
"Udah datang orangnya Mbak?". Tanya Zee pada resepsionis yang bekerja di restoran miliknya itu.
"Belum Nona Muda". Jawab si resepsionis.
"Oh yasudah. Tapi semuanya udah siapkan Mbak?
"Sudah Nona Muda, semuanya sudah siap sesuai perintah dari Nona Muda". Jawab resepsionis.
"Baiklah, kalau begitu saya kesana. Kalau orangnya sudah tiba segera Mbak bawa kesana saja ya". Ucap Zee.
"Iya Nona Muda.
Setelah itu Zee bergegas naik keatas rooftop tempat yang sudah dia persiapkan untuk ngedate bersama Setya malam ini.
Sesuai janji Setya terima dan mau ngedate dengan Zee. Dan malam ini Zee sedang menunggu Setya.
Semuanya sudah dia persiapkan. Mulai dari hidangan hingga kursi dan meja khusus untuk mereka berdua. Zee benar-benar sangat niat menyiapkan semuanya hanya untuk acara ngedatenya bersama Setya.
Zee terus menuggu dan menunggu. Hingga sampai larut malam tak ada tanda-tanda Setya muncul ataupun datang ke tempat itu.
Mengingat kejadian itu Zee jadi sedih sendirian.
Saat ini dimalam hari gadis itu sudah berada di restoran miliknya. Lebih tepatnya sudah berada di ruangan khusus untuk dirinya di lantai dua.
Gadis itu terlihat duduk di lantai sambil membaringkan kepalanya di atas meja di hadapannya dengan wajah memelas.
Memandangi kendaraan yang berlalu lalang dari balik jendela kaca memikirkan kisah percintaannya yang begitu menyedihkan.
Menyukai seseorang yang bahkan tak memikirkan kita apa lagi membalas perasaan kita ternyata begitu menyakitkan sekaligus menyedihkan.
"Kak Setya jahat banget sih sama gue. Padahalkan gue udah nyiapin semuanya spesial buat dia. Tapi dia malah nggak datang sama sekali. Jahatnya pake banget tau nggak". Desis Zee masih dengan posisinya. Ingin rasanya dia menangis.
Itulah yang dirasakan oleh seorang Zivanya Zee Mahardika.
Menyukai Setya setahun lebih lamanya adalah hal terbodoh yang pernah dia alami selama hidupnya.
Pria itu bahkan tak memandang Zee sama sekali.
Kasihan kamu Zee. Sabar aja yaπ ππ
...******...
Hari-hari berlalu dan Allena sudah kembali bersekolah setelah 3 hari lamanya dia diskors.
Dan kini Allena sudah berada di ruang OSIS.
Allena memang masih menjadi anggota OSIS tapi dengan catatan jika Allena membuat kesalahan lagi Allena akan langsung dikeluarkan dari anggota OSIS dan dicabut jabatannya sebagai Ketua OSIS.
Bagaimanapun apa yang dilakukan Allena adalah sebuah kesalahan. Allena adalah anggota OSIS dan dia telah melanggar aturan dan tata tertib sekolah.
Dan dia akan tetap dikenakan sanksi jika melanggar aturan tersebut.
Jadi untuk kamu Allena sebaiknya kamu bisa menahan diri agar tak membuat kesalahan lagi dan coba lebih di kontrol lagi emosinya. Oke!!ππ
"Hai Baby!". Itu Aziel. Pria itu berjalan masuk menghampiri Allena.
Hanya mereka berdua yang ada di ruangan OSIS itu.
"Ngapain kesini?". Allena melirik sinis Aziel lalu kembali membereskan barang-barangnya di atas mejanya.
"Entar pulang bareng yok!". Ajak Aziel.
"Nggak mau". Tolak Allena.
"Loh kenapa Baby?
"Gua pulangnya bareng Louis.
"Yaudah kalau gitu pulang bareng gua aja, nggak usah pulang sama si Louis itu.
Allena sontak menoleh kearah Aziel menatap jengkel, "Lu itu kenapa sih? Louis itu tunangan gua. Jadi gua harus pulang bareng dia.
"Bisa nggak lu nggak ngomong hal itu sama gua. Kesel gua dengernya". Raut wajah Aziel berubah menjadi kesal mendengar Allena mengatakan Louis itu tunangannya.
"Emang kenyataan gitu kan. Nggak ada yang salah dengan hal itu". Ucap Allena cuek.
Aziel tiba-tiba mendekati Allena menarik gadis itu ke arahnya lalu mengangkat tubuh Allena menundukannya di atas meja.
