Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 104 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"JAWAB ALLENA!!". Sentak Aziel dengan keras membuat mereka yang ada disana terkaget-kaget.


Allena hanya diam. Gadis itu terlihat menghembuskan nafasnya dengan menggebu-gebu. Dadanya naik turun tak karuan.


Ke-3 sahabat Allena mencoba menenangkan wanita itu.


"Kalau lu nggak jawab, berarti emang benar yang gua omongin". Aziel kembali menoleh kearah Louis menatap tajam pria yang sudah lemah itu, "Dan gua harus kasih pelajaran sama orang ini biar dia nggak gangguin kita lagi". Sambung Aziel penuh emosi.


Aziel semakin mengeratkan cengkramannya dikerah baju Louis.


Namun sebelum Aziel kembali menghajar Louis, Setya datang dan langsung menahan Aziel agar tak melakukan hal gila lagi.


"El lepasin El, mati anak orang". Setya berusaha mendorong Aziel dengan masuk ketengah-tengah antara Aziel dan Louis.


Sekuat tenaga Setya menghadang Aziel yang terlihat berkabut penuh emosi.


"Lepasin gua! Gua bakalan kasih pelajaran ke bocah sialan itu!". Umpat Aziel berusaha memberontak minta dilepaskan.


"Jangan El, bahaya nanti! Lo bisa bikin anak orang mati woyy". Setya terus menghadang Aziel yang memberontak seperti orang gila.


"Lepasin gua!!


Sementara Alvian dan Gamma terlihat membantu Louis berdiri.


Aziel terus memberontak sehingga Setya tak mampu menghadang lagi dan terlepas darinya.


Tanpa lama-lama lagi Aziel maju dan ingin menghajar Louis kembali.


"STOOOOPP!!


Sontak Aziel berhenti melangkah dan Allena kini sudah berdiri dihadapan Aziel dengan merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya.


Ternyata Allena menghadang Aziel agar pria itu berhenti. Itu sudah keterluan, Aziel terlalu berlebihan.


Allena membuka matanya saat tak merasakan pergerakan dari Aziel.


PLAKK!!


Dalam seperkian detik Allena langsung memberikan tamparan keras dipipi Aziel.


"LU GILA! LU BENER-BENER GILA TAU NGGAK! LU SAYKO!!". Umpat Allena membentak Aziel dengan keras dihadapannya.


Aziel langsung diam ditempatnya saat Allena menamparnya sekaligus membentaknya. Aziel diam sembari menatap Allena.


Mereka yang melihat itu sontak saja terkejut sekaligus terdiam dengan drama yang ada dihadapan mereka saat ini.


"Ada apa ini??!!". Sentak Bu Preti yang tiba-tiba datang membuat mereka menoleh kearahnya.


Allena menoleh kearah Bu Preti lalu kembali memandang sinis Aziel. Gadis itu kemudian berbalik menghampiri Louis yang terlihat dipapa oleh Alvian dan Gamma.


"Ada apa ini? Kenapa kelas bisa seperti ini? Siapa yang telah membuat kekacauan?". Tanya Bu Preti berjalan kearah mereka itu.


"Ada yang bisa jelaskan kenapa bisa seperti ini?". Bu Preti bertanya pada kearah murid-murid itu.


"Maaf Bu, tapi ini semua terjadi karena dia". Ucap Allena sambil memandang sinis Aziel membuat pria itu menoleh padanya.


"Semua karena dia Bu Guru, dia yang sudah membuat kekacauan dan sudah memukuli sepupu saya hingga seperti ini". Sambungnya lagi sambil terus memandang bengis kearah Aziel.


"Apa?". Sentak Bu Preti tak menyangka.


Bu Preti kemudian menghela nafasnya.


"Sudah sudah! Sekarang kalian semua balik ke kelas kalian masing-masing. Jangan berkeliaran di waktu jam pelajaran. Balik ke kelas sekarang!". Bu Preti memerintah pada murid-murid yang ada diluar.


Murid-murid yang ada disana kemudian menyoraki dan mulai membubarkan diri.


Bu Preti kemudian kembali beralih, "Sekarang kalian semua ke ruang BK biar masalahnya diselesaikan disana". Ucap Bu Preti kemudian. Lalu beralih kearah Aziel, "Dan kamu Aziel pakai baju kamu yang benar! Baru beberapa bulan melepas jabatan kamu sudah membuat masalah separah ini. Kamu harusnya memberikan contoh yang baik bukan malah seperti ini. Mau jadi apa kamu nanti". Bu Preti benar-benar tak habis pikir dengan Aziel yang sudah membuat masalah seperti itu.


