Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 124 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Selama beberapa hari itu juga Allena dan Aziel terlihat kembali dekat.


Lalu bagaimana dengan Louis?


Asal kalian tahu, selama beberapa hari ini Louis terlihat membiarkan saja Allena dan Aziel kembali dekat. Louis terlihat tidak peduli, membiarkan semuanya terjadi, mengalir begitu saja. Louis tidak lagi mengganggu dan menjadi hambatan untuk kedekatan Allena dan Aziel.


Setiap kali Louis melihat kedekatan diantara Allena dengan Aziel, pasti pria itu mengabaikannya dan membiarkan saja. Louis pasti akan selalu menghindar tanpa harus ada perdebatan.


Selama di rumah Louis juga jarang keluar kamar walau untuk sekedar makan malam bersama. Louis akan keluar jika ada urusan di luar atau berangkat ke sekolah.


Berangkat ke sekolah pun atau pulang sekolah Allena dan Louis menggunakan kendaraan masing-masing. Entah apa yang dikatakan Louis pada Papah Robert sehigga Papah Robert menyetujui agar Allena dan Louis menggunakan kendaraan masing-masing.


Dan Allena sendiri pun tidak mempedulikan semuanya. Allena sendiri menjalaninya dengan begitu saja. Allena juga terlihat tak mempedulikan perubahan yang terjadi pada Louis. Apapun itu.


Ya namanya juga nggak ada rasa nggak ada perasaan apapun. Kenapa mesti peduliin yang nggak harus di peduliin. Iya nggak😅😅


Dan hari ini juga adalah hari dimana perayaan ulang tahun Allena akan terjadi.


Semuanya telah dipersiapkan oleh Aziel juga kelima sahabat Allena. Dibantu juga oleh Setya yang ikut serta.


Jangan kalian tanya bagaimana malasnya seorang Setya harus ikut berpartisipasi dalam perayaan ulang tahun Allena kali ini. Setya terpaksa ikut karena Aziel yang memaksanya. Jadi mau tidak mau Setya harus ikut.


Dan malam ini Aziel juga keempat sahabat Allena( Airin, Tessa, Alvian, juga Gamma) sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Allena.


Sedang Zee dan Setya akan menuju ke toko kue untuk mengambil kue ulang tahun Allena.


Sebenarnya bisa aja sih mereka minta diantarkan ke restorannya Zee. Tapi kita tau sendirikan kadang pesan antar itu nggak sesuai ekspetasi. Kadang pas tiba kuenya udah hancur, kadang nggak sesuai pesanan. Mending kita pesan langsung dan ambil sendiri kalau gitu.


Kebetulan juga sekalian Aziel untuk pertama kalinya bisa berkunjung ke rumah Allena setelah beberapa lama ini. Tau sendirikan selama ini Aziel pasti mengantar Allena jika mereka pulang sekolah bareng pasti hanya sampai depan gerbang rumah Allena saja.


Dan malam ini Aziel dengan mantap memberanikan diri untuk berkunjung ke rumahnya Allena. Sekaligus bersama sahabat-sahabatnya Allena agar tak menimbulkan kecurigaan.


Hingga mobil Aziel yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan gerbang mansion mewah nan megah berlantai dua itu. Sebab kendaraan mereka masing-masing mereka tinggalkan di restoran Zee saat mereka menyiapkan acara perayaan ulang tahun untuk Allena disana.


Mereka semua memang sempat berkumpul di restoran milik Zee terlebih dahulu untuk menyiapkan semuanya.


Mereka semua kemudian turun dari mobil dan bergegas berjalan menuju pintu gerbang rumah mewah itu. Airin kemudian memencet bel yang ada disamping gerbang.


TING


TONG


TING


TONG


Beberapa saat kemudian Satpam penjaga gerbang datang.


"Ada apa ya?". Tanya penjaga Satpam tersebut.


