Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 66 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

SMAN Nasional Pukul 10.35 WIB


"Len, Allena dipanggil sama Kak El tuh, disuruh ke ruang OSIS sekarang". Seru Adrian pada Allena dengan memegang bola voli ditangannya. Disampingnya sudah pasti ada temannya Gerald.


Saat ini Allena dan ke-5 temannya(tanpa Manaf) akan menuju ke kantin karena sudah jam istirahat.


"Wahh ada apa nih? Jangan-jangan lo bikin masalah lagi. Soalnya tampang Kak El tadi nyeremin tau nggak". Sarkas Gerald.


"Woyy Duo Pembuat Onar, diem lo pada". Timpal Tessa.


"Ck. Ikut campur aja lo Sa. Kita ngomong sama Allena bukan sama lo". Cibir Adrian yang berhasil mendapatkan pelototan Tessa


"Kalau gitu kita duluan ya Neng Lena, selamat ke ruang OSIS". Ucap Gerald dengan gaya tengilnya melangkah pergi bersama Adrian dari sana. Mereka malas jika harus berdebat dengan Tessa yang gayanya laki itu. Mengingat gadis itu sudah pernah menghajar mereka berdua dengan membabi buta.


"Sa, lo kenapa sih ribut mulu ama mereka berdua. Ingat, lo itu cewe bersikap anggun sedikit napa. Brutal banget jadi cewe". Tegur Gamma tak habis pikir akan sikap sepupunya itu.


"Gue nggak suka aja sama Duo Pembuat Onar itu. Nyolot mulu kalau dibilangin". Ucap Tessa sewot.


"Kaya lo nggak aja Sa. Sama aja kali". Cibir Gamma.


"Biarin". Tessa tak peduli.


Melihat itu Alvian hanya menggeleng heran dengan kelakuan dua sahabatnya itu. Saling berkeluarga tapi adu cekcok mulu.


"Udah kalian berdua nggak usah ribut. Nggak akur banget jadi sepupu berdua lo pada". Tegur Alvian.


"Jadi gimana Len, lo ke ruangan OSIS sekarang?". Alvian beralih pada Allena.


"Iya Len, takutnya Ketua OSIS kita itu marah beneran lagi lo nggak datang-datang". Timpal Zee.


Allena kelihatan berpikir sebentar. Sedetik kemudian Allena melanjutkan langkahnya.


"Udah nggak usah. Gua mau ke kantin". Ucap Allena tak peduli.


Mereka yang melihat reaksi Allena hanya bisa menatap heran. Sahabat mereka itu memang susah jika dikasih tau. Mereka memutuskan untuk mengikuti Allena.


Saat ini ke-6 bersahabat itu sudah berada dalam kantin. Mereka memesan menu dan makan sambil mengobrol-ngobrol.


Tidak adanya Manaf cukup membuat mereka merasa kekurangan personil. Tetapi mereka juga tak ingin meninggalkan Airin sendiri dengan masalah yang tengah dihadapinya.


Lagi pula Manaf sendiri yang menjauh dan meminta mereka untuk tak menemaninya. Pria itu menyuruh mereka untuk lebih sering bersama Airin. Dia ingin menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Ayahnya.


Saat sedang enak-enaknya makan tiba-tiba muncul dua orang pria entah dari mana menghampiri Allena dan membawa paksa gadis itu untuk keluar dari kantin.


Dua pria itu membawa Allena dengan menggandeng dari sisi kiri dan kanan secara paksa.


Tampak seisi kantin begitu kaget dengan kejadian itu. Allena terlihat memberontak minta dilepaskan.


"Woyy lo berdua mau bawa Allena kemana? Lepasin Allena nggak". Teriak Tessa seketika kepada dua pria itu.


"Sorry Sa, Pa Ketos yang nyuruh kita. Aziel". Jawab salah satu pria itu.


"Udah yah, kita buru-buru. Nanti Aziel marah". Ucap pria itu lagi kembali membawa Allena.


Mereka yang mendengar perkataan dua pria suruhan Aziel itu hanya bisa diam ditempat dengan tatapan tak percaya. Seisi kantin terlihat saling berbisik-bisik karena kejadian itu.


Teman-teman Allena pun tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Aziel. Ketua OSIS yang terkenal akan sikap dingin dan galaknya itu. Mereka tak ingin mencari masalah dengan Aziel.


