
Tahun ajaran baru telah dimulai. Kini Allena sudah kembali ke sekolah dengan menyambang predikat sebagai adik kelas sekaligus kakak kelas.
Allena bersama sahabat-sahabatnya sekaligus teman-teman sekelasnya kini menempati kelas yang ada di lantai dua gedung sekolah.
Tapi ada yang berbeda kali ini. Disana tak ada lagi Manaf dengan tingkah petakilannya yang membuat suasana menjadi ramai. Serasa ada yang kurang tanpa adanya Manaf. Pria itu bahkan tak ada kabar hingga saat ini.
Sementara saat ini, Bu Preti yang selaku masih menjadi Wali Kelas mereka terlihat masuk kedalam kelas 11 IPA 1.
"Selamat pagi anak-anak!". Sapa Bu Preti kepada murid-muridnya.
"PAGI BUU!!....
"Hari ini Bu Guru ingin menyampaikan sesuatu hal kepada kalian semua, mengenai pemilihan ketua OSIS baru dan juga Wakil Ketua OSIS baru SMAN Nasional yang akan diadakan minggu depan.
"Berhubung kelas kita dimintai Kepala Sekolah untuk ikut serta dalam pemilihan tersebut, jadi Ibu minta kepada kalian semua untuk memutuskan siapa di dalam kelas ini yang bisa ikut serta untuk menjadi kandidat pemilihan ketua OSIS dan juga Wakil Ketua OSIS baru SMAN Nasional.
"Bagaimana menurut kalian? Apa ada diantara kalian yang ingin menjadi kandidatnya?". Tanya Bu Preti sembari melihat murid-muridnya.
"Allena aja Bu kalau gitu, bisa tuh kayanya. Terus sama Alvian juga". Seru Adrian dari tempat duduknya. Seperti biasa mengambil tempat duduk paling belakang bersama sahabatnya Gerald.
"Iya nggak temen-temen". Sambung pria itu lagi meminta persetujuan teman-teman sekelasnya.
"Setuju Bu Guru. Allena sama Alvian aja yang wakilin kelas kita. Gimana temen-temen? Cocok nggak, cocok nggak?". Timpal Gerald dengan slogannya.
SETUJU..!!
Murid-murid dikelas itu setuju dengan perkataan Duo Pembuat Onar itu. Mereka menyetujui dengan Allena dan Alvian yang akan menjadi kandidat bagi kelas mereka.
"Bagaimana Allena, Alvian? Apa kalian berdua mau menjadi kandidat untuk kelas kita?". Tanya Bu Preti memastikan.
"Kalau saya sih mau mau aja Bu Guru. Nggak tau sama Allenanya, mau apa tidak". Jawab Alvian dari tempat duduknya.
"Bagaimana dengan kamu Allena?". Tanya Bu Preti pada Allena yang terlihat diam saja dari tadi.
Allena kemudian menoleh kearah sahabat-sahabatnya dan juga teman-teman sekelasnya.
Gadis itu mengangguk, "Iya Bu, saya mau". Jawab Allena kemudian yang membuat sekelas langsung bersorak kesenangan.
"Baiklah, kalau begitu nanti kalian berdua bertemu dengan Aziel dan sampaikan kepada Aziel bahwa kalian yang akan menjadi kandidat untuk kelas kita. Biar nanti nama kalian didata terlebih dahulu". Ucap Bu Preti menerangkan.
"Baik Bu". Ucap Allena dan Alvian bersamaan.
"Kalau begitu Bu Guru keluar. Hari ini kita belum mulai belajar ya anak-anak. Mungkin setelah pemilihan ini kita akan mulai aktif belajarnya". Ucap Bu Preti.
Bu Preti kemudian keluar dari dalam kelas tersebut.
"Yaudah Len, kalau gitu kita nemuin Kak Aziel aja sekarang. Biar langsung nama kita di data". Seru Alvian pada Allena.
"Umm.. Yaudah kalau gitu tunggu bentar". Jawab Allena. Gadis itu terlihat berjalan kebelakang untuk menyimpan tasnya ke loker miliknya lalu menguncinya.
Setelah selesai, Allena dan Alvian kemudian bergegas menemui Aziel yang saat ini sedang berada di ruang OSIS.
Saat mereka tiba ternyata disana ada beberapa murid dari kelas lain yang sedang ikut mendaftarkan diri sebagai anggota OSIS.
"Ngapain?". Tanya Aziel saat melihat Allena.
"Saya sama Allena juga mau ngedaftarin diri Kak". Bukan Allena yang menjawab melainkan Alvian.