"Kami mau masuk Pak! Mau ketemu sama Allena!". Jawab Airin.


"Memangnya ana-ana sekalian ini siapanya Non Allena?". Tanya Satpam itu lagi.


"Kami teman-teman sekolahnya Allena Pak. Kami ada urusan sama Allena". Jawab Airin.


"Iya Pak! Cepetan bukain pintunya". Timpal Tessa tak sabaran.


Kemudian diikuti yang lainnya.


"Oh kalau begitu tunggu sebentar ya. Ta bukain dulu gerbangnya". Setelah berbicara seperti itu, segera Satpam penjaga rumah tadi membukakan gerbang untuk mereka semua.


"Kalian semua ikut saya saja". Ucap Satpam itu kemudian berjalan terlebih dahulu.


Mereka semua kemudian berjalan masuk lalu segera mengikuti Satpam tersebut.


Pintu rumah terbuka saat Satpam penjaga memencet bel rumah. Dan nampaklah Bi Ratih.


"Eh kalian ternyata!". Seru Bi Ratih dengan ekspresi riang, "Kalian pasti mau ketemu sama Non Lena ya?". Bi Ratih tentu saja masih mengigat keempat sahabatnya Allena. Tapi tidak dengan Aziel.


"Hai Bi Ratih". Sahut Tessa, "Iya Bi kami mau ketemu sama Allena. Allenanya ada ya Bi?". Sapa Tessa.


"Ada. Lagi di kamar sepertinya". Jawab Bi Ratih.


Tidak lama terdengar suara perempuan dari belakang Bi Ratih.


"Siapa Bi?". Ternyata itu Mommy Tiara.


"Hai Tante apa kabar?!". Seru mereka semua. Tapi tidak dengan Aziel. Pria itu terlihat hanya berdiri diam ditempatnya sambil tersenyum ke arah Mommy Tiara( Calon Mertua uhuyy🤭😅😅)??


"Kalian ternyata!". Sahut Mommy Tiara dengan wajah riang, "Ayo masuk-masuk! Masuk ke dalam dulu". Mommy Tiara mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


Kelima orang itu segera berjalan masuk ke dalam setelah dipersilahkan masuk oleh Mommy Tiara. Dan kini mereka semua telah berkumpul di ruang tamu rumah itu.


"Kalian pasti mau ketemu sama Allena kan?". Tanya Mommy Tiara dengan tersenyum.

__ADS_1


"Iya Tante! Maaf malam-malam kami semua kesini mengganggu waktu istirahat Tante". Ucap Airin.


"Tidak Nak, tidak! Kalian semua sama sekali tidak mengganggu. Justru Tante sangat senang sekali karena kalian berkunjung lagi kesini". Sahut Mommy Tiara. "Tunggu sebentar ya!". Kemudian beralih ke arah Bi Ratih yang juga masih ada disitu.


"Bi Ratih tolong panggilkan Allena ya!". Perintah Mommy Tiara dengan lembut.


"Siap Nyonya!". Ucap Bi Ratih dengan memberi hormat, membuat mereka yang ada disana terkekeh lucu.


Kemudian Bi Ratih segera berbalik dan pergi dari sana untuk memanggil Allena.


"Oh iya". Seru Mommy Tiara seketika, "Kalau boleh Tante tau yang ini siapa ya? Kok Tante baru lihat". Sambung Mommy Tiara sembari memandangi Aziel yang sedari tadi hanya diam duduk di sofa.


Aziel yang merasa segera menghampiri Mommy Tiara.


"Maaf Tante sebelumnya". Aziel merendahkan tubuhnya dengan menopang lutut di hadapan Mommy Tiara, "Perkenalkan Tante, saya Aziel. Teman sekolahnya Allena". Sambungnya lagi dengan sopan sembari mencium punggung tangan Mommy Tiara.


Sementara Mommy Tiara hanya tersenyum memandangi Aziel yang mencium punggung tangannya sembari merangkul belakang Aziel dengan lembut.


Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Mommy Tiara saat memandangi Aziel. Entah perasaan apa itu?.


"Aziel!". Seru Papah Robert yang tiba-tiba muncul dari arah lain lalu mengambil tempat di samping Mommy Tiara duduk disana, "Sepertinya Om pernah dengar nama kamu. Tapi dimana ya?". Tanya Papah Robert dengan alis yang mengkerut memandangi Aziel.


"Iya Om saya Aziel. Murid yang waktu itu pernah Om jadi donatur diacara yang saya buat di sekolah". Jawab Aziel juga ikut mencium punggung tangan Papah Robert.


"Ah iya Om sudah ingat". Sahut Papah Robert. "Terus ada apa kalian semua datang kemari?". Tanya Papah Robert kemudian.


"Begini Om---". Airin yang berbicara, "Kalau boleh diizinkan, kami mau mengajak Allena keluar malam ini". Sambungnya dengan sehalus mungkin.


Padahal nih ya, asal kalian tau mereka semua saat ini lagi gugup-gugupnya banget. Nggak tau ternyata orang tuanya Allena ada di rumah dan sudah balik dari luar negeri.


Tapi mau gimana lagi, kalau nggak berani kan percuma dong dengan semua yang telah mereka persiapkan untuk perayaan ulang tahun Allena yang telah mereka rencanakan dari hari-hari lalu. Jadi malam ini mereka semua harus berusaha memberanikan diri untuk meminta izin kepada orang tua Allena. Semoga diizinin ya sama orang tua Allena.


Sementara itu Zee dan Setya masih berada di parkiran restoran Zee.


"Kita naik motor?". Tanya Zee ragu-ragu.


"Iya". Jawab Setya dengan wajah tanpa ekspresi, "Kenapa? Nggak bisa naik motor lo? Kelihatan sih lo orangnya manja gitu. Jadi sekalinya naik motor pasti langsung masuk angin. Cih!". Cibir Setya.


Zee yang dikatai seperti itu tentu saja tak terima dan langsung mengumpat dalam hati, 'Apaan sih Kak Setya? Ngeremehin gue banget'. Batin Zee dengan wajah masamnya.


"Nggak kok, orang gue bisa naik motor. Mana ada gue masuk angin". Bantahnya kemudian.


"Yaudah naik kalau gitu. Lama amat". Sentak Setya.


"Sabar dong". Sahut Zee, "Ini terus helmnya mana?


"Ikkhh biasa aja kali orang nanya doang". Gumam Zee mengumpat dengan melototkan matanya di belakang Setya yang sudah duduk di atas motor.


"Yaudah naik cepetan! Lama amat sih". Sentak Setya membuat Zee langsung terkesiap.


"Yaudah sabar dong. Orang belum naik juga". Sahut Zee di belakang sana dengan sambil memakai helm yang diambilnya lalu segera naik ke atas motor Setya.


Tempat duduk yang tinggi membuat Zee sebisa mungkin untuk menjaga jarak dengan Setya. Gadis itu tak ingin lagi ada apapun yang berhubungan dengan Setya. Cukup malam ini saja terakhir kalinya dia sedekat ini dengan Setya.


Selama di perjalanan tak ada yang berbicara diantara keduanya. Setya dan Zee sama-sama tak ingin membuka obrolan. Setya sibuk dengan pikirannya, sedangkan Zee sibuk dengan tubuhnya agar tak bersentuhan dengan Setya. Gadis itu selalu mundur ke belakang jika merasa badannya meluncur ke bawah sedikit di dudukan motor yang tinggi itu.


"Lo bisa nggak sih nggak gerak-gerak mulu dari tadi?". Sentak Setya seketika, "Bisa jatuh nih kita entar karena lo gerak mulu.


"Hah? Apa lo bilang? Gue nggak denger". Sahut Zee di belakang sana.