Lagipula mereka yakin Allena bisa mengatasi masalahnya dengan Aziel. Apa lagi kedua orang itu terlihat sama-sama tidak mau kalah dan saling mendominasi satu sama lain.


Sementara kedua pria tadi terus membawa Allena paksa. Pasalnya Allena terus memberontak meskipun tak berhasil. Sebab Allena tak bisa mengimbangi kekuatan dirinya dengan kekuatan dua pria sekaligus.


"Maaf ya Len, kita lakuin ini terpaksa. Disuruh sama Pak Ketua soalnya". Adu salah satu murid pria itu.


"Iya Len, sorry ya. Kita takut Aziel marah sama kita. Berabe nanti urusannya sama Aziel". Timpal satunya lagi.


Disepanjang perjalanan, banyak sekali murid-murid yang melihat kejadian itu. Bahkan saling berbisik-bisik mengapa Allena dibawa paksa seperti itu.


"Waduhh itu Allena kenapa dibawa paksa kaya gitu.


"My Bebeb Allen kasihan banget.


"Tolongin nggak ya? Tapi takut cuyy.


"Iyalah orang suruhannya Pak Ketos.


Begitulah perkataan-perkataan disepanjang perjalanan Allena dibawah paksa oleh suruhan Aziel.

__ADS_1


Murid-murid itu memang mengetahui bahwa kedua pria itu adalah suruhan Aziel. Makanya murid-murid itu tidak berani untuk membantu wanita idola mereka.


Akhirnya mereka sampai di kantor OSIS SMAN Nasional. Allena langsung saja dibawah masuk kedalam ruangan OSIS.


Disana sudah ada Aziel yang menunggu terlihat sedang mengutak-atik laptopnya di meja.


"El, kita udah bawa nih cewe". Seru salah satu murid pria yang membuat Aziel mendongakan kepalanya dan menatap mereka dengan dingin.


Di ruangan itu terlihat sepi hanya ada Aziel dan Allena juga kedua murid pria suruhan Aziel tadi.


"Kalian boleh pergi sekarang". Ucap Aziel datar.


Kedua murid pria tadipun berbalik dan keluar dari ruangan OSIS tersebut. Tersisa Allena dan Aziel yang saling menatap datar dalam diam.


"Duduk". Ucap Aziel pada Allena.


Allena kemudian melirik salah satu kursi yang ada diruangan tersebut dan duduk disana dengan santainya.


"Tau kenapa gua manggil lu kesini?". Tanya Aziel kemudian.


Allena tak menjawab, gadis itu hanya menatap datar Aziel. Seperti dulu lagi awal mereka bertemu.


Aziel yang tidak dijawab hanya menghembuskan nafas berat.


"Gua tanya Allena". Ucap Aziel lagi.


Situasinya terlihat mencekam. Tenang namun begitu menghanyutkan dengan sikap keduanya.


"Lu nggak manggil, tapi lu nyeret gua". Jawab Allena seketika.


Aziel yang mendengar jawaban Allena seketika menaikan sedikit sudut bibirnya. Memandangi Allena dengan serius.


"Lu masih sama ya Allena. Nggak berubah sama sekali. Padahal udah lama kita nggak ketemu seperti ini setelah lu hilang hampir satu bulan lebih lamanya". Ucap Aziel tenang.


"Urusannya sama lu apa?


"Nggak usah basa-basi. Lu nyeret gua kesini cuman buat ngomongin hal yang nggak penting kaya gitu? Ck, ngabisin waktu gua aja". Ucap Allena berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


Namun saat Allena berjalan disamping Aziel, pria itu langsung menarik lengan Allena dan menahan gadis itu agar tak pergi dari sana.


"Lu mau kemana? Gua belum selesai ngomong". Ucap Aziel memandang wajah Allena serius.


Aziel semakin menatap Allena dengan intens. "Kalau gua nggak mau, lu mau apa?". Balas Aziel dengan senyum smirknya.


"Lu kenapa sih? Gua mau keluar tau nggak. Lu nyeret gua buat kesini cuman mau lakuin hal yang nggak penting kaya gini. Lepasin tangan gua, sakit lu megangnya kaya gini". Desis Allena akibat ulah Aziel yang sengaja meremas lengan Allena dengan kuat.


"Lu budek apa gimana? Lepasin gua bilang!". Sambung Allena menatap tajam Aziel.


Aziel yang melihat sikap Allena semakin tersenyum misterius. Seperti ada yang sedang direncanakan oleh pria itu.


