
"Ada apa nih rame-rame?". Tanya Chika seketika.
"Lo tanya sendiri nih sama teman lo yang stres ini". Celoteh Zee sambil memandang Alexa sinis.
"Lex ada apa sih? Dan juga kenapa lo bisa sampe basah kaya gini. Lo habis ngapain?". Tanya Chika lagi.
Alexa tak menjawab. Gadis itu hanya beralih memandang sinis Airin dan kembali menatap kembali Zee.
"Iya emang bener gue yang ngebuat Airin kek gitu". Ucap Alexa tanpa merasa bersalah.
"Lo emang gila ya". Celoteh Zee.
"Kenapa? Emang masalah buat lo? Gue lakuin itu biar si miskin itu sadar. Kalo dia itu nggak pantes ada disini". Ucap Alexa sambil memandang Airin sinis.
"Jadi lo yang lakuin ini ke Airin, Lex? Maksud lo apa ha? Sampe segininya ke Airin. Emang dia salah apa sama lo?". Tanya Manaf pada Alexa dengan nada marah.
"Ngapain lo ikut-ikutan? Mau jadi pahlawan kesiangan lo. Mau dicap sebagai pangeran penolong si cewe miskin ini. Iya?". Sinis Alexa.
"Lo suka sama si miskin ini? Selera lo gitu amat. Suka sama orang rendahan". Sambung Alexa dengan nada menghina.
"Nih ya gue kasih tau. Si miskin itu nggak pantes ada disini. Dia tu pantesnya di...". Ucap Alexa terhenti.
"Lu siapa bisa nentuin pantasnya orang ada disini?". Ucap Allena tiba-tiba.
Allena yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan panjang itu mulai membuka suara. Gadis itu mulai emosi akan sifat Alexa.
Allena kemudian maju menghampiri Alexa berdiri dihadapannya dengan wajah datarnya sambil menatap gadis sombong itu.
"Gua dari tadi merhatiin lu ngehina Airin. Hebat banget lu ampe buat dia kek gitu". Ucap Allena sambil menatap datar Alexa. Gadis itu kemudian melipat kedua tangannya ke depan.
"Lu sekaya apa sih sampe segitunya. Gaya lu selangit tau nggak. Jijik gua lihatnya. Najiss!!". Maki Allena dengan menekan huruf S di kata "Najis".
"Asal lu tau ya. Kalo gua mau gua bisa buat keluarga lu bangkrut sekarang. Kalo nggak gua beli tu perusahaan Bokap lu itu. Jadi hati-hati aja lu kalo cari masalah". Ucap Allena santai sambil memandang Alexa datar.
"Lo..!". Ucap Alexa tertahan.
Allena segera maju mendekatkan tubuhnya ke hadapan Alexa dan semakin menatap gadis itu. Allena semakin menunjukkan ekspresi datarnya namun terlihat mencekam bagi Alexa. Semua yang ada disitu hanya mampu diam melihat Allena berseteru dengan Alexa.
"Gua peringatin ke lu! Kalau sampe lu masih berani gangguin Airin. Gua nggak akan segan-segan buat keluarga lu hancur. Dalam sekejab itu bisa terjadi kalo lu sampe ngebuat kesalahan. Ingat itu!". Ucap Allena dengan nada mengancam pada Alexa.
Allena kemudian kembali mundur ke belakang dan berbalik menghadap Airin dan juga Manaf. Gadis itu kemudian menghampiri mereka berdua.
"Airin lu nggak apa-apakan?". Tanya Allena pelan.
"Iya gue nggak apa-apa kok. Makasih ya Allena". Ucap Airin sambil tersenyum pada Allena.
"Iya! Yaudah kalo gitu kita pulang aja sekarang. Manaf lu antarin Airin sampe rumahnya". Ucap Allena.
"Iya. Ayo Rin kita pulang sekarang". Ucap Manaf menggandeng Airin pergi dari sana.
Mereka semua pun pergi dari tempat itu meninggalkan Alexa dan juga 2 kawannya Chika dan Hera.
"Dasar Mak Lampir". Ejek Zee pada Alexa sambil berlalu dari tempat itu.
Di tempat itu kini tersisa Alexa dan 2 kawannya Chika dan Hera. Alexa masih memikirkan kejadian tadi. Memikirkan perkataan Allena. Dia tidak takut akan ancaman Allena.
Malah hal itu yang membuat Alexa makin tidak suka akan sikap Allena. Menurutnya Allena terlalu sombong dengan sikap yang seperti itu. Membuat dia muak dengan Allena. Gadis itu sungguh-sungguh tidak suka pada Allena.