Kemudian kedua tangannya menumpu disisi kanan dan kiri meja menahan pergerakan Allena.
CUP...
Aziel langsung mencium bibir Allena sekilas lalu menatap lekat gadis itu.
Sementara Allena terlihat tersentak sebentar karena ulah Aziel tadi lalu bersikap normal kembali.
"Kan udah gua bilang jangan ngomongin hal itu kalau sama gua, guanya nggak suka Allena". Cetus Aziel lagi masih terus menatap Allena.
"Lah emang sal...
__ADS_1
CUP..
CUP..
CUP..
CUP..
Aziel kembali mencium sekilas bibir Allena hingga beberapa kali membut Allena menutup mata kasar akibat serangan Aziel itu.
Saat hendak membuka mata dirinya sudah ditarik ke dalam dekapan Aziel. Pria itu memeluk erat Allena.
"Jangan ngomong kaya gitu lagi Allen, please gua bener-bener nggak suka". Desis Aziel sembari menurunkan kepalanya lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena. Menghirup aroma lavender yang menyeruak di tubuh gadis itu.
Aziel semakin menarik Allena ke arahnya memeluk erat gadis itu. Sedang Allena hanya melirik pria itu dari ujung matanya membiarkan Aziel memeluknya posesif.
"Eh...
Alvian yang datang dan melihat kedua sejoli seketika membeku di ambang pintu merasa dirinya datang diwaktu yang tidak tepat.
Aziel yang menyadari kedatangan Alvian mengangkat kepalanya tak membiarkan Allena yang ingin melepaskan pelukan.
Aziel tetap memeluk Allena dengan meletakan dagunya di bahu Allena menatap dingin Alvian yang berdiri di ambang pintu sana.
"M-maaf kalau gue ganggu. Kirain tadi...
"Bagus kalau lu sadar. Kedatangan lu emang mengganggu". Aziel dengan cepat memotong perkataan Alvian dan semakin menatap dingin Alvian membuat pria itu langsung kicep sendiri.
"K-k-kalau gitu g-gue keluar dulu. Kalian lanjut aja dulu, m-maaf gue ganggu". Segera Alvian berbalik ingin pergi dari sana.
"Vian tunggu!". Seru Allena yang sudah melepaskan pelukan Aziel dan turun dari atas meja.
Sontak Alvian kembali berbalik dan mendapati Allena yang berjalan ke arahnya.
"Nggak usah pergi, lu disini aja! Kita bentar lagi juga ada rapat". Ucap Allena kemudian.
"O-o-oh i-i-iya Len, iya iya hehe". Alvian tergagap karena melihat makhluk di belakang Allena yang menatapnya begitu tajam, 'Mampus nih gue kayanya'. Alvian membantin takut mengalihkan pandangannya dari Aziel di belakang Allena yang menatapnya bak ingin membunuhnya.
Alvian bergegas menuju mejanya dan langsung mengerjakan tugasnya disana. Alvian bahkan masi bisa merasakan Aziel yang menatapnya dari tempatnya. Kaya lagi dilihatin sama pencabut nyawa woyy.
"Yaudah lu balik sono! Ngapain masih disini!?". Allena langsung memecahkan keheningan yang begitu menegangkan bagi Alvian tadi.
Aziel menoleh ke arah Allena, "Ninggalin lu berduaan sama cowok itu disini? Nggak akan. Gua bakalan pergi sampai yang lainnya datang". Aziel berjalan ke arah kursi lainnya dan duduk disana dengan santainya.
"Lu apaan sih? Alvian itu sahabat gua.
"Cih, lu kira gua cewek apaan? Gua hajar juga lu lama-lama". Sentak Allena. Gadis itu kemudian berbalik menuju ke arah mejanya dan juga mengerjakan pekerjaannya.
Allena terlihat serius dengan laptop yang ada di hadapannya.
Sementara Aziel yang sedari tadi memperhatikan Allena mulai beranjak dari tempatnya mendekati meja Allena dan duduk di atas sana sambil menghadap ke arah Allena.
"Ngapain sih lu duduk disitu? Turun nggak!". Sentak Allena ke arah Aziel.
Aziel hanya berdengus lucu kemudian berkata, "Lu cantik tau nggak. Meskipun lu judes-judes gitu.
"Dih, garing". Cibir Allena.
"Garing-garing gini lu tetep suka kan ama gua". Ucap Aziel dengan senyum smirk khas dirinya.
"Kapan gua bilang suka ama lu? Dih PD amat". Cibir Allena.