"Masih lu ingatkan perkataan gua tempo hari?


"Karena lu udah dengan beraninya, bahkan sampai tiga kali nolak permintaan gua, buat datang dirapat OSIS mengenai masalah donatur diacara yang udah gua buat dengan susah-susah. Gua bakalan ngelakuin sesuatu hal yang buat lu nggak akan pernah lupa dengan itu". Ucap Aziel terus menatap Allena intens.


Allena yang mendengar perkataan Aziel hanya tersenyum meremehkan. Kali ini gadis itu tak bersikap seperti biasanya. Allena memang tak takut pada Aziel.


"Oh ya? Emang apa yang bakal lu lakuin ke gua? Lu pikir lu bisa ngancam gua". Tantang Allena dengan tatapan bengisnya menatap Aziel.


Melihat Allena yang begitu berani padanya membuat Aziel tersenyum miring memandangi wajah gadis itu secara keseluruhan. Gadis itu benar-benar membuat Aziel merasa tertantang.


Sudah lama tak berdekatan seperti ini membuat Aziel semakin penasaran akan Allena. Tak ada perubahan pada diri Allena. Gadis itu masih sama, berani dan selalu bersikap datar pada dirinya. Seakan apa yang pernah terjadi pada mereka tak pernah terjadi. Membuat Aziel ingin melakukan diluar batas nalurinya terhadap Allena.


"Mau coba?". Desis Aziel pelan mendekati Allena, yang sontak membuat gadis itu mendorong Aziel karena kaget.


"Dih jauh-jauh sana". Ucap Allena dengan mendorong Aziel agar menjauh darinya.


Aziel yang didorong awalnya kaget. Selang beberapa saat, pria itu kembali tersenyum devil kearah Allena dan berjalan kearah Allena.


"Jangan gila lu ya". Ucap Allena menatap tajam Aziel yang kembali ingin mendekatinya.


Namun saat Aziel hampir dekat pada Allena, dia sontak berhenti lalu melirik kearah pintu ruangan OSIS yang masih terbuka. Langsung saja Aziel berjalan kearah pintu lalu menutupnya dan menguncinya rapat-rapat.


Allena yang melihat apa yang dilakukan Aziel seketika membulatkan matanya. Apa Aziel benar-benar akan melakukan sesuatu padanya, pikir Allena.


"Eh ngapain lu tutup pintunya? Buka nggak!". Teriak Allena kearah Aziel yang masih berdiri membelakanginya.


Allena kemudian segera berjalan cepat kearah Aziel, ingin membuka pintu.

__ADS_1


"Woyy buka nggak pintunya!. Lu gila apa". Teriak Allena lagi.


Aziel sontak berbalik menghampiri Allena yang sudah berada didekatnya dan langsung merengkuh tubuh Allena dengan kuat, sehingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang.


Allena yang kaget seketika membulatkan matanya dengan Aziel yang tiba-tiba memeluknya. Membuat gadis itu bingung.


" Eh, lep...". Ucap Allena terhenti yang ingin melepas pelukan Aziel.


"Len..


"Biarin kaya gini dulu". Gumam Aziel pelan, yang membuat Allena semakin bingung dengan situasi tersebut.


Aziel benar-benar susah ditebak saat ini. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan pada Allena.


"Lepas!!". Ucap Allena yang berusaha melepaskan pelukan Aziel.


Namun Aziel semakin mengeratkan pelukannya pada Allena, tidak berniat melepaskan.


" Gua mohon Allena... Biarin kaya gini dulu. Bisakan?". Cicit Aziel.


Aziel kemudian menurunkan kepalanya dibahu Allena dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Allena, membuat gadis itu kaget.


"Uhm..". Allena sedikit melenguh karena hembusan nafas Aziel membuat badannya sedikit bergetar dan merinding.


Sementara Aziel semakin mengeratkan pelukannya dipinggang ramping Allena. Mendengar lenguhan Allena membuat dirinya tak bisa berpikir jernih. Suara Allena begitu menggodanya.


"Lu tahu Len, gua kangen banget ama lu. Gua seneng lu bisa ada disini lagi.


" Gua nggak mau munafik. Sebulan lebih lamanya lu ilang nggak ada kabar, gua selalu nyoba nyariin lu dimanapun. Tapi gua nggak dapat kabar apapun tentang lu.


