Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 85 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Untuk hari ini gua bakal biarin lu. Tapi lain kali, kalau lu masih juga dekat sama cowo lain, gua nggak akan segan-segan berbuat yang lebih dari sekedar ciuman. Paham!". Ancam Aziel menegaskan kata-katanya.


Aziel kemudian mencium bibir Allena sekilas lalu melepaskan pelukannya. Aziel kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya.


Aziel menoleh kearah Allena, "Kenapa masih disitu, nggak mau keluar?". Aziel bertanya kepada Allena yang masih terlihat diam ditempatnya.


"Atau lu masih mau lanjut? Kalau emang iya, kita lanjut sekarang. Gua juga nggak keberatan". Sambung Aziel lagi yang langsung saja mendapatkan tatapan tajam oleh Allena.


Allena kemudian dengan cepat berjalan kearah pintu sambil terus menatap tajam Aziel, "Minggir lu sana! Dasar cowok gila". Allena mendorong Aziel sebab pria itu berdiri dekat pintu.


Dengan cepat Aziel kembali menarik lengan Allena, "Eh eh, tunggu dulu dong!". Ucap Aziel menahan Allena.


Allena langsung saja menghela nafas kesal, "Apa lagi sih astaga... Apa lagi, apa lagi ikkhhh...". Allena benar-benar hampir habis kesabarannya karena Aziel. Pria itu selalu saja membuatnya emosi sedari tadi.


Sementara Aziel hanya tersenyum menggoda, merasa tak bersalah.


"Good night Baby". Ucap Aziel kemudian sambil menaikan alisnya keatas.


Allena yang melihat tingkah Aziel hanya bisa menatap Aziel jengah. Pria itu memang benar-benar sudah gila pikirnya.


Dengan cepat Allena menarik tangannya, "Lu emang benar-benar cowo gila, cowo sinting tau nggak". Umpat Allena kesal.


Allena kemudian dengan segera berbalik dan berlari dengan cepat meninggalkan Aziel yang hanya tersenyum devil melihat kepergiannya.


Aziel sepertinya memang sudah terobsesi akan Allena. Entahlah? Apakah itu obsesi atau Aziel memang sangat menyukai Allena?


Sementara itu tak jauh dari sana, terlihat Alexa yang sedang mengintip dari balik tembok luar ruangan musik itu. Alexa lalu menyenderkan badannya ketembok. Ternyata gadis itu juga datang ke pertandingan malam ini, karena Alexa tau pasti Aziel akan datang.


Tapi dengan apa yang dilihatnya malam ini sungguh membuat hatinya sakit seperti tercabik-cabik. Melihat Allena dengan Aziel dalam sebuah ruangan gelap, yang bahkan entah apa yang mereka lakukan Alexa sendiri tak tau, benar-benar itu sangat menyakiti perasaannya.


Alexa luruh kebawah terduduk dengan sambil melipat kedua tangannya diatas lutut menyembunyikan wajahnya disana. Terdengar suara isakan pelan disana. Alexa menangis.



"Hiks.. sakit banget hiks.. hiks..". Alexa mencoba menangis tanpa suara. Gadis itu tak ingin ada yang tau dia disana dan sedang menangis.


Apa rasanya sesakit ini mencintai orang yang bahkan tidak memiliki perasaan yang sama seperti kita?.


...*****...


Semenjak kejadian dimana Tessa mengalami cedera ditangannya, gadis itu tak lagi mengikuti pertandingan. Tangannya mengalami cedera tulang saat Louis memeriksanya beberapa hari yang lalu dan sudah dibawah ke dokter.


Kini tangan gadis itu harus terus diobati dan harus mendapatkan penanganan yang baik. Tangan Tessa terlihat diperban sekarang.


"Lu tuh bandel banget sih Sa, udah dibilangin juga nggak usah datang, masih aja. Lu nggak ingat gue ampe dimarahin ama Bokap lo gara-gara kebandelan lo sendiri. Terus lo mau gue dimarahi lagi gitu. Yaampun Sa, Sa.. kenapa sih gue harus punya sepupu yang bandelnya nggak ketulungan kaya lo gini. Nyusahin mulu tau nggak". Celoteh Gamma panjang lebar kepada sepupunya Tessa.