Sementara Aziel hanya tersenyum miring sambil terus memandangi Allena.
Sedang Alvian sedari tadi melihat kedua orang itu dari balik laptopnya. Pria itu bertanya-tanya, sejak kapan Allena dan Aziel dekat lagi. Perasaan selama beberapa minggu ini Aziel dan Allena terlihat renggang hubungannya. Dan sekarang kedua orang itu terlihat dekat lagi bahkan sudah saling berpelukan lagi. Alvian benar-benar bingung dengan hubungan percintaan sahabatnya yang satu itu.
"Hedehh". Alvian cuman bisa geleng-geleng dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tidak lama para anggota OSIS lainnya datang dan masuk ke dalam ruangan OSIS itu. Mereka terlihat kaget karena adanya Aziel disana. Mereka saling melirik satu sama lain, berpikir apakah kedatangan mereka mengganggu Aziel yang saat ini begitu dekat dengan Allena.
Sedang Aziel mulai beranjak dari atas meja, mendekat ke arah Allena lalu tiba-tiba mencium puncak kepala gadis itu, "Kalau gitu gua duluan ya Baby!". Setelah berbicara seperti itu, Aziel mengelus lembut kepala Allena sebentar kemudian berbalik lalu berjalan keluar dari ruangan OSIS itu pergi dari sana.
Allena yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menghebuskan nafasnya sambil memperhatikan Aziel yang mulai menghilang dari ambang pintu.
"Kita mulai rapatnya sekarang!". Ucap Allena seketika.
...******...
Rapat telah selesai. Anggota OSIS lainnya sudah keluar dari ruangan. Tinggal Allena dan Alvian yang ada di sana.
"Vian, sini bentar! Gua mau nunjukin sesuatu ama lu". Seru Allena pada Alvian yang terlihat membereskan barang-barangnya.
"Oh oke". Alvian bergegas menghampiri Allena, "Kenapa Len?". Tanya Alvian saat sudah berada di dekat Allena.
"Bentar". Allena terlihat mengutak-atik laptopnya, kemudian menghadapkannya ke arah Alvian menunjukan sebuah video yang terputar disana.
"Apa nih Len?". Tanya Alvian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop Allena.
"Ya makanya lihat dulu! Entar juga lu tau". Sentak Allena.
__ADS_1
"Iya iya, galak amat perasaan.
Alvian kemudian kembali fokus pada video yang terputar di laptop Allena. Beberapa detik menonton...
"Lah ini kan...
Alvian tak melanjutkan ucapannya. Pria itu kembali fokus ke arah layar laptop yang menunjukan sebuah video, dimana seorang perempuan masuk ke dalam kelas 11 IPA 1 yang terlihat sangat sepi tak ada murid disana dan hanya ada perempuan itu yang terlihat mengambil laptop ke dalam salah satu laci meja murid lain dan terlihat mengutak-atik laptop tersebut seperti tengah melakukan sesuatu. Setelah selesai, perempuan itu kembali menyimpan laptop tadi ke dalam laci meja dan bergegas keluar dari kelas itu dengan berhati-hati.
Kalian tentu saja tau siapa perempuan itu. Ya benar perempuan itu adalah Hera. Perempuan yang sudah menghilangkan cerita karya ilmiah buatan Zee.
"Ini...". Alvian menggantungkan ucapannya lalu menoleh kearah Allena, "Lo dapat video ini dari mana Len?". Tanya Alvian.
"Lu nggak perlu tau gua dapat video ini dari mana. Yang terpenting sekarang lu udah tau siapa pelaku yang udah hilangin file karya ilmiahnya Ziva". Jawab Allena.
"Jadi lo emang udah tau kalau pelakunya itu si Hera?
"Hmm begitulah.
"Kenapa lo nggak ngomong dari dulu Len? Kalau gitu kan biar kita langsung laporin aja ke Kepala Sekolah, dan lo juga nggak bakal kena skors.
"Udah nggak usah. Gua juga emang niat awalnya pengen kasih pelajaran sama Hera.
"Owhh gitu. Wuishh keren juga lo ternyata Len, tiba-tiba punya video ini". Puji Alvian.
"Emang keren dari dulu guanya. Baru nyadar lu.
"Eh eh sombongnya Allena". Alvian geleng-geleng, "Terus sekarang gimana?". Tanya Alvian kemudian.
"Umm gini aja. Gua juga emang ada yang pengen gua kasih tau ke lu.
"Apa itu?.....
...******...