"Sekarang kalian ikut Ibu ke ruang BK!". Sambung Bu Preti.


"Uh Bu maaf, boleh saya ambil kotak P3K dulu. Saya mau obatin sepupu saya". Ucap Allena seketika.


"Di ruang BK ada kotak P3K, nanti kamu obati dia disana saja". Jawab Bu Preti.


"Baik Bu, terima kasih". Balas Allena.


"Yasudah sekarang kalian semua ikut saya ke ruang BK.


Allena kemudian mengambil alih tempat Gamma untuk membantu memapa Louis.


Aziel yang melihat itu hanya mampu memandang sambil mengepalkan kedua tangannya.


Mereka kemudian mulai berjalan keluar kelas.


"Aziel cepat pakai seragam kamu yang benar. Ada-ada saja kamu ini!". Tegur Bu Preti. Bu Preti kemudian berjalan keluar.


"Syutt El, kita ke ruang BK sekarang". Setya mendekat dan merangkul Aziel. "Lo kenapa bisa sih ampe nggak sadar gitu mukul anak orang. Kalau dia mati gimana?". Sambungnya lagi.


Aziel menoleh kearah Setya, "Dan gua nggak peduli kalau tuh orang mati". Jawab Aziel dengan bengisnya. Pria itu kemudian berjalan keluar.


Sementara Setya hanya mampu geleng-geleng kepala melihat sepupunya itu.

__ADS_1


...*****...


Dan saat ini mereka semua sudah berada di ruang BK.


Di sana sudah ada Bu Preti dan juga seorang guru BK.


Terlihat Allena sedang mengobati Louis disudut ruangan yang memiliki sofa.


"Kenapa bisa kamu memukuli teman kamu seperti itu Aziel? Itu terlalu berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya?". Guru BK benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Aziel setelah melihat keadaan Louis.


"Dia bukan teman saya". Jawab Aziel menggertakan gigi-giginya sembari menatap dingin Guru BK.


Melihat Aziel seperti itu membuat Guru BK dan Bu Preti saling pandang satu sama lain lalu menggeleng pasrah. Aziel ini terlalu keras kepala.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu lebih baik meminta maaf. Bagaimana...


"Saya tidak akan pernah meminta maaf kepada siapapun, dan saya tidak peduli sama sekali". Aziel langsung saja memotong pembicaraan Guru BK. Dia sama sekali tidak sudi untuk meminta maaf terhadap Louis.


Louis yang mendengar itu hanya melirik Aziel dengan ujung matanya. Sementara Allena tetap fokus mengobati wajah Louis yang luka dan lebam. Gadis itu tidak peduli dengan sikap Aziel itu.


"Kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini Aziel". Guru BK benar-benar tak habis pikir, "Hahh... terserah kalau begitu. Tapi bagaimanapun kamu harus tetap mendapat hukuman atas perbuatan yang kamu lakukan". Guru BK beranjak dari kursinya lalu menuju meja printer yang ada diruangan itu dan tengah melakukan sesuatu.


Beberapa menit kemudian Guru BK kembali ketempatnya lalu menyodorkan sebuah amplop dihadapan Aziel.


"Ini surat skors untuk kamu. Pihak sekolah tidak mungkin tidak memberikan kamu hukuman atas semua yang terjadi. Saya harap kamu tidak membuat kesalahan lagi dan merenungkan semuanya. Meskipun ini pertama kalinya kamu membuat kesalahan tapi perbuatan yang kamu lakukan sudah sangat fatal dan berlebihan, dan kami tidak bisa mentolerirnya". Jelas Guru BK.


Aziel diam dan memandang amplop yang ada dihadapannya. Sedetik kemudian Aziel langsung meraih amplop itu dengan kasar sembari beranjak dari tempatnya dan berbalik keluar dari ruangan itu.


"Aziel mau kemana kamu? Saya belum selesai bicara". Seru Guru BK, "Hahh.. anak itu mulai keras kepala". Sambung Guru BK heran akan sikap Aziel barusan.


Guru BK kemudian memandang mereka yang masih ada disana.


"Kalian semua ini ada-ada saja!". Ucap Guru BK geleng-geleng melihat murid-murid itu, "Ingat pesan saya, lain kali jika kalian melihat ada yang bertengkar segera kalian lerai, jangan kalian cuman lihat dan jadi penonton". Sambungnya menasihati.


"Baiklah kalau begitu kalian semua silahkan keluar, dan ingat pesan Bapak tadi". Ucapnya lagi.


Mereka semua kemudian segera keluar dari ruangan tersebut terkecuali Allena dan Louis.