"Aaghh.. Nggak suka benget gue sama si Allena itu. Sok banget gayanya. Dia kira gue takut kali ama dia. Awas aja tu cewe". Marah Alexa.
"Iya bener. Allena itu gue lihat makin sok aja. Mentang-mentang dia orang kaya. Dikira bakal takut kali. Gue juga mulai nggak suka ama dia". Timpal Hera.
"Shutt..! Hera. Kok lo malah ikut-ikutan sih". Ucap Chika.
"Tapi emang benerkan. Allena itu songong orangnya. Dari awal gue lihat dia kek gitu". Ucap Hera lagi.
"Udah! Mending lu diem deh. Bikin tambah panas aja". Celoteh Chika sambil melotot pada Hera.
"Yaudah Lex! Kalo gitu kita pergi sekarang. Lo udah basah banget tu. Nanti lo masuk angin". Ucap Chika.
"Aaghh.. Emosi gue lama-lama". Teriak Alexa sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Chika dan Hera yang melihat Alexa pergi, kemudian berlari menyusul Alexa.
Sementara saat ini, Airin dan juga Manaf sedang berada dalam mobil Manaf dalam perjalanan menuju rumah Airin.
"Rin! Kenapa sih Alexa bisa sampe segitunya sama lo? Lo ada masalah apa sama dia?". Tanya Manaf dengan sambil mengendarai mobilnya.
"Gue nggak tau. Tapi gue nggak ada buat salah sama dia". Ucap Airin di sebelah Manaf.
"Terus kenapa bisa dia buat lo ampe basah kek gini? Ini tu udah termasuk pembullian lo". Ucap Manaf.
"Gue nggak tau Manaf. Tapi Alexa itu emang udah sering giniin gue dari dulu". Ucap Airin.
__ADS_1
"Udah sering. Sejak kapan? Berarti udah lama dong?". Tanya Manaf kaget.
"Iya. Sejak SMP dia kaya gini ke gue. Dan gue nggak tau apa alasannya dia ngebuli gue ampe segininya. Dan sekarang berlanjut sampe SMA. Gue nggak tau sampe kapan dia bakalan buli gue terus". Ucap Airin ingin menangis.
"Hah lama bener. Terus lo nggak ada inisiatif buat ngelapor gitu?". Tanya Manaf.
"Kalo gue ngelapor bakalan percuma. Nggak akan ada yang percaya. Alexa itu orang kaya, dia bisa ngelakuin apa aja. Sementara gue orang biasa. Nggak bakalan bisa ngelawan dia". Jelas Airin.
"Gue pernah waktu itu sekali coba ngelapor ke kepala sekolah waktu SMP. Malah nggak ditindak lanjutin dari sekolahnya. Gue malah dikasih uang banyak buat nutup mulut". Ucap Airin menceritakan.
"Sejak saat itu gue nggak pernah lagi coba buat ngelapor-ngelapor gitu. Bakalan percuma, dan Alexa jadi lebih sering buli gue. Apa lagi waktu itu dia tau kalo gue ngelapor. Dia bakalan tambah parah ngebuli gue". Ucap Airin kembali menjelaskan.
"Gue nggak tau kenapa Alexa jahat banget sama gue". Ucap Airin menangis.
"Emang dia ngebuli lo parah banget ya?". Tanya Manaf membiarkan Airin menangis.
"Iya". Jawab Airin dengan tetap sesenggukan.
"Emang dia apain lo?". Tanya Manaf lagi.
"Ha?". Gumam Airin sambil menatap Manaf dengan mata yang merah akibat menangis.
"Sory! Kalo lo nggak mau cerita juga nggak apa-apa". Ucap Manaf dengan tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Iya". Ucap Airin.
Keadaan pun hening. Airin kemudian hanya melihat ke arah luar kaca jendela mobil dengan sambil seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara Manaf kembali fokus pada kemudi dengan sesekali melirik Airin.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mereka berdua telah tiba di rumah Airin. Manaf kemudian masuk ke pekarangan rumah Airin dan memarkirkan mobilnya. Mereka berdua kemudian keluar dari dalam mobil.
Disaat Airin keluar seorang anak laki-laki berlari keluar dari dalam kios menuju Airin dan memeluk gadis itu.
"Kak Arin udah pulang". Ucap bocah kelas 5 SD yang ternyata adik Airin.
"Iya! Ibu mana?". Tanya Airin pada adiknya.
"Ibu lagi ke pasar. Kak Arin kok basah. Kenapa?". Tanya Rendi nama adik Airin itu.
