian berdua ini malah berantem. Berhenti kalian!". Sentak Bu Sita seketika.


"Dia nih Bu duluan, ngetawain saya.


"Udah gue bilang, gue nggak ngetawain lo kok.


"Ahh sudah sudah, saya bisa stres lihat kalian berdua bertengkar. Sekarang kalian bersihin gudang di depan sana.


"Yaa Bu Guru, jangan dong Bu. Saya ada ulangan hari ini". Ucap Tessa.


"Ulangan di jam pertama?

__ADS_1


"Ng-ng-nggak sih Bu jam kedua". Tau sendirikan Bu Sita kaya apa. Kalau ketahuan bohong pasti Bu Sita akan benar-benar lapor ke Ayahnya.


"Yaudah bersihin gudang sana kalau gitu. Jam kedua kan ulangannya.


"Ta-ta-tapikan Bu...


"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kalian berdua bersihin gudang. Siapa suruh kalian telat". Sentak Bu Sita galak, "Sebentar Bu Guru akan kesini lagi untuk ngecek. Jadi kalian berdua lebih baik kerjakan hukumannya sekarang". Setelah berbicara seperti itu, Bu Sita kemudian melenggang pergi dari sana.


Setelah Bu Sita hilang dari pandangan, Tessa dengan perasaan kesalnya berbalik kearah Louis, "Gara-gara lo sih, akhirnya kita kena hukum kan.


"Kok gue, lo lah. Kalau lo nggak ngajak gue adu mulut dulu, pasti gue udah dalam kelas sekarang". Louis tentu saja tak mau disalahkan.


"Hiihh rese banget sih lo. Dasar cowo rese emang. Gue tonjok juga lo". Tessa dengan kesalnya langsung berbalik melangkahkan kakinya segera ingin menuju gudang untuk mengerjakan hukuman yang diberikan oleh Bu Sita tadi.


Sementara Louis hanya bisa menghela nafas dan mulai menyusul.


Hingga hampir stengah jam Tessa dan Louis masih berada dalam gudang.


"Woy kerja dong, tiduran aja lo dari tadi". Sentak Tessa ke arah Louis yang sedari tadi berbaring di bawah lantai beralaskan kardus di sudut gudang.


"Berisik lo! Diem aja napa". Sahut Louis.


Tessa dengan perasaan kesal menghampiri Louis sembari membawa sapu.


"Lo kira lo santai aja terus gue kerja sendirian gitu? Bangun!". Tessa memukul kaki Louis menggunakan sapu yang dibawanya tadi.


"Oy cewe stres, gila lo ya mukul gue pake itu". Louis sampai tersentak karena Tessa memukulnya sembarangan.


"Makanya kerja. Gue dari tadi beresin ini itu sendirian sementara lo dengan santainya tiduran disini enak-enak. Lo kan juga dihukum". Tessa kembali memukul kaki Louis, "Gue laporin ke Bu Sita ya, awas lo". Tessa berbalik ingin melaporkan Louis, namun degan cepat Louis bangun lalu menarik sapu ijuk yang dipegang oleh Tessa membuat gadis itu terjengkang keb elakang dan jatuh ke arahnya


"Aduhh!". Tessa meringis saat dirinya terjatuh ke badan Louis dan reflek pria itu memeluknya dari belakang karena menolongnya.


"Duhh, lo gimana sih ah jatohkan gue". Tessa turun dari pangkuan Louis sambil mendorong pria itu.


"Yee udah ditolongin juga malah marah-marah, nggak tau terima kasih lo". Semprot Louis, "Kalau gue nggak ada tuh bokong lo udah cium lantai kali dari tadi.


"Lo yang salah juga. Gue jatoh juga kan karena gara-gara lo.


"Lo nya aja yang lemah. Gue narik sapunya juga nggak kuat-kuat amat kok. Gaya lo laki tapi baru segitu doang udah jatoh. Lemah lo". Cibir Louis.


"Apa lo bilang? Lemah? Gue nggak lemah ya.


"Lo...


Dengan kesalnya Tessa mendekati Louis dan kedua tangannya kini sudah melingkar di leher Louis mencengkram lehernya.


