Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 95 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Malam harinya Allena terlihat berada di ruang tengah sedang menonton siaran televisi kesukaannya.


"Bi... Bi Ratih Bi...!". Teriak Allena memanggil Bi Ratih.


Bi Ratih yang mendengar dirinya dipanggil segera menghampiri Allena dengan tergopoh-gopoh, "Iya Non.. Ada apa?". Tanya Bi Ratih sembari menghampiri Allena.


"Bibi tolong ambilin Allena snack yang di kulkas sama minumnya. Seperti yang biasa ya Bi". Ucap Allena pada Bi Ratih.


"Baik Non, tunggu sebentar ya". Ucap Bi Ratih kemudian berbalik menuju kearah dapur.


Tidak lama muncul Louis dengan masih memakai seragam sekolahnya.


"Baru pulang? Tumben". Ucap Allena yang melihat Louis.


"Biasa.. ada urusan hari ini". Jawab Louis seraya berjalan kearah salah satu sofa yang ada disana.


"Hah.. Capenya". Ucap Louis seraya berbaring disofa tersebut dengan memejamkan matanya.


"Mandi dulu sana! Baru pulang bukannya mandi malah tiduran disini. Bau tau". Celoteh Allena pada Louis.


"Bentar dong Len, gue istirahat dulu. Cape nih". Balas Louis dengan meletakan tangannya dipelipisnya.


"Emang lu ngapain ampe cape banget kayanya?". Tanya Allena.


"Gue habis ngurusin sesuatu hal yang harusnya jadi milik gue". Jawab Louis masih dengan posisinya.


Allena mengkerutkan alisnya, "Hah? Maksudnya?". Allena tidak paham maksud Louis.


Namun sebelum mereka melanjutkan obrolan, Bi Ratih datang dengan sambil membawa snack dan juga minuman yang diperintahkan oleh Allena tadi.


"Ini Non, makananya". Ucap Bi Ratih.


"Simpan aja dimeja Bi". Ucap Allena.


Bi Ratih kemudian meletakannya diatas meja dan kemudian kembali ke dapur.


Sementara Louis mulai beranjak seraya mendekat kearah meja, "Yaudah gue mandi dulu deh kalau gitu". Ucap Louis kemudian mencomot snack yang di bawa Bi Ratih tadi.


"Itu makanan gua, jangan lu ambil". Gertak Allena pada Louis.


"Pelit amat lo". Louis mulai berlari kearah kamarnya sebelum Allena berubah menjadi singa yang galak.


...*****...


Pagi harinya Allena kini sudah berada di SMA Negeri Nasional. Terlihat gadis itu sedang mencatat di dalam kelasnya.


"ALLENA..!!". Tiba-tiba Tessa muncul dari balik pintu kelas dan meneriaki nama Allena dengan kencang.


"Woyy laki, kita nggak budek ya. Pagi-pagi udah teriak-teriak aja lo". Tegur Adrian dari tempat duduknya.


"Diem lo. Gue nggak ada urusan sama lo". Balas Tessa dengan melototkan matanya kearah Adrian.


Tanpa babibu lagi, dengan cepat Tessa menghampiri Allena dikursinya.


"Ada apa sih, Sa? Heboh banget lo kaya habis dapet duit sekarung". Ucap Zee yang ada disana.


"Ini bukan lagi dapet duit sekarung, tapi ini udah jadi hal penting yang harus gue kasih tau ke kalian semua". Ucap Tessa yang terlihat sangat serius.


"Emang ada apa?". Tanya Airin yang juga ada disana.


"Lo mau tau Rin? Lo semua mau tau?". Tessa berkata sambil melirik sahabat-sahabatnya, "Hari ini gue lihat ada murid baru yang pindah kesini. Murid baru itu adalah kakak kelas kita". Sambung Tessa.


"Yaa terus kenapa?". Tanya Airin.


"Lo heboh banget sih Sa, bertukar nyawa lo ama Zee. Ketimbang murid baru doang hebohnya sejagad". Cibir Gamma.


"Eh, ngapa jadi lo bawa-bawa nama gue". Ucap Zee tak terima.


"Ya emang kan kalau lo sama apa aja itu heboh banget bawaanya. Biar yang nggak penting aja lo hebohin". Cibir Gamma.