"Ooh ini tadi Kak Arin jatuh di kolam renang yang ada di sekolah Kak Arin". Ucap Airin bohong.
"Kak Arin nggak apa-apa kan?". Tanya Rendi lagi.
"Iya nggak apa-apa kok". Jawab Airin.
"Hush.. Rendi nggak boleh sembarangan bicara. Rendi udah tau aja yang begituan". Ucap Airin memperingati adiknya.
"Rendi kan udah besar". Ucap Rendi.
"Besar dari mananya? Kamu tuh masih kecil. Belum boleh tau yang begitu-begituan". Ucap Airin.
"Udah. Kamu antarin Kakak ini dulu ya ke kios. Kak Arin mau ganti baju dulu". Ucap Airin memerintahkan adiknya.
"Iya Kak". Jawab Rendi.
"Manaf gue ganti baju dulu ya. Lo ke kios aja dulu. Atau lo udah mau pulang sekarang?". Tanya Airin memastikan.
"Entarlah gue pulang. Masi siang juga. Malas juga gue dirumah. Nggak ada siapa-siapa soalnya". Ucap Manaf.
"Yaudah kalo gitu gue duluan ke dalam ya. Rendi antarin Kak Manaf". Perintah Airin.
"Sip Kak! Kak Manaf ayo". Rendi pun langsung menggandeng tangan Manaf dan menuju ke kios yang ada disitu.
Sementara Airin segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaiannya Airin kemudian mencuci terlebih dahulu mukanya dan menyikat giginya.
Setelah merasa selesai dan segar dia kemudian keluar menuju kiosnya dan menghampiri Manaf dan juga adiknya Rendi.
"Maaf ya lama". Ucap Airin pada Manaf.
"Iya nggak apa-apa. Nggak lama juga kok". Ucap Manaf dengan terus memandangi Airin yang menurutnya sangat manis saat ini.
Rendi yang saat itu sedang bersandar tak jauh dari mereka berdua hanya tersenyum sambil memperhatikan mereka berdua secara bergantian.
"Rendi tolong ambilin Kak Arin 2 botol teh pucuk harum yang ada di lemari minuman ya". Ucap Airin memerintah Rendi.
"OK Kak! Tunggu ya". Ucap Rendi bergegas dari duduknya menuju lemari minuman dan mengambilkan minuman yang kakaknya minta. Setelah itu dia bergegas kembali dan memberikan Airin.
"Nih buat lo satu". Ucap Airin memberikan 1 botol teh kepada Manaf. Lelaki itu kemudian segera menerimanya.
"Makasih ya". Ucap Manaf.
"Harusnya gue yang berterima kasih karena lo udah antarin gue. Makasih ya Manaf". Ucap Airin sambil tersenyum manis menampakkan lesung pipinya.
Manaf yang melihat itu seketika hatinya berdetak kencang. Dia sangat suka ketika Airin tersenyum seperti itu kepadanya.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian datang Ibu Airin yang habis dari pasar dengan menaiki ojek. Ibu Airin kemudian menghampiri mereka.
"Oh ada tamu to. Mbo yo suruh ke dalam to Nduk. Malah diluar. Ayo masuk-masuk". Ucap Ibu Airin sambil membawa beberapa kantong kresek.
"Iya Bu. Sini Bu.. Manaf bantuin angkatin barang-barangnya". Ucap Manaf sambil meraih kantong kresek yang dibawa Ibu Airin.
"Oh iya-iya. Makasih to Nak udah mau bantuin Ibu". Ucap Ibu Airin sambil tersenyum pada Manaf.
"Iya Bu sama-sama". Ucap Manaf.
Mereka semua pun segera masuk kedalam rumah.
"Bawa ke dapur aja semuanya Nak". Ucap Ibu Airin menuju dapur.
Manaf segera menuju dapur mengikuti Ibu Airin diikuti Airin dari belakang. Manaf kemudian menaruh semua kantong kresek tersebut ke atas meja dapur.
"Apa ini Bu?". Tanya Airin pada Ibunya sambil melihat-lihat isi yang ada didalam kantong kresek besar tersebut.
"Bahan-bahan untuk buat kue sama bahan masakan Nduk". Jawab Ibu Airin.
"Nak kamu jangan pulang dulu atu. Kita makan malam sama-sama disini ya". Ucap Ibu Airin berbicara pada Manaf sambil menghampiri Manaf.
"Emang boleh ya Bu?". Tanya Manaf senang.