Allena masih membantu mengobati luka diwajah Louis. Memang luka yang didapati Louis cukup banyak karena tadi Aziel memang sangat tak memberi ampun dan terus menghajar Louis dengan brutal.


Hedehh Aziel Aziel!! Gimana sih jalan pikiran kamu ituπŸ˜”πŸ˜”


...*****...


"Lo lo pada lihat nggak sih tadi, Kak El bener-bener nggak kasih ampun tau nggak sama Louis". Ucap Gamma.


Saat ini mereka semua sudah berada dalam kelas.


"Hushh ngomongnya kalian ini". Tegur Airin. "Kalian berdua nggak boleh ngomong kaya gitu". Sambungnya lagi.


Tidak lama Allena datang dan langsung duduk dikursinya tanpa berbicara apapun dan membaringkan kepalanya diatas meja.


Teman-teman kelas sekaligus sahabat-sahaba Allena langsung diam berhenti berbicara melihat Allena seperti itu.


Adrian dan Gerald yang sempat ribut-ribut tadi langsung diam sambil berbisik-bisik ditempat duduk mereka.


Mereka itu takut jika Allena marah. Allena kalau sekalinya marah nyeremin woyy.


Sementara saat ini terlihat Aziel sedang mengemudikan mobilnya menuju beskem geng motornya.


Ya memang benar rumah minimalis berlantai dua yang pernah didatangi Allena itu adalah beskem geng motor milik Aziel. Aziel adalah ketua geng motor tersebut.


Setibanya di beskem Aziel langsung masuk dan berbaring diatas sofa dengan tangannya sebelah yang diletakan diatas pelipisnya.


"Bos? Bos udah datang? Tumben, emang Bos nggak ke sekolah?". Gabriel yang ada disana menghampiri Aziel.


Memang disana ada beberapa anak buah Aziel yang ikut bolos sekolah dan pastinya akan pergi kesana.


"Ambilin minuman gua dikulkas!". Perintah Aziel pada Gabriel.


"Eh? Minuman? Maksud Bos wine gitu?". Tanya Gabriel.


"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Aziel.


"Oke Bos, bentar ya". Segera Gabriel mengikuti perintah Bosnya.


Tidak lama Gabriel datang sambil membawa sebotol wine dan juga gelas kaca. Gabriel kemudian membuka tutup wine tersebut dan menuangkannya kedalam gelas kaca itu.


"Ini Bos minumnya". Ucap Gabriel kemudian.


Aziel kemudian bangun, mengambil posisi duduk dan langsung meraih gelas berisi wine, meminumnya hingga tandas.


"Lagi". Ucap Aziel sembari menyodorkan gelas yang sudah kosong tadi.


Gabriel menuangkannya kembali dan Aziel juga kembali menghabiskannya hingga tandas.


"Lagi Bos?". Tanya Gabriel.


"Hmm". Gabriel kemudian kembali menuangkannya hingga beberapa kali dan Aziel juga kembali menghabiskannya hingga beberapa kali.


Gabriel sampai terheran-heran. Tak biasanya Bosnya itu minum banyak. Apalagi satu botol itu tinggal sedikit mungkin masih stengahnya lagi.

__ADS_1


"Wishh Gab, Bos kenapa tuh? Nggak biasanya kaya gitu". Seru salah satu anak buah Aziel menghampiri mereka.


"Nggak tau gue. Lagi ada masalah kali". Jawab Gabriel.


"Yaudah lo bawa Bos keatas sekarang. Biar gue yang habisin sisanya". Anak buah itu langsung mengambil botol wine dari tangan Gabriel.


"Itumah lo nya yang enak". Cibir Gabriel.


"Udah bawah Bos keatas sana.


"Terus gue sendirian gitu.


"Yaelah lemah amat lo. Minta sama anak-anak yang lain sana kalau lo nggak sanggup.


Gabriel hanya bisa bersungut mendengar ucapan teman segengnya itu.


Gabriel kemudian meminta bantuan salah satu anak geng untuk membantunya membawa Aziel ke kamarnya.


"Ughh u-ughh Allena.. Len". Aziel ngigau menyebut nama Allena.


Pria itu sudah sangat mabuk berat akibat terlalu banyak minum.


"Hah? Allena? Kaya pernah dengar tuh nama. Tapi dimana ya.


Saat ini kedua anak buah itu sudah membaringkan Aziel diatas ranjang.


"U-ughh u-ughh Allena..Allena". Aziel beringsut diatas ranjangnya sambil menyebut-nyebut nama Allena.


"Allena itu nama cewe yang pernah datang kesini sama Bos, yang pernah ngalahin Bos dibalapan waktu itu. Masa lo nggak ingat". Ucap anak buah yang membantu Gabriel tadi.