Bagaimana tidak? Lima hari yang lalu dimana terjadinya insiden tangan Tessa yang cedera, membuat Gamma harus dimarahi oleh Bokapnya Tessa.


Gamma dimarahi habis-habisan karena Bokapnya Tessa merasa Gamma selaku sepupunya Tessa tak bisa menjaga Tessa sehinggga membuat gadis itu mengalami cedera yang cukup parah dipergelangan tangannya.


Padahal itu adalah salah Tessa sendiri yang tak mau mendengar bila dinasihati. Sebenarnya Tessa itu telah dilarang oleh Bokapnya untuk tak mengikuti pertandingan. Sebab gadis itu pernah mengalami cedera dibagian kakinya sewaktu SMP dulu, dan sekarang gadis itu mengalami cedera untuk yang kedua kalinya. Memang-memang bandel ya Tessa ini ternyata🤣


"Udah diem lo ah.. banyak omong lo. Lagian kan gue juga udah nggak kenapa-napa. Jadi lo nggak usah khawatir, lebay banget. Orang gue sendiri kok yang cedera bukan lo, kenapa lo yang repot". Ucap Tessa mengabaikan.


"Jelas gue repot, yang kena gue, gue yang dimarahin. Lo mah enak dimarahinnya nggak kaya gue. Lo yang salah gue yang kena imbasnya". Celoteh Gamma.


"Duhh berisik banget sih lo, bisa diem nggak! Gue kesini tuh buat nonton pertandingan bukan buat ikut tanding. Jadi lo tenang aja, gue nggak bakalan kenapa-napa juga kok kalau cuman duduk nonton doang". Balas Tessa.


Benar saja, saat ini Tessa datang untuk menonton pertandingan final bola basket antara SMAN Nasional melawan SMKN Putra Bangsa.


Meskipun kalah diawal ternyata SMKN Putra Bangsa mampu mengalahkan sekolah lain hingga kebabak final dan kembali bertemu dengan SMAN Nasional yang ikut masuk final. Sekolah yang menjadi tuan rumah pertandingan itu memang sangat hebat ternyata.

__ADS_1


Dan kini terlihat Tessa bersama Allena, Zee, dan juga Airin. Mereka juga ikut menonton pertandingan final mendebarkan tersebut.


Seperti biasa lapangan itu akan dipenuhi dengan para suporter pendukung jagoan mereka. Suara teriakan penonton bergemuruh disetiap sisi memenuhi lapangan. Benar-benar seperti pertandingan besar saja.


Terlihat pertandingan telah dimulai. Aziel dengan teknik bermainnya mampu memasukan bola ke ring lawan hingga beberapa kali.


Hingga babak pertama selesai dengan kemenangan yang diraih oleh SMAN Nasional. Mereka kemudian beristirahat sejenak.


Aziel mengedarkan pandangannya disekeliling lapangan seperti mencari sesuatu. Dan kini didapatinya seseorang yang menjadi pusat perhatiannya, siapa lagi kalau bukan Allena. Dipandanginya gadis itu sambil menarik sudut bibirnya.


Sementara Allena, gadis itu hanya diam ditempatnya sambil membalas memandang Aziel tanpa ekspresi. Terlihat datar dan dingin.


Setelah beberapa menit istirahat, pertandingan babak kedua pun dimulai.


"Kita menangin pertandingannya sekarang, jangan kasih kesempatan untuk mereka". Ucap Aziel kepada tim basketnya. Terlihat tampang serius diwajah pria itu.


Sepertinya Aziel memang ingin menang tanpa membuang waktu. Ambisinya untuk menang dipertandingan ini sangat besar. Pria itu ingin mengalahkan tim lawannya.


Hingga babak ketiga tim Aziel memenangkan pertandingan mengalahkan SMKN Putra Bangsa. Terlihat raut kekecewaan diwajah Louis. Pria itu sebenarnya ingin menang dalam pertandingan ini.


Louis dan timnya sudah sangat berusaha mengalahkan tim dari sekolahan lain. Tapi sepertinya SMAN Nasional memang yang paling unggul saat ini.