Tessa dengan cepat menyela, "Eh eh udah udah!! Ngapa malah pada lo berdua yang jadi ribut. Gue belum selesai ngomong nih". Ucap Tessa kemudian.


"Yaudah Sa, cepetan ngomongnya. Lama amat kasih tau doang". Ucap Zee.


"Ya makanya jangan lo pada potong omongan gue". Balas Tessa.


"Ehem.. oke gue kasih tau. Lo lo pada mau tau siapa murid barunya?". Tessa mulai kembali memasang tampang seriusnya, "Murid barunya adalah Si Cowo Nyebelin itu, orang yang dijodohin sama Allena, Si Louis". Sambung Tessa lagi yang langsung membuat mereka kaget.


Apa lagi Allena yang saat ini sudah memasang tampang kebingungannya dengan alisnya yang sudah bertautan.


"Yang bener lo Sa? Lo lihat dimana?". Tanya Zee cepat.


"Beneran, suer dah! Tadi gue lihat dia di kelas 12 IPA 1. Pas guru mereka mau kenalin si Cowok Nyebelin itu. Sekelas sama Kak Aziel ternyata". Ucap Tessa memberi tahu.

__ADS_1


Dengan segera Allena menghentikan aktifitasnya dan langsung beranjak melangkahkan kakinya keluar kelas.


Allena kemudian menuju kelas 12 IPA 1 yang juga berada dilantai dua. Bedanya Allena harus melewati beberapa kelas dan juga belokan.


Saat Allena tiba disana, ternyata Wali Kelas yang membawa Louis sudah pergi dan keluar dari kelas tersebut. Terlihat beberapa murid yang berkumpul didepan kelas.


"Eh cuy cuy ada Allena..


"Eh Allena, tumben datang kesini. Nyariin siapa nih? Aziel apa murid baru itu?


Beberapa murid berbicara ketika mereka melihat Allena.


Sementara Allena hanya diam dan mulai berjalan melewati sekumpulan murid laki-laki itu tanpa menggubris mereka.


Aziel yang melihat Allena masuk kedalam kelas, seketika berdiri dari kursinya, "Baby? Ngapain kesini?". Seru Aziel.


Sementara Allena hanya melirik Aziel sekilas, dan terus berjalan tanpa mempedulikan sapaan pria itu.


Allena berjalan menghampiri Louis yang terlihat duduk dikursi paling belakang.


"Ikut gua sekarang!". Allena langsung menarik lengan Louis dan membawa pria itu keluar dari kelas.


Aziel yang melihat itu hanya diam berdiri ditempatnya ketika Allena keluar dari kelas bersama Louis.


Sementara Allena terus menarik Louis untuk ikut bersamanya. Saat bersamaan itu pula mereka berpapasan dengan Kepala Sekolah.


"Oh iya, tunggu sebentar. Kebetulan Bapak ketemu kalian berdua disini". Ucap Kepala Sekolah.


"Iya, ada apa ya Pak?". Tanya Allena sopan.


"Begini, Bapak ingin memberi tahu kamu bahwa sudah menjadi tugas setiap anggota OSIS untuk membantu memperkenalkan lingkungan sekolah setiap ada murid baru yang masuk ke sekolah ini". Terang Kepala Sekolah.


"Iya Pak, saya sudah mengetahui hal itu. Makanya saya mengajak murid baru ini mengikuti saya untuk memperkenalkan lingkungan sekolah ini.


"Baiklah kalau begitu, silahkan lanjutkan". Ucap Kepala Sekolah.


"Iya Pak, mari". Balas Allena.


Dengan cepat Allena kembali menarik lengan Louis pergi dari sana.


Setibanya mereka berdua di koridor aula, Allena melepas pergelangan Louis dan langsung memberikan tatapan mengintimidasi kearah pria itu.


"Apa ini? Hmm?". Tanya Allena sembari menaikan kedua alisnya keatas menatap tajam pria itu.


"Lebih baik lu jelasin ke gua sekarang. Maksud lu apa?". Allena kembali bertanya.


"Emang apa yang harus gue jelasin Allena?". Ucap Louis yang masih terlihat tenang.


"JELASIN LOUIS!!". Allena mulai menaikan suaranya.