"Boleh atuh. Kan Ibu tawarin". Ucap Ibu Airin.
"Yaudah! Kalo gitu Manaf bantuin ya Bu". Ucap Manaf menawarkan.
"Jangan. Anak ini kan tamu". Ucap Ibu Airin sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa Bu. Manaf juga pengen bantuin". Balas Manaf.
"Yaudah kalo gitu Nduk siapin bahan-bahannya". Ucap Ibu Airin memerintah.
"OK Bu!!". Ucap Airin.
Mereka pun segera menyiapkan bahan-bahan masakannya. Terlihat dengan lihai Manaf membantu Airin menyiapkan semuanya.
Mereka mulai memasak dengan dibantu Ibu Airin. Sesekali Airin dan Manaf saling bercanda satu sama lain. Sementara Ibu Airin hanya bisa memperhatikan sambil tersenyum. Sudah lama sekali Ibu Airin melihat anaknya tertawa riang seperti itu setelah kejadian yang menimpahnya waktu masih duduk di bangku SMP.
Sekitar 2 jam memasak, mereka telah selesai. Ada banyak sekali hidangan yang mereka buat. Airin kemudian membantu Ibunya menata makanan dimeja makan yang ada di dapur tersebut.
"Kita ke depan dulu yuk. Biar Ibu gue nanti yang lanjutin". Ucap Airin berbicara pada Manaf.
Mereka kemudian segera keluar menuju ruang tamu. Airin kemudian meminta Manaf duduk dikursi di ruang tamu. Gadis itu kemudian keluar memanggil adiknya. Namun sebelum mereka masuk kedalam rumah, mereka terlebih dahulu menutup kios dan kemudian masuk kedalam rumah.
Saat masuk kedalam Ibu Airin ternyata sudah ada diruang tamu duduk bersama Manaf. Airin dan adiknya Rendi kemudian menyusul duduk di ruang tamu.
"Sebentar ya Manaf! Lagi tungguin Bapak gue pulang. Sebentar lagi datang kok". Ucap Airin tersenyum. Lagi-lagi membuat hati Manaf berdetak.
"Iya gaapa-apa kok". Balas Manaf dengan tersenyum.
Sekitar 15 menit terdengar suara motor masuk kedalam pekarangan rumah. Ibu Airin segera beranjak menuju depan pintu masuk.
"Assalamualaikum". Terdengar suara bapak-bapak mengucapkan salam.
"Waalaikumssalam". Balas Ibu Airin dengan mengecup tangan bapak-bapak itu.
"Silahkan masuk Pak". Ucap Ibu Airin lagi mempersilahkan masuk bapak-bapak itu yang ternyata adalah suaminya.
Lelaki paruh baya itupun masuk kedalam. Segera Airin dan Rendi berdiri dari duduk mereka dan mencium tangan Ayah mereka.
"Loh ini siapa?". Tanya Ayah Airin ketika melihat Manaf yang sedang duduk.
"Oh.. Ini teman Airin Pak". Jawab Airin.
"Iya Om saya teman sekolahnya Airin. Nama saya Manaf". Ucap Manaf memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan Ayah Airin.
"Teman sekolahnya ya. Yasudah masuk-masuk kita makan dulu. Kalian sudah pada masak kan Bu? Nggak enak loh ada tamu nggak disiapin apa-apa". Ucap Ayah Airin ramah.
"Kita udah masak Pak! Malah Manaf ikut bantuin masak". Jawab Airin.
"Loh tamu ko disuruh masak. Gimana to kalian ini". Ucap Ayah Airin.
"Nggak kok Om. Manaf yang pengen bantuin". Ucap Manaf menjelaskan.
"Ooohh begitu!! Kalo gitu masuk kita makan sekarang. Om udah lapar nih. Hehe!!". Ucap Ayah Airin dengan nada bercanda.
Mereka semua pun segera menuju dapur bersama-sama. Mereka segera duduk dimeja makan. Ibu Airin kemudian menyiapkan makanan untuk suaminya. Terlihat Airin membantu Manaf menyiapkan makanannya. Tampak Ibu Airin dan Ayah Airin saling berpandangan melihat Airin dan juga Manaf.
Setelah selesai, mereka semua pun berdoa dan mulai makan dengan sambil bercanda. Tampak di wajah Manaf selalu tersenyum dan tertawa saat makan bersama mereka. Apa lagi Ayah Airin yang begitu ramah dan lucu menambah kesan kebahagiaan bagi Manaf. Tidak pernah dia merasa sebahagia ini setelah kedua orang tuanya bercerai.
__ADS_1