"Kalian berdua?". Tanya Aziel memastikan.
"Iya Kak, saya sama Allena". Jawab Alvian.
"Umm.. oke". Aziel manggut-manggut sembari menoleh kearah Setya yang ada disampingnya, "Ya, data nama mereka berdua". Ucap Aziel pada Setya yang terlihat mengutak-atik laptopnya.
"Sebutin nama lengkap lo berdua". Setya mendongak kearah kedua orang itu.
Alvian kemudian menyebutkan nama lengkap dirinya dan Allena.
"Ikut nyalonin diri juga lo". Tiba-tiba Regina muncul dan memandangi Allena dengan tampang meremehkan.
"Bisa apa lo emang? Palingan juga ngilang-ngilang seenaknya seperti biasa". Cibir Regina.
Sementara Allena tak menggubris perkataan Regina dan hanya memandang gadis itu dengan tatapan datar seperti biasanya sesuai ciri khasnya.
"Ngapa lo liatin gue kaya gitu? Ada masalah lo sama perkataan gue? Emang salah yang gue omongin. Nggak kan". Ucap Regina dengan ketus.
"Yaelah Re.. Re. Lo aja jadi anggota OSIS kerjaannya nggak becus, pake ngatain orang lagi lo". Ucap Setya menimpali.
"Eh mana ada gue kaya gitu. Nggak ya". Elak Regina tak terima dengan perkataan Setya.
__ADS_1
"Ngelak lagi lo. Orang kenyataanya kaya gitu". Ucap Setya.
"Berhenti bicara". Aziel berkata dengan tegasnya kepada kedua orang yang saling adu monyong itu.
Melihat Aziel yang sudah bersikap seperti itu membuat Setya dan Regina berhenti berbicara.
"Ya, lakuin aja pekerjaan lu, nggak usah ngurusuin hal yang lain". Ucap Aziel berkata dengan serius kearah Setya.
"Dan lu". Aziel beralih kearah Regina dan menatap gadis itu dingin, "Nggak usah buat masalah, ngerti". Ucap Aziel menekan kata-katanya.
Sementara Allena mulai berbalik ingin pergi dari sana, "Vian, kita balik sekarang". Ucap Allena mulai melangkahkan kakinya.
"Allena tunggu!". Seru Aziel tiba-tiba, membuat Allena menghentikan langkahnya.
Allena kemudian berbalik dan memandang Aziel yang mulai berjalan mendekatinya.
Aziel berdiri dihadapan Allena, "Udah makan?". Tanya Aziel kemudian.
Allena seketika melirik kearah Regina yang terlihat memasang tampang tidak sukanya. Gadis itu kemudian kembali melirik kearah Aziel, dan sedetik kemudian Allena menggeleng dihadapan Aziel.
Aziel lalu tersenyum pada Allena, "Yaudah kita ke kantin sekarang. Gimana?". Ajak Aziel kepada gadis cantik blasteran itu.
"Hmm". Hanya itu jawaban Allena.
Aziel kemudian menoleh kearah Setya, "Ya, gua duluan. Mau ke kantin". Ucap Aziel.
Aziel lalu menarik lengan Allena dan keluar dari ruangan OSIS tersebut menuju kantin.
Dan kini Aziel bersama Allena sudah berada dalam kantin sekolah.
"Lu masih ingatkan taruhan kita yang waktu itu". Ucap Aziel pada Allena yang tengah menyantap bakso campurnya.
Allena mendongak, "Taruhan apa?". Ucap Allena dengan mulut yang masih mengunyah.
"Itu.. taruhan yang pas lu kalah tanding basket ama gua". Ucap Aziel mencoba mengingatkan Allena.
Allena berhenti makan dan terlihat tengah berpikir, "Oh taruhan yang itu, gua ingat. Kenapa emang?". Ucap Allena mengingat dan kembali menyantap makanannya.
"Gua cuman pengen ngingatin lu aja. Biar lu nggak lupa kalau lu masih ada janji buat ngedate ama gua". Ucap Aziel.
"Oke.. Terus kenapa?". Allena kembali mendongak kearah Aziel.
Yaa emang sih semua orang butuh makan. Kalau nggak makan meninggoy dong😂😂
...*****...
Hari-hari berlalu. Selama itu pula proses pemilihan anggota OSIS SMAN Nasional berlangsung.