Sementara Louis menghebuskan nafasnya kasar. Dipandanginya Allena dengan serius.


"Oke gue jelasin". Ucap Louis kemudian. "Gue pindah kesini karena gue nggak mau lo dekat lagi sama Aziel". Sambungnya lagi.


"Ha?". Allena mengkerutkan alisnya.


Louis kembali menghebuskan nafasnya. Pria itu terlihat mengambil ponsel kedalam saku seragamnya, lalu menunjukan sebuah foto yang terpampang dilayar ponselnya kearah Allena.


Allena mengamati dengan seksama foto itu.


"Lu dapat dari mana foto itu?". Tanya Allena kemudian.


"Nggak penting gue dapat dari mana foto itu, yang jelas itu udah jadi bukti kalau lo ada hubungan sama si Aziel sialan itu". Umpat Louis.


"Ini sama aja lo nggak ngenganggep keberadaan gue sebagai jodoh lo disini. Lo nggak ngehargain gue sama sekali, Allena". Desis Louis.


Memang benar Louis menunjukan salah satu foto dimana terlihat Aziel memeluk sambil mencium pipi Allena dengan mesra.


Tapi yang membuat Allena bertanya-tanya adalah latar tempat kejadian yang terpampang difoto itu, dimana kejadiannya saat itu adalah di rumah yang pernah Aziel membawanya waktu itu.


Dari mana Louis mendapatkan foto itu pikirnya.


"Gua tanya sekali lagi ke lu, dari mana lu dapat foto itu?". Tanya Allena lagi.


"Gue nggak akan jawab sebelum lo benar-benar ngejauh dari Aziel". Ucap Louis.


Allena mulai muak dengan Louis yang terlalu bertingkah kekanak-kanakan menurutnya. Louis sampai rela pindah sekolah hanya untuk membuatnya menjauh dari Aziel.


"Jadi maksud lu tadi malam urusan lu itu ya ini? Lu ngurus kepindahan lu buat sekolah disini, iya?". Tanya Allena memastikan. Dia ingin tahu langsung dari Louis.


"Bagus kalau lo udah paham". Louis berkata dengan lantangnya kearah Allena, "Gue pindah kesini supaya gua bisa pantau lo dari dekat. Gue nggak akan pernah ngebiarin lo dekat sama cowo sialan itu. Dengan adanya gue pindah kesini lo berdua nggak bakalan pernah punya hubungan apapun". Sambung Louis menegaskan kata-katanya.


Allena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat mendengar perkataan Louis. Pria itu terlalu berani melawannya.

__ADS_1


"Udah berapa kali gua bilang, gua nggak ada perasaan apapun ama lu. Kenapa lu masih nggak ngerti juga?". Allena mulai emosi dengan Louis yang terlalu memaksakan kehendaknya.


"Kita berdua emang udah dijodohin, tapi gua nggak pernah sama sekali merasa terikat hubungan apapun ama lu. Apapun itu". Ucap Allena.


"Gua juga terima perjodohan itu karena terpaksa, bukan karena ada rasa ama lu. Lu nya aja yang terlalu berlebihan menganggap perjodohan kita berdua ini dengan serius. Sementara lu tau sendiri kalau gua emang nggak ada rasa sedikitpun ama lu dari dulu. Kita juga udah berapa kali pernah omongin ini. Kenapa lu masih juga nggak ngerti-ngerti?". Allena terlihat tidak suka dengan Louis yang selalu membawa ikatan perjodohan mereka setiap kali masalah mereka ada hubungannya dengan Aziel.


"Kenapa? Karena lo emang suka kan sama Aziel. Buktinya aja lo mau dipeluk cium sama Aziel. Bisa jadi aja kalian juga udah pernah ngelakuin hal yang lebih dari itu". Cibir Louis. Pria itu tak bisa menahan perasaan kesalnya karena ucapan Allena yang membuatnya semakin emosi.


PLAKK..!!


"Jaga ya omongan lu". Allena menampar Louis dengan keras.


"Lu nggak tau apa-apa hubungan antara gua dengan Aziel". Ucap Allena kesal.