"Lo bilang apa tadi? Lemah? Gue bakal tunjukin siapa yang lemah disini". Sentak Tessa dengan terus mencengkram leher Louis.


"Uhuk woy cewek stres, gila lo ya. Lepasin gila!". Louis terbata dengan menggenggam kedua pergelangan tangan Louis berusaha melepaskan cengkraman Tessa di lehernya.


"Gue bakal tunjukin siapa yang lemah disini. Gue apa lo si Cowok Rese.


"Wah emang stres lo. Lo mau buat gue mati ya uhuk uhuk lepasin woyy.


Louis berusaha berdiri sambil terus berusaha, "Cewek stres lo, gila! Uhuk lepasin! Gue bisa mati tau nggak.


"Biarin!". Tessa berjinjit karena Louis berdiri. Dia benar-benar tak ingin melepaskan Louis begitu saja.


Sedang Louis berusaha melepaskan cengkraman Tessa di lehernya. Ingin sekali Louis menendang Tessa, tapi bagaimanapun Tessa itu cewek, Louis juga tak tega jika harus melakukan itu sama cewek.


"Astagaa! Apa-apaan kalian berdua ini!


Sontak kedua orang itu menoleh kearah pintu dan mendapati Bu Sita dengan perangai galaknya memandangi mereka.



...******...


Bel pulang sekolah telah berbunyi 10 menit yang lalu. Kini ketiga wanita itu sedang berjalan di koridor sekolah.


"Kalau gitu kita duluan ya Zee. Kalau ada apa-apa telfon aja ke kita". Itu Airin.


"Iya bawel". Balas Zee.


"Dahh bestie, semangat ya cinta". Itu Tessa.


"Iya iya udah sono-sono.


Setelah itu ketiga wanita itu berpisah. Tessa dan Airin ke parkiran sedang Zee menuju perpustakaan.

__ADS_1


Hari ini dia akan mengerjakan karya cerita ilmiahnya di perpustakaan dengan mencari referensi melalui buku-buku yang ada disana.


Memang sih lomba karya ilmiah itu sedang diundur karena ada masalah yang berkaitan dengan masalah Allena waktu itu. Jadi Zee masih ada sedikit waktu untuk mengatur ceritanya kembali biar nanti hasilnya lebih bagus.


Dan kini Zee sudah berada di perpustakaan mencari-cari buku yang dibutuhkannya.


Asal kalian tau Zee ini termasuk murid yang pandai. Dia masuk dalam urutan 20 besar untuk murid-murid seangkatannya yang terbilang sangat banyak dan pada pandai-cerdas juga.


Setelah mendapat beberapa buku yang dibutuhkannya segera Zee beranjak menuju kursi yang ada di perpustakaan itu dan duduk disana.


Zee mulai menyalakan laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Gadis itu terlihat serius dengan buku-buku juga laptop yang dia letakan di atas meja di hadapannya.


Berulang kali dia bolak-balik antara laptop juga buku-buku yang diambilnya tadi.


Sampai Zee tak menyadari ada seseorang yang juga masuk ke dalam perpustakaan dan orang tersebut mengambil tempat di belakang tak jauh dari tempatnya saat ini.


Orang itu terus mengamati Zee dari tempatnya.


Hingga penjaga perpustakaan datang dan menghampiri orang itu.


"Setya kamu masih disini dulu kan?". Ternyata orang tadi adalah Setya. Mendegar nama itu sontak Zee menoleh ke belakang dan benar saja kini terlihat Setya berbicara dengan penjaga perpustakaan.


"Kalau begitu Bapak tolong titipin kunci ini ke kamu ya. Bapak mau balik duluan soalnya ada urusan mendadak. Atau nanti kamu bisa kasih kuncinya ke satpam yang di depan sana itu. Bisa kan?". Ucap penjaga perpustakaan itu.


"Iya Pak bisa, tenang aja". Balas Setya.


"Bapak percaya sama kamu. Kalau begitu Bapak duluan ya". Setelah berbicara seperti itu penjaga perpustakaan tadi segera berbalik pergi dari sana.