Mulai dari pembacaan visi dan misi dari berbagai setiap kandidat, proses pemungutan suara dari berbagai kelas yang dilakukan dari tiap-tiap masing kelas saking banyaknya murid, dan yang terakhir adalah proses perhitungan suara yang juga dilakukan dari masing-masing kelas yang dibantu dengan anggota OSIS yang lama dan juga para guru agar tak terjadi kecurangan.
Memang pemilihan anggota OSIS di SMAN Nasional ini sangat ketat pelaksanaannya. Seperti pemilihan Presiden saja ya para pembaca yang budiman budi pekerti luhur😂😂
Dan hari ini adalah hari pelantikan OSIS baru yang dimenangkan oleh Allena dan juga Alvian sebagai Ketua OSIS dan juga Wakil Ketua OSIS baru SMAN Nasional.
"Selamat bertugas Baby!!". Ucap Aziel pada Allena saat mengalungkan kalungan bunga dileher gadis itu.
"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.
Setelah proses pelantikan selesai, kini Allena sudah berada dalam kantin sekolah bersama Alvian.
Tidak lama munculah Airin, Zee, Tessa, dan juga Gamma menghampiri kedua orang yang sudah menjadi anggota OSIS itu.
"Ciee... Selamat ya buat lo berdua. Sekarang kalian berdua telah menyandang predikat sebagai Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS baru SMA Negeri Nasional". Ucap Zee dengan gaya formalnya.
"Kayanya lo berdua udah mulai harus kerja ekstra ya. Apalagi dengan status kalian yang sekarang. Pasti banyak banget yang bakalan kalian urus". Timpal Tessa.
"Nggak juga". Balas Allena kemudian, "Emang apa gunanya anggota OSIS yang lain? Emang mereka harus selalu bergantung sama atasan mereka? Terus ngapain dibuat anggota yang lain kalau gitu?". Ucap Allena dengan santainya. Gadis itu kemudian kembali menyantap makanannya.
Mendengar jawaban Allena, ke-5 orang itu hanya saling melirik satu sama lain.
"Hehe.. Iya sih Len, yang lo omongin ada benernya". Ucap Tessa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Saat mereka sedang asyiknya berbincang-bincang, munculah Alexa bersama kedua sahabatnya Chika dan Hera.
"Upss.. Ada yang ngecalonin diri tapi nggak kepilih nih". Ucap Zee tiba-tiba yang ditujukannya kepada Alexa.
Yapss! Memang benar Alexa juga ikut mencalonkan diri dalam pemilihan tersebut. Akan tetapi gadis itu tidak menang dalam pemilihan itu. Teman sekelasnya bahkan tak ada sama sekali yang ikut menyuarakan suaranya untuk Alexa. Mereka lebih banyak memilih Allena dan juga Alvian.
__ADS_1
"Lo ngomongin gue". Alexa berhenti dan berbalik kearah Zee menatap tajam gadis itu.
"Iya kenapa? Emang kenyataannya kaya gitu kan". Ucap Zee tak kalah tajamnya.
"Lagian lo PD amat sih pake acara nyalonin diri segala. Lo itu harusnya sadar, nggak bakalan ada yang mau milih sama orang kaya lo". Cibir Zee.
"Lo aja dapatnya cuma dua suara. Itupun juga pasti dua sahabat lo ini yang milih lo. Mangkanya jangan kebanyakan mimpi". Ucap Tessa yang ikut menimpali.
"He lo berdua bisa diem nggak. Lagian apa urusannya ama lo berdua kalau Alexa ikut nyalonin diri. Emang habisin beras di rumah lo pada. Nggak kan". Balas Hera.
"Emang nggak ada urusannya ama kita-kita. Tapi gue cuman ngasih tau aja, biar teman lo ini sadar diri. Nggak bakalan ada yang berpihak sama orang jahat macam dia". Ucap Zee dengan sinisnya kearah Alexa.
"Gue bilangin ya sekali lagi ama lo. Kalau lo ngebahasnya karena kejadian yang waktu acara pensi itu, biar gue tekanin satu hal sama lo, bukan gue pelakunya. Sekali lagi gue kasih tau bukan gue pelakunya. Paham lo". Ucap Alexa menegaskan kata-katanya.
"Oh ya. Terus lo kira orang-orang bakal percaya gitu sama omongan lo? Nggak akan. Nggak bakal ada yang percaya sama omongan busuk lo itu". Balas Zee.
Alvian yang melihat perdebatan yang mulai memanas itu segera beranjak menghampiri Zee.
"Udah yah Ayang Zee, jangan bikin keributan. Hari ini Babang Alvian sama Allena baru dilantik loh. Jangan buat masalah". Cegah Alvian.