Louis memandangi Allena sambil memegangi pipinya yang ditampar oleh gadis itu, "Kenapa? Emang ada yang salah sama apa yang gue omongin? Buktinya aja adakan. Difoto itu lo mau-mau aja dipeluk sama dicium cowok sialan itu". Ucap Louis yang masih kesal.


"Lo-". Ucap Allena terhenti sambil menunjuk Louis.


Gadis itu menggertakan rahangnya dengan menatap tajam Louis.


"BAJI*NGAN!!". Umpat Allena dengan bergumam sambil berlalu pergi dari sana meninggalkan Louis.


Sementara Louis hanya memandang Allena yang mulai bergerak jauh sambil memegangi pipinya yang ditampar dan juga mengepal kuat tangannya yang satu.


Setibanya Allena di kelasnya, gadis itu langsung beranjak duduk dikursinya.


"Gimana Len, udah ketemu lo ama si Cowok Nyebelin itu?". Tanya Tessa.


Allena menoleh kearah Tessa lalu mengangguk.


"Lo udah tanya kenapa dia pindah kesini?". Tanya Tessa lagi.


"Nggak". Jawab Allena. "Nggak penting juga kan buat gua". Sambungnya lagi.


"Terus ngapain aja lo kesana tadi?". Tanya Tessa lagi.


"Woyy Sa, banyak nanya lo". Ucap Gamma tiba-tiba menyela. "Lagian kepo banget sih lo jadi orang. Ngapain juga lo ngurusin kepindahannya si Louis itu?". Sambungnya lagi.


Tiba-tiba Gamma berubah raut wajahnya menatap curiga kearah Tessa.


"Ngapain lo liatin gue kaya gitu?". Tessa tak suka dengan cara Gamma yang menatapnya.


"Aaa... gue tau nih... jangan-jangan lo suka lagi sama Louis". Ucap Gamma. "Hati-hati lo, entar kualat lagi lo suka sama calon suami sahabat sendiri". Sambung Gamma.


Tessa mendelik tak terima dengan perkataan Gamma, "Dih, lo ngomong apaan sih? Lagian siapa juga yang suka sama si Cowok Nyebelin itu. Amit-amit tujuh turunan tau nggak kalau gue ampe suka sama dia. Yii... ada-ada aja lo ngomongnya". Ucap Tessa dengan memonyongkan bibirnya kearah Gamma.


Sementara Allena tak peduli dengan perdebatan kedua orang bersepupu itu dan malah terlihat fokus memperhatikan notifikasi pesan masuk dari ponselnya.


Cowo Rese😏 :


Tadi ngapain aja lu sama cowok itu🤨😠


Allena membaca isi pesan yang ternyata dari Aziel.


Allena membacanya sebentar lalu kembali mematikan ponselnya tak berniat membalas pesan dari Aziel.


"Entar malam lu lu pada bisa nginep di rumah gua nggak?". Allena menoleh kearah teman-temannya.


"Bisa-bisa, gue bisa". Jawab Tessa.


"Kalau gue sih udah pasti bisa dong. Apa sih yang nggak bisa buat sahabat gue Allena". Ucap Zee dengan antusias.


"Kalau kita berdua yang cowo-cowo bisa nggak nih?". Tanya Alvian tiba-tiba.


"Kalau kalian mau ikutan bisa aja. Kebetulan di rumah memang ada beberapa kamar kosong". Ucap Allena.


"Sipp lah kalau gitu. Gue ama Alvian bakal ikut". Ucap Gamma.


"Kalau gue sih bisa aja Len. Tapi mungkin nanti malem baru gue bisa datang". Ucap Airin seketika.


Allena menatap Airin sebentar. Seperti ada yang sedang dipikirnya. Gadis itu kemudian mengangguk.


"Yaudah entar malem gua jemput ke rumah". Ucap Allena.


"Okee". Balas Airin sambil mengacungkan jempolnya keatas dan tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.


Sementara di tempat lain, Aziel terus memperhatikan pesan dari ponselnya yang tak kunjung dibalas oleh Allena.


Aziel kemudian mendongakan kepalanya saat Louis yang tiba-tiba muncul dan berjalan masuk kedalam kelas.


Louis juga langsung menoleh kearah Aziel yang berada dikursinya. Kedua orang itu beradu pandang dan saling memberikan tatapan sengit satu sama lain.


__ADS_1


__ADS_2