Bagaimanapun Louis tak bisa memungkiri bahwa tim Aziel memang sangat pandai dalam bermain basket. Teknik permainan mereka juga tak tanggung-tanggung. Sehingga mereka mampu bertahan dan memenangkan pertandingan final hari ini.


Terlihat Allena menghampiri Louis yang sedang beristirahat bersama tim basketnya.


"Nggak usah gitu mukanya. Lu udah berusaha". Ucap Allena yang berdiri dibelakang Louis.


Louis langsung saja mengangkat kepalanya dan mendapati Allena yang berdiri dibelakangnya sedang memperhatikannya.


Louis kemudian berdiri menghadap Allena, "Eh calon bini. Sorry ya nggak menang". Ucap Louis dengan raut yang dibuat seriang mungkin. Padahal mah lagi sedih nih karena kalah😂


"Hmm". Allena menjawab. "Nggak usah mikirin itu. Kalian udah berusaha". Sambung Allena menatap semua tim secara bergantian.


"Allena cantik ya". Ucap salah satu tim lagi.


"Eh eh eh, lo lo pada ngapain malah ngegodain calon bini gue. Mau gue kasih tumbuk lo bedua. Bisa-bisanya ya". Ucap Louis melototkan matanya kepada dua pria rekan timnya tadi.


"Yaelahh Lu, santai aja kali. Kita juga nggak bakalan kali ambil calon istri lo. Yaa.. itupun kalau Allena mau sama gue baru..". Ucap salah satu tim tadi.


"Baru baru.. baru apa maksud lo? Gue smakedown juga lo". Balas Louis galak.


Sementara ditempat lain, Aziel terlihat memperhatikan Allena yang sedang bersama Louis.


Pria itu tidak marah untuk saat ini. Meskipun Allena malah menghampiri Louis, setidaknya Aziel berhasil mengalahkan mereka dalam pertandingan. Hanya ada sedikit tarikan disudut bibirnya saat melihat Allena dekat dengan Louis.


'Benar-benar gadis yang keras kepala. Beruntungnya elu karena gua lagi baik untuk saat ini!'. Batin Aziel sambil terus memandangi kedua orang itu.


Kini saatnya tiba dalam pemberian hadiah bagi para juara pertandingan. Pemberian hadiah dimulai dari juara ketiga, kedua, lalu pertama.


Juara pertama diraih oleh SMAN Nasional, juara kedua SMKN Putra Bangsa, lalu juara ketiga diraih oleh sekolahan lain.


Setelah selesai, kemudian acara sesi foto bersama. Terlihat para suporter ingin berfoto dengan para pemain basket.


"Fotoin gua sama Allena". Pinta Aziel pada Zee yang sedang memegang kamera.


"Hm? Oh iya Kak, iya. Kalau gitu atur posisinya". Ucap Zee.


Aziel kemudian menarik lengan Allena agar lebih dekat dengan dirinya. Dirangkulnya pinggang Allena membuat gadis itu langsung mendongak menatap Aziel dengan galak.


Sementara Aziel hanya menaikan sebelah alisnya sambil membalas tatapan Allena.

__ADS_1


Sedang Zee langsung memotret kedua orang itu. Zee senyum-senyum sendiri dengan hasil potretannya.


"Eh Lu, Lu.. Louis!! Calon bini lo tuh". Ucap salah satu teman Louis sambil menunjuk kearah Allena dan Aziel.


Saat ini Louis dan teman-temannya sedang berada tak jauh dari tempat Allena dan Aziel.


Louis langsung saja menoleh kearah yang ditunjuk oleh temannya. Melihat itu, Louis bergegas menghampiri kedua orang itu.


"Apa nih pegang-pegang? Lepasin nggak tangan lo dari Allena". Gertak Louis mendorong Aziel menjauh dari Allena.


"Berani banget lo sentuh-sentuh Allena". Sambung Louis menatap tajam kearah Aziel.


Aziel yang melihat itu hanya tersenyum meremehkan, "Heh..! Ingat lu itu ada diwilayah gua sekarang. Jadi lu jangan macam-macam". Balas Aziel tak kalah tajamnya.