"Gua harap lu bisa jagain Ziva. Gua yakin apa yang dilakuin Hera itu pasti ada sangkut pautnya ama Setya. Lu tau sendirikan sesuka apa Ziva ama Setya. Sedangkan Hera juga suka ama Setya. Pasti Hera nganggepnya Ziva itu saingannya dia buat dapetin Setya. Entah apa yang ngebuat mereka berdua ampe segitu sukanya sama Setya.
"Tapi satu hal yang gua nggak mau itu terjadi. Gua nggak akan pernah biarin Hera sampai berbuat jahat lagi ke Ziva. Makanya gua minta tolong ama lu untuk bantuin jaga Ziva. Gua tau lu suka sama Ziva, dan lu pasti nggak mau kan ada orang yang sampai jahatin Ziva.
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dipikiran Alvian.
Saat ini pria itu tengah melajukan mobilnya pulang Menuju ke apartemen pribadinya.
Benar kata Allena, dia memang sangat menyukai Zee bahkan mungkin lebih dari menyukai. Dan dia juga tak akan mungkin membiarkan siapapun menyakiti Zee apalagi berbuat jahat kepada gadis yang disayanginya itu.
Tapi ada satu ucapan yang membuat Alvian bimbang.
"Lebih baik lu coba buat Ziva menjauh dari Setya. Itu salah satu cara supaya Hera nggak gangguin Ziva lagi.
Gimana caranya Alvian buat Zee menjauh dari Setya. Sementara yang Alvian ketahui, Zee teramat sangat menyukai Setya.
Mungkin menjadi egois sedikit tidak apa. Alvian juga akan melakukan itu hanya untuk melindungi Zee, gadis yang disayanginya.
Sementara itu di parkiran sekolah...
"Allena bakal balik ama gua". Itu suara Aziel.
"Hak lo apa nyuruh-nyuruh Allena balik ama lo". Sahut Louis.
Saat ini kedua pria itu sedang bertengkar memperebutkan dengan siapa Allena akan pulang. Apakah dengan Aziel atau Louis.
Sedang Alvian tadi memang langsung cepat-cepat pulang karena tidak mau ikut campur antar permasalahan cinta segitiga itu. Takutnya dia kena imbas.
"Asal lo tau ya, Allena itu tunangan gue. Jadi gue yang lebih berhak atas dia". Ucap Louis lagi.
"Terus kalau lu tunangannya Allena emang kenapa?". Sontak perkataan Aziel membuat Louis menautkan alisnya. Aziel ternyata tak terkejut mendengar pengakuan Louis.
Ya kan Aziel udah tau dari Allena duluan. Mangkanya nggak kaget loh Louis. Kasihan ya kamu, niatnya mau buat kaget Aziel, ternyata Aziel udah tau duluanπ π
"Baru tunangan doang kan belum nikah!? Apa yang mau lu sombongin dari sebuah pertunangan?!". Ucap Aziel mencebik.
"Setidaknya gue sama Allena udah ada ikatan. Setelah ini juga kita bakal nikah. Dari pada lo, udah bukan siapa-siapanya Allena, pacar apa lagi. Jadi lo nggak punya hak untuk ganggu tunangan orang lain. Lebih baik lo lepasin tangan Allena!". Gertak Louis menatap bengis kearah Aziel.
"Apa lo bilang? Mending lo aja yang lepasin tangan Allena. Asal lo tau ya, gue sama Allena itu udah...
Allena yang mulai kesal langsung menarik kedua tangannya dari genggaman kedua pria itu.
"Aaghh lepasin tangan gua!". Menarik kedua tangannya, "Diem lu berdua! Berantem mulu kerjaannya". Sentak Allena kesal.
"Udah, gua pulang naik taksi online aja. Nggak mau gua pulang bareng lu berdua. Emosi mulu bawaannya". Segera Allena berbalik pergi dari sana meninggalkan kedua pria itu menuju gerbang sekolah dan segera menahan taksi yang lewat lalu masuk ke dalam dan pergi bersama taksi yang ditahannya tadi.
Sementara kedua pria tadi yang menyusul Allena tak sempat mencegat Allena yang sudah pergi.
"Gara-gara lu sih, Allenanya pergi kan". Sentak Aziel sembari mendorong Louis.
"Kok gue? Lo lah! Lo itu pengganggu di kehidupannya Allena, tau". Balas Louis.
"Bacot lu, sialan!". Setelah berbicara seperti itu Aziel kembali masuk ke dalam sekolah untuk mengambil motornya dan segera pergi dari sana.
__ADS_1