Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 147 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Terlihat Allena yang sedang berjalan menuju parkiran sekolah.


Setibanya di parkiran, Zoya yang memang menunggu Allena sedari tadi langsung menghampiri Allena.


"Hai Kak Allena!". Sapa Zoya dengan tersenyum manis.


Allena yang melihat hanya memasang tampang datarnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya tak menggubris sapaan Zoya padanya.


"Kak Allena tunggu!". Cegah Zoya saat Allena membuka pintu mobilnya, "Tunggu Kak!


Allena berbalik, lalu menatap datar Zoya.


"Maaf kalau Zoya kurang sopan sama Kak Allena, tapi Kak boleh kita bicara?". Ucap Zoya.


Allena berbalik, berniat ingin masuk ke dalam mobil. Tapi dengan cepat Zoya mencegahnya.


"Tunggu Kak! Zoya pengen ngomong. Kak Allena mau ya, pliss mau ya Kak". Ucap Zoya memaksa. Bagaimana pun dia harus berbicara dengan Allena hari ini juga.


"Mau ngomong apa?". Ucap Allena akhirnya.


Zoya tersenyum senang, "Kita bicara di tempat lain aja ya Kak. Bisa kan?


"Hmm". Allena hanya bergumam sebagai jawaban.


"Tapi Zoya numpang di mobil Kak Allena ya. Soalnya Zoya nggak bawa kendaraan". Ucap Zoya dengan cengirannya.


Allena hanya menghembuskan nafasnya, "Hmm". Gumamnya. Kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya.


Segera Zoya masuk ke dalam mobil sport milik Allena dan mengambil tempat duduk di kursi penumpang samping Allena.


Mendapati Zoya di sampingnya, Allena langsung menoleh ke arah Zoya dengan tampang datarnya.


"Nggak papa kan Kak kalau Zoya duduk disini? Zoya pengen deket sama Kak Allena". Ucap Zoya tersenyum.


Allena hanya diam. Gadis itu lalu kembali menghadap ke depan, dan mulai menjalankan mobilnya.


...******...


Dan kini kedua cewek berbeda umur itu sudah berada di salah satu cafe dekat sekolah. Di hadapan mereka sudah ada dua menu yang mereka pesan sebelumnya.


"Lu mau ngomongin apa?". Tanya Allena langsung. Sebenarnya dia lagi malas berhadapan dengan cewe di hadapannya saat ini.


"Kak Allena nggak makan dulu?". Tanya Zoya basa-basi.


"Nggak". Jawab Allena cepat, "Sekarang lu cepet ngomong atau gua balik sekarang. Gua nggak ada waktu untuk hal-hal yang nggak penting". Cetusnya dengan nada dingin.


Zoya hanya tersenyum kecut, 'Emang bener-bener to the point ya Kak Allena ini'. Batinnya.


"Umm gini Kak, duhh gimana ya ngomongnya". Zoya jadi bingung harus memulai dari mana. Melihat Allena seperti ini, dia jadi beranggapan bahwa Allena ini tipe orang-orang yang nggak suka berbasa-basi. "Kak Allena kok nggak deket lagi sama Kak Aziel. Kak Allena sama Kak EL lagi bertengkar?". Ucap Zoya akhirnya.


"Lu cuman pengen ngomongin itu?". Tanya Allena yang sudah berubah mimik wajahnya.


"Iya Kak, eh enggak, eh iya, eh duhh gimana ya ngomongnya". Zoya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal bingung harus ngomong kaya gimana sama Allena.


"Sebenarnya apa yang lu mau ngomongin ama gua? Yang jelas kalau ngomong". Cetus Allena.


Zoya menatap Allena serius, "Intinya gini Kak, Zoya pengen Kak Allena sama Kak EL balik dekat lagi kaya dulu". Ucapnya.


"Kenapa?

__ADS_1


"Loh kok Kak Allena malah nanya kenapa? Ya udah jelas karena Kak EL suka banget lah sama Kak Allena. Kak Allena juga pasti suka kan sama Kak EL?". Tebak Zoya.


"Kenapa lu bisa ngomong kaya gitu? Nggak usah sok tau lu". Semprot Allena.