"Lo juga Tessa. Astagaa.. jangan buat masalah dihari gue sama Allena baru jadi anggota OSIS. Mau lo lo pada gue hukum sekarang". Ucap Alvian kepada gadis-gadis itu.
"Jagain tuh cewe lo, nggak usah banyak omong jadi orang. Kalau nggak tau apa-apa nggak usah sotoi". Ucap Hera lagi dengan nada mencibir.
"Udah nggak usah nyari ribut lagi. Lex, kita pergi sekarang". Ucap Chika kemudian menarik tangan Alexa, "Hera udah ayo! Nggak usah ngeladenin mereka". Sambungnya lagi dengan menarik lengan Hera juga.
"Dasar cewe bar-bar sotoi". Ucap Hera sebelum benar-benar pergi dari sana.
Ketiga gadis itu kemudian pergi dari sana.
"Udah gua bilangin kan ke kalian, jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu. Kenapa kalian nggak dengerin omongan gua?". Allena berdiri dari duduknya lalu menatap dingin ke arah Tessa dan juga Zee.
"Nggak gitu Len, kita cuman...". Ucapan Tessa terhenti.
"Masalahnya udah lama dan udah kelar juga. Kalian berdua itu kenapa? Stop bahas masalah itu lagi". Ucap Allena memotong pembicaraan Tessa dan semakin memasang tampang dinginnya kearah kedua wanita itu.
Sesaat kemudian Allena menggeleng lalu pergi begitu saja dari sana keluar kantin.
"Lo berdua itu kenapa sih selalu ngebahas masalah itu kalau bertengkar sama Alexa? Kan Allena udah bilang, jangan ungkit-ungkit masalah waktu acara pensi itu. Tapi kalian berdua masih aja". Ucap Gamma seketika.
"Ya habisnya gue kesel sama si Mak Lampir itu. Masih aja nggak ngaku kalau emang dia pelakunya. Ngelak terus tuh orang". Ucap Zee.
"Sama, gue juga masih kesel sama si Alexa itu". Timpal Tessa ikut-ikutan.
"Tapi Allena udah bilang ke kita-kita, jangan pernah bahas masalah itu lagi. Udah lama juga". Gamma terlihat gemas kepada kedua wanita itu.
"Yaudah maaf kalau gitu". Ucap Zee meminta maaf.
"Oke sorry sorry. Gue juga minta maaf". Timpal Tessa.
Sementara saat ini Allena sedang berjalan menaiki tangga untuk menuju kelasnya.
Tiba-tiba dari arah lain ada yang menarik tangan Allena membawa gadis itu kearah balkon dekat tangga.
"Hai Baby". Orang itu ternyata adalah Aziel yang sejak tadi menunggui Allena disana.
Allena mendongak dan mendapati Aziel dihadapannya sambil tersenyum manis kearahnya. Aziel memperhatikan wajah Allena yang terlihat sendu.
"El...". Desis Allena tiba-tiba sontak mendekat kearah Aziel dan memeluk pria itu.
Aziel terkejut dengan Allena yang tiba-tiba memeluknya, "Hey.. kenapa?". Direngkuhnya tubuh Allena kedekapannya.
Allena semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Aziel.
Sementara Aziel semakin bingung dengan Allena yang memeluknya tanpa bicara sekata patapun.
"Apa yang gua lakuin udah salah El?". Allena mendongakan kepalanya keatas memandang wajah Aziel tanpa melepaskan pelukannya.
Aziel menunduk dan mendapati Allena yang menatapnya dengan tatapan sendunya.
"Kenapa? Apa ada masalah? Cerita ke gua". Ucap Aziel sambil menatap mata hazel cantik itu. Terpancar aura kesedihan disana.
Baru kali ini Aziel melihat Allena seperti itu. Masalah apa yang tengah dialami gadis yang berada dipelukannya saat ini?
Allena hanya menggeleng. Gadis itu kemudian kembali menyembunyikan wajahnya kedalam dekapan Aziel.
Sementara Aziel hanya membiarkan Allena memeluknya. Mungkin Allena tidak ingin menceritakan masalahnya.
Aziel kemudian mengeratkan pelukannya sambil mengusap-usap punggung Allena, "Oke kalau lu nggak mau cerita. Nggak apa-apa". Ucap Aziel kemudian.
__ADS_1
Mungkin hanya itu yang diinginkan Allena. Dipeluk olehnya. Iya nggak AzielðŸ¤ðŸ¤