"Gue bilang lo jangan banyak gerak, entar kita jatuh". Setya mengeraskan suaranya.


"Apa? Lo ngomong apaan sih gue nggak denger?


"Akhh udalah nggak usah!". Desis Setya. Kemudian berhenti berbicara dan tetap melanjutkan laju motornya.


Sementara Zee, "Dih apaan sih Kak Setya nggak jelas banget". Gumam Zee sambil menatap punggung Setya.


Hingga sekitar 20 menit, mereka berdua kini telah sampai disebuah toko kue.


Setya terlebih dahulu memarkirkan motornya, lalu Zee turun dari motor.


"Yaudah masuk sana gue tunggu disini". Ucap Setya tanpa turun dari atas motor.


"Gue sendirian ke dalam gitu?". Tanya Zee sambil memandangi Setya.


"Yaiyalah emang harus gue temenin ke dalam juga". Sahut Setya dengan nada ketus.


Mendapati Setya yang seperti itu membuat Zee kesal. "Yaudah nih helmnya ambil". Cetus Zee kesal sambil memberikan helm pada Setya. Lalu dengan cepat Zee berbalik dan langsung berjalan masuk sendirian ke dalam toko dengan perasaan dongkol.


"Bantuin kek, apa kek. Emang nggak berperasaan tuh cowok". Umpat Zee kesal tanpa berbalik lagi ke belakang.


Sementara Setya hanya berdecih menatap punggung Zee yang mulai masuk ke dalam toko, lalu kemudian terlihat merogoh ponselnya di saku jaketnya seperti tengah menghubungi seseorang.


Hampir setengah jam Zee menunggu karena ada sedikit masalah. Tapi bisa diselesaikan oleh karyawan toko dengan cepat dan cekatan tanpa kendala apapun lagi.

__ADS_1


"Udah dibayar kan Mba?". Tanya Zee saat karyawan toko memberikan kue tersebut.


"Sudah Mbak". Jawab karyawan tersebut.


"Kalau gitu saya ambil ya Mbak. Makasih!". Ucap Zee menerima kue yang ada di dalam box kue tersebut.


"Sama-sama Mbak. Terima kasih juga sudah mengunjungi toko kami". Sahut karyawan itu dengan sopan.


Karena memang perayaan ulang tahun Allena mereka siapkan dengan sederhana maka kuenya dibuat dengan ukuran sedang saja. Tapi kalau untuk harganya jangan kalian tanyalah. Pikirin sendiri. Soalnya ini Aziel yang persiapkan semuanya termasuk kuenya juga. Untuk Allena mah berapa aja dia sanggup keluarin uang. Holang kaya gitu lohh😅😅


Saat Zee keluar dari dalam toko, Zee sudah tak lagi melihat Setya di parkiran. Bahkan motornya pun udah nggak ada.


"Lah, ini Kak Setya kemana. Dia ninggalin gue gitu?". Zee mengelilingi matanya mencari-cari keberadaan Setya. Siapa taukan Setya masih ada disitu.


"Maa... masa Kak Setya beneran ninggalin gue yaampun tega banget sih Kak Setya hii". Umpat Zee menghentakan kakinya ke tanah dengan perasaan kesal sambil terus mengelilingi matanya.


"Lahh itukan...


Zee tak melanjutkan ucapannya karena sudah melihat Setya yang berada di sebrang jalan sana di depan sebuah minimarket. Terlihat disana juga ada gerombolan cowok-cowok dengan duduk di atas motor.


Ternyata Setya tengah berkumpul bersama anak geng motor Alcandor yang kebetulan berkunjung di minimarket.


"Itu Kak Setya kan?". Desis Zee meyakinkan pandangannya bahwa di sebrang sana adalah Setya.


Segera Zee melangkah lalu berdiri di tepi jalan kemudian memanggil Setya.


"Kak Setya! Kak Setya! Woyy Kak Setya!". Panggil Zee dari sebrang jalan.