"Lah, bukannya Zoya sok tau Kak, tapi kan kenyataannya emang kaya gitu kalau Kak EL itu suka sama Kak Allena. Kak Allena juga pasti suka kan sama Kak Aziel? Iya kan?". Goda Zoya dengan memicingkan matanya ke arah Allena.


"Nggak usah sok tau". Sahut Allena dingin.


"Zoya bukannya sok tau, tapi emang tau. Kenyataannya kaya gitu kok. Kak Allena juga nggak usah sok ngelak". Cibir Zoya.


"Terserah!". Ucap Allena malas berdebat.


Sementara Zoya hanya tersenyum melihat reaksi Allena.


"Mungkin dulu emang Zoya suka sama Kak EL sampai Zoya rela dan nggak malu ngungkapin perasaan Zoya di depan umum waktu itu. Kak Allena pasti masih ingatkan waktu itu Zoya pernah nembak Kak EL untuk minta Kak EL jadi pacar Zoya di lapangan dan disaksikan semua murid-murid SMAN Nasional. Waktu itu Zoya dengan tidak tau malunya nembak Kak EL, karna Zoya rasa Zoya udah suka banget sama Kak EL. Tapi sekarang Zoya udah sadar kalau waktu itu Zoya cuman sebatas mengagumi Kak EL doang nggak lebih. Dan sukanya ya cuman suka doang nggak ada perasaan apapun". Terang Zoya dengan tenang.


"Dan sekarang Zoya udah nggak ada perasaan apapun lagi sama Kak EL. Apa lagi setelah Zoya denger dari Kak Brayen kalau Kak Aziel itu suka dan cinta banget sama Kak Allena". Sambungnya dengan tersenyum tulus.


"Brayen?". Tanya Allena seketika. Gadis itu sampai mengerutkan alisnya tak mengerti kenapa Zoya bisa sampai bawa-bawa Brayen.


"Iya, Kak Brayen. Kenapa? Kok Kak Allena kaya kebingungan gitu? Kak Brayen kan Kakak sepupu Zoya". Sahut Zoya.


Allena terdiam. Akhirnya dia mengerti. Ternyata Zoya dan Brayen adalah sepupu.


"Hmm". Gumam Allena.


"Iya Kak". Balas Zoya tersenyum.


"Oh iya Kak". Seru Zoya lagi, "Kalau gitu Zoya balik duluan ya Kak, soalnya Zoya juga lagi ada urusan sama temen Zoya. Zoya nggak bisa lama-lama sama Kak Allena. Lain kali kita bicara lagi ya Kak. Kak Allena juga jangan salah paham sama Zoya karena Zoya deket sama Kak EL. Kak EL cuman lagi jagain Zoya kok untuk saat ini, karna Kak Brayen lagi di luar negeri. Kalau Kak Brayen udah pulang Zoya nggak bakalan deket lagi sama Kak EL, jadi Kak Allena nggak usah khawatir". Ucapnya lagi. Kemudian dengan berhati-hati Zoya berdiri dari kursi karena kakinya yang keseleo akibat ulah Regina dan teman-temannya tadi. Emang bejat tuh Regina sama teman-temannya.


Zoya kemudian berjalan meninggalkan Allena di cafe itu.


Sedang Allena masih diam di tempatnya dengan tatapan datarnya ke depan sembari memikirkan perkataan Zoya tadi.


Allena seketika menunduk lalu memijit pelipisnya yang terasa pusing. Pusing dengan semua apa yang terjadi dalam hidupnya.


Allena kemudian melirik ke arah makanan yang dipesannya tadi. Tidak berselang lama Allena mulai mendekati makanannya dan mulai makan dengan tenang dan hikmat( Kalau soal makanan itu tidak boleh disia-siakan🤣🤣)


...******...


Hari-hari berlalu. Hubungan Allena dan sahabat-sahabatnya masih tidak ada perkembangan. Allena bahkan tak mau berbicara dengan mereka. Setiap ada tugas kelompok Allena pun pasti memilih untuk tak berkelompok dengan siapa pun. Termasuk sahabat-sahabatnya sekali pun. Allena seolah semakin menjauhi mereka semua.