Gabriel mencoba mengingat, "Ohh cewe itu, iya iya gue udah ingat, gue udah ingat". Gabriel manggut-manggut.


...*****...


Bel pulang sekolah berbunyi dari tadi. Anak-anak mulai berhamburan keluar kelas.


"Len, kita ke restorannya Zee dulu yuk! Nongki-nongki gitu bentar". Ajak Tessa.


"Gua nggak ikut". Jawab Allena cepat. Gadis itu terlihat membereskan barang-barangnya diatas meja.


"Loh kok...". Ucap Tessa terputus.


Allena kemudian berdiri dari kursinya, "Gua duluan. Kalian aja yang pergi". Ucap Allena sembari berlalu pergi dari sana keluar kelas.


"Oyy Sa, Kok Allena pergi, nggak ikut dia?". Tanya Gamma saat melihat Allena yang sudah keluar kelas.


"Nggak, dia malah nyuruh kita aja yang pergi". Jawab Tessa.


"Udah nggak apa-apa, mungkin Allena masih mikirin kejadian yang tadi. Biarin dia tenangin diri dulu". Timpal Airin kemudian.


Kali ini mereka semua setuju. Mungkin Allena masih mikirin soal kejadian tadi dan ingin punya waktu sendiri.


...*****...


Hingga saat ini Allena sudah berada dalam kamarnya. Gadis itu melempar tasnya kesembarang arah lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya dengan tangan yang dia letakkan dipelipisnya sambil terpejam.


"Hahh...". Allena menghela nafasnya sambil masih dengan tetap posisinya.


"Memang dari awal ini yang terbaik, guanya aja yang terlalu berharap lebih". Allena bergumam.


Sementara ditempat lain terlihat Alexa sedang berada di halte menuggu jemputan.


"Aagghh sialan tuh sih Allena ishh". Umpat Alexa dengan menendang kaleng minuman yang ada dihadapannya. Alexa benar-benar sangat kesal karena kejadian yang menggemparkan di sekolah tadi. Alexa jelas-jelas melihat apa yang terjadi antara Allena dan Aziel karena dia juga ada disana tadi dan itu membuatnya sangat emosi dan semakin tak menyukai Allena.


"WOYY!!". Tiba-tiba seseorang berteriak menghampirinya, "Lo kata gue tempat sampah ampe lo ngejedukin gue pake kaleng bekas itu. Kalau sampai pala gue kenapa-napa gimana, tanggung jawab lo?". Sentak pria itu dengan galaknya dihadapan Alexa.


"Yaelah ketimbang kaleng bekas doang lo permasalahin, amnesia lo. Lebay amat perasaan". Balas Alexa tak kalah galaknya.


Saat ini berdiri seorang pria yang memang beberapa hari ini sering dia temui setiap pulang sekolah. Padahal pria itu sudah tak bersekolah lagi disana, atau lebih tepatnya sudah menjadi alumni sekolah itu.


"Eh Cewek Tengil, kalau kepala gue ampe bocor emang bisa lo ganti rugi ha?". Dia adalah Brayen. Lulusan tahun lalu.


"Kepala jelek lo doang mah nggak ada apa-apanya. Lagian isi kepala lo itu pasti semuanya yang mesum-mesum nggak guna tau nggak". Cibir Alexa.


Selama kedua orang itu saling adu monyong, seorang perempuan menghampiri mereka.


"Brayen!!". Seru perempuan itu membuat keduanya menoleh.


Yang Alexa lihat adalah Zoya yang kini berdiri dihadapan mereka dengan melirik mereka berdua secara bergantian.


"Kalian ada hubungan apa? Kalian pacaran? Kok kayanya dekat banget". Tanya Zoya seketika sembari menatap curiga.


Alexa mendelik mendengar pernyataan Zoya, "Dih ngapain gue pacaran sama Cowok Mesum kaya dia, ogah banget. Najis". Celetuk Alexa menatap jengah Brayen.


"Yee siapa juga yang mau pacaran sama Cewek Gesrek, Tengil kaya lo. Mending dah gue jomblo selamanya dari pada punya pacar bentukan kaya lo". Balas Brayen tak mau kalah.


Zoya hanya bisa mengernyit melihat perdebatan kedua insan dihadapannya saat ini.


"Udah minggir sana, buang-buang waktu gue ngeladenin Cowok Mesum nggak ada akhlak kaya lo. Huh!". Alexa beranjak menuju mobil jemputannya yang telah datang.


Sempat Brayen melihat Alexa dari dalam mobil mengacungkan jari tengah kearahnya saat mobil mulai berjalan.

__ADS_1



__ADS_2