Sementara Zee segera kembali menghadap ke depan saat Setya menoleh ke arahnya.


"Oh Mai itu beneran Kak Setya? Kok bisa dia ada disini sih". Gumam Zee tak karuan. Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu kencang saat ini.


"Astaga tenang Zee, tenang. Lo udah janji sama diri lo sendiri untuk nggak akan pernah kejar-kejar Kak Setya lagi". Zee mencoba menetralkan dirinya dan juga jantungnya yang terus berdetak sangat kencang sedari tadi. Rasanya dia merasa Setya terus menatapnya dari belakang sana. Entah itu benar atau tidak.


"Hufff". Zee menghembuskan nafas kasar, "Lebih baik gue pergi aja deh sekarang. Nggak aman buat jantung gue lama-lama". Segera Zee mematikan laptopnya dan bergegas membereskan barang-barangnya. Setelah selesai Zee mulai beranjak berdiri dari kursi.


"Eh cewek aneh!". Seru Setya tiba-tiba membuat Zee menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya.


"Kakak ngomong sama saya?". Pertanyaan Zee membuat Setya sedikit menautkan alisnya. Zee tidak menyebut namanya yang dimana Zee pasti selalu memanggilnya 'Kak Setya'.


Setya dengan gaya coolnya berdiri lalu berjalan mendekati Zee.


"Emang menurut lo gue ngomong sama siapa? Disini cuman kita berdua kan". Ucap Setya kemudian saat sudah berhadapan dengan Zee.


"O-o-oh emangnya a-a-ada apa ya Kak?". Zee terbata karena gugup merasa terlalu dekat dengan Setya saat ini. Gadis itu menunduk tak berani menatap Setya.


"Lo kenapa? Nggak kaya biasanya". Ucap Setya.


"Sa-sa-saya nggak kenapa-napa Kak. Kalau gitu saya duluan ya Kak". Segera Zee berlari keluar dari perpustakaan itu. Dia ingin segera secepatnya pergi dari sana.


Melihat Setya tadi benar-benar membuat Zee hampir ngereog kegirangan sendiri. Bisa-bisa hancur rencananya untuk tidak mendekati Setya lagi.


Ya memang benar Zee telah memutuskan untuk tidak mengejar-ngejar Setya lagi.


Setelah membutuhkan pertimbangan yang banyak Zee berjanji pada dirinya untuk tidak pernah mendekati Setya lagi apa lagi untuk menyukai Setya.


Zee akan berusaha melupakan Setya, meskipun mungkin itu tak akan mudah.


Satu tahun lebih lamanya menyukai Setya bukan perkara mudah baginya untuk melupakan Setya.


Namun selama itu pula Setya bahkan tak pernah melihat ketulusan Zee yang sangat mencintai dirinya.


Setya secara terang-terangan menolak keberadaan Zee didekatnya. Setya merasa Zee adalah benalu bagi dirinya yang mengganggu dirinya juga kehidupannya selama ini.


Jadi meskipun itu akan sulit, Zee akan tetap mencoba melupakan semua rasanya terhadap Setya. Dia akan menjauh dari Setya agar pria itu tak lagi merasa terganggu akan dirinya.


Sungguh Zee sangat menyukai Setya hingga berbagai cara dia lakukan agar pria itu melihatnya dan mau menerima dirinya.


Tapi sepertinya sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi melihat Setya yang seperti begitu tak menyukai Zee.


Ya mau gimana lagi? Mending Zee cepat-cepat menjauh dan tak menganggu Setya lagi. Dari pada sakit hati teruskan dengar perkataan Setya yang seperti tak ada filtenya.


Sementara itu Setya yang melihat Zee telah keluar dari perpustakaan hanya bisa mengkerutkan alisnya bingung.


Setya kemudian melirik ke arah meja dan melihat beberapa buku yang ditinggalkan oleh Zee tadi.


"Hedehh emang aneh tuh cewek". Setya menggeleng sambil menuju ke arah meja tempat Zee berada disana tadi.


__ADS_1


__ADS_2