Hubungannya dengan Louis juga tak ada perkembangan. Di rumah sekali pun ketika misal mereka tak sengaja berpapasan Allena akan langsung menghindar dan tak berniat sekali pun berbicara dengan Louis. Allena seperti tak mengganggap keberadaan Louis di rumah itu.


Dengan Aziel pun hubungan mereka semakin memburuk. Aziel dan Allena sama-sama saling menjauhi dan tidak saling peduli satu sama lain, tidak menggubris satu sama lain. Seperti dua orang yang asing.


Zoya sendiri pun tidak tau harus berbuat apa lagi untuk memperbaiki hubungan kedua sejoli itu. Allena sendiri pun sudah pernah marah-marah padanya untuk berhenti dan tak mencampuri hubungannya dengan Aziel. Akhirnya Zoya berhenti, karena bagaiman pun Zoya juga tak berani pada Allena jika dia sudah memarahi dirinya.


Dan di sabtu sore, terlihat Allena keluar mansion sambil menenteng sepatu roda miliknya. Sudah lama sekali Allena bermain sepatu roda setelah sekian lamanya. Entah apa yang membuat Allena ingin bermain sepatu roda hari ini.


Dengan kaos santainya dan juga celana training hitam bergaris putih di samping kiri dan kanan. Juga memakai earphone yang masih dia lingkari di lehernya, Allena mulai memakai sepatu rodanya.


Setelah selesai memakai sepatu roda miliknya, Allena berdiri dan menggerakkan kakinya agar sepatu roda bergerak.


Allena keluar dari pintu gerbang dan mulai meninggalkan mansion menggerakan sepatu rodanya dengan lihai. Memang Allena ini pandai dalam bermain sepatu roda. Hanya ini pertama kalinya lagi Allena bermain sepatu roda setelah sekian lamanya lagi.


Allena keluar sampai akhirnya tiba di jalan umum. Gadis itu terus menggerakan sepatu rodanya secara perlahan disisi lain jalanan sambil mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang ingin dimakan.


Allena melihat gerobak penjual seblak yang berada tak jauh dari jalanan. Dengan segera Allena menggerakan sepatu rodanya ke arah penjual seblak tersebut.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di markas Alcandor, terlihat Aziel duduk di sofa sembari melihat foto Allena yang terpampang di layar ponselnya. Foto itu diambilnya saat dia dan Allena ke pantai waktu itu.


Sejujurnya dia sangat benar-benar merindukan Allena. Bukan hanya hari ini, tetapi setiap hari dia selalu merindukan Allena. Dia hampir stres mengingat Allena dan dirinya saat ini begitu sangat jauh. Bukan ini yang Aziel inginkan. Dia tidak ingin seperti ini hubungannya antara Allena dan dirinya. Tapi dirinya beranggapan bahwa Allena benar-benar dan sudah tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Allena selalu bersikap datar padanya dan selalu menjauhi dirinya. Jadi Aziel pikir mungkin dengan dia menjauhi Allena juga, gadis itu tidak akan tersiksa lagi dengan keberadaannya.


"Bos!". Tegur satu anak buah pada Aziel. Anak buah itu ternyata Gamma. Cowok itu memang join geng Alcandor sudah hampir dua bulan.


"Bos lagi ngapain?". Tanya Gamma sembari melihat layar ponsel Aziel yang masih terpampang foto cantik Allena, "Ohh lagi liatin foto mantan ternyata". Celetuk Gamma.


"Oyy Gam, nggak usah gangguin Bos. Lagi galau dia". Imbuh Gabriel sambil mengunyah kacang.


Lengkap sudah, lengkap sudah kumpulan para anak-anak buah lucknut. Gamma dan Gabriel ini satu frekuensi. Kalau ngomong asal nyeletuk gitu aja. Sama-sama petakilannya. Makanya Gamma cepat beradaptasi waktu join geng Alcandor. Dan dua orang ini langsung dipanggil 2G(Gamma and Gabriel) sama anak-anak geng Alcandor lainnya. Dan setelah ada Gamma suasana di geng itu makin ramai karna tingkah absurd 2G. Apa lagi biasanya Dicky juga ikut-ikutan sama 2G ini. Makin-makin deh ramainya.