"Tapi dengan adanya lu balik lagi sekarang, setidaknya ngebuat gua ngerasa kalau lu baik-baik aja, dan itu udah cukup ngebuat gua senang". Ucap Aziel disela-sela dia memeluk Allena.


Allena yang mendengar ungkapan Aziel seketika diam. Gadis itu tak berniat menjawab perkataan Aziel. Membiarkan Aziel memeluknya dengan bebas.


Jujur saja Allena merasa nyaman dengan Aziel yang memeluknya. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkannya saat ini. Allena hanya ingin seperti ini terus saja dulu.


Allena kemudian membalas pelukan Aziel dengan nyaman. Mencari posisi untuk menyalurkan perasaannya yang terasa aneh akan situasi saat ini.


Aziel tiba-tiba mengangkat kepalanya lalu menangkup wajah Allena dengan lembut. Dipandanginya wajah Allena keseluruhan.


Mereka saling beradu pandang satu sama lain. Mata keduanya saling memandang dalam jarak yang begitu dekat. Bahkan Allena dapat merasakan aroma parfum ditubuh Aziel.


Aziel terus memandangi wajah Allena intens. Pandangannya kemudian turun kearah bibir Allena yang begitu menggoda imannya. Aziel kemudian mengarahkan jempolnya kearah bibir bawah Allena dan menekannya dengan lembut. Sangat begitu menggoda dengan tambahan tahi lalat didagu sebelah kiri wanita itu.


Sementara Allena hanya diam merasakan sentuhan Aziel dibibirnya. Saat ini gadis itu terbawa suasana dengan Aziel yang bersikap lembut padanya.


"Gua nggak tahan lagi Len". Desis Aziel pelan masih terus memandangi bibir Allena. "Bolehkan?". Sambung Aziel beralih menatap mata hazel Allena.


Tiba-tiba siluet bayangan video adegan dewasa yang pernah ditontonnya bersama ke-3 sahabatnya berputar-putar diingatan Allena. Pikirannya seketika menjeremus kearah sana.


Allena memandangi bibir Aziel yang tidak begitu tebal namun begitu seksi bagi Allena. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk perlahan.


Aziel yang sudah tak tahan segera mendekatkan wajahnya dan langsung menempelkan bibirnya dibibir Allena.


1 detik..


2 detik..


3 detik..


Tidak berselang lama Aziel menekan tengkuk Allena dan langsung melu*mat pelan bibir Allena. Terlihat Allena mencoba membalas ciuman Aziel padanya meskipun masih kaku.


Aziel tiba-tiba melepaskan lumatannya, "Merem Len!". Ucap Aziel memerintah Allena untuk menutup matanya, lalu kembali meraup bibir Allena dan melu*matnya kembali.


Allena awalnya bingung, lalu mengikuti suruhan Aziel untuk memejamkan matanya. Gadis itu mulai terbiasa akan ciuman Aziel, dia mulai menikmatinya. Terlihat Allena membalas luma*tan-luma*tan Aziel dibibirnya.


Aziel kemudian mendorong Allena kearah meja tanpa melepaskan ciuman mereka. Pria itu lalu mendudukan Allena diatas meja dan terus menyesap bibir Allena tak berhenti. Allena kemudian mengalungkan tangannya dileher Aziel.


Allena juga terlihat berusaha membalas. Gadis itu mulai ketagihan. Aziel tak berniat melepaskannya. Sesekali mereka berdua saling memiringkan kepala kearah yang berlawanan, mencari posisi yang nikmat. Tak ada yang ingin berhenti diantara keduanya. Mereka saling menikmati luma*tan bibir satu sama lain. Bahkan suara kecupan terdengar memenuhi ruangan OSIS tersebut.


Tiba-tiba terdengar pintu ruangan OSIS diketuk dari luar. Allena yang mendengar itu melepaskan ciuman Aziel.


"El.. hh..". Lenguh Allena menatap Aziel dengan wajah yang sayu.


Aziel tak peduli. Pria itu kembali meraih tengkuk Allena dan mencium kembali bibir Allena. Pria itu tak ingin berhenti merasakan bibir gadis yang membuatnya candu dan tergoda.


Allena hanya pasrah, dia sama seperti Aziel. Saat ini gadis itu sangat benar-benar ingin seperti ini terus dengan Aziel.

__ADS_1


Dua orang itu sama-sama dalam keadaan saling menginginkan satu sama lain. Tanpa peduli dengan pintu yang sedari tadi diketuk.


__ADS_2