"Kak Setya budek!". Zee melambai-lambaikan tangannya dengan terus berteriak memanggil nama Setya.


Salah satu anak buah geng Alcandor menyadari Zee yang terlihat melambai ke arah mereka dari sebrang jalan sana.


"Oy Ya, kayanya tuh cewek manggil-manggil lo terus dari tadi". Ucapnya sambil menepuk pundak Setya.


"Bener Ya, tuh cewek dari tadi ngelambai kesini terus. Kirain manggil siapa ternyata lo". Timpal salah satunya.


Setya dengan segera menoleh ke belakang, dan benar saja terlihat Zee yang melambai ke arahnya dengan memanggil namanya.


"Udah biarin aja!". Setya kembali menoleh ke depan tak peduli.


"Nggak lo samperin dulu Ya?". Ucap anak buah tadi.


"Udah nggak usah nggak penting! Siapa suruh". Ucap Setya tak peduli. Kemudian kembali melanjutkan obrolannya dengan teman-teman segeng motornya.


Sementara itu Zee masih dengan kesalnya, "Iikhh nyebelin banget sih Kak Setya! Ngapain sih dia pake kesana segala". Umpat Zee dengan kesal.


Zee yang terus memanggil Setya dari sebrang jalan sana dan tak dipedulikan mulai melangkahkan kakinya untuk menyusul Setya.


TIN TIN!


TIN TIN!


BUK


BRAK


Tiba-tiba terdengar benturan yang sangat keras di jalanan yang padat kendaraan itu.


"Wuishh apaan tuh!?". Anak-anak Alcandor langsung menoleh ke arah jalanan termasuk Setya.


Terlihat para pengendara yang berlalu lalang mulai berhenti dan mengerumuni jalanan.


"Ya, jangan-jangan tuh cewek...


Belum sempat salah satu anak buah Alcandor melanjutkan ucapannya, Setya bergegas beranjak dari atas motornya dan langsung berlari ke arah kerumunan orang-orang itu.


Setya berhenti ke dalam kerumunan orang-orang itu, dan seketika tubuhnya membeku, menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya di hadapannya saat ini.


Terlihat Zee berbaring di jalanan tak sadarkan diri dengan darah yang terus keluar di kepalanya tanpa henti.


Dengan jantung yang berdetak kencang, dan tubuh yang gemetar segera Setya masuk ke tengah-tengah kerumunan mendekat ke arah Zee. Diraihnya tubuh tak berdaya itu dengan tatapan nanar seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Zee!". Mulut Setya peluh seakan tak sanggup mengucapkan nama gadis yang direngkuhnya saat ini.


"Zee bangun! Bangun!". Setya menatap wajah tak berdaya itu direngkuhannya. Bahkan saat ini Setya tak mempedulikan pakaiannya yang sudah dipenuhi dengan darah.


Tubuh Setya gemetar seakan tak sanggup melihat apa yang terjadi dengan Zee saat ini.


"Sabar Ya, ambulan sebentar lagi bakal dateng". Salah satu anak buah Alcandor menenangkan Setya.


Setya diam sebentar saat melihat kue yang hancur di jalanan tak jauh dari tempat Zee mengalami kecelakaan.


Ya memang benar, Zee mengalami kecelakaan. Saat ingin menghampiri Setya, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam Zee sampai gadis itu terpental hingga 2 meter. Kue ulang tahun yang dibawa Zee tadi pun ikut terpental dan hancur berserakan di jalanan.


Dengan mata berkaca-kaca Setya memandangi Zee yang terlihat tak berdaya dengan darah yang terus keluar di kepalanya tanpa henti. Kemudian semakin menarik gadis itu ke dalam rengkuhannya.

__ADS_1


"Maafin gue! Maafin gue! Gue yang salah! Bangun Zee!". Desis Setya dengan mulut yang gemetar.



__ADS_2