Louis yang mendengar itu mulai kesal dengan sikap Aziel yang terkesan angkuh baginya. Apalagi ketia dia mengingat Aziel yang dengan beraninya merangkul Allena, membuat Louis emosi. Pria itu mulai berjalan kearah Aziel.


"Lo denger ya. Mau ini diwilayah lo sekalipun, gue nggak takut sama lo". Ucap Louis sambil menarik kerah baju Aziel.


Orang-orang yang masih ada disana seketika mengalihkan pandangan mereka kearah kedua pria itu.


"Wishh.. santai dong santai. Lagian Allena juga nggak permasalahin itu, kenapa lo yang marah". Aziel berbicara sambil menaikan kedua tangannya keatas.


Louis semakin menatap tajam Aziel, "Gue kasih tau ke lo, jangan pernah lo berani sentuh-sentuh Allena! Paham lo". Ucap Louis menekan kata-katanya. Seolah-olah itu adalah peringatan bagi Aziel. Pria itu semakin kuat menarik kerah baju Aziel.


Sementara Aziel hanya tersenyum miring dihadapan Louis, "Oh ya. Kalau gua bilang ke lu yang kalau gua sama Allena pernah ngelakuin sesuatu hal yang lebih, gimana?". Aziel berkata dengan santainya.


Aziel kemudian beralih menatap Allena yang sedang berdiri didekat mereka, "Iyakan Allena sayang". Ucap Aziel lagi dengan menaikan sebelah alisnya.


Louis yang mendengar itu langsung berbalik kearah Allena, wajahnya mulai memerah karena menahan emosi. Louis kemudian kembali berbalik menatap tajam Aziel dengan semakin mengeratkan cengkramannya dibaju Aziel.


"BANG*SATT!!". Umpat Louis yang sudah ingin menonjok wajah Aziel.


Namun dengan cepat Aziel memiringkan kepalanya, menghindari pukulan Louis. Pria itu tentu saja tau apa yang akan dilakukan oleh Louis. Dia sudah terbiasa dengan itu. Aziel sudah sangat hafal pergerakan-pergerakan seperti itu.


Aziel berdengus meremehkan, "Huh.. Sampah". Desis Aziel.


"Apa lo bilang? Sampah? Sini lo gue hajar". Ucap Louis yang ingin kembali menghajar Aziel.


Sementara orang-orang yang melihat mulai tegang karena perseteruan kedua pria yang menjadi idola di sekolah mereka. Akankah terjadi keributan diantara mereka.


Allena kemudian dengan cepat menghampiri dan melerai kedua pria itu sebelum semakin parah, "Lu berdua apa-apaan sih malah berantem". Bentak Allena berdiri ditengah-tengah kedua orang itu memisahkan mereka.


Allena kemudian berbalik kearah Aziel menatap tajam pria itu. "Bisa nggak sih lu nggak bikin masalah". Bentak Allena dihadapan Aziel.


"Gua bilangin ke lu, stop ikut campur urusan gua. Jangan pernah ngurusin apapun yang gua lakuin. Stop, berhenti ngedeketin gua lagi. Cuman itu yang gua minta dari lu, bisa kan". Bentak Allena menatap Aziel dengan serius.


Allena kemudian berbalik kearah Louis, "Dan buat lu, nggak usah lu ngeladenin apapun yang diomongin sama dia. Itu nggak penting". Ucap Allena tegas.


"Tapi Len, dia...". Ucap Louis terhenti.


"Gua bilang nggak usah, denger nggak sih". Gertak Allena.


Louis yang mendengar itu kemudian berhenti membantah dan hanya menatap Allena, pria itu kemudian mengehebuskan nafasnya, "Huff.. Oke Allena. Gue minta maaf". Ucap Louis kemudian. Pria itu mulai menenangkan dirinya.


Allena kemudian juga hanya menghela nafas, "Kita balik sekarang". Ucap Allena kemudian.


Allena lalu menarik lengan Louis kemudian pergi dari sana bersama.


Sementara Aziel hanya memandang kedua orang itu yang mulai berjalan keluar dari aula besar itu.


'Lu salah Allena. Gua bahkan nggak ada niatan sedikitpun buat ngelepasin lu. Nggak akan pernah'.

__ADS_1



__ADS_2