"Tenang aja Bos, entar gue bantuin deh biar Bos baikan lagi sama Allena". Ucap Gamma sembari mengambil kacang di tangan Gabriel.


"Wihh gimana tuh caranya? Emang lo tau Neng Cantik itu siapa?". Imbuh Gabriel.


"Ya tau dung. Gue sama Allena tuh sahabatan dari kita kelas 10. Satu kelas malahan". Sahut Gamma sambil mengunyah kacang.


"Yang bener nih? Lo nggak bohong kan ama gue". Tanya Gabriel tak percaya.


"Ya bener lah masa gue bohong. Kalau nggak percaya tanya aja sama Pak Bos, orang Pak Bos tau kok. Iyakan Pak Bos?". Cetus Gamma meminta dukungan sama Aziel.


"Widihh jadi kalau gitu pasti banyak nih cewek-cewek cakep di kelas lo. Comblangin gue satu dong, dua kek, berapa kek". Ucap Gabriel menggebu.


"Dih lo kan bisa nyari di sekolahan lo aja. Kenapa musti minta gue comblangin?". Ucap Gamma mendelik.


"Yaelahh lo kan tau gue STM. Mana ada cewek di sekolahan gue? Orang semuanya batangan gitu". Sahut Gabriel.


"Siapa taukan lo doyan sama yang batangan. Puas-puasin dah tu pffftt hahaha". Ucap Gamma dengan tawa yang pecah.


Gabriel langsung saja mengeplak kepala Gamma, "Dih lo pikir gue gay apa. Gue masih normal kali.


Gamma memegangi kepalanya yang kena geplak dengan terus tertawa. Sementara anak-anak geng Alcandor lainnya yang ada disana ikut tertawa mendegar candaan 2G.


Kedua orang itu benar-benar penambah suasana ramai di markas itu. Untung saja Dicky belum datang. Kalau cowok itu ada pasti tambah panjang nih candaan.


Tapi tidak dengan Aziel...


"BERISIK!!". Bentak Aziel seketika yang langsung membuat tawa mereka semua berhenti.


Aziel kemudian terlihat berdiri dari sofa dan beranjak pergi dari sana menuju tangga.


"Sabar Bos, entar gue bantuin Bos bisa baikan lagi sama Allena". Seru Gamma pada Aziel yang terlihat tidak merespon dan tetap melanjutkan menaiki tangga.


Sementara itu Allena kini sudah berada di taman kota. Setelah dari makan seblak tadi, Allena langsung menuju Taman Kota, dan saat ini gadis itu terlihat duduk di kursi panjang sambil memakan snack di tangannya dengan earphone yang terpasang di telinganya.


Hari mulai semakin sore. Allena kemudian beranjak dari kursi, memakai tas sling bag miliknya lalu mulai menggerakan sepatu rodanya dan pergi dari taman itu.


Allena kini sudah berada di lapangan yang luas. Disana sepi tak ada orang. Hanya dia sendirian disana. Mata hazelnya menelusuri lapangan yang luas itu dengan ekspresi datarnya. Sesaat kemudian Allena mulai menggerakan sepatu rodanya masuk ke dalam lapangan yang luas itu. Berputar-putar perlahan sambil merentangkan kedua tangannya membiarkan dirinya terkena terpaan angin sore yang menyejukkan.


Allena kemudian berhenti tepat di tengah-tengah lapangan. Diam sebentar sambil menelusuri keadaan lapangan yang begitu sepi. Allena bingung, biasanya akan ada orang di lapangan itu. Tapi hari ini tidak. Disana sangat sepi dan sunyi.


Tapi itu yang diinginkan Allena. Setidaknya dia bisa merasakan ketenangan sendirian disana. Allena mematikan musik lalu perlahan mulai melepaskan earphone yang melingkar di kepalanya lalu meletakan di lehernya.


Allena menghebuskan nafasnya tenang sembari memejamkan matanya. Kemudian mengangkat kepalanya ke atas. Perlahan Allena mulai membuka matanya memandang datar langit yang indah namun di penuhi awan hitam itu.


'HUJAN??'


__ADS_1


__ADS_2